
Tanpa diarahkan, Pak sopir itu pun langsung memberhentikan mobilnya dengan perlahan. Ditepi jalan depan bengkel yang dimaksud oleh Naziah itu.
"Sebentar ya, Mas!" ucap Naziah berpamitan. Sambil membuka pintu mobil dan keluar.
Saat itu, bengkel tersebut tampak sangat ramai pengunjung. Sebelum melangkah masuk, Naziah lebih dulu memperhatikan setiap sudut bagian depan dari bengkel itu. Naziah sedikit takjub dengan peruntukannya. Yang saat dia masih bekerja di sana beberapa tahun lalu, masih belum begitu besar. Meski sudah termasuk bengkel terbesar di kota itu, saat itu. Kini, semakin tampak luas dan nyaman bagi pengunjungnya. Karena di sana sudah terdapat stand minuman racikan.
Dari dalam bengkel tersebut, salah seorang montir pria di sana terus memperhatikan Naziah dari kejauhan. Karena merasa curiga, pria itu mendekati salah satu temannya.
"'Bang! Siapa wanita di sana itu? Sejak tadi, dia seperti memperhatikan bengkel ini." ucap montir itu pada Haikal yang dia panggil dengan sebutan 'Bang. Sambil menunjuk dengan matanya.
Dan Haikal yang dipanggil oleh teman juniornya itu. Langsung menoleh serta mengikuti arah pandangan temannya itu. Kemudian memperhatikan dengan seksama wanita yang dimaksud temannya itu.
"Astaga! Ziah!!!" ucap Haikal lirih, terkejut. Saat mengetahui wanita itu adalah teman seprofesinya dulu.
"Abang mengenalnya?" tanya teman Haikal itu.
"Tentu saja. Aku akan menemuinya dulu." jawab Haikal. Melepas sejenak pekerjaannya dan menghampiri Naziah.
Naziah yang masih asyik menatap keliling area depan bengkel tersebut. Seketika menoleh kearah Haikal yang langsung datang menghampirinya. Naziah begitu bahagia saat melihat teman lamanya itu. Masih bekerja di sana dan tentunya masih mengenalnya.
"Assalamu'alaikum! Kau benar Naziah 'kan? Atau aku sedang berhalusinasi karena sangat merindukanmu!" sapa Haikal dan pura-pura bertanya dengan menampilkan senyum sumringahnya.
"Wa'alaikumsalam, Kak. Ini benar aku, Naziah Chairunnizwa. Kau sedang tidak berhalusinasi. Apa kabar Kak? Aku juga sangat merindukanmu." jawab Naziah sambil meraih tangan Haikal untuk disalaminya.
"Benarkah kau merindukanku?" tanya Haikal lagi sambil menatap wajah Naziah dengan menelisik.
__ADS_1
"Hehehe... aku mengerti maksudmu, Kak! Maafkan adikmu yang khilaf ini?! Pekerjaanku begitu menyita waktu. Belum lagi tempatnya yang begitu jauh di rantau orang...!" jawab Naziah tulus dan jujur apa adanya. Sambil cengengesan dan merangkul lengan Haikal, manja.
"Apa Bos Ardi-nya ada? Aku ingin menyapa beliau sebentar. Ayo bawa aku, padanya!" imbuh Naziah masih dengan posisi yang sama, merangkul manja lengan Haikal. Dan
"Hei...! Siapa gadis ini? Berani-beraninya menggandeng tangan suamiku didepan mataku, seperti ini." ucap Olivia dengan menghadang didepan Haikal dan Naziah. Sambil bertolak pinggang dengan wajah yang dibuat penuh amarah.
"Ya Allah, Kak Olivia! Kau di sini juga." ucap Naziah terkejut. Sambil melepaskan rangkulan tangannya dari Haikal. Dan segera beralih mendekati Olivia serta memeluknya erat. "Apa kabar Kak Oliv'? Aku sangat merindukan kalian...!" sambungnya dengan nada manja.
"Dasar gadis nakal!!! Kau kemana saja, Hem? Kenapa baru kelihatan? Sudah bertemu teman baru, kau sampai melupakan kami." ucap Olivia, mengumpati Naziah lembut. Lalu berucap setengah merajuk pada sikap Naziah yang seperti mengabaikan mereka.
"Bukan..." ucap Naziah
"Kau ingin beralasan apa lagi? Kau memang sudah melupakan kami, Zi'!" potong Fauzan dan Rizky. Dan tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Naziah.
"Ya Allah... Kak 'Uzan... Rizky! Kalian masih pada di sini semua rupanya." ucap Naziah tersenyum bahagia. Karena masih bisa dipertemukan dengan semua teman-temannya itu.
"Tentu saja. Memangnya kita-kita harus kemana lagi. Jika di sini saja, kami sudah sangat bahagia bersama. Kau sendiri saja yang tega meninggalkan kami!" ucap Rizky menimpali pernyataan Naziah itu.
"Aauhh....!" ucap Naziah sambil memegangi kepalanya. Yang tiba-tiba saja ada yang mengetuknya dari belakang. "Siapa sih?!!" sambungnya dengan berbalik.
"Apa!!!" ucap Pak Ardi dengan bertolak pinggang dan menatap Naziah penuh rindu. "Kau lupa pada orang tua angkat-mu ini?!" sambung Pak Ardi.
"Pa'...!" ucap Naziah dengan mata yang sedikit mulai berkaca-kaca menatap pria paruh baya didepannya itu. "Aku sangat-sangat merindukanmu. Aku tidak akan pernah melupakan mu sampai kapanpun. Jika aku sudah melupakanmu, untuk apa aku kesini!" sambung Naziah meraih tangan Pak Ardi dan menyalaminya takzim. Kemudian sejenak merangkul tubuh pria paruh baya itu yang tampak sedikit kurus dari terakhir kali Naziah melihatnya.
"Bapak sehat? Kenapa tampak kurus seperti ini?" imbuh Naziah memandangi tubuh renta Pak Ardi.
__ADS_1
"Bapak, sehat. Hanya kurang makan saja. Habisnya, anak angkat Bapak ini tidak pernah pulang-pulang. Jadi, Bapak kepikiran padanya." jawab Pak Ardi.
Sementara itu, Rega yang melihat keakraban Naziah dengan beberapa pria yang ada di bengkel tersebut. Merasa semakin cemburu pada calon istrinya itu. Bagaimana tidak? Selama mengenal Naziah, dapat bersalaman dan bersentuhan tangan saja dengan Naziah. Dapat dihitung dengan jari-jari dari satu tangan saja. Itupun terjadi, kadang tanpa sengaja.
Kini, Naziah malah begitu dekat dan bahkan bersentuhan tanpa sungkan dengan para pria-pria di bengkel tersebut. Tentu saja, hal itu tidak akan bisa diterimanya dan dibiarkannya terus berlanjut. Untuk itu, Rega pun ikut turun mengikuti Naziah.
"Assalamu'alaikum! Naziah, waktumu sudah habis. Ayo kita pergi!" ucap dan aja Rega datar.
Meski hatinya sedang marah, Rega tetap tak melupakan adabnya sebagai seorang muslim. Untuk mengucap salam terlebih dahulu saat bertemu sesama kaum muslim.
Mendengar salam seseorang dan memanggil nama dari salah satu kumpulan mereka itu. Langsung saja semua orang di sana mengalihkan pandang kearah sumber suara itu. Dan mendapati seorang pria dengan tampilan parlente-nya yang terlihat sangat tampan serta berkharisma. Berdiri di jarak kurang lebih 3 meter dari mereka.
"Wa'alaikumsalam." jawab semua orang yang ada di kumpulan itu
"Eh, Mas! Iya. Maafkan aku?! Karena baru berjumpa setelah sekian lama dengan mereka. Aku lupa waktu." ucap dan jawab Naziah tersenyum samar.
"Oh iya, karena Mas sudah di sini. Sekalian saja aku perkenalkan pada mereka. Ayo!" imbuh Naziah dengan sedikit anggukan kepalanya mengajak Rega untuk mendekati mereka.
Sedang semua yang ada di sana selain Naziah. Saling melempar pandang dan seperti saling berbicara melalui mata mereka saja. Bertanya siapa sebenarnya pria yang dipanggil Mas oleh Naziah itu.
Demi menghargai teman-teman dari Naziah itu. Rega pun menuruti Naziah untuk berkenalan sejenak dengan para temannya itu.
"Bapak! Kenalkan, dia calon suamiku. Nama Rega." ucap Naziah pada Pak Ardi. "Dan Mas! Beliau ini adalah pemilik bengkel ini sekaligus ayah angkatku. Namanya Pak Ardi." sambungnya beralih pada Rega
"Pekenalkan, nama saya Rega, Pak. Calon suami Naziah. Salam kenal!." ucap Rega mengulurkan tangannya kearah Pak Ardi. Sambil memperlihatkan senyum ramahnya.
__ADS_1
"Oh iya, salam kenal juga. Saya ayah angkat Ziah." ucap Pak Ardi menyambut uluran tangan dari Rega itu sambil balas tersenyum ramah.
Dan setelahnya, Rega pun berkenalan dengan semua teman-teman dari Naziah itu. Dan usai melaksanakan acara perkenalan itu. Rega dan Naziah pun pamit undur diri. Untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka yang tertunda itu.