
***
Pagi telah tiba... Mirai yang lelah terlelap begitu saja di sisi ranjang putra mahkota. Ia duduk di tikar tipis kemudian merebahkan kepalanya di samping sikut putra mahkota. Semalaman ia berkutat meracik ramuan herbal untuk memulihkan kondisi tubuh putra mahkota yang sempat drop. Sebab tubuhnya menggigil semalaman...
"Engg... Di mana ini" Bisik putra mahkota membuka matanya. Ia sesaat mencercio cercipkan netrnya untuk menyimak. Yang ia lihat hanyalah langit langit kamarnya. Ia pun berusaha bangkit dari rebahannya lalu mengingsut ke kepala ranjang.
Seraya menetralkan cahaya yang masuk ke retina matanya. Ia sedikit berfikir tentang apa yang telah terjadi semalam. Ia merasa seluruh tubuhnya sangat sakit... Ia pun mulai memijat mijat jidaknya seraya memejamkan matanya. Nampaknya putra mahkota belum sadar jika ada putri mahkota di bawah kakinya.
"Kenapa tubuhku sangat sakit... Berasa patah semua tulangku" Umpat Putra mahkota. Barulah ia sedikit sadar kemudian menelisik seisi kamar pribadinya. Bola matanya memutar 180 derajat untuk memastikan "...Kamarku? Siapa yang membawaku kemari?" Bisinya.
Tak sadar pandangannya mulai menunduk ke bawah. Di sana ia lekas terbelalak, ia simak istrinya telah terlelap di sisi ranjangnya 'Astaga! Putri mahkota..." Pekik Putra mahkota lekas turun dari ranjang kemudian berdiri untuk memindahkan Mirai ke ranjangnya. Namun sesaat "Nyuuuutt" Rasa nyeri melanda dan membuatnya kembali terduduk di lantai.
"Aahh... Astaga, rupanya semalam bukanlah mimpi. Wanita ini berusaha menghancurkan aset berhargaku..." umpatnya masih merasa nyeri di segitiga emasnya.
"Aah..." Erang putra mahkota. Mirai pun sedikit sadar kemudian membuka matanya, ia mengucek ngucek kelopak matanya untuk menyingkirkan kotoran dan ia simak putra mahkota telah hilang dari rajangnya.
"Kemana pria itu pergi?" Bisik Mirai.
"Aku di sini..." Jawab putra mahkota meringis.
Mirai lekas menoleh ke arah tersebut 'Ah... Sedang apa kau di sana? Kenapa malah beguling guling di lantai... Seperti anak kecil saja" Umpat Mirai agak kesal pada kelakuan putra mahkota.
"Maafkan aku. Tapi... Aku ingin pergi ke kamar kecil... Tapi, nampaknya karna pukulan kemarin. Adik kecilku berontak dan ia merasa kesakitan" ringisn putra mahkota bicara tak beraturan hingga membuat Mirai bingung.
__ADS_1
"Bicaralah yang jelas, jangan berputar putar. Kamu ingin aku melakukan apa?" jutek Mirai.
"...Aku ingin ke kamar kecil" Ujar Putra mahkota.
"Pergilah. Kalau kau mau ke kamar kecil... Kenapa masih berguling guling begitu? Apakah aku perlu mengantarmu? Heh jangan harap" Umpat Mirai kesal.
"Tapi aku sedang sakit putri. Serangan mu kemarin terlalu kasar dan membuatku tumbang begini" Jelas Putra mahkota mengingatkan Mirai akan kejadian kemarin.
"Seranganku. Heh jangan membuat alasan. Serangan apanya aku sama sekali tidak melakukannya..." Mirai membuang wajahnya. Ia sedikit berfikir bahwa akhir akhir ini ia sering mengalami hal hal seperti itu. Ia sering lupa akan beberapa hal begitu saja dan ia sama sekali tidak bisa mengingatnya.
"T-tolonglah putri. Ini sungguh dalurat" Pinta Putra mahkota. Akhirnya dengan raut wajah yang kesal, putri mahkota pun mengindahkan permintaan Putra mahkota dan mengantarnya menuju kamar kecil. Mirai menunggu putra mahkota mebuang keteterannya lama sekali... Bahkan Mirai menutup matanya karna enggan melihat ke-lamin suaminya.
"Terimakasih putri..."
"Sudah selesai?" Tanya Mirai.
Mirai perlahan mengintip di balik jari jari lentiknya dan menyimak hal apa yang tengah Putra mahkota lakukan "Ayo kambali..." Pinta putri mahkota membopong tubuh putra mahkota untuk kembali ke matrasnya.
"Tidak...' Putra mahkota agak baikan setelah membuang rasa ingin buang air kecilnya. Ia pun menghentikan langkah Mirai.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Putri mahkota kecut.
"Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu putri" Putra mahkota menegakkan tubuhnya dan menatap putri mahkota intrents.
__ADS_1
"Tidak banyak waktu bagiku hari ini. Jadi lain kali saja aku bicarakan hal yang membuatmu terganggu itu" Tolak Mirai mulai membuang wajahnya dari persoalan tersebut dan mengambil langkah kabur.
Nampaknya putra mahkota enggan melepaskan momen indah berdua saja dengan istrinya. Sebab itu adalah moment berharga yang telah ia nanti nantikan, "Tapi aku ingin membicarakannya hari ini" Putra mahkota menarik tangan Mirai hingga Mirai tertarik ke hadapannya. Mirai menoleh ke arah putra mahkota untuk menegurnya.
Namun, pergerakan cepat sang putra mahkota sama sekali tak bisa ia hidarkan CUP! Sebuah kecupan kilat mendarat di bibir tipis Mirai dan membuatnya terbelalak tak percaya.
Hatinya mulai memanas, putra mahkota sama sekali belum mau melepaskan kecupan itu, Mirai pun mundur dari hadapan putra mahkota. Putra mahkota hanya bisa menatap sayu ke arah putri mahkota.
Ia berharap putri mahkota pahan akan sebuah kecupan manis darinya itu. Namun respon dari putri mahkota sangat berbeda dari harapan putra mahkota.
Whuussshh! Sebuah telapak tangan dengan kelima jemari lentik milik Mirai mulai melayang cepat di udara PLAK!!
Seketika suara pukulan keras pun terdengar di tengah tengah ke heningan rungan segi empat itu. Wajah tampan putra mahkota terhembas ke bawah, sisa pukulan tersebut mulai menyisakan tato merah merekah di pipinya.
Perlahan putra mahkota melepaskan cengkramannya dari tangan Mirai dan meraih pipinya yang terasa bengkak "Menjijikan!" Bentak Mirai menatap putra mahkota garang.
"Tapi putri... Tidak bisakah kamu memberikan aku kesempatan ke dua?" tanya putra mahkota seraya menekan pipinya yang terasa kebas itu.
"Heh. Jangan lupa pada sumpah serapahamu di masa lalu tentang hubungan kita... Lagi pula ada hal yang harus kamu ingat. Putri mahkota Hyr in sudah mati... Dan aku bukanlah dia. Aku adalah Xin Mirai... Kami dua jiwa yang berbeda. Jadi, jangan harap... Aku mau menyukai pria Ja-lang dan tak berpendidikan sepertimu!" tegasnya seraya pergi meninggalkan putra mahkota yang tengah patah hati atas penolakan istrinya.
Brakkk!! Mirai keluar dengan melempar pintu tersebut dengan kasar. Sementara putra mahkota, ia hanya bisa terdiri mematung tanpa hasrat. Tangannya mengelus sisa pukulan Mirai yang telah menyadarkannya dari mimpi buruk.
Selama ini, perlakuan kasarnya pada istrinya membuatnya harus menelan pil pahit. Ia harus menerima perlakuan kasar dari sang istri sebagai pembalasan untuknya.
__ADS_1
"Aku memang patut di benci... Meski putri mahkota eggan menatapku sebagai suaminya lagi. Tapi, aku akan melakukan kewajibanku sebagai suaminya... Aku akan menjaganya. Meski harus mengorbankan nyawaku sendiri..." Tegas putra mahkota. Ia bertekad pada dirinya sendiri untuk menjaga dan melindungi putri mahkota...
Jika hubungan kami tak bisa di perbaiki lagi, maka setidaknya... Aku akan tetap berada di samping putri mahkota seumur hidupku. Tak perduli barapa banyak penolakan darinya. Tapi aku akan tetap berjuang menjadi pribadi yang lebih baik, meski pun semua itu adalah hal yang tak mungkin... Karana aku sudah sangat terlambat ... Keluh putra mahkota pada dirinya sendiri.