
Selesai mengobati Naziah, Dokter Karina dan Rendi pun langsung berpamitan pulang. Setelah kepergian dua orang itu, Anto, Ulfi dan Tita kembali menemui Naziah di kamarnya.
"Zi', maafkan kami ya...??! Gara-gara kami, kau jadi terjebak nikah muda." ucap Tita tulus dengan wajah sendu.
"Iya. Maafkan kami ya Zi'...??!" timpal Ulfi.
"Hem... jangan ucapkan kata itu 'Ta...! Ingat!!! Ucapan itu adalah do'a. Dan kalian tahukan, jika aku tidak pernah punya impian untuk menikah muda." jawab Naziah setelah menghela nafas beratnya.
"Jadi, ini masih belum terlambat untuk menjelaskan pada Dokter Karina tentang kesalahpahaman tadi. Aku akan menjelaskan padanya lewat pesan chat saja. Karena, jika berbicara langsung seperti tadi. Dia tidak akan pernah mendengar penjelasan ku." sambung Naziah berinisiatif.
Mendengar inisiatif sahabat mereka itu. Anto, Ulfi dan Tita pun hanya mengangguk setuju. Kemudian, Naziah pun mulai mengetik sebuah pesan penjelasan kepada Dokter Karina melalui aplikasi hijau dalam ponsel pintarnya. Dan sama-sama menunggu dengan cemas hasil dari tindakan inisiatifnya tersebut.
Satu detik...dua detik... hingga hampir satu menit lamanya mereka menunggu. Akhirnya, sebuah panggilan suara dari Dokter Karina Pun terpampang dilayar depan ponselnya. Dengan segera, Naziah pun menggeser tombol hijau untuk menyambungkan panggilan tersebut.
"Halo Zi'...! Bunda sudah membaca pesanmu. Sebelumnya, Bunda minta maaf padamu ya?! Karena terlanjur kesal dan malu atas sikap anak Bunda sendiri. Bunda sampai tak mendengar penjelasan darimu tadi dan salah paham. Tapi Zi', keputusan Bunda untuk menikahkanmu Minggu depan itu. Sepertinya... sudah tidak bisa diubah deh?!!" jelas Dokter Karina
"Kenapa tidak Bunda...??! Aku masih terlalu muda jika menikah sekarang Bun'. Kumohon Bun'... ??!!! Aku tidak apa-apa dengan Rendi melihat rambutku saja kok Bun'. Jadi, tolong keputusannya ditarik kembali ya Bunda...?!!!" mohon Naziah dengan sungguh-sungguh.
"Hem... baiklah. Bunda terima permohonanmu itu. Tapi, bolehkah Bunda bertanya sesuatu hal padamu Nak?" tanya Dokter Karina pelan
"Tentu saja boleh Bun'. Silahkan... tanyakanlah!" jawab Naziah.
"Kenapa kau menolak menikah dengan Rendi? Apa kau tidak mencintai anak Bunda itu Zi'?" tanya Dokter Karina pelan dan hati-hati.
"Bunda, ... aku bukan menolak untuk menikah dengan anak Bunda itu. Dan masalah mencintai Rendi atau tidak. Aku tidak ingin mengumbar kata-kata itu, Bun'. Insya Allah, aku serahkan semuanya pada Tuhan. Bukan bermaksud menceramahi Bunda. Tetapi, aku hanya mengungkapkan sepengetahuan ku saja. Bahwa, rasa cinta dan sayang itu semuanya hanyalah milik Allah SWT. Jadi, aku berdoa dan berpasrah padanya." jawab Naziah jujur.
"Baik Nak, Bunda mengerti. Sekarang, Bunda sudah sampai di rumah. Bunda akan berbicara kembali dengan Rendi. Istirahatlah yang banyak dan tetaplah obati lukamu, agar cepat sembuh. Bunda tutup telfonnya, Assalamu'alaikum!" ucap Dokter Karina
__ADS_1
"Iya Bunda. wa'alaikumsalam." jawab Naziah dan mengakhiri panggilan telfonnya.
"Alhamdulillah...!!!" ucap Naziah berbarengan dengan ketiga sahabatnya mengucap syukur.
Naziah mengucap syukur dan bahagia karena tak jadi menikah muda. Sedang ketiga sahabatnya mengucap syukur dan berbahagia. Karena tak menjadi penyebab bagi Naziah menikah muda. Dan terjerumus kedalam pernikahan paksa yang tak tahu akhirnya akan bahagia atau tidak nantinya.
Waktu pun berlalu, luka dan lebam di wajah Naziah sudah sembuh. Naziah pun semakin sibuk dengan jadwal menyusun skripsinya. Sedang pekerjaan di bengkel sedikit ia kurangi hari masuknya. Sebab ia lebih banyak melakukan praktik laboratorium di kampusnya.
Sedang Rendi sendiri, seiring berjalannya waktu. Dia semakin mengerti tentang diri Naziah. Dan begitupun sebaliknya, Naziah pun semakin mengenal diri Rendi.
***
Dan hari ini, Naziah dengan teman satu fakultas dan jurusan yang sama. Termaksud sahabatnya Anto pun akan ikut bersamanya. Mereka akan melakukan kunjungan praktik laboratorium untuk terakhir kalinya di sebuah perusahaan mobil terbesar dan satu-satunya. Disalah satu kota besar yang masih satu pulau dengan pulau yang mereka tinggali saat ini, namun berbeda provinsi. Dan kegiatan itu akan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan lamanya.
Dua hari sebelum keberangkatannya, Naziah dan Anto memutuskan untuk pulang kampung terlebih dahulu. Mereka akan berpamitan langsung pada orang tua serta sanak famili mereka di sana.
Mengetahui Naziah akan menemui ibu dan kedua adiknya di kampung. Rendi pun menawarkan diri untuk mengantarkan sendiri Naziah dan Anto dengan mobilnya saat pulang kampung.
Meski awalnya sedikit berat untuk mengizinkan Naziah pergi. Tetapi, apalah daya Rendi menahan calon istrinya itu. Ia sudah berjanji untuk tidak menghalangi pendidikan yang sedang ditempuh oleh kekasih hatinya itu. Lagipula, itu juga merupakan tugas terakhir dari kampusnya.
Didalam mobil, dalam perjalanan pulang ke kampung. Anto yang mengemudikan mobil Rendi. Mengajak Naziah dan Rendi mengobrol santai. Saat itu, Rendi duduk di kursi penumpang di samping Anto. Dan Naziah duduk di kursi penumpang di bagian tengah mobil sejuta umat itu.
"Ziah, buat bekal rempeyek kacang ya...?! Buat yang banyak. Biar saat di kota X nanti kita bisa hemat belanjanya." ucap Anto
"Baiklah, insya Allah akan aku buat yang banyak. Oh iya, kalau begitu... sebelum sampai rumah. Kita mampir dan belanja bahan-bahannya dulu ya... di pasar sentral di desa T." jawab dan pinta Naziah pada Anto.
"Asiaaap!!!" ucap Anto menirukan salah satu jargon pesinetron yang ada di televisi.
__ADS_1
"Aku titip calon istriku ya Bro?! Jangan biarkan ada lelaki lain yang menyentuh dan mendekatinya. Jika sampai ada, cepat kabari aku. Dan dengan segera aku akan datang dan mematahkan tangan serta kakinya. Agar lelaki itu tahu, bahwa wanita ini sudah ada pemiliknya. Oke!!!" pesan Rendi pada Anto.
"Siap Bro!!! Kau tenang saja. Mungkin, sebelum kau sampai ditempat kami. Akulah yang lebih dulu akan mematahkan tangan dan kaki dari lelaki pengganggu itu. Hahaha... lihat saja nanti." jawab Anto sambil tertawa senang.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya mereka sampai. Rendi memutuskan untuk menginap di rumah Anto. Karena itu, berhubung rumah Anto akan melewati rumah Naziah. Anto dan Rendi mengantarkan Naziah ke rumahnya. Dan menyapa ibu Adel serta adik-adik Naziah lebih dulu. Setelahnya, barulah mereka melanjutkan ke rumah orang tua Anto.
Keesokan harinya, mereka kembali lagi ke kota. Sebab Naziah dan Anto masih harus menyiapkan segala keperluan yang akan mereka bawah. Dan akan mereka gunakan sehari-harinya saat ditempat magang nanti.
Di hari berikutnya, tepat pukul 8 pagi. Bus mini yang ditumpangi Naziah dan teman-temannya sudah dilakukan pelepasan untuk keberangkatan mereka.
Selama dalam perjalanan ke tempat yang mereka tuju. Agar perjalanan yang cukup panjang dan butuh waktu lama itu. Akan terasa singkat dan tak membosankan baginya. Demi menghibur diri, Naziah mendengarkan musik dari ponselnya menggunakan earphone dan berusaha untuk tidur.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 8 jam lamanya. Akhirnya, bis mini yang membawa Naziah dan teman-temannya sampai ditempat tujuan.
Mereka akan menginap di Mes kosong. Yang khusus telah disiapkan oleh pihak kampus. Dan Mess pabrik tersebut sudah berdiri sejak beberapa tahun lalu. Yang setiap tahunnya selalu dihuni oleh para mahasiswa yang melakukan magang di kota besar tersebut. Serta karyawan tetap dari pabrik mobil tersebut.
Karena didalam rombongan itu, Naziah satu-satunya wanita. Maka, dia mendapat satu ruang khusus untuk dirinya sendiri. Sedangkan teman-teman prianya mendapat masing-masing satu kamar yang akan dihuni oleh dua orang. Dan rombongan magang itu terdiri dari lima belas orang.
Selama tiga bulan, mereka akan berada di kota besar itu. Dan untuk melakukan praktik kerja lapangan. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok. Yang mana setiap kelompok berjumlah lima orang.
Dalam pembagian kelompok ini, Naziah dan Anto terpisah kelompok. Naziah termaksud dalam kelompok satu. Sedang Anto masuk kedalam kelompok dua.
Saat pertama kali memasuki perusahaan terbesar yang akan menjadi tempatnya melakukan praktik kerja selama tiga bulan ke depan itu.
Naziah begitu takjub melihat semua peralatan yang ada di sana. Sehingga membuatnya terus tersenyum senang di setiap langkah kakinya.
Manager atau pengelolah bengkel tersebut yang juga merupakan anak dari salah satu dari pemegang saham terbesar di bengkel itu. Mengajak semua mahasiswa magang itu untuk berkeliling. Dan memperkenalkan setiap ruang-ruang yang ada. Serta peralatan apa saja yang ada dan tersedia di sana.
__ADS_1
Termaksud Naziah yang merupakan satu-satunya mahasiswi dari rombongan magang itu.