
Tepat pukul 06.30 WITA, sarapan telah tersaji di meja makan. Naziah yang membuat sarapan dan dibantu oleh Mamanya. Bersama-sama menyelesaikan sajian sarapan untuk mereka semua, pagi itu.
"Sarapannya sudah siap. Sekarang, ayo panggil suamimu dan juga kedua adikmu kemari! Kita akan sarapan sama-sama." titah Mama Adel, lembut pada Naziah.
"Baik, Ma. Kakak panggil mereka dulu." jawab Naziah, sambil beranjak pergi dari dapur itu.
Naziah lebih dulu memanggil kedua adiknya. Yang sibuk menyapu dan beberes diarea dalam rumah mereka itu. Agar nanti, ketika para tetangga dan warga yang ingin membantu mereka beberes. Tinggal bagian area luar rumah itu saja.
"Dede! Ade! Ayo, kita sarapan dulu!" panggil dan ajak Naziah pada Elvira dan Lastri.
"Oh, sudah siap ya?" tanya Lastri dan Naziah mengangguk saja. "Oke... Kak. Kami siap meluncur...!" lanjutnya.
Diantara kedua adik Naziah itu, memang Lastri-lah yang sedikit lebih centil dan cerewet. Sedang Elvira, dia tipe gadis yang pemalu, dan berbicara seperlunya serta dirasa penting saja. Namun, dia juga gadis yang kreatif dan cerdas.
Setelah memanggil kedua adiknya. Kemudian, Naziah melanjutkan langkah kakinya ke kamarnya. Untuk menemui Rega dan mengajaknya sarapan bersama.
Tok...tok...tok... "Mas...!" panggil Naziah, pelan.
Sambil mengetuk terlebih dahulu pintu kamarnya itu, sebelum masuk.
"Iya. Masuk aja, Sayang!" jawab Rega dari arah dalam.
__ADS_1
Mendengar itu, barulah Naziah memutar kenop pintunya dan melangkah memasuki kamar pribadinya yang kini telah menjadi kamar Rega juga.
"Mas, udah mandi?" tanya Naziah, ketika melihat Rega sedang berusaha mengenakan kaos ke tubuhnya dengan sedikit mendesis. Mungkin karena kulit perutnya ikut ketarik keatas saat mengangkat tangan. Dan Rega hanya mengangguk pasti menjawab pertanyaan istrinya itu. "Kalau begitu harus ganti lagi dong... kain perbannya. Sebab itu, pasti sudah basah?!" lanjut Naziah.
"Iya. Memang harus diganti, Sayang. 'Kan nggak nyaman juga kalau dibiarkan basah kayak gini, 'Yang. Air pada perbannya, pasti nanti meresap ke kaosnya Mas ini. Jadi, tolong gantiin dulu ya, Sayang! Please...." jawab Rega dengan memperlihatkan wajah memelas-nya.
Membuat Naziah gemes dan pengen nonjok wajah tampan suaminya itu.
"Hem... Sebentar, aku bilang dulu sama Mama dan adik-adik. Biar mereka nggak lama nungguin kita buat sarapan bareng." ucap Naziah dan memutar badan untuk kembali ke ruang makan. Agar ibu dan kedua adiknya itu tak menunggu mereka. Dan bisa sarapan lebih dulu tanpa harus menunggu.
"Eh, tunggu, Sayang!" tahan Rega. Dan Naziah pun spontan menghentikan langkahnya.
"Sarapannya udah siap ya?" tanya Rega. Dan Naziah hanya mengangguk saja. "Ya udah, kita sarapan aja dulu. Mereka pasti nungguin kita, biar bisa sarapan bareng. Sekalian, kita juga bisa langsung membicarakan perihal kepulangan kita nanti sore pada mereka. Ayo!" lanjut Rega.
"Terus.... perban lukanya, gimana tuh?" ucap tanya Naziah sambil menunjuk dengan mata, perban luka yang dimaksud.
Sambil tangannya menarik beberapa lembar tisu yang ada di atas meja rias Naziah. Dan menempelkan tisu itu ke perbannya. Dan benda itu bisa menjadi alat penghalang air yang ada pada perban itu, agar tak meresap ke pakaian yang ia kenakan saat itu.
"Hemmmm...! Ya sudah, ayo!" ucap Naziah setelah sedikit menghembuskan nafasnya berat.
Dan mereka pun memutuskan untuk sarapan saja dulu. Setelahnya, baru akan menggantikan perban luka itu.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Menjelang siang, benar saja seperti kata Naziah tadi. Bahwa akan ada beberapa warga yang datang membantu mereka. Khusus bapak-bapaknya, akan membereskan dan merapikan kembali halaman rumah mamanya itu. Sedang ibu-ibunya, akan membantu menyiapkan makan siang. Untuk para bapak-bapak dan semua yang ikut membantu di sana.
Dan saat para warga itu sampai di sana. Mereka langsung tahu apa-apa saja yang harus mereka lakukan di sana. Tanpa harus di arahkan lagi oleh sang pemilik rumah. Mereka akan membuat penampakan halaman rumah itu, kembali sebagaimana keadaan awalnya.
Diantara para warga yang datang itu. Ketiga sahabat Naziah pun, juga sudah ada di sana. Dan bergabung untuk bergotong royong dengan para warga-warga itu. Dan merekapun akan ada di sana untuk bekerja hingga siang menjelang, pastinya. Karena memang semuanya harus diselesaikan hari itu juga. Sebab esok harinya, para warga itu sudah akan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Setelah perbannya yang basah itu selesai digantikan Naziah, usai sarapan tadi. Rega pun tanpa sungkan, ikut bergabung bersama para bapak-bapak di sana.
"Aduh, Nak! Luka tusuknya, apa sudah sembuh dan nggak sakit lagi? Jika masih sakit, lebih baik kamu istirahat saja, Nak. Bapak yang ngilu loh, liat kamu ikut kerja." ucap salah satu bapak-bapak pada Rega. Dengan raut wajah sedikit meringis.
Bapak-bapak itu seakan ikut merasakan sakitnya luka tusuk yang dialami Rega itu. Saat melihat Rega ikut menyusun kursi-kursi plastik di sana. Dan mengangkatnya untuk dimasukan kedalam mobil pick up yang sudah standby di sana. Untuk mengembalikan kursi-kursi itu ke gudang di balai Desa.
"Nggak apa-apa. Lukanya sudah agak mendingan dan nggak terlalu sakit kok, Pak." jawab Rega dengan sedikit tersenyum. Dan tangannya terus bergerak mengangkat dan menyusun kursi-kursi plastik yang ada di sana.
Tapi tiba-tiba, Anto datang menghampirinya. Dan....
"Iya, Bro. Lukamu itu pasti masih sangat basah dan sakit. Lebih baik kau duduk saja di sana, Bro! Sambil ngelihatin kita, biar nggak bosan juga. Kalau harus hanya berdiam diri saja didalam kamar terus-terusan." ucap Anto memaksa mengambil alih pekerjaan Rega itu. Sambil menunjuk kearah teras dengan ujung matanya. Yang mana di sana ada kursi yang tersedia sebagai tepat bersantai.
"Iya, Nak. Lebih baik kau duduk saja. Kami tidak ingin kau cedera lagi. Sudah cukup salah satu anak muda desa ini yang mencederai mu, kemarin. Jadi, jangan buat kami semakin merasa bersalah padamu. Ya?!" timpal bapak-bapak yang lainnya.
"Hem... baiklah. Selamat bekerja. Aku akan duduk saja di sana. Aku mohon maaf karena tak bisa ikut membantu kalian. Dan terimakasih sebelumnya." jawab Rega, menurut. Dan mulai melangkah pergi meninggalkan orang-orang itu.
__ADS_1
Dia menurut saja, karena memang sebenarnya luka pada perutnya itu. Terasa berdenyut saat ia bergerak mengangkat tumpukan kursi plastik itu kedalam mobil. Namun, karena merasa tidak enak hati sebagai tuan rumah. Dia hanya akan berdiam diri dan menonton orang-orang yang membantunya saat itu.