
"Kau mau kemana?" tanya Tuan muda melangkah menghampiri Mirai. Mirai masih terpatung di area pintu keluar, otaknya seakan berputar putar memikirkan cara untuk kabur dari istana itu.
"Ada apa? Apakah kau ingin pergi tanpa teman teman mu?" Tanya tuan muda kininada di dapan Mirai.
"Lepaskan teman temanku. Dan aku akan menolong ayahmu" Lugasnya.
Tuan muda malah menyunginkan bibirnya "Cih, jawaban apa itu, setelah bersusah payah menangkap mu... Mana mungkin aku melepaskanmu apa lagi dengan alasa konyol seperti ini"
"Aku punya cara untuk menyelamatkan ayahmu... Jika kau ingin dia lekas sembuh. Dengarkan perkataanku..."
"Lekas sembuh? Bagai mana caranya...?" Tuan muda jadi sedikit tertarik akan pembahasan itu.
"...Aku akan bicara nanti, tapi siapkan aku makan terenak dan bebaskan teman temanku... Maka aku akan segera menuntaskan masalahmu" Tegas Mirai membuang wajahnya dari nanar tuan muda.
"Jika ucapanmu bisa di pegang. Maka aku akan mendengarkan mu dengan patuh" Tuan muda sedikit takut... Tapi, karna ia tak mau membuat Putri mahkota marah. Ia pun melaksanakan tugasnya dengan baik...
***
Jamuan istana Qing.
"Hua putri! Aku kira aku tak akan pernah bisa terlepas dari kurungan orang gila itu?" Peluk Mio mendekap erat tubuh Mirai seakan mematahkan seluruh tulangnya. Tuan muda mendengarkan ujaran Mirai untuk melepaskan Ou Tian Feyn dan Mio yang telah ia kurung di sel. Jika terlambat sedikit saja... Mereka pasti akan di jualnya ke pelelangan budak di pusat kota.
"Jangan khwatir putri Mio, aku akan menolongmu apapun resikonya" Jawab Mirai kecut.
"...Setelah makan ayo pulang" ujar Mio.
"..."Mirai tak berkomentar.
"Dari pada kalian risau, sebaiknya mari makan dahulu... Lalu pikirkan rencana ke depannya" Pinta tuan muda bersiap menyantap hidangan di sebuah meja bunder yang tertata rapi dengan lauk pauk yang beragam.
Mio mendelik ke arah pria dengan topeng itu "Memikirkan cara ke depannya? Bahasa apa itu?" tanya nya.
"Sebaiknya kita makan terlebih dahulu" Pinta Mirai memejamkan matanya. Padahal hatinya sedang berkecamuk... Ia tak ingin membuat seluruh orang yang ada di istana Ming kerepotan mencarinya karna khawatir, sebab Mirai tak pulang pulang ke istana... Apa lagi, jika mengemban tugas istana Qing. Akan membutuhkan waktu yang cukup lama agar ada sebuah penyelesaian.
Ada apa dengan putri mahkota? Tidak biasanya ia jadi pendiam begitu? Apakah ada hal yang terjadi tadi malam? Bathin Ou Tian Feyn menyimak nanar sang putrk dan mulai berasumsi bahwa ia mendapatkan masalah besar lagi.
Setelah makan dengan kenyang, Mirai bersama Mio, Ou Tian Feyn dan tuan muda, mereka berkumpul dalam satu ruangan lalu membahas hal yang ia alami tadi malam.
"Apa? Jadi! Itu sebabnya ayahku selalu mengamuk tanpa sebab?" tanya Tuan muda tak percaya.
"Benar... Aku sendiri tak bisa mengabaikan tugas ini. Karna taruhannya nyawaku sendiri... Monster dalam tubuh kaisar Qing telah menguasai rohku. Kapanpun ia bisa mencabutnya dan mengambilnya untuk menemaninya dalam sel jeruju besi kutukan tersebut" Jelas Mirai membuat Ou Tian Feyn cemas.
"Apa maksudmu putri mahkota? Apakah kita tidak jadi pulang lagi ke istana ?" tanya Mio kecewa.
__ADS_1
"Mio. Apakah kamu bisa mengabarkan keadaan kita pada seluruh penghuni istana? Sempaikanlah selebar surat dan katakan pada mereka untuk tidak khawatir..." Pinta Mirai.
"Tapi aku sungguh ingin pulang. Aku sungguh rindu pada rumahku" Tangis Mio memperlihatkan sisi kekanak kanakannya.
"Maafkan aku Mio' Mirai lekas meraih tubuh Mio lalu memeluknya dan menenangkannya...
"Lalu... Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Ou Tian Feyn.
"Aku akan melihat kondisi Kaisar Qing ... Setelah itu kita akan pergi ke gunung Xingliun arah tenggara dataran ini. Di sana kita akan menemui tetua sekte gunung Xingliun yang bernama Moo Shan Shan" Tegas Mirai.
"Moo Shan Shan?" tanya tuan muda membelalakan matanya.
"Ya. Itu adalah nama orang yang telah membantu Kaisar Qing untuk melakuka perjanjian darah kutukan itu" Tegas Mirai.
Hebat! Ternyata apa yang dia katakan tadi bukanlah hanya sekedar bualan semata. Nyatanya dia memang telah bertemu monster dalam tubuh ayahku... Bahkan dia tahu nama kekek buyutku. Moo Shan Shan kepala sekte gunung Xingliun. Bathin tuan muda.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Mirai menatap tuan muda.
"Ah.. Tidak tidak" Tuan muda menggelengkan kepalanya.
"Lalu sekarang kita harus bagai mana?" tanya Ou Tian Feyn mengarahkan pembicaraan lain. Ia cukup terganggu dengan tatapan tuan muda yang manaruh simpatik pada Mirai. Nampaknya Ou Tian Feyn tidak suka Mirai di tatap oleh tuan muda genit itu.
"Aku akan menemui Kaisar Qing terlebih dahulu untuk menemukan sedikit pencerahan" tegasnya.
"Mio. Kamu sebaiknya kirimkan pesan lewat merpati kerajaan... Dia akan sangat membatu kita. Aku tak ingin para penghuni istana mengkhawatirkan kita" Pinta Mirai. Mio pun mengangguk meski hatinya sedih...
"Baiklah akan ku coba... Semoga setalah menyelesaikan tugas ini. Kita bisa pulang ke istana lagi" pintanya mengusap air matanya. Mirai pun mengangguk lugas.
"Semoga apa yang kita harapkan segera tersemogakan..." Jawabnya seraya mengambil langkah mantapnya ke area faviliun kaisar Qing.
Faviliun kaisar Qing...
Kaisar Qing tampak terlelap dengan tali tali yang mejeratnya. Tubuhnya di penuhi luka cakaran kuku kukunya yang panjang. Mirai menyerankan para dayang untuk menidurkannya du matras megah milik Kaisar. Meski para dayang ketakutan, mereka pun melaksanakan ke hendak Mirai atas titah tuan muda.
"Sebaiknya, lepaskanlah seluruh tali yang tengah mengikat tubuh kaisar Qing" pinta Mirai.
"Jika di lepas, maka dia akan menyakiti orang orang" tegas tuan muda.
"Tak akan... Aku sudah membuat perjanjian dengan sang moster dalam tubuh Kaisar" tegasnya.
"Benarkah?"
"Sekarang... Aku akan merawat seluruh luka kaisar Qing dan membalutnya" ucapnya. Mirai mulai menghampiri Kaisar Qing lalu duduk di sisi ranjang itu dan menyiapkan beberapa alat medis yang ia buat sesederhana mungkin.
__ADS_1
"Ambilkan air hangat, taburi sedikit garam dan bawa beserta kain lap bersihnya" Pinta Mirai. Tuan muda mengangguk lalu meminta para dayang untuk segera berkutat.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Tuan muda.
"Aku akan menjahit luka sayatan di setiap pergelangan kaisar tangan dan kaki Kaisar" Ucapnya.
"Tapi nanti kau akan menyakiti ayahku" Bentaknya.
"Lebih sakit mana? Di sembuhkan atau di ikat dengan injuk selama bertahun tahun?" balik Mirai mendelik tajam ke arah tua muda.
Gluk! Tuan muda mati kutu karna perkataaan Mirai yang menusuk hatinya. Tuan muda lekas menunduk malu...
"Tuan muda ini..." Para dayang memberikan apa yang Mirai minta. Mirao segera berkutat membersihkan darah di pergelangan tangan kanan kaisar.
"Hehehe..." tawa menggelitik terdengar lagi dan hanya Mirai lah yang mendengarnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Mirai ke arah kaisar Qing.
Tuan muda menjawab "Aku tidak sedang melakukan apapun' Jawab tuan muda.
Mirai menoleh ke arah tuan muda "Tuan... Bisakah anda pergi dulu ke luar. Aku sedang berinteraksi dengan mahluk dalam tubuh Kaisar" tegas Mirai. Dengan hati tak percaya tuan muda pun mematuhinya. ia lekas keluar dari kamar tersebut dan menunggu Mirai menyembuhkan luka ayahnya dengan tenang.
"Aku sedang memperhatikan mu. Ternyata kau menepati janjimu" Kekeh suara monaster itu.
"Menepati janji? Tentu saja... Selama aku masih bisa bernapas, aku akan membaktikan hidupku untuk menolong orang"
"Kalau begitu... Aku akan memegang ucapanmu. Aku tak akan berontak asalkan kau membawa Moo Shan Shan ke mari" Tegasnya.
"Tentu. Setelah itu, enyahlah dari tubuh kaisar Qing'
"Baiklah... Tuan ku"
"Omong kosong! Sudah ku bilang aku tak mau simbol keterikatan. Carilah tuan lain dan bukan aku!" Bentak Mirai.
"Heh. Aku akan memberimu setengah ke kuatan ku untuk bekalmu di perjalanan nanti"
"Tak perlu. Lagi pula aku tak membutuhkannya!" elak Mirai.
Tapi si monster sudah yerlanjur menunjuknya sebagai tuannya hingga ia mengerahkan sebuah cahaya dari dalam tubuh Kaisar Qing ke arah jantung Mirai.
Cahaya itu meraksak masuk ke dalam tubuh Mirai dan mengendap di sana "Brengsek! Kau tidak mendengarkan perkataanku!" tegas Mirai.
"Itu adalah simbol perjanjian... Jika kakimu melangkah ke arah gunung Xingliun. Maka kau akan menjadi kuat tak terkalahkan. Tapi jika langkahmu mundur... Maka cahaya itu akan menghancurkan jantungmu...dan kau akan mati...' Kekeh monster itu. Mirai sungguh marah dan ia tak bisa melakukan apapun lagi selain menempuh perjalanan tersebut.
__ADS_1