
Dengan mengendarai sepeda motor milik Naziah dan berboncengan. Akhirnya, tepat pukul 19.00 WITA, Naziah dan Ifah sampai juga didepan pintu pagar kediaman Rega.
Tak ingin mengganggu penghuni lain yang ada dilingkungan itu. Karena bunyi gembong pagar yang akan diketuknya. Naziah mencoba memberi tahu Bi' Suni melalui panggilan telefon saja. Bahwa mereka telah berada didepan pagar rumah majikannya, saat ini.
Tak butuh waktu lama, setelah panggilannya tersambung. Bi' Suni pun mengangkat telefon nya itu.
"Assalamu'alaikum, Bi'!" ucap Naziah dari balik telefon nya.
"Wa'alaikum salam, Zi'. Udah dimana?" jawab Bi' Suni.
"Kami udah didepan, Bi'." jawab Naziah
"Oh astaga! Baiklah, Bibi ke sana sekarang." ucap Bi' Suni.
Dan mulai beranjak dari duduknya sambil mematikan sambungan teleponnya bersama Naziah. Dia memang sejak tadi sudah menunggu kedatangan dua gadis itu. Dengan berduduk santai di kursi ruang tamu. Dan juga menunggu kedua pria yang menjadi majikannya. Yang belum juga keluar dari kamarnya masing-masing. Sejak sebelum menjelang magrib tadi.
Sesampainya didekat pintu pagar, Bi' Suni langsung saja menggeser pintu pagar itu dan memberi ruang untuk Naziah memasukan motornya ke carport.
"Assalamu'alaikum, Bi'!" ucap Naziah dan Ifah bersamaan saat pintu pagar terbuka dan menampilkan seorang Bi' Suni yang berdiri menyambut mereka di sana.
"Wa'alaikum salam, Naziah... Ifah. Ayo masuk! Motornya juga dibawa masuk saja, Zi'. Biar nggak dicuri orang nantinya." jawab Bi' Suni dan meminta Naziah untuk membawa serta motornya juga. Agar diparkir diarea carport rumah itu.
"Baik, Bi'." jawab Naziah singkat. Dan kembali menaiki motornya untuk digiring masuk.
Sedangkan Ifah, sudah menggandeng tangan Bi' Suni dan melangkah masuk lebih dulu. Kemudian menunggu Naziah di atas teras rumah untuk sama-sama memasuki rumah itu.
__ADS_1
Setelah Naziah memarkirkan motornya dengan baik dan juga melepas helm dari kepalanya. Kemudian meletakan helm tersebut di atas spion motornya. Lalu beranjak mendekati Ifah dan Bi' Suni yang sudah menunggunya.
Sesampainya didalam rumah, Bi' Suni langsung mengajak kedua gadis yang menjadi tamunya itu ke ruang makan. Dan mempersilahkan mereka duduk di kursi meja makan minimalis yang tersedia di sana.
"Silahkan duduk dulu ya! Bibi akan panggil dulu para majikan Bibi itu, dikamar mereka." ucap Bi' Suni. Dan Naziah serta Ifah, hanya mengangguk patuh saja menanggapi ucapan Bi' Suni itu.
Sepeninggalan Bi' Suni, untuk memanggil Rega dan Devan. Naziah dan Ifah sibuk memuji serta mengagumi eksterior ruang makan itu dan juga beberapa ruang yang mereka lewati tadi. Saat menuju ruang makan tersebut. Dengan suara pelan dan saling berbisik lirih. Agar tak terdengar pemilik rumah yang akan menganggap mereka norak.
"Wah...! Rumahnya besar juga ya Mba'. Udah gitu, rapi dan bersih lagi. Aku yakin, Nyonya rumah ini pasti senang dengan kebersihan dan karya seni. Buktinya, banyak lukisan unik dan frame-frame yang menghiasi setiap ruangan rumah ini." ucap Ifah menebak sesuai penglihatannya.
"Iya. Aku juga berpikir begitu. Ya sudah, berhenti membuang pandanganmu itu, ke sana kemari. Jika pemilik rumah ini mendapatimu berlaku seperti itu. Bukan hanya kau, bahkan kita berdua akan di dianggap norak, sama mereka.
"Hem... baiklah, Mba'." jawab Ifah patuh dan mulai duduk manis serta terdiam.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Bi' Suni kembali. Mendengar suara langkah kaki yang lebih dari satu orang dan mendekat kearah mereka. Naziah dan Ifah sontak saja menoleh kearah sumber suara itu. Melihat siapa yang datang, mata Naziah dan Ifah kompak terbelalak sempurna dengan mulut yang sedikit menganga tak percaya.
'Puji Tuhan! Apa ini rumah mereka? Dunia seperti sempit sekali rasanya!' batin Ifah pun tak kalah terkejutnya dari Naziah.
Setelah terbengong beberapa detik, Naziah dan Ifah akhirnya sadar. Dan saling pandang satu sama lain. Dan dari pandangan Naziah itu seakan bertanya pada Ifah: 'Apa ini?'. Sehingga Ifah mengendikkan bahunya untuk menjawab pertanyaan itu.
Rega mulai melangkah memasuki ruang makan di rumahnya itu. Dengan diikuti oleh Devan Dan Bi' Suri yang berjalan dibelakangnya.
Wajah Rega menampilkan keramahan dan senyuman tipis yang menghiasi bibir tipis nan seksinya. Sesampainya di meja makan itu, dia langsung mengambil duduk di kursi tempatnya biasa duduk. Dan Devan mengambil duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi yang diduduki oleh Naziah. Sedang Bi' Suni mengambil duduk disebelah Devan dan berhadapan dengan Ifah.
Sungguh!!! Posisi ini membuat kecanggungan langsung mendera seorang Naziah. Bagaimana tidak? Posisinya saat ini sangat dekat dengan posisi Rega duduk.
__ADS_1
Setelah semua sudah duduk manis di kursinya masing-masing. Tanpa basa-basi, Rega langsung membuka pembicaraannya dengan sepatah dua kata. Kemudian mempersilahkan tamu spesialnya itu untuk makan.
"Aku tahu, kalian pasti sedang bertanya-tanya dalam benak kalian. Tentang diriku dan Devan, kenapa bisa ada disini dan apa hubungan kami dengan Bi' Suni ini. Sebelum saya menjelaskan semua, ada baiknya, kita makan saja dulu. Setelah itu, kita akan pindah ke ruang tamu. Dan aku akan menjelaskan semuanya pada kalian di sana. Untuk itu, mari kita makan!" ucap Rega panjang lebar.
"Baik, Pak!"
"Baik, Tuan!"
Jawab Naziah dan Ifah bersamaan. Sedang Devan dan Bi' Suni bersamaan, kompak hanya bergumam saja; "Em...!"
Dan semua yang ada di ruang makan itupun mulai mengisi piring masing-masing, yang telah disiapkan. Dengan nasi dan juga lauk pauk sesuai selera. Kecuali Rega! Entah kenapa dia belum juga mengisi piringnya itu.
"Loh...! Kok Nak Rega belum mengambil makanannya? Apa perlu Bibi ambilkan, Nak?" ucap dan tawar Bi' Suni lembut.
"Tidak perlu, Bi'. Biarkan calon istriku yang melakukannya untukku!" jawab dan ucap Rega, santai. Sambil menatap tajam kearah Naziah dengan menekan setiap kata-katanya itu.
Bi' Suni, Devan dan Ifah mengikuti arah pandangan Rega itu. Dan seketika mengerti, kalau yang dimaksud calon istri oleh Rega itu adalah Naziah. Sedang Naziah sendiri, yang ditatap sedemikian rupa oleh keempat orang itu. Dan juga mendapat senggolan ditangannya dari Ifah. Malah mendelik malas.
"Tapi, Tuan---"
"Aku tidak menerima penolakan, Zi'!" ucap Rega tegas tanpa mau dibantah. Dan memotong begitu saja ucapan Naziah.
"Baiklah. Tuan Rega yang terhormat. Aku akan melayani dirimu, seperti yang kau inginkan." jawab Naziah, panjang lebar. Sambil mengambil piring Rega dan mulai mengisi piring tersebut dengan nasi.
Meski jawaban yang diberikan oleh Naziah itu tak ubahnya sebuah gerutuan, karena terpaksa melakukannya. Namun, Rega tak perduli dan hanya tersenyum kecil sambil terus menatap wajah cantik alami Naziah. Yang terlihat semakin menggemaskan di matanya, saat kesal seperti itu.
__ADS_1
Sedang Bi' Suni, Devan dan Ifah, sudah memulai makannya. Sambil menyembunyikan senyuman bahagia mereka masing-masing. Karena kepatuhan yang terpaksa ditampilkan Naziah pada Rega itu.
Bersambung...