Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Gadis Langka


__ADS_3

Belum sempat Naziah menyerahkan tas itu kepemiliknya.


Tiba-tiba, "Awas Nak!!!" teriak Wanita pemilik tas tersebut. Yang ternyata adalah seorang wanita paruh baya dengan usia sekitar 50 tahunan.


Seiring teriakan itu berakhir dengan gerakan secepat kilat. Naziah berbalik dengan melakukan tendangan putar.


Shack....Bugh!!!


Seketika itu pula, seorang perampok yang mencoba melukai Naziah itu langsung terpental jauh. Dan sebuah cerurit yang dipegangnya pun terlepas dari genggamannya.


Sambil mengelap darah yang keluar di sudut bibirnya. Perampok tersebut berusaha bangkit dari jatuhnya. Naziah memandangnya sambil tersenyum devil.


"Siapa kau Nona? Sampai berani ikut campur urusan kami." tanya Perampok itu.


"Hem... kau ingin tahu siapa aku?" tanya Naziah memperjelas pertanyaan yang dilontarkan padanya. Sambil menunjuk dirinya sendiri.


Sementara itu, didalam sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan. Tidak jauh dari tempat motor Naziah yang terparkir. Dua orang pria dengan penampilan parlentenya. Sedang menyaksikan dan menikmati setiap adegan-adegan yang terjadi.


Bagai menonton sebuah film laga di televisi. Dua pria parlente itu menyaksikan aksi Naziah menghadang dan melawan dua orang perampok tersebut. Dengan perasaan khawatir, namun rasa penasaran akan hasil dari pertarungan itu. Membuat mereka menahan diri untuk tidak ikut campur terlebih dahulu.


*Kembali ke Naziah


Perampok itu mengangguk setelah mendengar ucapan Naziah tersebut. Kemudian kembali mengulang dan memperjelas pertanyaannya.


"Iya. Siapa kau berani-beraninya mengganggu pekerjaan kami, hahh?!"


"Heh, dasar manusia-manusia tak berprikemanusiaan. Merampas hak orang lain kalian jadikan pekerjaan ckckck!" umpat Naziah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Terserah kami Nona. Karena hanya dengan pekerjaan ini, kami bisa mendapatkan uang lebih cepat dan lebih banyak. Jadi, cepat kembalikan tas itu pada kami!!!" ujar perampok itu dengan nada sarkas.


"Heh... tidak akan." ucap Naziah. "Ini Bu. Peganglah tasmu dengan erat. Jangan sampai lepas." lanjutnya sambil menyerahkan tas itu pada wanita pemiliknya yang sudah berdiri tepat di belakangnya. Tanpa melepas pandangannya dari perampok itu.


"Kalian mau tas itu? Lawan aku dulu. Jika aku kalah, silahkan kalian ambil tas itu dari tangan ibu itu." tantang Naziah pada kedua perampok itu dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Saat melihat kedua perampok itu sudah berkumpul didepannya.


"Jangan menyesal Nona. Jika kami sampai melukaimu nanti." ujar salah satu perampok itu meremehkan.

__ADS_1


"Tidak akan. Ayo maju kalian!" ajak Naziah.


Sambil mulai memasang kuda-kuda dan menggerak-gerakkan keempat jari tangan kanannya kearah kedua perampok itu.


Shack...


Street! Grep!


Dhug, bugh-bugh!


Dua perampok itu menyerang Naziah secara bersamaan. Sementara Naziah hanya menghindar dan menangkis setiap pukulan dan sabetan senjata tajam yang mengarah padanya.


Dua pria parlente yang berada dalam mobilnya. Terus menyaksikan perseteruan Naziah dan dua perampok tersebut. Merasa khawatir akan keselamatan gadis yang dilihatnya.


Pria yang duduk dibalik kemudi mobil itu mengutarakan maksud hatinya. "Apa perlu aku membantunya Bos?"


"Tunggu sebentar lagi. Jika dia sudah terlihat terpojok, baru kau bantu Dia." jawab Pria yang duduk di kursi penumpang. "Aku ingin lihat, sampai dimana kemampuan bela diri gadis itu sebenarnya?!" sambungnya.


Di arena pertarungan dadakan tersebut. Naziah terus mengelak dan menghindari serangan-serangan yang mengarah padanya. Hingga beberapa detik berikutnya, karena sudah merasa bosan dengan pertarungan yang bak sebuah permainan teka-teki untuknya.


Naziah mulai balas menyerang kedua perampok itu. Hingga senjata yang ada ditangan mereka terlepas dan berserakan di jalanan. Kemudian, Naziah semakin mempercepat gerakannya. Dan membuat kedua perampok itu terkapar tak berdaya di atas jalanan. Dengan wajah babak belur penuh luka lebam.


Kepalan tangan Naziah langsung tertahan di udara. Yang hampir saja menjadi pukulan telak untuk nafas terakhir bagi salah satu perampok itu.


"Hahh... aku ampuni." ucap Naziah setelah membuang nafas kasar. Dan bangkit dari tubuh salah satu perampok yang dikukungnya.


Perampok yang memohon ampunan atas temannya itu langsung membantu temannya untuk bangkit dan berdiri.


Naziah merogoh tasnya dan mengeluarkan dompetnya. Kemudian mengambil dua lembar uang kertas berwarna merah dari sana. Dan menyodorkan kearah kedua perampok tersebut.


"Ambil ini, untuk biaya mengobati luka kalian! Pesanku!!! Berhentilah merampok. Carilah pekerjaan yang halal dan tak merugikan orang lain. Jika sampai aku menemukan kalian masih merampok. Maka...tidak akan ada lagi ampunan dariku untuk kalian. Mengerti?!!!" sarkas Naziah penuh peringatan.


"I-iya Nona. Kami mengerti." ucap salah satu perampok itu mewakili temannya dengan terbata-bata. Dan mengambil uang pemberian Naziah.


"Ya sudah, pergilah!." usir Naziah mulai lembut.


"Iya, terimakasih Nona!" ucap perampok itu sebelum beranjak pergi. Sambil memapah tubuh temannya yang sudah tak berdaya mendekati motor mereka.

__ADS_1


"Heem..." jawab Naziah dengan raut wajah sedikit iba melihat hasil karyanya. Yang membuat kedua perampok itu lemah tak berdaya dengan wajah babak belur.


*Sedang kedua pria yang berada didalam mobil tadi. Langsung menyunggingkan senyum puas di bibir masing-masing. Namun, senyum pria yang duduk di kursi penumpang itu lebih penuh makna tersendiri.


"Huhh...!!! Sungguh gadis langka. Aku semakin kagum saja padanya." ucap spontan pria di balik kemudi itu membuang nafas legah.


Plaaak...


"Auh...! Sakit Bos. Kenapa kau memukulku?" tanya pria itu lagi setelah mendapat tamparan yang sedikit keras di kepalanya.


"Kau masih ingat yang kukatakan tempo hari kan?! Berhenti mengaguminya!!! Dia milikku." ucap tegas pria di kursi penumpang itu. Dengan menekan dua kata terakhirnya.


**


Setelah kepergian kedua perampok tersebut. Naziah kembali menghampiri wanita yang hampir menjadi korban perampok tadi.


"Ibu tidak apa-apa?" tanya Naziah memastikan.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Justru seharusnya aku yang bertanya padamu Nak. Apa kau tidak kenapa-napa setelah perkelahian tadi?" tanya balik Wanita paruh baya itu. Sambil membolak-balikkan tubuh Naziah.


"Alhamdulillah, Aku juga tidak apa-apa." jawab Naziah dengan tersenyum manis. "Boleh aku tanya, Kenapa Ibu berani mengambil uang banyak seperti itu hanya seorang diri?" tanya Naziah mengungkap pertanyaan yang ada dibenaknya.


"Ah syukurlah kalau kau tidak kenapa-napa!" ucap Wanita paruh baya itu merasa lega. "Ini pertama kalinya aku mengambil uang seorang diri. Karena selama ini aku diantar oleh suami atau anakku. Hari ini, mereka semua sibuk. Jadi, aku putuskan untuk jalan sendiri."


"Dan Kupikir, selama ini aman-aman saja. Ternyata..." jelas Wanita paruh baya itu panjang lebar dengan praduganya yang salah pada Naziah.


"Ya sudah, lain kali... tolong berhati-hatilah! Jangan mudah percaya dengan keadaan. Maaf... bukan maksudku untuk menggurui?! Tapi, aku hanya sekedar mengingatkan saja. Mungkin Ibu lupa."


"Oh iya, tadi ke sini naik apa Bu?" tanya Naziah sambil menengok kanan-kiri seperti mencari sesuatu.


"Astaghfirullahal'adzim, aku harus segera pesan taksi untuk pulang. Tadi aku buru-buru dan naik taksi online Nak." ucap Wanita tersebut terkejut. Sambil merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Dan akan memesan taksi.


"Tidak perlu pesan taksi Bu. Ayo, aku antar?!" ajak Naziah


"Terima kasih Nak. Aku sudah banyak merepotkan mu. Kau akan kemana? Pergilah! Biar aku naik taksi saja." tolak halus Wanita tersebut


"Aku akan berangkat kerja. Tidak apa-apa. Biarkan aku yang mengantarkan Anda. Agar aku bisa memastikan Anda selamat sampai tujuan. Ok?!" paksa halus Naziah

__ADS_1


"Heh...baiklah. Ayo!" jawab pasrah Wanita tersebut.


__ADS_2