Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Apa Kau Siap, 'Fah?


__ADS_3

Keesokan harinya, berhubung hari libur kerja. Semalam, Naziah sudah janjian dengan Ifah dan berencana berolahraga untuk mengisi pagi hari mereka.


Karena itulah, usai melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Kini, Naziah sudah tampak cantik, rapi dan stylish dengan pakaian olahraganya.


Dia mengenakan outfit one set berwarna hijau tosca, khusus wanita muslimah. Yang dipadu dengan jilbab khusus olahraga dengan topi hitam, senada dengan jilbab itu.


Saat ini, Naziah sedang sibuk mengenakan dan mengikat tali sepatu sneaker putih miliknya. Sambil berbicara dengan seseorang melalui earphone yang terhubung langsung pada ponsel didalam saku outfitnya.


"Iya. Tunggu, sebentar. Aku akan segera meluncur." jawab Naziah. Sambil terus mengikat satu persatu tali sepatunya.


"...."


"Hm... hanya tinggal mengikat tali sepatu saja. Oke, sudah selesai. Aku meluncur." jawab Naziah lagi, bersemangat.


Kemudian, langsung bergerak meninggalkan sementara. Mess tempat tinggalnya itu, dengan berlari kecil. Untuk menemui Ifah yang sudah menunggunya di depan gerbang masuk Mess tersebut. Ya, mess tempat tinggal Naziah itu. Dibuat seperti sebuah bangunan kost-kostan yang dibangun khusus. Dengan fasilitas lebih lengkap untuk karyawan tetap yang berjabatan cukup penting dalam perusahaan tempatnya bekerja saat ini. Sedang untuk karyawan tetap lainnya, seperti Ifah. Juga disiapkan mess, tetapi dengan fasilitas seadanya dan terdapat satu kamar tidur saja didalamnya. Dan kedua bangunan mess itu, dibangun mengapit bangunan perusahaannya itu sendiri.


"Assalamu'alaikum, Mba'!" ucap Ifah dengan senyuman manis kearah Naziah.


Saat posisi Naziah yang berlari kecil, sudah terlihat dan mendekatinya.


"Wa'alaikum, 'Fah." jawab Naziah balas tersenyum lebih manis. "Ayok!!" sambung Naziah.


"Oke..." jawab Ifah dan mulai ikut berlari kecil di samping Naziah.


Semalam, mereka juga sepakat menuju taman kota. Yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sana. Dan hanya membutuhkan waktu sekitar tujuh menit saja dengan berlari.

__ADS_1


Dalam perjalanan, sambil terus berlari kecil dengan santai. Mereka berbincang-bincang ringan.


"Gimana masalah kemarin, Mba'? Apa Mba' sudah menelfon Mama Mba' di kampung?" tanya Ifah sambil sedikit melirik wajah Naziah.


"Sudah." jawab Naziah pelan dan singkat.


"Terus... apa tanggapan beliau?" tanya Ifah lagi.


"Heh...! Beliau menyerahkan semua keputusan padaku. Dan mengatakan, kalau beliau akan mengikuti saja keputusanku itu. Sebab yang akan menjalani semuanya ke depan itu diriku sendiri, bukan beliau atau orang lain. Dan Beliau juga berkata, aku sudah sangat dewasa. Yang tentunya sudah sangat tahu membedakan mana yang baik atau tidak untukku." jawab Naziah sambil mengingat perkataan ibunya semalam melalui panggilan telefon.


"Jadi, apa Mba' sudah memikirkan dan memutuskannya?" tanya Ifah semakin ingin tahu.


"Otakku masih terlalu lelah untuk memikirkan tentang hal itu, 'Fah. Aku seperti trauma menjalin hubungan dengan pria seperti dirinya. Jujur, mantan tunanganku yang dulu juga seorang pemimpin sebuah perusahaan di kota P. Pria-pria seperti mereka itu sudah pasti banyak sekali diinginkan para wanita dari berbagai kalangan. Yang akan melakukan berbagai macam cara untuk mendekati dan mendapatkan mereka. Meski itu cara yang kotor sekalipun.


Aku sengaja datang ke kota ini untuk lari dari pria seperti itu yang terus mengejarku. Dan berharap bertemu pria biasa yang bisa membuatku jatuh cinta dengan segala yang dimilikinya. Itu saja." jawab Naziah panjang lebar dan mengutarakan keinginan hatinya selama ini.


"Maksud aku, bukan jatuh cinta setelah berhubungan terlebih dahulu begitu, 'Fah. Aku ingin pria yang diam-diam mencintai dan tidak seagresif yang sebelum-sebelumnya. Dan membiarkan aku yang menyadari sendiri cintanya itu. Dengan tindakan diam-diam, sikap dan sifat yang ditunjukkannya padaku." jelas Naziah.


"Hm...??? Bukankah Pak Direktur Rega sudah seperti!" celetuk Ifah seperti bergumam, namun tetap terdengar oleh Naziah.


"Iya. Tapi, aku tidak mencintainya, 'Fah." jawab Naziah jujur.


"Em... berarti yang menjadi masalahnya disini itu. Pak Rega yang terlalu cepat mengungkapkan perasaannya pada Mba'. Jadi, bukan Mba' tidak mencintainya. Tetapi, yang benar itu ... Mba' belum mencintainya. Saran saya... Mba' coba aja dulu jalani hubungan dengannya. Namun, bukan hubungan pacaran. Apa sih... istilah anak muslim sekarang itu? ...em...aku lupa!" ucap Ifah mencoba memberi kesimpulan. Dan mengetuk-ngetuk sebelah pelipisnya mencoba mengingat istilah yang dimaksud.


"Ta'aruf???!" timpal Naziah menjawab.

__ADS_1


"Nah, itu Mba'! Bagaimana?" ucap Ifah antusias dengan mengacungkan telunjuknya seperti menemukan ide. Dan bertanya lagi.


"Heh!!! Entahlah 'Fah, nanti aku pikirkan lagi." jawab Naziah dengan menghembuskan terlebih dahulu nafas berat melalui mulutnya. "Ayo, kita kelilingi taman ini satu kali putaran! Setelah itu, kita cari sarapan." sambung Naziah ingin mengakhiri pembahasan mereka tentang masalah yang dihadapinya saat itu.


"Ayok!!!" jawab Ifah


Dan mereka pun mulai sedikit mempercepat laju larinya. Hingga mengelilingi area taman yang sudah mulai mereka tapaki. Setelah tadi terus berlari di atas trotoar menyusuri jalan menuju area taman sambil mengobrol.


Setelah puas berlari dan memutuskan untuk sarapan bubur ayam disalah satu pedagang kaki lima langganan mereka yang ada di sekitar taman itu. Mereka memutuskan untuk pulang. Karena matahari pun sudah mulai terik, pertanda siang mulai menjelang.


Mereka kembali menelusuri trotoar yang tadi mereka lewati. Namun, sesuatu tiba-tiba menghentikan langkah mereka berdua. Dan beralih pandang ke salah satu persimpangan jalan.


"Tolong... tolong...!!! Ada copet. Tolong...!!!"


Teriakan suara wanita yang seperti paruh baya itu. Mampu menghentikan langkah Naziah dan Ifah yang sedang bercengkrama sambil berjalan santai menikmati pagi yang cerah itu. Dan jalanan yang agak lengang dengan kendaraan yang berlalu lalang di sekitar jalan itu.


Naziah langsung menajamkan pendengarannya. Dan menatap silih berganti diantara dua persimpangan jalan yang ingin mereka lewati. Begitupun dengan Ifah.


"Sepertinya, itu copetnya, Mba'!" ucap Ifah dengan wajah tegang. Sambil menunjuk dengan pandangan matanya saja. Dan Naziah langsung mengikuti arah pandang temannya itu.


Seorang pencopet dengan tubuh kekar dan rambut yang gondrong. Tampak muncul dari salah satu persimpangan sambil berlari kencang dengan membawa sebuah dompet wanita yang berbentuk panjang ditangannya. Jarak pencotet itu dengan Naziah dan Ifah yang berdiri di salah satu sisi jalan poros, sekitar seratus meter.


Karena teriakan wanita yang mengalami kecopetan itu cukup keras. Dan pendengaran Naziah dan Ifah yang tajam. Sehingga, meski jarak antara dia dan Naziah serta Ifah cukup jauh pun, mampu mendengar teriakannya.


"Apa kau siap, 'Fah?" tanya Naziah ambigu.

__ADS_1


Ifah membulatkan matanya dengan kening terangkat dan berkerut menatap wajah Naziah. Dia tak mengerti sama sekali, apa maksud Naziah menanyakan tentang kesiapannya saat itu.


__ADS_2