
***
Mirai di ajak ke kedai makan panas di daerah Kekuasaan kerajaan Hong. Pangeran ke tiga hanya bisa duduk menatap dengan seksama ke arah Mirai yang begitu lahap kala memakan hidangan yang ia bakar dan memakannya panas panas.
"Kau lapar ya? Berapa hari kau tidak makan?" Tanya pangeran ke tiga.
"Kenapa kau begitu ingin tahu?" Acuh Mirai.
"Hmmppp" Pangerang ke tiga hanya bisa tersenyum dan menahan rasa ingin tawanya.
"...Kau memang bukan berasal dari kota Hong ya?" Tanya pangeran ke tiga.
"Kota hong?" Mirai mulai terdiam seraya menatap daging yang ia jepit di sumpitnya.
"...Ia. Ini adalah daerah ke kuasaan kerajaan Hong, apakah kamu tak tahu?" Tanya Pangeran ke tiga.
Mirai mulai menatap dalam dalam ke arah pria di depannya itu "Sekarang tahun berapa?" Tanya Mirai mencercidkan matanya tajam.
Pangeran ke tiga tersenyum "Kenapa kau bertanya hal aneh. Apakah kepalamu terbentur?" tanya Pangeran seraya menutup senyumnya.
"Ya sudah kalau tak mau memberi tahukannya... Lagi pula aku tak perduli" Bals Mirai acuh.
Pangeran mulai tersenyum lagi dan lagi, ia tak paham harus bagai mana kala menghadapi wanita mistrius di depannya itu "Jika kau lupa maka akan aku ingatkan, sekarang tahun 562..." Jelas Pangeran ke tiga.
Mirai yang memasukan daging begitu lahap seketika terbatuk dan napasnya terenggal "Uhuk! Uhuk!" ia kesulitan bernapas. Hingga bola matanya membulat sempurna...
Pangeran lekas memberinya minum dan menepuk nempu punggungnya "Pelan pelan..." Pinta sang pangeran.
"Gluk Gluk!" Mirai memang tak paham cara nya tatak rama dan ia cenderung liar seperti dirinya di dunianya yang bertindak seadanya dan semaunya sendiri.
"Hosh! Hosh!" Ia mengambil napas sebanyak banyaknya.
"Kenapa kamu begitu syok?" tanya pangeran ke tiga.
Lalu Mirai meletakan sumpitnya dan mengitung jemarinya seraya terus membisik sendiri, dan kelakuannya itu membuat pangeran ke tiga tak nyaman.
"Oh astaga! Oh astaga... Tidak mungkin!" Mirai menunduk dan memijat mijat kepalanya.
"Kau baik baik saja?" Tanya pangeran ke tiga.
__ADS_1
"562... Sebelum masehi? Belarti... Ini adalah jaman di mana beberapa kerajaan masih berjaya. Dan aku terjebak di sini?" Racau Mirai tak percaya.
"Apa yang kamu bicarakan nona?" tanya pangeran ke tiga.
Mirai berdiri "Aku harus pergi!" ucapnya tanpa basa basi meninggalkan pangeran ketiga di meja itu.
"Hei tunggu!"
Pangeran ke tiga mengejar Mirai, namun di hadang seorang pedangang kedai itu "Tuan bayar dulu..." Pintanya.
Pangeran ke tiga tergesa gesa mengambil uang logam di kantung penyimpanannya. Hingga ia mengeluarkan koin emas yang mudah ia jangkau.
"Tuan ini terlalu banyak" Ujar pedang itu.
"Ambilah sisanya untukmu" Jelas pangeran ke dua.
Ia berlari mengejar Mirai, namun Mirai sudah pergi entah kemana "Dia pergi begitu cepat. Sebenarnya... Siapa wanita itu? Bahkan aku belum tahu siapa namanya?" Bisik Pangeran ke tiga. Ia sungguh penasaran pada wanita itu, baru saja ia bertemu dengan Mirai pagi ini. Tapi, wanita tersebut malah membuat pangeran ke tiga menyimpan rasa penasaran yang cukup mengganggu pikirannya.
***
Kemana aku harus pergi? Aku bahkan tak tahu tempat asal tubuh ini... Apa nama kerajaannya pun aku sama sekali tidak tahu. Bathin Mirai menggumam.
Mirai yang sedang berjalan mencari arah tempatnya pulang mulai berhenti sesaat lalu mencari sekaliling "Tolong. Tolong aku... " Pinta wanita itu lagi.
Mirai yang masih waspada pun mulai melangkah pelan seraya mencari pusat suara. Dan alhasil ia terhenti di sebuah rumah kumuh di punggiran sungai. Ia menghampiri rumah kumuh itu, lalu ia pun mulai mengintip di sela sela pintu yang berlubang.
Ketika ia mulai menyimak hal apa yang ada di dalam sana. Betapa kagetnya Mirai, hingga Mirai pun lekas meraksak masuk ke dalam rumah kumuh itu "Nyonya! Apakah anda baik baik saja?" tanya Mirai panik.
"Tolong nona. Saya akan melahirkan, saya sudah tidak tahan" Balas wanita itu meringis kesakitan.
Benar saja, sesuai penglihatan Mirai, Wanita itu sudah tak berdaya. Perutnya sangat panas dan ia mulai mengeluarkan darah dari area intimnya.
"Saya adalah dokter! Saya akan membantu anda melahirkan' Jelas Mirai. Mirai lekas menarik tubuh wanita muda itu dan membawanya ke matras keras yang terbuat dari kayu dan di lapisi oleh selimut.
"Nona... tolong selamatkan anak saya" Pinta wanita itu. Di jaman tersebut tak ada yang paham ilmu kedokteran karna mereka masih menggunakan jasa tabib untuk merawata ataupun menolong mereka.
Mirai bekutat memberi arahan pada wanita muda itu, hingga peluh di jidaknya bercucuran deras. Kemudian tak berselang beberapa menit. Suara tangisan bayi pun mulai terdengar nyaring.
"Oaakkkk! Oaakkkk!"
__ADS_1
"Anakku telah lahir" Ucap ibu yang melahirkan itu.
"Anda melahirkan anak perempuan yang cantik" Balas Mirai.
Wanita itu tersenyum lebar, Mirai lekas memotong tali pusar si bayi lalu membungkus tubuh bayi itu dengan kain seadannya dan mulai membersihkan darah dari jalan lahir si ibu.
"Mana suami anda?" Tanya Mirai.
"Suami saya sedang mencari tabib. Tapi, karana mungkin suami saya tak punya uang... Mungkin saja tabib mana pun tak akan mau menolong saya" jelas Wanita itu.
"Jangan banyak pikiran... Yang penting anak mu sudah lahir"
"Trimakasih nona. Saya tak tahu harus membalas budi anda dengan apa. Karna saya memang tak punya apapun untuk di berikan pada anda"
"Jangan khawatir... Saya tulus membantu anda" jawab Mirai.
"Trimakasih sekali lagi'
"Oh ia. Lekas susui anakmu... Agar ia memiliki sistem imun yang baik dari air susu awalmu. Aku akan pergi sekarang" Mirai mulai memutar langkah menuju pintu keluar. Dan kemudian seseorang masuk "Sayang! Syang! Aku sudah menemukan tabib terbaik untukmu' Suami wanita itu datang dan menatap Mirai yang hendak pergi keluar rumah itu.
"Siapa kau! Sedang apa kau di sini?" tanya Pria yang jadi suami ibu bersalin tadi. Begitupun sang tabib yang di bawa oleh pria itu.
Mereka menatap Mirai penuh curiga "Aku permisi" ucap Mirai membuka pintu lalu keluar.
"S-siapa wanita itu! Jangan jangan istriku! Ah tidak sayang! Syang!" pria itu lekas masuk ke kamar istrinya.
Dan ketika ia sampai di kamar itu, istrinya sedang duduk bersama bayi di pangkuannya "Sayang" suaminya menghampiri istrinya dengan nanar sedih.
"Suamiku kamu sudah datang?" Tanya sang iatri.
"Kamu sudah melahirkan anak pertama kita?" tanya Suaminya.
"Ya sayang. Ada orang baik yang membantuku melahirkan... Katanya dia adalag seorang dokter" Jelas Istri dari pria itu.
Sang tabib mencercidkan alisnya dan mulai sinis pada wanita yany barus saja keluar tadi.
"Apakah maksudmu dokter? Apakah dokter itu sama derajatnya dengan kami para tabib?" tanya sang tabib.
"Entahlah... Tapi dia begitu cekatan dan mampu membuatku melahirkan dengan selamat... Dia langsung pergi begitu saja tanpa meminta imbalan" Jelas ibu bersalin itu.
__ADS_1
Sang tabib mulai menyebarkan gosip tentang wanita yang menjuluki dirinya sebagai dokter. Ia meminta pada pihak berwajib untuk menangkapnya. Karna ia tidak memiliki izin khusus dari kerajaan untuk membuka praktik.