
Setelah kepergian Rendi dan Aldi. Naziah memungut gelas dan piring bekas menjamu Rendi dan Aldi. Kemudian masuk kedalam rumah sambil membawa nampan berisi piring dan gelas bekas yang telah dipungutnya itu.
Sesampainya di dapur, Naziah langsung mencuci piring-piring dan gelas-gelas bekas tersebut. Sedang serius mencuci piring sambil memandangi kebun kecil yang ada dihalaman belakang melalui jendela.
Tiba-tiba Ulfi dan Tita datang dan mengagetkannya. "Dorrr...!!!" ucap Ulfi dan Tita kompak. Sambil menepuk pundak Naziah dari arah belakang bersamaan.
"Astagfirullahal'adzim...!" ucap Naziah terkejut. "Ulfi...Tita...!!! Kalian mau bikin aku mati mendadak ya??!!!" lanjutnya setengah berteriak.
Bersyukur saat terkejut, kebetulan tangan Naziah sedang tak memegang piring ataupun gelas. Sehingga terkejutnya dia tak menyebabkan piring atau gelasnya menjadi pecah.
"Hehehe... maaf...??! Kami nggak bermaksud. Habisnya, kau asyik melamun sih...! Sampai nggak dengar kami datang." ucap Tita memberi alasan.
"Iya. Lagian, Jangan mati dulu dong Zi'...!!! Nanti pangeran kamu datang, terus nuntut kita gimana?" ucap dan tanya Ulfi menimpali.
"Apa maksudnya itu?" tanya Naziah dengan kening berkerut dan terangkat. "Dan... pangeranku, siapa???" tanya Naziah lagi sambil mengangkat dagunya memberikan tatapan mengintimidasi kearah Ulfi.
"Emm..." gumam Ulfi panjang. "Si Rendi." jawabnya kemudian.
"Siapa yang bilang dia pangeranku? Jangan ngasal ya Ul'!!!" ucap ketus Naziah. Lalu melanjutkan kembali cucian piringnya yang tertunda sejenak.
"Kami nggak asal. Dilihat dari tampangnya, Si Rendi itu orang yang menyukai tantangan. Dan aku yakin, dia akan terus berusaha sampai mendapatkan apa yang dia inginkan. Termaksud hatimu!!!" ucap Tita.
"Jika memang dia seperti itu. Aku akan lihat, sampai dimana usahanya itu." jawab Naziah. "Aku sudah selesai. Dan aku mau istirahat sebentar. Tolong bangunkan aku sebelum adzan sholat dhuzur ya...?!" sambung berpesan pada kedua sahabatnya itu.
"Iya, pergilah!!! Selamat istirahat!" jawab Ulfi dan Tita hampir bersamaan.
"Hem." jawab Naziah lagi dengan anggukan kepala pelan.
Kemudian melangkah pergi menuju kamarnya. Namun sesampainya di kamar, matanya langsung tertuju pada koper mini miliknya yang masih terparkir di tepi ranjang.
__ADS_1
Karena itu, Naziah mengurungkan niatnya untuk istirahat. Dia malah membuka koper tersebut dan mengeluarkan isinya. Pakaian yang dirasa telah digunakan saat di rumah sakit. Ia simpan kedalam keranjang pakaian kotor. Sedangkan yang tak digunakan, ia kembalikan kedalam lemari. Kemudian menyimpan koper mini itu ke atas lemarinya.
Setelahnya, barulah Naziah merebahkan tubuh keatas tempat tidur empuknya.
"Ahh... ! Akhirnya, aku kembali bisa merasakan empuk dan nyamannya tempat tidur ku ini." ucap Naziah. Sambil memeluk bantal guling dan menyamankan posisi untuk dirinya tidur siang.
...----------------...
Sementara itu, didalam kamarnya. Setelah beberapa saat Rendi dan Aldi meninggalkan rumah kontrakan sederhana itu. Yang ditinggali Naziah dan ketiga sahabatnya itu.
Didalam perjalanan kembali ke rumahnya. Rendi yang menggunakan ponsel milik Aldi. Menghubungi nomor kontak milik Anto.
"Halo, assalamu'alaikum 'Di?!" jawab Anto dari sebrang telepon.
"Wa'alaikumsalam 'Nto. Ini aku, Rendi." ucap Rendi.
"Begini... bisakah aku meminta bantuan mu?" tanya Rendi.
"Bantuan seperti apa Bro? Jika bisa... akan aku bantu." jawab Anto ramah
"Aku ingin meminta alamat rumah Ziah. Dan juga, jika kau memiliki nomor ponsel ayah atau Ibunya. Bisakah kau mengirimkannya untuk ku?" jawab dan tanya Rendi.
"Hah??!!! Untuk apa Bro?" tanya Anto terkejut.
Sebelum menjawab pertanyaan Rendi. Anto sedikit melirik kearah pintu kamarnya. Kemudian dengan setengah berbisik, Anto sedikit memberi penjelasan pada Rendi. "Ayahnya sudah meninggal sejak tiga tahun lalu. Jadi, sekarang Ziah tinggal punya ibu saja, Ren'!"
"Oh ya... baiklah. Sebelum kau memberikan nomor ibunya. Bisakah kau memberitahukan aku, bagaimana keluarga Ziah?"
Mendengar penjelasan Anto seperti itu. Rendipun mengganti pertanyaannya.
__ADS_1
"Hem... begini, kau tidak ingin Ziah tahu tentang pembicaraan kita inikan? Sebentar, aku masuk kedalam kamar mandi dulu. Agar tak terdengar oleh Ziah."
Anto balik bertanya untuk memastikan kalau isi pikirannya saat ini sama dengan isi pikiran Rendi. Jadi, sebelum dia berbicara banyak. Dia harus memastikan, kalau tempatnya saat ini aman. Dan pembicaraannya nanti tak akan terdengar oleh orang yang akan menjadi topik pembicaraan mereka di telepon itu.
Setelah berada didalam kamar mandi yang ada di kamarnya. Anto mulai menjelaskan pada Rendi. Tentang ibu Adelia yang merupakan ibu dari seorang Naziah. Dan juga kedua adik perempuan Naziah, Elvira dan Lastri.
"Baiklah, aku mengerti. Terimakasih atas infonya Bro!" ucap Rendi senang. "Tapi... apakah kau tidak ingin tahu, untuk apa aku meminta nomor ibu dari sahabatmu itu?" tanya Rendi lagi.
"Untuk apa? Aku sudah tahu semuanya dari asisten pribadimu itu. Jadi, aku hanya ingin berpesan padamu. Berjuanglah untuk mendapatkan hatinya. Jika memang kau serius ingin memilikinya. Tetapi, jika hanya untuk bermain-main. Lebih baik segera hentikan semua rencanamu itu. Karena semuanya akan sia-sia dan membuang waktu mu saja." jelas Anto panjang lebar.
"Aku tahu. Jika memang aku hanya berniat main-main. Buat apa aku membuang waktuku dengan mencari dan berniat menemui keluarganya. Oh iya, sekarang aku dan Aldi memutuskan untuk langsung ingin menemui ibu Ziah. Dan insya Allah, setelah berhasil menemui beliau. Aku akan menghubungi mu untuk melakukan video call. Aku ingin, saat aku berbicara dengan beliau, Ziah menyaksikannya. Bisa...???" jelas dan tanya Rendi kemudian.
"Tentu saja bisa. Silahkan! Itu ide bagus. Aku mendukungmu. Selamat berjuang Bro!!!" jawab dan dukung Anto.
"Iya, terimakasih." balas Rendi. "Ya sudah, kami sudah keluar dari kota. Doakan kami selamat sampai tujuan dan menerima hasil yang tak mengecewakan?!!" sambungnya penuh harap.
"Aamiin...!!! Iya, hati-hati di jalan." jawab Anto mengaminkan. "Assalamu'alaikum...!" ucap Anto sebelum akhirnya menutup panggilannya.
"Iya, wa'alaikumsalam." balas Rendi.
Aldi yang sejak tadi hanya fokus menyetir mobil yang dikendarainya. Langsung sejenak melirik kearah Rendi yang sedang mengakhiri panggilan teleponnya.
"Jadi, apa saja yang dikatakan Anto?" tanya Aldi penasaran.
Rendi mengembalikan ponsel Aldi yang telah digunakannya tadi. Sambil sedikit menyunggingkan senyum bahagianya. Dan memperlihatkan layar ponselnya yang tertera nomor kontak yang sudah diberi nama #Calon MartuaKu#. Dia bahagia, karena telah mendapatkan alamat, bahkan nomor ponsel orang yang ingin mereka temui.
"Hem... aku sudah bilangkan, Anto akan mendukungmu." ucap Aldi sambil ikut tersenyum puas. Kemudian mulai menaikan kecepatan mobilnya. Sambil berucap, "Oke. Pasangkan GPSnya!!! Kita langsung menuju TKPnya."
Mendengar ucapan sahabat sekaligus asistennya itu. Tanpa protes dengan kalimat yang bernada perintah tersebut. Rendi manut saja dan langsung memasangkan GPS pada ponselnya. Dan melepaskan ponsel tersebut pada pegangan khusus di dashboard mobil itu.
__ADS_1