Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Majikan Bi' Suni


__ADS_3

Setelah berjalan sedikit jauh memasuki persimpangan jalan yang tadi ditunjuk oleh Bi' Suni. Dan mengisi perjalanan mereka dengan obrolan santai tentang aksi Naziah tadi. Yang cukup membuat Bi' Suni penasaran atas dirinya. Begitupun dengan Ifah yang juga baru melihat hal menakjubkan dari temannya itu. Setelah pertemanan mereka yang terjalin selama hampir dua tahun.


"Oh iya, rumah majikan Ibu yang temboknya bercat biru muda itu. Udah dekat 'kan!" jawab Bi' Suni atas pertanyaan yang dilontarkan Ifah.


"Karena sudah dekat, sebaiknya Neng-Neng yang cantik ini... boleh kembali! Dan melanjutkan perjalanannya yang terhalang karena si orang tua ini. Terimakasih sudah menolongku dari jambret dan mau repot-repot mengantar sampai rumah!" imbuh Bi' Suni.


"Nggak, Bu. Kita harus mengantar Ibu sampai gerbang rumah itu. Dan memastikan Ibu sudah sampai dengan selamat dan aman dari si jambret tadi. Oke!!!" jawab Naziah


Yang jelas menolak permintaan wanita tua yang telah ditolongnya itu. Untuk mengantarnya sampai di rumah majikan yang dimaksud. Dengan nada bicara yang jelas tak ingin dibantah.


Dengan terpaksa, Bi' Suni hanya bisa menghela nafas beratnya. Dan menuruti kemauan gadis yang telah menolongnya itu.


"Hemmm.... baiklah." jawab Bi' Suni tampak pasrah.


"Anggap itu sebagai balas jasaku telah menolong Ibu tadi. Yaitu dengan menuruti kemauan aku, saat ini." ucap Naziah menjelaskan, jika semua yang dilakukannya itu adalah tanda pamrihnya atas wanita paruh baya itu.


"Iya. Lagipula, tinggal beberapa meter lagi kok, itu. Tadi maksud aku bertanya, bukan karena lelah. Tapi, kupikir masih jauh, lebih baik lanjut pesan taksi online aja gitu..." timpal Ifah ikut menjelaskan maksud pertanyaan awalnya.


Akhirnya, mereka pun sampai didepan pintu pagar rumah kediaman majikan Bi' Suni. Bi' Suni langsung membuka dan menggeser pintu pagar besi baja itu. Agar sedikit terbuka dan dia bisa masuk kedalam pekarangan rumah itu.

__ADS_1


"Nah...sudah sampaikan! Ibu sudah selamat sampai tujuan. Terimakasih sudah menolong, membantu dan mengantar ya!!! Oh iya, karena sudah tahu tempat tinggal, Ibu. Jika ada waktu senggang, main-mainlah kesini. Ya...?!" ucap Bi' Suni senang dan mengajak Naziah dan Ifah mampir lain waktu.


"Iya In Syaa Allah, Bu. Ya sudah, ini keranjang belanjaannya. Kami pulang dulu ya, Bu. Assalamu'alaikum!" jawab Naziah tersenyum manis dan menyerahkan keranjang belanjaan Bi' Suni yang dibawanya.


"Iya. Sekali lagi terimakasih ya, Nak Ziah dan Nak Ifah. Wa'alaikumsalam." balas Bi' Suni.


Dalam beberapa saat, Bi' Suni terpaku menatap kepergian kedua gadis yang telah menolong, membantu dan menolongnya tadi. Hingga jarak Naziah dan Ifah sudah cukup jauh meninggalkannya di sana.


* Ya, setiap malam Sabtu dan Minggu. Bi' Suni memang akan kembali kerumahnya sendiri yang ada di kampung. Tepatnya, dipinggiran kota itu. Dia memang diberi waktu oleh majikannya. Untuk berkumpul bersama keluarganya. Tetapi, hari Sabtu pagi, Bi' Suni masih akan tetap kembali ke rumah majikan untuk mengerjakan pekerjaannya. Dan hanya saat hari Minggu saja, dia akan full time untuk keluarganya. Sedang malam Seninnya, dia akan kembali ke rumah majikannya itu. Dan hari itu masih hari Sabtu, makanya di masih kembali. Dan langsung berbelanja untuk mengisi persediaan makanan untuk majikannya yang hampir habis. Dan majikannya yang terdiri dari dua pria itu, tak repot lagi harus berbelanja sendiri nantinya. Jika ingin memasak sendiri makanan mereka.


"Bi', darimana saja? Sudah ditunggu'in dari tadi. Semalam, kita 'kan sudah sepakat menata dan merapikan taman ini. Dan... kenapa masih bengong disini?" ucap tanya seseorang dari arah belakang tubuh Bi' Suni.


"Eh, Nak Rega! Bibi baru dari pasar, tadi. Iya. Bibi ingat, kalau hari ini kita akan kerja bakti. Tapi, karena semalam Bibi lihat persediaan makanan di kulkas udah hampir habis. Yah... Bibi putuskan untuk belanja terlebih dahulu sebelum kemari. Maaf ya Nak?!" jawab Bi' Suni, jujur.


Ternyata, suara seseorang yang mengejutkannya itu adalah milik Rega. Yang tentunya, si majikannya yang dimaksud Bi' Suni tadi adalah Adrian Rega.


"Ya sudah, kalau begitu. Ayo masuk! Ngapain masih bengong disitu?! Nanti Bibi ke sambet lagi." titah Rega dan bertanya, karena bingung melihat tingkah asisten rumah tangganya itu. Tidak biasanya dia seperti itu, pikirnya.


"Bibi, asyik melihat kepergian dua gadis yang telah menolong, membantu dan mengantarkan Bibi tadi." jujur Bi' Suni sambil cengengesan.

__ADS_1


"Dua gadis??? Menolong, membantu dan mengantarkan. Maksud Bibi? tanya Rega kepo.


Sambil tangannya bergerak menutup kembali pintu pagar rumahnya. Karena, Bi' Suni sudah melangkah masuk.


"Iya. Tadi, saat habis belanja dan ingin segera sampai sini. Tapi, pangkalan ojek pada kosong semua. Terpaksa, Bibi putuskan jalan kaki saja. Tetapi, saat hampir mencapai persimpangan jalan yang berhadapan dengan jalanan ini. Tuh jalan 'Kan sedikit nikung tuh...! Terus sepi dan dipenuhi semak belukar disisi kiri dan kanan jalan itu. Dompet Bibi sempat dijambret Nak Rega. Ya, Bibi spontan berteriak kencang minta tolong dong...


Eh... mendengar teriakan Bibi seperti itu. Dua gadis yang kebetulan melintas di jalan poros. Langsung saja membantu dan menghadang si jambret yang sedang lari membawa serta dompet Bibi ini. Ekh, ralat! Bukan dua gadis yang menghadang, tapi satu aja. Gadis yang bernama Naziah. Dengan santai dan beraninya, dia menghadang jambret itu serta menantangnya. Karena tak terima dibuat seperti itu. Si jambret mencoba memukul wajahnya, namun meleset.


Dan... yang Bibi nggak habis pikir sejak tadi. Tiba-tiba saja, dompet yang semula dipegang erat sama tuh jambret dengan tangan yang satunya. Sudah berpindah ke tangan Nak Naziah. Saking terlalu cepatnya gerakan yang dilakukan. Si jambret pun bingung sendiri dan bertanya padanya. "Bagaimana bisa tuh dompet sudah ada di tangan Naziah? Sedang dia tidak merasakan sama sekali pergerakan yang dilakukan Naziah, padanya. Ckckck... Gadis ajaib." terang Bi' Suni bercerita panjang kali lebar pada Rega. Tentang apa yang sudah dialaminya tadi.


"Benarkah itu Bi'?!" tanya Devan, ragu. "Atau... saat itu, Bibi sedang tutup mata. Makanya, Bibi tak melihat gerakan yang dilakukan oleh si Ziah itu." sambungnya memaparkan yang ada di kepalanya.


Devan yang sejak tadi sedang memangkas bonsai di taman kecil didepan rumah milik Rega itu. Dan berdiri tidak jauh dari Rega dan Bi' Suni. Seketika ikut nimbrung mendengarkan cerita Bi' Suni itu.


"Tunggu!!! Siapa nama gadis itu?" timpal Rega setelah menangkap satu nama yang disebutkan sang ARTnya.


"Ziah dan temannya, namanya Ifah." jawab Bi' Suni datar.


"Apa Nak Rega kenal?" sambung Bi' Suni heran melihat reaksi majikannya itu.

__ADS_1


"Nama panjangnya Naziah, bukan Bi'?" tanya Rega lagi memastikan.


__ADS_2