
***
Aula istana...
"Katakan panglima! Kenapa kau bisa membantu Putri mahkota keluar dari istana!" Bentak kaisar menahan emosinya. Tangannya mengepal erat rahangnya mulai meggigit kuat seakan gemas.
Sedangkan Ou Tian Feyn, ia belum mau menjawab pertanyaan Kaisar dan ia cenderung menundukkan atensinya "Kau tahu! Putri mahkota baru saja sadar dari mautnya! Jika sampai ada yang tahu bahwa putri mahkota berkeliaran di luar, bisa saja dia di culik dan di sandra oleh orang orang yang tak bertanggung jawab!' Cerocos Kaisar dengan napas yang mulai tersenggal.
"...Ampun yang mulia! Hamba pantas di hukum!" Ou Tian Feyn menjatuhkan tubuhnya lalu bersujud di hadapan sang kaisar. Kaisar yang saat itu sedang naik fitam di buat bungkam seketika itu...
Ia tak bisa menyalahkan seluruh kesalahan pada Ou Tian Feyn saja. Ia sedikit tak habis pikir oleh Panglima yang paling ia percayai itu, hingga ia mulai menurunkan titah "Kurung panglima di sel tahan ruang bawah tanah! Aku sedang tak ingin melihatnya!" bentak kaisar menunjuk panglima untuk merenungkan kesalahannya.
"..." Ou Tian Feyn tak berkomentar dan cenderung diam. Ia pasrah kala kedua prajurit yang selalu ia percayai itu telah menyeret tubuhnya ke arah pintu keluar istana tersebut.
'Putri mahkota. Maafkan aku jika aku tidak bisa membantu mu lagi. Bahkan aku tak mungkin bisa menemani mu di sampingmu lagi...' Bathin Ou Tian Feyn menggumam. Mirai sama sekali tak tahu jika Ou Tian Feyn telah di kurung di penjara bawah tanah sore itu...
"Pangeran Fu... Apa yang ingin kau sampaikan?" tunjuk Kaisar pada Pangeran Fu Rou yang terlihat puas kala Ou Tian Feyn di seret menuju sel tahanan bawah tanah.
Pangeran Fu Rou lekas menghadap Kaisar lalu memberi nya hormat seraya bersimpuh "Ampun yang mulia. Hamba menemukan putri mahkota di kerajaan Qing... Nampaknya, kerajaan Qing melepaskan putri Mahkota dan putri Mio sebagai sandranya setelah kekaisarannya di kepung oleh para prajurit kami yang mulia!" Tegas Pangeran Fu Rou Ming menjelaskan situasi yang ada meski ia berbohong.
"Apa!! Beraninya mereka!" Kaisar lekas berdiri lalu menyibat jubahnya dan menatap penuh amarah.
"Nampaknya mereka sudah kalah sebelum kami menyerang keraajaan tersebut yang mulia. Karna mereka kalah jumlah" sambung pangeran Fu Rou.
"Heh! Tetap saja! Kelakuan mereka sudah di luar batas. Mereka berani mengusik ke tentraman istana Ming dengan menyandra menantu dan anak bungsu ku... Aku tak akan tinggal diam, aku akan membuat perhitungan dengan pimpinan kekaisaran Qing!" Tegas sang raja tersulut emosi.
__ADS_1
Pangeran Fu Rou hanya bisa menunduk seraya menyimpulkan senyuman puasnya. Entah kenapa, ada rasa bangga di hatinya ketika ia berhasil menyulut api permusuhan antara dua ke rajaan.
"Aku akan mencari informasi dahulu tentang tata letak kekaisaran Qing. Setelah aku mengumpulkan banyak informasi... Maka kita akan menyerang ke kaisaran Qing tanpa ampun, hingga tak bersisa!" Imbuh sang Kaisar penuh amarah di hatinya.
Biasanya, jika sang permaisyuri ada di samping kaisar. Permaisyuri akan menghasut kaisar agar lebih bijak sana dalam mengambil keputusan dan permaisyuri akan berusaha dengan keras agar Kaisar tidak termakan emosinya sesaatnya hingga membawa celaka bagi kedua belah pihak.
"Jika informasi hamba cukup memuaskan untuk anda. Maka hamba pamit undur diri yang mulia" ujar pangeran Fu mulai memberi hormat lalu berdiri, kemudian ia pun pergi dari hadapan Kaisar. Sedangkan Kaisar yang terlanjur emosi hanya bisa duduk di singgah sananya seraya memutar otak.
Setelah ke pulangan Mirai ke istana, suasana istana sungguh kacau, semua prosedur hampir tidak pada posisinya. Bahkan di depan faviliun Mirai, barang barang berserakan dan terlihat sangat berantakan.
"Pelayan. Rapihkan seluruh barang barang ini. Bawa ke gudang dan taruhlah di sana" Pinta putra mahkota.
"Baik yang mulia..." Para pelayan yang berjumlah enam orang kini mulai berkutat membersihkan tumpukan sampah di depan faviliun Mirai. Nampaknya putra mahkota belum enyah dari hadapan faviliun Mirai.
Ia berdiri tegak di sana sedari tadi dan menunggu Mirai keluar dari faviliunnya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Mirai terkait dengan tindakannya yang begitu kejam, kala membuang buang seluruh barang pemberian putra mahkota untuknya.
Gluk!
"Aku baru sadar jika istriku secantik ini" Bathin putra mahkota menggumam.
Putra mahkota pun lekas menyambut Mirai dengan senyuman terbaiknya "Kenapa kau belum pergi dari sini?" tanya Mirai dingin.
Apakah sikap kasar ku tadi belum juga membuat nya paham, padahal aku sudah sangat tegas mengusir pria ini. bathin Mirai menggumam.
Putra mahkota masih menatap wajah Mirai senang seraya bicara tidak jelas "Eh. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu putri" ujar putra mahkota.
__ADS_1
"Ingin bicara apa?" Tanya Mirai ketus.
"Biarkan aku masuk" Putra mahkota menyeret tubuh Mirai untuk kembali ke dalam faviliunnya. Tapi Mirai menahan kakinya di sela sela pintu keluar, hingga langkah putra mahkota pun tersendat.
"...Kenapa putri?" Tanya nya bingung.
"Kita bicara di luar saja. Karna hari ini aku sedang tidak menerima tamu" Tegas Mirai.
Putra mahkota pun paham dan ia sedikit tidak nyaman. Ia pun melepas dekapannya di pundak wanita tersebut.
"...Bicaralah. Pekerjaanku masih banyak" Sambung Mirai.
Putra mahkota jadi lupa jika ia ingin bicara apa. Sebab sikap Mirai yang begitu angkuh membuatnya kehilangan rasa percaya dirinya "Jika tak ada kepentingan lain. Aku akan pergi" Mirai lekas menutup pintu itu dan pergi dari hadapan putra mahkota. Langkahnya menuju faviliun Mio, ia akan menemui Mio untuk sama sama menghadap Kaisar dan mengakui segala ke salahannya.
Sedangkan putra mahkota, ia hanya terpaku seraya memandangi punggung indah istrinya yang tertutupi rambut hitam lurus dan panjang sepinggang. Aroma wewangian yang di tinggalkan Mirai membuat putra mahkota terasa rindu pada wanita itu.
"Bagai mana caraku memperbaiki hubungan ini. Dia pasti akan sangat membenciku karna kejadian tempo hari, kenapa aku bertingkah seburuk itu hanya demi menikahi Wen Tian? Sekarang aku jadi susah sendiri untuk bisa dekat dengannya. sebenarnya... Sejak kapan aku begitu perduli dan ingin selalu ada di samping putri mahkota...?" Tanya Fei Si menggumam pada dirinya sendiri.
Kelakuan Fei Si yang cari perhatian Mirai itu di ketahui oleh Wen Tian. Hingga membuat Wen Tian marah "Sial. Kenapa putra mahkota ada di sana?" bathin Wen Tian. Wen Tian sungguh kesal ketika melihat putra mahkota ada di depan Faviliun Mirai, Wen Tian mengepalkan tangannya erat. Ia lekas memutar otaknya dan seketika itu pun ia menghamburkan sebuah cairan bening dari botol lecil terbuat dari tanah liat itu ke tubuhnya. Lalu ia pun berlenggok menghampiri putra mahkota kemudian menyapanya "Putra mahkota. Anda sedang apa?" tanya Wen Tian menatap sang putra mahkota penuh gairah.
Putra mahkota membuang wajahnya "Pergilah. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu" Tegas putra mahkota. Wen Tian pun kesal kala mendengar sebuah penolakan dari putra mahkota itu.
Tanpa di sadari semilir angin pun menghembus tubuh Wen Tian WHUSSSH! Hingga kemudian aroma wewangian milik Wen Tian pun terendus oleh indra penciuman putra mahkota.
Deg!
__ADS_1
Putra mahkota tidak bisa menahan tatapan Wen Tian yang menggodanya itu. Padahal jelas jelas Putra mahkota mulai jijik pada wanita itu. Namun tampaknya karna parfum milik Wen Tian mengandung komposisi peningkat hasrat lawan jenisnya, akhirnya putra mahkota pun jadi gelap mata... Ia pun lagi lagi menggendong Wen Tian menuju ke faviliunnya. Hingga harapan putra mahkota untuk memperbaiki hubungannya dengan Putri mahkota pun kembali kandas di tengah jalan.