
"Libur sholat??? Maksudmu!" tanya Rega tak mengerti. "Memangnya ada, waktu libur untuk sholat bagi seorang muslim 'Van? Jangan mengada-ada kamu, hanya karena malas mengerjakannya!" sambungnya bertanya pada Devan dan mencibir jawaban Naziah atas alasan tak ingin mengerjakan sholatnya.
Devan yang ikut tak mengerti. Hanya menatap wajah Naziah, bingung.
"Em... memang tidak ada kata libur dalam mengerjakan sholat bagi seorang muslim. Tapi, aku seorang muslimah bukan muslim. Yang tentunya adalah seorang muslim yang normal dan subur. Sama seperti wanita muslimah lainnya. Yang sudah pasti akan menjalani libur sholat dalam kurun waktu satu bulan berjalan. Apa Anda mengerti maksud saya? Aku rasa masalah ini tidak perlu diperpanjang deh?!! Jika anda ingin sholat, silahkan!!! Aku dan Ifah akan menunggu di mobil saja." jelas Naziah sedikit lebih spesifik.
Namun tampaknya, Rega tetap belum mengerti. Dan itu terlihat dari raut wajahnya yang masih tampak semakin bingung dibuatnya. Karena malas berdebat akan masalahnya itu. Naziah berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dengan mempersilahkan Rega dan juga Devan untuk sholat.
Devan yang sedikit banyak tahu tentang seorang wanita. Membisikkan sesuatu ke telinga Rega.
"Dia sedang Menstruasi, Kak." bisik Devan
"Oh, astaga! Aku mengerti. Baiklah. Kalian tunggu saja disini. Kami akan berjalan kaki saja ke mesjid itu. Assalamu'alaikum!." ucap Rega sambil menunjuk kearah mesjid yang tampak dekat dari tempat mereka berdiri saat itu.
"Iya. Silahkan! Wa'alaikumsalam." jawab Naziah dan juga Ifah.
Karena mesjid yang akan dituju oleh Rega dan Devan itu. Hanya berjarak kurang lebih 60 meter dari toko oleh-oleh itu. Rega dan Devan memutuskan untuk berjalan kaki saja. Dan meninggalkan mobil mereka dengan Naziah dan Ifah di sana.
Setelah bayangan Rega dan Devan menghilang dari pandangan mereka. Naziah dan Ifah memutuskan untuk duduk di kursi pengunjung. Yang tadi sempat diduduki oleh Ifah dan Devan saat baru datang ke toko itu.
Beberapa menit berlalu, saat Naziah sedang mengobrol santai dengan Ifah. Tak sengaja, mata Naziah melihat kearah jalanan didepannya yang tampak begitu ramai dengan kendaraan. Tetapi, ada salah satu mobil yang menarik perhatiannya. Karena tampak mogok dipinggir jalan tepat didepan toko tempat mereka duduk bersantai saat itu. Dan terlihat mesinnya tidak mau menyala saat distarter-starter berulang kali. Ditambah dengan pengemudinya adalah seorang wanita. Yang juga tampak baru saja pulang kerja. Itu terlihat dari pakaiannya yang ia kenakan.
"Ifah, kita ke sana yuk!" ajak Naziah sambil menunjuk kearah mobil mogok itu.
"Ke sana! Mau ngapain Mba'?" tanya Ifah
__ADS_1
"Aku hanya ini melihatnya. Siapa tahu dia perlu bantuan kita." jawab Naziah santai. Sudah, sambil berjalan kearah yang ditunjuknya.
"Eh, eh, tungguin aku, Mba'!" ucap Ifah yang baru beranjak dari duduknya. Dan Berusaha mengejar langkah kaki Naziah. "Wah... emang kita bisa bantu untuk mendorong atau memperbaiki mobilnya itu, Mba'? tanya Ifah lagi. Saat langkahnya sudah sejajar dengan langkah kaki Naziah.
"Aku lihat dulu. Mobil itu jenis mobil matic. Kita tidak bisa sembarang untuk main dorong begitu saja, mobilnya." jawab Naziah masih begitu santai sambil terus berjalan.
Saat sudah berada di jarak kurang lebih 2 meter dari mobil mogok itu.
"Permisi, Mba'! Mobilnya kenapa?" tanya Naziah ramah pada wanita pengemudi mobil itu. Yang masih terus saja berusaha menghidupkan mesin mobilnya. Dengan duduk stay di kursi kemudinya.
"Eh, Iya Mba. Aku nggak tahu kenapa, tiba-tiba saat jalan tadi sudah tersendat-sendat dan kemudian mati. Aku coba hidupkan lagi mesin, dia udah nggak mau hidup. Padahal, bensinnya masih ada kok." jawab wanita pengemudi itu menjelaskan keadaannya.
"Em...begitu ya. Boleh... aku lihat dulu indikator dashboard mobilnya?" jawab dan pinta Naziah pelan.
"Em...?!!" gumam Wanita itu ragu.
"Oh... Maafkan saya?! Kalau begitu, silahkan Mba'!" ucap wanita itu seraya menyunggingkan senyum ramah di bibirnya. Dan kemudian turun dari mobilnya tanpa menutup kembali pintu mobilnya itu. Serta mempersilahkan Naziah untuk memeriksakan keadaan mobilnya itu.
"Terimakasih, atas kepercayaan Mba'. Permisi!" ucap Naziah
Yang kemudian tidak naik kedalam mobil. Melainkan hanya melihat kearah lampu-lampu dashboard mobil itu. Demi memastikan kondisi mesin mobil tersebut. Yang ternyata dari panel indikator suhu menunjukan kondisi suhu mesin mobil itu panas dan cukup tinggi.
"Kapan Mba' terakhir kali mengganti air radiatornya?" tanya Naziah.
"Oh astaga!" ucap wanita itu teringat sesuatu dan menjelaskannya. "Aku sudah lupa Mba'. Kapan terakhir aku mengganti air radiatornya itu."
__ADS_1
"Ya sudah, mesin mobilnya terlalu panas Mba'. Lebih baik, kita tunggu sekitar setengah jam. Atau hingga mesinnya dingin dulu, baru kita periksa volume air radiatornya. Agar mesinnya sedikit lebih cepat dingin. Kita harus membuka kap mobilnya dulu." ucap Naziah berkesimpulan.
"Mba', tidak lagi buru-buru kan?" imbuh Naziah lagi, untuk memastikan.
"Jika dikatakan terburu-buru, nggak juga. Aku hanya sudah lelah dan lapar saja. Hehe..." jawab Wanita itu sedikit cengengesan dan merasa malu.
"Ya Tuhan. Kalau begitu, keadaan kita sama. Kami juga baru pulang kerja dan belum sempat pulang ke rumah. Karena sedang membeli sesuatu di toko itu. Bagaimana, kalau kita cari makan saja dulu di dekat sini?" ucap Naziah sambil sedikit melirik kearah Ifah yang ada dibelakangnya. Yang sejak tadi hanya diam tak berkomentar sedikitpun. Dan hanya terus memperhatikan interaksi antar kedua wanita yang ada didepannya itu.
"Em... boleh juga. Tapi, bagaimana dengan mobilku?" jawab wanita itu khawatir akan mobilnya.
"Tinggalkan saja. Tapi, jangan lupa untuk perseneling nya dinetralkan dulu. Dan kunci semua pintu mobilnya." ucap Naziah mengingatkan.
"Oh iya, baiklah." jawab wanita itu dan melaksanakan semua peringatan Naziah itu.
Setelah memastikan semua pintu mobilnya terkunci dengan benar. Wanita itu menghampiri Naziah dan Ifah yang menunggunya.
"Oh iya, sebelum kita jalan bersama. Perkenalkan, namaku Eka!" ucap wanita itu dengan mengulurkan tangannya kearah Naziah dan memperkenalkan namanya, Eka.
"Oh i...ya. Kenalkan, namaku Naziah. Dan ini temanku." jawab Naziah dengan menyambut uluran tangan Eka itu.
"Ifah." ucap Ifah ikut memperkenalkan diri dan menyambut uluran tangan dari Eka itu.
"Eka." ucap Eka lagi pada Ifah.
Tiba-tiba, suara bariton dari Rega yang memanggil Naziah. Seketika mengalihkan perhatian ketiga wanita itu. Dan melihat kearah kedatangannya bersama dengan Devan itu.
__ADS_1
Melihat ada orang lain bersama dengan calon istri dan temannya itu. Rega hanya bertanya melalui tatapannya kearah Naziah.
Sedang Eka yang melihat sosok Rega yang mendekat. Langsung menatapnya takjub dan memberi tatapan memuja atas ketampanan Rega itu. Hingga matanya lupa untuk berkedip.