
Setelah kepergian para pelayan dari ruangan Rega itu. Tinggallah Naziah dan juga Rega. Saat akan beranjak keluar dan kembali ke ruangannya sendiri. Naziah tiba-tiba teringat akan sesuatu hal yang sejak tadi ingin dia tanyakan pada rega. Sehingga, gerakannya tubuhnya yang sedikit membungkuk, kembali tegap. Dan Rega melihat hal itu, sehingga bertanya dengan wajah bingung.
"Ada apa?" tanya Rega
"Oh iya, sebelum aku pergi. Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Naziah dengan wajah tampak serius.
"Kau ingin mengatakan apa, Hem...?!" jawab dan tanya Rega.
"Em... bisakah pernikahan kita nanti, dirahasiakan saja terlebih dahulu? Jujur, aku sedikit kepikiran dengan pernikahan kita yang tampak terburu-buru ini. Yang mungkin, dan bisa saja menimbulkan berbagai opini negatif tentangku dari para karyawan kantor ini, nantinya. Dan aku belum siap untuk mendengarnya." jelas Naziah.
"Siapa yang berani beropini negatif? Dan... Opini negatif seperti apa maksudmu?" tanya Rega
"Karyawan-karyawan, terutama para karyawati yang selama ini mengagumimu. Misalnya, mereka akan berpikir kalau aku sudah menggoda-mu dan telah terjadi sesuatu padaku. Sehingga memaksamu untuk menikahi ku secepatnya." jawab Naziah. Dengan menekankan kata 'sesuatu' sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V dan sedikit di tekuk-tekukkan.
"Itu tidak akan terjadi. Sebab, setelah kita kembali dari desamu. Aku juga akan membuat acara resepsi pernikahan kita disini. Dan sebagian besar tamunya nanti adalah seluruh karyawan kantor ini, tanpa terkecuali. Sisanya adalah relasi-relasi dari perusahaan ini dan juga keluarga dekatku serta Ibunda Devi." ucap Rega, datar.
"Benarkah???" tanya Naziah, ragu. Sambil menatap tak percaya kearah Rega.
"Iya." jawab Rega sambil mengangguk pasti. "Jika kau tak percaya, kau bisa bertanya pada Devan. Karena saat ini, mungkin dia sudah memerintahkan orang untuk mencetak undangan pernikahan kita." sambungnya. menjelaskan.
"Heh..!!! Kenapa sih... kau selalu bertindak semau mu? Kau akan menikah denganku, bukan?! Seharusnya, kau berkompromi dulu denganku tentang ini. Kau memang menyebalkan sekali!!! Bagaimana kalau aku menolak dan tidak ingin diadakan resepsi itu? Apa kau akan tampil sendiri di resepsi tersebut! Haish.....! Kau sungguh menyebalkan!!!" omel Naziah dan mengumpat Rega dengan ekspresi wajah penuh kekesalan.
__ADS_1
"Aku rasa, aku tidak perlu bertanya padamu. Karena, jika semua yang kulakukan itu memiliki alasan yang tepat untuk dilakukan. Kau tentu tidak akan menolaknya. Jadi, buat apa buang-buang waktu bertanya padamu." jawab Rega, begitu santai.
"Haissh!!! Walaupun begitu, kau tetap harus bertanya dulu pendapatku! Aku jadi merasa tidak dihargai dalam hal ini." ucap Naziah dengan suara pelan dan lirih. "Sudahlah. Aku kesal padamu!" sambungnya sambil berdiri dari duduknya dan beranjak pergi.
Tapi, belum saja kakinya mencapai pintu. Rega dengan cepat mencegatnya pergi. Dengan menahan tepat dipergelangan tangannya.
"Tunggu!!!" ucap Rega. Sambil menggenggam pergelangan tangan Naziah.
Kemudian, dengan satu gerakkan saja. Rega menarik kuat tangan Naziah itu. Hingga membuat Naziah seketika berbalik dan menghadapnya dengan jarak yang begitu dekat. Jika saja tangan Naziah tidak sigap menghalangi dan membuat jarak antar tubuh mereka. Mungkin, tubuh mereka sudah saling menempel satu sama lain. Dan bibir Rega akan tanpa sengaja mencium kening Naziah. Namun tak sampai, karena Naziah langsung memundurkan wajahnya.
Meski begitu, posisi mereka saat ini tetaplah tampak begitu intim. Jika ada orang lain yang melihat pose mereka seperti itu. Sudah pasti akan salah paham dibuatnya. Bagaimana tidak? Dengan sebelah tangan Rega yang melingkar pada pinggang Naziah. Dan juga kedua telapak tangan Naziah yang menempel pada dada bidang Rega. Membuat mereka tampak begitu mesra.
Rega tersadar lebih dulu dari terpesonanya itu. Dan mendapati Naziah yang juga sedang terpesona akan wajah tampannya itu. Seketika, sebuah ide untuk menjahili Naziah pun terlintas di otaknya. Rega bergerak sedikit memiringkan wajahnya dan semakin mendekatkan ke wajah Naziah.
Dan karena gerakan itu, Naziah pun langsung ikut tersadar. "Eh..eh... kau mau apa? Lepasin aku!" tanya dan pinta Naziah semakin memundurkan wajahnya.
Mendengar itu, bukannya melepaskan. Rega malah semakin mempererat rangkulan tangannya itu pada pinggang Naziah. Dan mendekatkan wajahnya ke sisi ke sisi telinga Naziah dari balik kerudungnya.
"Aku minta maaf?!! Bukan maksud aku tidak menghargai mu. Tapi, aku hanya tidak mau membebani pikiranmu, sayang. Kau adalah calon ratuku. Jadi, biarkan aku saja yang sibuk mempersiapkan semuanya. Kau hanya perlu fokus pada dirimu sendiri. Buatlah dirimu semakin cantik nantinya. Untuk menyambut kedatanganku dan bersiap melayaniku dimalam pengantin, nanti. Kau mengerti?!!" ucap Rega berbisik.
"Nggak. Aku nggak ngerti dan nggak mau mengerti akan hal seperti itu. Tolong, lepasin aku! Apa kau sadar? Kita ini belum muhrim." jawab Naziah, pelan dan lembut. Serta tak berusaha menyadarkan Rega atas apa yang sedang dilakukannya saat itu.
__ADS_1
"Astagfirullahal'adzim!!!" ucap Rega, sadar. Dan spontan memundurkan wajahnya serta menjauhkan tubuhnya dari Naziah. "Maafkan aku?!" sambungnya berucap tulus.
Sungguh, baru saja Rega terperangkap dalam godaan syetan. Akibat terlalu terpesona akan kecantikan wajah Naziah yang begitu terpampang dekat dengan wajahnya, tadi.
Beruntunglah, Naziah segera mengingatkannya. Hingga tidak sampai terjadi hal yang lebih dari berpandangan dan berpelukan seperti tadi.
Diam-diam, Naziah pun terus beristighfar dalam hatinya. Karena sebenarnya, dia pun sempat terpesona akan sajian wajah tampan Rega yang begitu dekat di matanya. Namun, dia segera menguasai dirinya dan menyadarkan Rega.
'Astagfirullahal'adzim, Astagfirullahal'adzim, Astagfirullahal'adzim' batin Naziah beristighfar sebanyak-banyaknya.
"Sudah aku maafkan. Aku akan kembali ke ruangan-ku sekarang. Assalamu'alaikum!" ucap Naziah sambil sedikit merapikan pakaiannya yang terasa berantakan. Akibat ulah Rega yang menariknya cukup kasar dan memeluknya barusan.
"Iya. Terimakasih. Wa'alaikumsalam." jawab Rega.
Setelah salamnya terjawab, segera saja Naziah berbalik dan pergi dari ruangan Rega itu. Meninggalkan Rega yang masih menatapnya dengan hati malu dan merasa berdosa pada diri sendiri dan calon istrinya itu.
Sedang Naziah, sesampainya di ruangannya. Dia terdiam sejenak di kursi sambil terpaku menatap lurus ke depan. Beruntung, jam istirahat makan siang masih berlangsung beberapa menit lagi. Jadi, di ruangan itu baru dia sendiri saja yang ada di sana. Teman-teman yang satu ruangannya belum kembali. Jadi, dia punya waktu untuk merenungi apa yang baru saja terjadi antara dia dan Rega.
Naziah memegang salah satu sisi dadanya yang terdapat jantung didalamnya. Di sana, masih terasa detak jantungnya yang terus memompa dengan begitu cepat. Seperti dia habis berlari maraton saja.
'Ada apa dengan jantungku? Kenapa masih berdebar-debar saja sih...! Apa mungkin, aku telah jatuh cinta pada Rega ya?" batin Naziah bertanya dan bermonolog. Hingga pipinya terasa memanas karenanya. Naziah pun memegang kedua pipinya itu, sendiri.
__ADS_1