Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Tidak Waras?!!


__ADS_3

*Didalam mobil taksi


Karena berada dalam satu mobil dengan atasan mereka yang terlihat dalam keadaan marah. Mulut Naziah dan Ifah seakan kompak terkunci rapat. Tetapi, karena rasa penasaran akan hal apa yang membuat atasan mereka itu tiba-tiba memperlakukan mereka seperti itu. Mereka memilih saling mengobrol lewat ponsel masing-masing, yaitu chatting.


Namun dari chatting-an itu, ternyata mereka hanya saling tanya. Dan sama-sama tidak tahu apa penyebab marahnya Sang atasan mereka itu.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit lamanya. Dan terlihat gerbang masuk area Mess karyawan yang terdapat milik Naziah didalamnya. Sebab area halaman dari Mess karyawan itu hanya cukup untuk kendaraan roda dua. Rega meminta sang sopir untuk mengantar mereka sampai didepan gerbang saja.


Setelah mobil taksi itu berhenti tepat didepan gerbang tersebut. Ternyata, Devan pun yang mengendarai motor milik Naziah, juga sudah sampai di sana. Rega turun dari taksi itu dan menghampiri Devan.


"Bayar taksinya dan bawa motornya masuk!" titah Rega tanpa basa-basi pada Devan yang masih setia di atas motor Naziah.


Dan dengan patuhnya, Devan hanya mengangguk. Kemudian, Devan menghampiri sang sopir taksi yang sudah menunggunya. Untuk membayar upah taksi tersebut.


Naziah dan Ifah yang melihat Devan membayar upah taksi itu. Dan Rega yang ikut turun bersama mereka. Merasa bingung dan saling melempar pandang. Seakan arti pandangan Naziah padanya itu bertanya; Ada apa lagi ini?. Sehingga, Ifah menjawabnya dengan mengendikkan bahunya sekilas.


"Loh!!! Kok, Tuan ikut turun sih?" tanya Naziah ketus.


"Suka-suka aku dong. Ayo masuk dan tunjukan Mess mu!!!" jawab Rega santai dan memerintah seenak jidatnya pada Naziah. Untuk menunjukan tempat tinggal Naziah.


"Eh, enak saja! Aku nggak mau tunjukkin." tolak Naziah, angkuh. Sambil melipat kedua tangannya didepan dada. "Lagian... untuk apa coba, Tuan ke Mess ku?!" tanyanya sewot.


"Aku ingin bicara dengan ibumu, sekarang." jawab Rega masih dengan santainya. Sambil mengisi kedua telapak tangannya kedalam saku celana jasnya.

__ADS_1


"Hah...!!!" ucap Naziah dengan ekspresi terkejut namun bingung. "Apa Tuan sudah tidak waras? Tuan 'kan tahu, saya merantau kesini seorang diri! Jadi, tentu saja ibuku tidak disini, Tuan." sambungnya menjelaskan dengan nada sewot. Namun sebelum itu, ia sempatkan mengatai Rega tidak waras.


Pendengaran Rega yang begitu tajam langsung menangkap kata tidak waras yang ditujukan padanya itu. Dan dengan gerak tiba-tiba, dia menyentil keras dahi Naziah.


tuk....!!! bunyi sentilan jari Rega pada dahi Naziah.


"Aauhh....! Sakit Tuan." ucap Naziah dengan mengadu sambil mengusap-usap dahinya yang terasa perih karena sentilan Rega tadi.


"Itu hukuman untukmu, karena kau mengatai aku tidak waras." ucap Rega tanpa rasa bersalah. "Aku ingin bicara bersamamu dengan beliau melalui ponselmu. Jadi, ayo cepat masuk!!!" sambungnya


"Dan kau juga harus ikut masuk. Menginaplah dengannya malam ini!" ucap Rega beralih pada Ifah. Memerintah dengan nada penuh ketegasan.


"Baik, Tuan." jawab Ifah patuh. Kemudian dengan cepat mengapit lengan Naziah dan mengajaknya untuk segera beranjak dari sana menuju Mess. "Ayo Mba'!" ajak Ifah.


Naziah pasrah dan mengikuti saja langkah Ifah yang mengapit lengannya itu. Dan mendelik kesal kearah Rega. Sedang Rega, berpura-pura tak melihat wajah kesal yang ditampilkan Naziah barusan itu.


Setelah berjalan kaki sebentar melewati beberapa mess. Akhirnya, Naziah dan Ifah sampai di mess milik Naziah. Yang mana, Devan sudah menunggu mereka sejak tadi, di sana. Begitu sampai, Naziah langsung membuka pintu mess-nya. Dan mempersilahkan Ifah dan Devan masuk.


Sementara Rega, masih berada dibelakang dan berjalan dengan santainya. Sambil memperhatikan suasana dan keadaan Mess yang telah dibangunnya. Dan diperuntukkan khusus karyawan yang bekerja di perusahaannya tersebut.


Dua orang wanita yang telah mengenakan pakaian tidur panjangnya. Tiba-tiba keluar dari dalam salah satu mess yang akan dilewati Rega. Langsung terkejut dan spontan menutup mulut masing-masing dengan tangannya.


"Astaga!!! Bukankah dia, Tuan Rega pemilik perusahaan tempat kita bekerja?!" ucap salah satu wanita bernama Lia. Dengan mata menatap kagum kearah Rega yang melewatinya. Masih dengan tetap menutup mulutnya.

__ADS_1


"Iya. Dia beneran Tuan Rega, Lia. Lihatlah! Kadar ketampanannya itu tak berkurang sedikitpun. Meski dalam mode datar seperti itu." timpal si wanita bernama Gina. Tapi tidak menutup mulutnya seperti hal temannya. Dia hanya menimpali dengan menatap wajah Rega, terpaku ditempatnya.


Melihat kedua wanita tersebut. Dan tak ingin dicap atasan sombong saat diluar kantor. Rega berusaha tersenyum ramah sambil sedikit menganggukkan kepalanya, tanda menyapa kedua wanita tersebut.


"Ya ampun!!! Dia tersenyum, Li'. Meleleh sudah diriku karenanya. Aauu...AU...AU..!" ucap si Gina lebay. Dan melemaskan tubuhnya hingga menempel pada si Lia, temannya.


Rega yang baru menyadari akan kekaguman dua wanita itu atas ketampanannya. Segera mempercepat langkah kakinya. Agar segera sampai di mess milik Naziah.


"Assalamu'alaikum!" ucap Rega saat sudah berdiri tepat didepan pintu masuk mess milik Naziah. Dan hanya mendapati Devan yang duduk sendiri diruang tamu itu.


"Wa'alaikumsalam." jawab Devan.


"Wa'alaikumsalam." jawab Naziah dan Ifah bersamaan pula dari arah dalam mess itu.


Baru saja Rega ingin bertanya kemana Naziah dan Ifah pergi. Ternyata, keduanya menjawab salamnya dan terdengar dari arah dalam sana. Sehingga, Rega pun mengurungkan niatnya bertanya pada Devan. Dan ikut duduk disalah satu kursi plastik yang tersedia di ruang tamu milik Naziah itu.


Tak berapa lama, Naziah yang membawa nampan berisi gelas-gelas minuman dan disusul oleh Ifah dibelakangnya. Yang juga membawa nampan ditangannya. Masuk ke ruang tamu itu dan menyajikan minuman serta beberapa potong kue brownies coklat yang dibawa oleh Ifah. Kehadapan Rega, Devan dan juga untuk Ifah sendiri.


"Silahkan diminum dulu tehnya, Tuan Devan! Kau pasti kedinginan tadi, saat naik motor tanpa mengenakan jaket." ucap Naziah lembut.


"Hehehe... Iya. Mba' tahu aja. Terimakasih, Mba'!" jawab Devan cengengesan. Kemudian meminum teh tersebut dengan perlahan sambil menggenggam gelasnya dengan kedua telapak tangannya. Guna mendapatkan kehangatan dari sisi luar gelas teh tersebut untuk tangannya yang kedinginan.


Usah mempersilahkan Devan untuk meminum teh yang disajikannya. Naziah langsung pamit sebentar untuk kedalam. Tanpa mempersilahkan Rega, seperti dia mempersilahkan Devan tadi.

__ADS_1


"Aku kedalam dulu ya 'Fah! Silahkan diminum tehnya." ucap Naziah sambil melangkah pergi meninggalkan tamu-tamunya itu.


"Tunggu, Zi!!!" tahan Rega dengan suara cukup lantang. Agar terdengar oleh Naziah yang sudah dalam posisi membelakangi ruang tamu itu. Dan hampir memasuki ruang tengah mess-nya itu.


__ADS_2