
Tak butuh waktu lama, hanya beberapa menit saja. Ifah pun kembali dengan empat buah vas bunga kosong ditangannya.
"Ini vas bunganya Mba'!" ucap Ifah sambil meletakkan vas-vas yang dibawanya ke atas mejanya.
"Oke. Mari bantu saya menata bunga ini di vas-vas itu. Lalu letakkan mereka di atas meja kerja kita." ucap Naziah sambil beranjak dari kursinya dan mulai berdiri membuka setiap buket bunga itu.
Sambil membantu Naziah menata bunga-bunga itu kedalam vasnya masing-masing. Ifah tidak sabar untuk tidak menanyakan sesuatu yang sejak tadi membuatnya penasaran.
"Mba', apa Mba' sudah tahu siapa sebenarnya pengirim bunga ini? Dari tadi, kayaknya Mba' seperti nggak penasaran dan mencari tahu siapa sebenarnya pengirim buket bunga ini!" ucap Ifah tak ingin menyimpan rasa penasarannya.
"Em... jika saya tidak salah duga, sepertinya... saya tahu siapa dia. Emang kenapa 'Fah?" jawab Naziah terlampau santai. Dan balik bertanya pada Ifah.
"Mba' tahu ya. Saya penasa...ran Mba'. Dan kepo, pengen tahu! Hehe... Boleh nggak saya tahu, siapa orangnya, Mba'?" ucap Ifah manyun. Namun kemudian, berubah cengengesan dan mengungkapkan kekepoannya itu.
"Iiih... kamu kepo banget sih, 'Fah!" ucap Naziah mencibir sambil meledek dengan lirikan ekor matanya. "Em... kasih tahu, nggak ya?!!" lanjutnya semakin membuat rasa penasaran Ifah meninggi.
"Kasih tahu dong Mba'!!! Mumpung yang lain belum pada datang, Mba'. Jika hanya saya yang tahu, maka rahasia Mba' Naziah akan tetap aman terkendali." bujuk Ifah dengan sedikit memuji diri.
"Em..."
Tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka dari luar dan diikuti dengan ucapan salam dua orang pria dari luar. Sehingga, ucapan Naziah pun terpotong.
"Assalamu'alaikum, Mba' Naziah dan Ifah." ucap Iwan dan Sahrul bersamaan menyapa.
"Wa'alaikumsalam, Iwan... Sahrul." jawab Naziah dan Ifah berbarengan secara spontan. Sambil menengok kearah sumber suara itu.
Dan kedatangan kedua pria itupun membuat Naziah tak jadi meneruskan perkataannya. Dan membuat Ifah menarik salah satu sudut bibirnya ke samping. Sambil menatap malas dan kesal kearah kedua pria itu. Maksud hati Ifah untuk mengetahui siapa pengagum rahasia Naziah. Jadi tertunda karena kedatangan dua pria itu.
"Wah, dalam rangka apa nih, bunga mejanya pada disamain? Udah gitu, pakai bunga hidup lagi." celetuk Sahrul saat matanya melihat bunga-bunga yang sedang ditata oleh Naziah dan Ifah. Kemudian dibagi dan diletakan pada meja-meja kerja yang ada di ruangan itu.
"Nggak dalam rangka apa-apa. Cuma lagi pengen memberi sedikit warna dan pewangi alami dalam ruangan kita ini dari wangi bunga ini. Nggak apa-apa 'kan?!" jawab Naziah jujur apa adanya. Dan meminta pendapat kedua pria bawahannya itu.
__ADS_1
"Ya, nggak apa-apa dong, Mba'. Justru kami senang, bisa dapat pewangi alami seperti ini. Terimakasih." jawab Iwan senang.
"Terimakasih kembali dan selamat bekerja, semuanya." ucap Naziah sambil kembali ke kursi kerjanya dengan membawa satu vas bunga Krisan miliknya. Dan meletakan vas bunga itu ke atas mejanya.
Dan hari itu, Naziah lalui sama seperti hari-hari sebelumnya. Dengan banyaknya tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Demi kemajuan perusahaan tempat dia menggantungkan hidupnya saat ini hingga nanti.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat; Jam makan siang pun tiba. Seluruh karyawan dan karyawati perusahaan itu berbondong-bondong menuju kantin perusahaan untuk mengisi perut mereka. Tak terkecuali dengan Naziah.
"Mba', sudah jam makan siang. Ayo, kita makan dulu!" ajak Ifah yang memang sering berangkat bareng Naziah saat akan ke kantin.
Mendengar Ifah yang mengajaknya makan. Sejenak Naziah melirik arloji ditangannya. Dan benar saja, di sana sudah menunjukan pukul 11.35 WITA. Setelah menyimpan pekerjaannya kedalam sebuah file di komputernya. Naziah mematikan komputer tersebut. Dan segera beranjak dari duduknya. Sambil salah satu tangannya meraih ponsel yang sejak tadi ia letakkan didalam laci meja kerjanya.
"Ayo!!!" ucap Naziah setelah sudah berada tepat didepan Ifah.
Dan Ifah yang memang dua tahun lebih muda dari Naziah dan pembawaannya yang sedikit manja. Langsung merangkul lengan Naziah dan melangkahkan kaki mereka bersama keluar dari ruangan tersebut.
Naziah yang memiliki sifat sedikit dewasa, mudah bergaul dan tidak pemilih teman. Asalkan temannya itu nyaman dengannya. Dia tak masalah, sekalipun teman itu bermanja-manja dengannya.
"Nona Naziah?!!"
Tanya wanita paruh baya yang sedang berdiri didekat pintu masuk kantin tersebut. Demi memastikan, kalau dia tidak salah orang. Yang dikenal Naziah merupakan pengelolah kantin itu.
Naziah yang disebut namanya langsung menghentikan langkahnya. Dan Ifah yang masih setia merangkul lengannya pun, ikut berhenti.
Naziah mengangguk pelan dengan kening sedikit berkerut memandangi wajah wanita paruh baya itu. Dia bingung melihat sikap aneh wanita paruh baya pengelolah kantin tersebut.
Yang biasanya, wanita itu hanya stay didekat meja prasmanan kantin itu. Kini menyambutnya bak seorang putri.
"Mari Nona, saya sudah menyiapkan kursi khusus untuk Anda!" ucap Ibu pengelola kantin itu lagi. Tanpa memperdulikan wajah bingung yang ditampakkan Naziah.
Mendengar sudah ada kursi khusus yang disiapkan untuknya. Naziah dan Ifah saling pandang.
__ADS_1
"Kursi khusus?? Maksud Ibu apa?!" tanya Naziah semakin bingung. "Saya tidak menginginkan atau merasa memesan kursi khusus. Saya sudah terbiasa berbaur dan duduk bersama dengan yang lainnya, Bu." sambung Naziah menjelaskan kebiasaannya.
"Nona memang tidak memesan kursi. Tetapi, seseorang yang telah memesankannya untuk Anda, Nona. Mari!!!" jawab wanita paruh baya itu lagi. Tanpa putus asa mengajak Naziah untuk ikut bersamanya.
"Tapi, Bu. Saya sedang bersama dengan teman saya. Tidak mungkin saya membiarkannya sendiri untuk makan. Sedang dia datang bersama saya." ucap Naziah kembali menjelaskan dalam kebingungannya.
"Bawa saja temanmu itu. Tidak apa-apa."
Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah suara bariton menimpali pernyataan Naziah itu.
Merasa suara itu tak asing baginya. Naziah segera berbalik dan melihat pemilik suara tersebut.
"Tuan Rega!!!" ucap Naziah lirih hampir tak terdengar.
"Ayo, ikut!!!" ajak Rega dan berjalan lebih dulu didepan Naziah serta Ifah.
Sedang dibelakang mereka, ada Devan yang selalu setia mendampingi Rega kemanapun. Kecuali, ke kamar kecil tentunya. Hihi...😁
"Terimakasih, Bu. Silahkan kembali ke tugas Anda!" ucap Devan sambil tersenyum ramah pada wanita paruh baya pengelolah kantin itu.
Setelah berterimakasih dan mempersilahkan pengelolah kantin itu untuk kembali ke tempat seharusnya. Devan langsung kembali menyusul Rega, Naziah dan Ifah yang sudah lebih dulu pergi dari sana.
Sementara itu, sambil mengikuti langkah Rega yang entah akan membawa mereka kemana. Didalam perasaan takutnya pada big bos mereka itu. Ifah sedikit menekan lengan Naziah agar bisa menundukkan sedikit tubuhnya. Dan bisa sejajar dengan tubuh Ifah yang sedikit lebih pendek dari Naziah. Karena dia ingin mengatakan sesuatu. Tetapi, tak ingin didengar oleh big bos yang posisinya didepan mereka.
"Mba', sebenarnya, kita mau dibawa kemana?" tanya Ifah dengan berbisik.
"Saya juga nggak tahu, 'Fah. Kita ikut saja. Daripada big bos kita itu marah. Kau tahu 'kan, kalau dia sedang marah seperti apa?!" jawab Naziah dengan mengendikkan bahunya.
Mendengar penuturan Naziah seperti itu. Dengan gerakan cepat, Ifah menganggukkan kepala mengerti. Dan sedikit merinding saat membayangkan kebiasaan big bos mereka itu, jika sedang marah.
Sesampainya di ruangan dan kursi khusus yang dikatakan oleh Ibu pengelolah kantin tadi. Bukannya langsung duduk, Rega malah menggeser salah satu kursi. Dan mempersilahkan Naziah untuk duduk di kursi itu.
__ADS_1
"Ayo, duduk!" ucap Rega datar dengan menatap tepat ke wajah Naziah.