Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Si Faisal


__ADS_3

Ternyata seseorang dibalik tiang beton itu adalah Faisal, sang manager dari devisi yang sama dengan Naziah. Atau dengan kata lain, seorang Faisal adalah bos Naziah didevisinya.


Dan juga, orang yang tadi sempat pingsan akibat mendapat tendangan telak dari bos preman sewaannya sendiri yang berkhianat secara terang-terangan didepannya. Faisal telah sadar sejak dua menitan yang lalu. Namun memilih tetap bersembunyi dibalik tiang tersebut karena terlalu malu untuk menampakan dirinya dihadapan Naziah. Setelah kekalahan yang diterimanya hanya dengan satu gerakan saja. Sungguh memalukan memang!!!.


Melihat Naziah telah pergi dan tertinggal Devan. Serta beberapa polisi yang masih mengatur para preman yang wajahnya telah babak belur. Bahkan diantaranya telah pingsan sejak tadi. Akibat terkena pukulan-pukulan telak yang diberikan oleh Naziah tadi.


Setelah merasa sudah cukup kuat. Faisal pun mulai berusaha bangkit dari duduknya yang bersandar pada tiang sejak tadi. Sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit berdenyut nyeri akibat terbentur dilantai dengan keras tadi.


Devan yang melihat pergerakan seseorang dibalik tiang disalah satu sudut ruangan itu. Langsung menghampirinya untuk mencari tahu siapa seseorang itu. Dan tak menyangka, kalau itu adalah Faisal.


"Kau!!!" ucap Devan cukup terkejut dengan mata hampir membulat sempurna. "Pak Faisal, kau kenapa? Mari aku bantu?!!" lanjut Devan sambil memegangi salah satu lengan Faisal dan membantunya berdiri tegak.


"Kepalaku hanya masih sedikit pusing, Pak Devan. Terimakasih sudah membantu." ucap Faisal sedikit sungkan pada sekretaris pribadi dari Bos besarnya itu.


"Ngomong-ngomong, apakah kau salah satu korban yang dikatakan Tuan Rega padaku, tadi? Jika begitu, ayo aku bantu jalan?!! Ambulans untukmu masih menunggu di sana." ucap Devan sambil bermaksud kembali membantunya jalan untuk menuju mobil ambulans yang ditunjuknya dengan mata.


"Em... mungkin saja. Tapi aku sudah tidak apa-apa, Pak Devan. Sungguh!!! Terimakasih atas perhatiannya. Aku akan pulang ke rumahku saja. Paling, setelah beristirahat sebentar, besok pagi aku sudah baikkan." jawab Faisal pelan dan berusaha meyakinkan Devan, kalau dia baik-baik saja. Dan menolak untuk dibawa ke rumah sakit bersama dengan Rega.


"Tapi Pak Faisal, kau masih sedikit pusing kan?! Apa tidak apa-apa, kalau kau menyetir sendiri nantinya?" tanya Devan ragu jika membiarkan Faisal menyetir sendiri dalam kondisi seperti itu. Karena saat jalan saja, Faisal masih tampak oleng.


"Iya. Tidak apa-apa, Pak Devan. Kepalaku bukan pusing, tetapi hanya masih sedikit berdenyut saja, Pak." jawab Faisal masih berusaha menolak halus ajakan Devan untuk membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


"Oke, baiklah. Jika kau memang merasa baik-baik saja. Aku hanya peringatkan!!!Berhati-hatilah dan pelan-pelan saja saat menyetir. Karena bukan berarti lolos dari maut disini. Kau juga akan lolos dari maut dijalanan." ucap Devan akhirnya pasrah dengan penolakan Faisal. Tetapi kemudian mengganti tawarannya dengan peringatan keras pada Faisal. "Oh iya, jika polisi ingin meminta keterangan darimu tentang peristiwa malam ini. Kau harus siap memberikan kesaksianmu dan membantu anggota kepolisian dalam menyelidiki kasus ini nantinya. Bisa 'kan??!" lanjut Devan bertanya.


"Iya. Saya bersedia Pak. Silahkan hubungi saja saya, jika memang diperlukan?!!" jawab Faisal dengan terpaksa memberikan jawaban itu. Sambil melangkah perlahan menuju mobilnya.


Sebenarnya, saat menjawab atas kesediaannya itu. Jujur, dalam hati dan pikiran Faisal sedang diliputi rasa takut dan kalut. Sebab, bagaimana tidak merasa takut dan kalut? Karena, jika sampai pihak kepolisian menyelidiki dan menemukan akar dari terjadinya peristiwa tersebut. Maka, sudah dipastikan para preman sewaannya itu akan menyebut namanya. Dan juga yang membantu mereka masuk ke area tersebut. Yang sesungguhnya sangat jauh dari jangkauan orang luar seperti mereka. Dan akhirnya, secara otomatis status Faisal akan menjadi dalang utama dari semua tragedi malam itu.


Ya, karena memang sebenarnya peristiwa malam ini diawali dari rencana bodohnya yang ingin menjadi pahlawan kesiangan di mata Naziah. Namun kini... bukannya jadi pahlawan. Faisal, justru terancam menjadi seperti penjahat berdingin. Yang diam-diam ingin mencelakai dan membuat Big Bos dari tempat bekerjanya saat ini. Bahkan hingga terluka parah dan dilarikan ke rumah sakit.


Dan jika sampai terjadi sesuatu yang fatal pada Big Bosnya itu. Maka, hati Faisal juga akan diliputi rasa bersalah atas kematian Big Bosnya itu.


*****


Begitu mobil ambulans itu berhenti tepat didepan lobi. Para perawat pria langsung sigap membuka pintu dan masuk kedalam ambulans tersebut. Kemudian menurunkan tandu yang berisi tubuh lemah Rega dan menaruhnya di atas brankar dorong yang juga siap dibantu pegang oleh perawat wanita. Setelah itu, dengan kembali sigap dan cepat. Mereka semua mendorong brankar tersebut menuju ruang unit gawat darurat. Dan diikuti oleh Naziah pula yang tak melepaskan tangannya dari tubuh Rega. Tepatnya di posisi tubuh Rega yang terkena luka tusuk.


Setelah hampir memasuki ruang unit gawat darurat, mereka berhenti sejenak. Salah satu dari dua perawat wanita mendekati Naziah.


"Permisi Nona! Anda tidak diizinkan untuk masuk ke sana. Jadi, biarkan saya yang menggantikan tangan Anda untuk menutupi luka itu." ucap perawat itu.


Dan Naziah hanya mengangguk patuh serta langsung melepaskan tangannya dari kain pashmina yang sudah sedikit melekat pada luka itu, akibat darah yang mulai mengering dan menggumpal. Setelah tangan perawat itu bersiap menggantikan tangannya.


Kemudian, Rega pun mulai dibawa masuk ke ruang tersebut dengan cepat. Karena dokter yang juga tadi telah dihubungi oleh Devan telah bersiap didalam dengan beberapa temannya yang memang ahli dalam bidangnya masing-masing. Dan sudah terbiasa menangani insiden seperti ini.

__ADS_1


Setelah lampu pertanda sedang dilaksanakannya suatu penanganan khusus untuk pasien di ruangan itu dinyalakan. Naziah memilih duduk menunggu di kursi yang tersedia di dekat di ruangan itu.


Tak berapa lama, Naziah yang sedikit melamun. Seketika langsung mendongakkan kepalanya, karena mendengar suara langkah kaki orang yang berlari kecil di lorong tempatnya saat ini sedang duduk sendiri. Dan ternyata sumber suara itu berasal dari kaki panjang Devan yang terlihat berlari kecil mendekati Naziah.


Mengetahui itu Devan, Naziah kembali tertunduk lemah. Dan membuat kedua telapak tangannya saling menggenggam untuk menutupi getaran yang tercipta akibat rasa khawatir yang berlebihan dalam dirinya. Mengingat keadaan Big Bosnya terakhir kali sudah sangat mengkhawatirkan.


"Nona, karena Tuan Rega sudah dalam penanganan. Anda sudah boleh pulang. Mari saya antar?!" ucap Devan sopan.


Mendengar ucapan Devan itu, Naziah pun kembali mendongakkan kepalanya dan melihat tepat ke arah wajah Devan.


"Tidak Tuan. Saya akan tetap disini untuk menunggu jalannya operasi Tuan Rega hingga selesai. Dan akan memastikan, kalau dia baik-baik saja. Karena biar bagaimanapun? Tuan Rega seperti ini, karena ingin menolong saya. Jika saya pulang dan terjadi sesuatu terhadapnya. Saya akan sangat merasa bersalah pada diri saya. Jadi, izinkan saya untuk tetap disini, Tuan." tolak Naziah halus dan menjelaskan kenapa dia harus tetap di sana.


"Tapi Nona, pakaianmu telah kotor karena terkena darah Tuan Rega. Apa kau tak merasa risih akan itu?" tanya Devan berusaha mengingatkan Naziah, kalau saat ini penampilannya sudah tampak sangat kacau.


"Oh iya!!!" ucap Naziah baru tersadar setelah sejenak memandangi dirinya sendiri. "Tapi tidak apa-apa, Tuan. Saya akan tetap menunggu dan akan mencuci noda darah ini dulu di toilet. Saya permisi dulu, Tuan?!" lanjut Naziah bersikeras untuk tetap di sana dan hanya akan mencuci noda darah yang dimaksud itu. Kemudian pamit untuk pergi ke toilet sebentar.


"Eh, tunggu sebentar, Nona!!! Saya ingin membeli sesuatu dulu di luar. Apa kau bisa tetap disini barang sebentar? Aku takut, saat dokter keluar nanti. Dan operasinya telah selesai, dia tak menemukan seseorang pun disini." tahan Devan dan meminta Naziah untuk jangan dulu kemana-mana. Karena dia harus keluar dulu, sekarang.


"Oh iya, tentu saja, Tuan. Silahkan, belilah apa yang Anda ingin beli! Saya akan tetap disini. Dan saya akan ke toilet setelah Anda sudah kembali dari luar." jawab Naziah sambil mengangguk pasti.


"Oke. Aku pergi dulu." ucap Devan lagi. Kemudian berlalu pergi dari sana dan kembali meninggalkan Naziah sendiri.

__ADS_1


__ADS_2