
Byuur! Byuurr! Mirai sungguh marah pagi itu. Ia membersihkan tubuhnya dan menenggelamkan kepalanya beberapa kali ke dalam bak mandi.
Blup! Blup! Blup! Blup!!!
Meski pun ia telah malakukan semua hal itu, tetap saja ia tak bisa memutar waktu. Dan kejadian yang melintas di pikirannya tentang perlakuan putra mahkota yang telah melecehkannya tetap bersemayan dalam ingatannya.
Byuur!! Ia mulai muncul ke permukaan. Dan menarik napas nya yang banyak "Hosh! Hosh! Hosh! Ugghh... Huaaaaa! Menjijikan! Kenapa ini tidak bisa hilang! Ini juga! Ini jugaa..." Mirai menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun batang yang ada di genggamannya.
"Menjijikan!! Menjijikan..." Ia nuga beberapa kali membersihkan wajahnya dan gusap usap bibirnya lalu membilasnya beberapa kali denga air di bak mandi buatan itu.
"Tidak tahu caranya berterimakasih, setidaknya jangan mengusikku seperti itu! Dua kali... Ini adalah pelecehannya yang ke dua kali... Dia mencurinya dua kali. Tapi aku tak akan lengah! Aku tak akan membiarkannya melakukannya lagi. Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan!!!!" amuk Mirai, hatinya sungguh berkecamuk dan terus saja menggerutu hingga membuat Shu Feng pusing atas amukannya itu.
"Astaga... Rupanya bukan hal yang nyaman ketika bersemayam dalam tubuh seorang wanita, apa lagi wanita yang aku rasuki adalah wanita yang rewel dan bawel... Sungguh, aku seakan tak memiliki kepala saja..." Shu Feng sungguh di buat jenuh oleh kemarahan Mirai bersama gumamannya, tapi meski oun marah, kali ini Mirai sama sekali tak mengucapkan permintaan pada Shu Feng untuk mencelakakan putra mahkota. Ia hanya terus menggumamkan kemarahannya pada dirinya sendiri dan meminta dirinya untuk tak lemah pada putra mahkota.
__ADS_1
Setelah lama berkecamuk dengan isi hatinya sendiri. Mirai putuskan untuk keluar dari bak penampungan air itu dan segera membenahi dirinya. Masih banyak hal yang harus ia selesaikan, ia tidak bisa egois dan mempertimbangkan tentang isi kepalanya sendiri. Ada banyak masalah yang belum ia selesaikan, tentang kasus ibu suri yanh masih terbengkalai. Lalu saat ini kasus baru sudah menantinya di depan mata.
Hari ini ia berniat menemui raja dan mendiskusikan tentang ke adilan untuk panglima Ou Tian Feyn. Karna mau bagai mana pun juga, semua masalah yang tercipta hingga menimbulkan huru hara di kerajaan itu. Semuanya adalah mutlak salah Mirai, maka dari itu... Ia pun akan senantiasa meluruskan dan mencari jalan keluar atas memua masalah yang timbul itu...
***
Usai memakai pakaian terbaik, merias wajah, menabur wewangian... Mirai pun putuskan untuk melangkah keluar faviliunnya kemudian pergi ke aula inti istana dan bertemu kaisar di sana...
"Untuk apa kau datang ke faviliunku?" tanya Mirai sangat curiga.
"Aku hanya datang untuk menyapa anda" Balas Wen Tian menundukan atensinya.
"Itu bukanlah gayamu. Jadi katakan sejujurnya, ada hal apa yang membawamu datang ke mari..." Tegas Mirai dengan tatapan dingin, tak secuilpun senyum ia lemparkan pada wanita di hadapannya itu.
__ADS_1
"Sudah ku bilang putri mahkota. Aku datang kemari hanya untuk menyapa anda..." Wen Tian kembali menjelaskan dan mengulang hal tersebut.
"Heh. Memang sepenting itukah dirimu hingga harus menyibukan diri untuk menyapa ku. Lagi pula aku sungguh tahu betul bagai mana sikap mu padaku. Jangan berfikir ingin menusukku dari belakang. Karna hal tersebut hanya akan memberatkan mu... Ingat itu" Cerocos Mirai dengan kata kata yang menohok hati Wen Tian.
Mirai dan para dayang di belakang nya lekas pergi dari hadapan Wen Tian seakan mengabaikannya begitu saja.
Mirai telah enyah dari front faviliunnya. Seketika Wen Tian pun lekas celingukan kanan kiri, nampaknya ia akan menyusup ke faviliun Mirai dan melakukan hal keji. Ia lekas meraih botol kecil di dalam lengan pakaiannya lalu ia membukanya. Tampak di sana sebuah serbuk putih telah tercipta dengan antiknya.
Nampaknya itu adalah arsenik bubuk yang telah ia dapatkan dari tuannya. Ia masuk ke dalam Faviliun Mirai untuk menaburkan bubuk arsenik tersebut... "Kali ini... Matilah kau!' Gumam Wen Tian.
Sungguh hati Wen Tian telah tercemar oleh rada iri dan cemburu akan putri mahkota yang kali ini sungguh sangat sempurna. Bahkan putri mahkota menjelma menjadi sosok di cintai para pihak istana terutama kaisar dan putra mahkota.
Hingga rasa benci di hati Wen Tian kian membludak kemudian tak bisa di bendung lagi.
__ADS_1