Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Cemburu


__ADS_3

Setelah semua koper bawaan mereka telah keluar dari bagasi mobil. Devan pun kembali memasuki mobilnya dan pergi. Rega menaikan semua koper itu ke lantai lobi. Total koper bawaan mereka itu sebanyak tiga buah saja. Yang salah satunya adalah milik Naziah.


"Sebentar, kau tunggu disini dulu. Aku akan mengambil troli barang di sana." ucap Rega pada Naziah. Kemudian sedikit berlari kearah troli barang yang memang tersedia didepan lobi bandara itu. Dan mengambil salah satunya untuk ia gunakan membawa sekaligus tiga buah koper tersebut.


Sambil menuggu Devan di ruang tunggu. Naziah menyempatkan diri untuk memberi kabar pada ibu dan kedua adiknya di kampung. Kalau dia dan Rega serta Devan sudah di bandara dan akan segera berangkat. Dan setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Devan datang juga.


"Ayo, Kak... Mba'...! Mereka sudah menunggu kita." ucap Devan setelah berada tepat didekat tempat duduk Rega dan Naziah, menunggunya.


"Em." jawab Rega, singkat.


Dan mereka pun kembali melanjutkan langkah dengan dituntun oleh Devan. Sambil membawa troli yang berisi tiga buah koper miliki mereka itu. Langsung menuju pintu untuk pengecekan tiket dan barang. Setelah lolos, lanjut menuju pintu keberangkatan.


Sementara itu, Naziah yang terus berjalan mengikuti langkah kedua pria bersamanya itu. Dalam hatinya sedikit bingung dan bertanya-tanya.


'Kok, kita nggak nunggu lama seperti para penumpang pesawat pada umumnya sih? Yang kata orang-orang yang pernah naik pesawat. Harus nunggu 1-2 jam dulu baru berangkat. Apa iya, aku akan naik pesawat pribadi seperti jet atau heli begitu? Ah... nggak mungkin. Masa iya Big Bos, calon suamiku ini sekaya itu!' batin Naziah bermonolog sendiri. Hingga membuatnya sedikit menggelengkan kepalanya, pelan.


Rega yang sedikit melirik kearah Naziah. Tak sengaja melihat gelengan kepala yang dilakukan Naziah itu. Membuatnya khawatir tiba-tiba, takut jika Naziah mabuk perjalanan saat melakukan perjalanan jauh. Apalagi perjalanan yang akan dilakukan melalui udara.


"Ada apa? Apa kau punya penyakit mabuk saat melakukan perjalanan jauh? Atau... ini perjalanan pertama mu menaiki pesawat?" cerca Rega dengan raut wajah sedikit khawatir menatap Naziah. Sambil terus mengayunkan langkah kakinya.


"Em... aku tidak pernah mengalami mabuk perjalanan. Tapi jujur, ini pertama kalinya aku naik pesawat." jawab Naziah. Juga terus berjalan mengikuti langkah Devan yang membawa mereka menuju pesawat khusus.

__ADS_1


"Eum, syukurlah kalau kau tak mabuk perjalanan. Apa kau merasa gugup?" jawab dan tanya Rega lagi. Kini dengan sedikit senyum di bibirnya.


"Gugup?!" ulang Naziah. "Sepertinya tidak. Aku hanya bingung. Kenapa kita tidak perlu menunggu seperti para penumpang lainnya? Apa kita akan naik pesawat pribadi?" sambungnya mengungkap apa yang sejak tadi menjadi pertanyaan dibenaknya.


"Em... bisa dibilang begitu. Tapi, sayangnya...! Aku belum sekaya itu untuk memiliki pesawat pribadi. Aku hanya menyewa jet pribadi berukuran kecil saja untuk kenyamanan kita. Agar, perjalanan kita bisa cepat sampai. Dan juga, setelah urusanku bersamamu sudah selesai. Aku dan Devan bisa cepat kembali lagi ke sini. Untuk mengerjakan hal lainnya lagi." jawab Rega, jujur dan apa adanya.


"O... begitu. Baiklah, aku mengerti." ucap Naziah. Seraya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Dan mereka pun akhirnya sampai didekat pesawat yang akan mereka tumpangi itu serta mulai menaikinya. Sedang Devan masih sibuk mengurus segala keberangkatan mereka. Dengan para kru pesawat yang akan membawa mereka itu.


Sesampainya didalam pesawat, Rega langsung menuntun Naziah menuju tempat duduknya. Dan membantu memasangkan sabuk pengaman untuk Naziah itu. Sebelum dia sendiri duduk di kursinya dan memasang pengamannya sendiri.


Melihat para penumpangnya telah siap dan aman duduk ditempatnya masing-masing. Dan salah satu pramugari yang melihat kode tanda siap untuk berangkat dari Devan. Dia pun menganggukkan kepala sekali. Lalu, sedikit memberikan instruksi tentang bagaimana dan berapa lama perjalanan yang akan mereka lalui nanti. Sebelum akhirnya pesawat itu mulai diterbangkan ke angkasa atau disebut landing.


Perjalanan udara itu hanya akan berlangsung selama kurang lebih 1 jam lebih 15 menit saja. Dan selama perjalanan itu, Naziah benar-benar tidak merasakan kegugupan atau semacamnya. Seperti kebanyakan orang yang akan merasa gugup saat melakukan perjalanan udara pertama kali seperti itu. Naziah malah begitu santai dan memposisikan dirinya untuk duduk dengan nyaman di kursinya.


Sementara Rega, tanpa sepengetahuan Naziah. Terus memperhatikan gerak-gerik dan wajah ayu Naziah. Dari arah samping karena Naziah memang duduk disampingnya, saat itu.


Didalam pesawat itu hanya ada empat orang kru. Yang terdiri dari pilot, co-pilot, pramugari dan engineer. Sisanya adalah Naziah, Rega dan Devan sebagai penumpangnya.


Setelah 1 jam lebih 15 menit, akhirnya pesawat itu sudah mendarat sempurna di bandara internasional, di kota P.

__ADS_1


Rega memang telah mempersiapkan segalanya dengan begitu detail. Bahkan kedatangan mereka di kota P itu telah ditunggu oleh salah satu sopir berpengalaman dengan sebuah mobil sewaan. Kiriman seorang relasi bisnisnya di kota itu. Yang tentunya pemilik dari tempat sewa mobilnya itu sendiri.


Sehingga saat tiba, Naziah, Rega serta Devan tak perlu lelah menunggu lagi. Setelah koper-koper mereka dimasukan kedalam bagasi mobil. Mereka pun langsung melanjutkan perjalanan lagi menuju desa tempat ibu Naziah tinggal, saat ini.


Saat didalam mobil itu, Naziah banyak diam sama seperti saat didalam pesawat tadi. Dia menyetel musik pada ponselnya dan menyambungkan earphone ke telinganya. Sebagai teman menemani perjalanannya yang akan cukup panjang itu. Sambil menikmati pemandangan suasana kota yang dia rindukan itu. Karena telah lama merantau di kota orang dan baru kembali.


Saat mobil yang mereka tumpangi itu mulai berbelok arah. Menuju jalan yang dulunya sering dituju oleh Naziah saat masih bekerja disebuah bengkel besar di kota itu. Tiba-tiba, Naziah melepas earphone dari telinganya dan beralih pandang kearah Rega.


"Mas!" panggil Naziah. "Bolehkan aku mampir sebentar ke suatu tempat di jalan ini? Lima menit saja." sambung Naziah mengutarakan maksudnya.


Mendengar panggilan yang baru saja disematkan Naziah untuknya. Membuat Rega seketika tersenyum sangat lebar karena merasa bahagia. Dan hampir tak sanggup menjawab pertanyaan yang dituju padanya itu. Beruntunglah, dia mampu menguasai diri dan segera mengiyakan permintaan Naziah itu.


"Em... iya, tentu saja. Silahkan kau beritahukan pada sopirnya kemana tujuanmu itu." jawab Rega masih dengan sisa senyum di bibirnya.


"Terimakasih." ucap Naziah balas tersenyum. "Pak! Kita mampir sebentar di bengkel XX. Bapak tahu bengkel itukan?" sambungnya beralih pada sang sopir.


"Oh... tentu saja, Nona. Hampir semua sopir di kota ini termasuk saya, sangat tahu bengkel itu. Karena itu adalah bengkel terbesar di kota ini, Nona!" jawab pak sopir yang berumur sekitar 40an itu.


"Benarkah!!!" ucap Naziah, ragu. "Apa pemiliknya masih Pak Ardi?" tanya Naziah dengan begitu penuh semangat, kemudian.


Mendengar nama seorang pria disebutkan oleh Naziah dengan ekspresi seperti itu. Seketika membuat senyuman di bibir Rega memudar. Dia merasa cemburu.

__ADS_1


__ADS_2