Perjalanan Cinta Si Gadis Montir

Perjalanan Cinta Si Gadis Montir
Indahnya Pacaran Setelah Menikah


__ADS_3

Mendengar penawaran Naziah atas waktunya untuk berpikir. Membuat Rega, seketika menatapnya tajam.


"Kelamaan Naziah. Aku akan beri kamu waktu, dua hari dari sekarang (titik). Tidak ada penolakan dan penawaran lagi." jawab Rega tegas dan mengakhiri penawaran yang dibuat Naziah untuknya.


Naziah terlihat menghela nafas dalam dan menghembuskan nya kasar. "Hufh...! Jika seperti itu, lebih baik tidak usah ada acara lamaran, Tuan. Langsung ke KUA aja, ayok?!!!" ucap Naziah mengajak Rega.


Demi mendeskripsikan kekesalan atas kesewenangan Rega padanya itu.


"Bikin kesal aja!" imbuh Naziah sambil menggigit bibir bawahnya menahan kesal.


Rega tersenyum penuh arti. Kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana kainnya.


"Jika seperti itu maumu! Aku akan menelfon pak RT sekarang juga. Dan memintanya membawakan seorang penghulu kemari. Oke!!!" ucap Rega


Sambil tangannya sibuk mengutak-atik layar ponsel ditangannya. Kemudian, di detik berikutnya. Tangan Rega terangkat dan memperlihatkan kontak pak RT. Yang sedang dihubunginya pada kearah Naziah namun belum terjawab.


Seketika itu, mata Naziah terbelalak sempurna. Detik berikutnya, dia kembali melakukan gerakan secepat kilat. Dia merebut ponsel Rega dan langsung mematikan panggilan yang sedang menunggu itu. Setelah ponsel Rega itu sudah berada didalam tangannya.


Rega mematung ditempatnya dengan hanya bola matanya saja yang memandang takjub ponselnya. Yang sudah berpindah ke tangan Naziah tanpa disadarinya. Dan posisi Naziah yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekatnya sambil memegangi ponselnya itu.


Tak sampai disitu, ternyata Devan pun sama halnya dengan Rega. Ia mematung melihat aksi kilat yang dilakukan Naziah. Dan dia juga sempat merasakan hembusan angin saat Naziah melewatinya, tadi.

__ADS_1


Dengan jarak duduk hampir dua meter jauhnya dan dibatasi oleh seorang Devan serta sebuah meja diantara mereka. Rega sungguh tak mengerti! Wanita seperti apa sebenarnya yang ada dihadapannya itu.


"Nih, ponselnya!!!" ucap Naziah dengan santainya. Sambil mengembalikan ponsel itu lagi ke tangan Rega yang masih setia mematung dan memandangnya takjub.


"Hufh... untuk belum diangkat! Ada-ada saja, Tuan ini. Saya 'kan hanya asal bicara saja karena kesal sama dia. Kok diambil hati dan dianggap serius sih...! Menyebalkan sekali!!! Untuk keburu mematikan panggilannya. Kalau tidak, masa iya... kita menikah malam ini. Yang benar saja!!! Bisa-bisa orang pada mikir, aku udah kenapa-kenapa lagi. Heh!!!" imbuh Naziah menggerutu. Sambil kembali ketempat duduknya semula.


Sedang Ifah yang juga ada di sana. Hanya tersenyum simpul melihat tingkah laku teman sekaligus atasan di devisinya itu.


Tak jauh dari sana, Bi' Suni yang baru saja memasuki ruang tamu itu. Ikut mematung sejenak melihat aksi Naziah yang sudah kedua kali baginya, melihatnya melakukan hal itu. Akhirnya, tersenyum simpul dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Dengan membawa nampan besar berisi minuman hangat dan juga menu pencuci mulut. Yang sore tadi, telah dipesan oleh Rega. Dari salah satu toko desert terkenal di kota itu.


"Ada apa ini? Kenapa pada diam hem?" ucap tanya Bi' Suni pura-pura tidak tahu menahu tentang yang terjadi barusan.


"Setelah aku melamarnya, kemarin. Naziah ingin segera dinikahi, Bi'." ucap Rega cepat dengan membalikkan yang sebenarnya.


"Benarkah!!! Itu malah lebih baik, Nak!" ucap Bi' Suni terkejut, namun tampak senang dengan tersenyum sumringah.


"Ehhhh... mana ada seperti itu! Jangan dengarkan ucapannya, Bi'!!! Itu semua nggak benar." ucap Naziah gelagapan sambil melototi Rega tepat ke matanya.


Sedang Rega, mendapat pelototan mata seperti itu dari Naziah. Hanya menyunggingkan senyum bahagianya. Karena berhasil menggoda Naziah dan membuatnya gelagapan.


"Kau mendengar semua yang aku katakan sejak tadi kan, Fah! Dan aku tidak pernah mengatakan hal itu? Tuan Rega saja yang mengarang ucapan itu." imbuh Naziah mencari pendukungnya untuk melawan Rega.

__ADS_1


Dan Ifah yang sungguh tidak ingin dikatakan membela temannya. Akhirnya, pelan-pelan menjelaskan masalah sebenarnya pada Bi' Suni. Selaku orang tertua di sana dan bisa menjadi penengah perang dingin dari calon pasangan tersebut.


"Sebenarnya, Tuan Rega menanyakan jawaban perihal lamarannya kemarin pada Naziah. Namun, Mba' Naziah masih meminta waktu seminggu lagi untuk memberikan jawabannya. Tetapi, ... Tuan Rega menegaskan dan memaksa untuk memberi jawaban atas perihal itu, dua hari dari sekarang. Karena merasa dipaksa, Mba' Naziah sedikit kesal. Dan kebiasaan buruk saat kesal seperti itu. Akan asal bicara saja. Mba' Mengatakan, jika hanya diberi waktu seperti itu. Sekalian saja, langsung bawa dia ke KUA untuk dinikahi. Tapi sebenarnya, itu hanya ungkapan kekesalannya pada Tuan Rega saja, Bi'. Begitu...!" tutur Ifah menjelaskan dengan sebenar-benarnya.


"Em...begitu toh! Ya sudah, nggak usah diambil hati, Zi'. Nak Rega ini memang biasa usil seperti itu. Nak Devan saja, terkadang dibuat kesal juga olehnya." ucap Bi' Suni mulai memahami. " Ya sudah, ayo dicicipi desert dan minuman hangatnya. Sebelum kuenya jadi basi dan minumannya dingin gara-gara kalian keasyikan ngobrol." sambung Bi' Suni


Sambil meletakan gelas-gelas berisi minuman hangat dan juga piring-piring kecil berisi desert. kehadapan semua yang ada di sana. Termaksud dirinya yang juga ikut duduk di sofa tepat di samping Naziah. Yang memang cukup untuk tiga orang yang bertubuh sedang seperti mereka itu.


Bi' Suni memang sudah seperti keluarga dan ibu bagi Rega dan Devan. Semenjak dia menjadi asisten rumah tangga di rumah itu sejak beberapa tahun lalu. Dan Rega pun begitu percaya padanya. Hingga hubungan asmaranya saja, Rega selalu meminta pendapat Bi' Suni.


"Aku bukan tidak ingin menikah cepat, Bi'. Hanya saja, aku butuh waktu untuk mengenal Tuan Rega lebih dalam dulu. Baru bisa memutuskan. Dan Tuan Rega juga seperti itu 'kan...! Hingga dia diam-diam mencari tahu semua informasi tentang diriku. Belum lagi, aku juga perlu berbicara serius dengan keluargaku." ucap Naziah kembali menjelaskan.


"Iya, Bibi mengerti dan sangat paham itu, Zi'. Kau memang perlu berkompromi terlebih dahulu dengan keluargamu, terutama orang tuamu. Tetapi, jangan lupakan satu hal! Sama-sama belajar saling mengenal satu sama lain setelah menikah itu. In saya Allah akan jauh lebih indah nantinya. Asal didasari dengan ikhlas dan siap menerima kekurangan dan kelebihan yang dimiliki pasangan kita. Dan tentunya, saling terbuka satu sama lain.


Bibi mengatakan ini, bukan bermaksud untuk merayu agar kau terima saja lamaran dari Nak Rega ini. Tapi, Bibi bicara seperti ini, sesuai dari bagaimana pengalaman Bibi yang dulu menikah karena dijodohkan. Dan juga pandangan Bibi dari beberapa pasang teman Bibi. Yang pacaran lama terus menikah. Setelah beberapa tahun kemudian, malah cerai. Dengan alasan; sudah nggak cocok. Sungguh, alasan yang tak masuk akal bagi Bibi.


Diusia kalian sekarang ini, kalian... pasti pernah ketemu pasangan seperti itu juga kan?" tanya Bi' Suni akhirnya. Setelah bercerita panjang kali lebar.


"Iya, Bi'." jawab Naziah dan Ifah kompak.


Sedang Rega dan Devan hanya bergumam saja sambil menganggukkan kepala mereka bersama. "Em."

__ADS_1


__ADS_2