
"Hyaaahhh!" Pria itu menghampiri Mirai bersama pedang tajamnya. Mirai bersiap namun Ctik! Suara jentikan jemari terdengar lagi. Hingga Mirai pun di buat tak sadar oleh Shu Feng.
Mirai mengankat kakinya lalu menutarnya seratus delapan puluh derajat ke atas BUAK! Tendangan itu berhasil mengenai tangan pria misterius tersebut. Hingga pedang miliknya terlepas dari cengkramannya.
Pyang! Pedang milik pria jahat itu terjatuh di tempat yang agak sedikit jauh.
"Akh!" Pekik pria jahat itu.
"Heh. Kemarilah" Mirai lekas kembali memutar tendangannya. Namun kali ini, pria dengan pakaian serba hitam itu menghindari serangan Mirai berkali kali.
Buak! Pak pak! Duak! Bugghh! Malam hening tanpa bintang itu kini telah sedikit gaduh oleh suara pukulan dan tendangan. Mirai yang di rasuki Shu Feng lebih unggul bertarung, Bakan ia sangat lincah kala melakukan serangan di banding pria berjubah hitam itu.
Satu tendangan kaki ramping Mirai mulai memutar di udara dan tak terbaca oleh lawan, Hingga BUAK!! Pria itu di tendang kuat kuat sampai melayang dan berberapa kali berputar putar di udara.
Wug! Wug! Wug!
Bruak!! Tubuhnya mendarat tepat di batang pohon Zen. Mirai menyunginkan bibirnya, ia melangkah perlahan menghampiri pria itu, namun kakinya malah menginjak pedang pria berjubah hitam tersebut. Trek! Seketika netra Mirai yang sedari tadi menatap intrents sang lawan pun kini teralihkan oleh godaan pedang mengkilat di bawah kakinya.
GRAKK! Ia meraih pedang itu lalu kembali menegakkan tubuhnya. Kakinya pun mulai melangkah lagi ke arah pria yang baru saja bangkit dari jatuhnya, pria itu terlihat sangat menderita dengan gerakan tertatih tatih.
Pria itu mencengkram dadanya yang terasa sangat sakit itu... Ia merasa takut kala menatap dua bola mata Mirai yang merah menyala bagaikan bara api.
Pria itu mundur seraya melontarkan pertanyaan "Siapa kau sebenarnya! Uhuk! Uhuk!Kenapa serangan mu begitu cepat meski kau adalah seorang perempuan?" Pria itu mundur untuk menghindar.
Mirai tak ingin banyak bertele tele, ia pun lekas melemparkan pedang di tangannya. WHUSSSH! Pria itu paham akan serangan tersebut hingga, Ia pun menghidar dari lesatan pedang yang di lempar Mirai. Tetapi Cleb! Pedang tersebut tetap saja mengenai tangannya dan menancap tepat di bahu kanan sang pria misterius tersebut.
"Ugh!" Pria itu meringis.
__ADS_1
Mirai kembali berlari untuk menyerang pria itu. Namun nampaknya pria yang telah terluka parah itu lebih dulu melarikan diri dengan melompat ke atas pohon besar di belakangnya lalu menghilang.
"Akan ku balas penghinaanmu ini kelak!" Pekiknya seraya pergi dari hadapan Mirai. Shu Feng sungguh puas dengan pemanasan sebelum ia kembali tidur... Ia menyunginkan bibirnya, kemudian menjentikan jemari lenting dengan tangan milik Mirai dan mengembalikan posisi yang sebenarnya.
Ctik! Shu Feng kembali tidur dalam tubuh Mirai sedangkan Mirai mulai membuka matanya.
Plap! Ia membelalak tiba tiba... Ia pun menyapu sekeliling seraya menekan kepalanya yang gak pusing. Namun, yang netranya simak hanyalah batang pohon Zen yang terlihat tersayat bekas hantaman benda keras.
"...Di mana ini? Apakah aku sudah melupakan sesuatu lagi? Cih, akhir akhir ini terlalu banyak masalah datang bertubi tubi. Hingga aku selalu saja melukapan hal hal penting, sungguh aneh... Apakah aku tidur sambil berjalan? Tapi aku sama sekali tidak mengantuk"Gumamnya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Mirai membalikan tubuhnya dari halaman istana Ming menuju ke arah yang ia inginkan yakni istana inti tempat sang Kaisar memanggilnya lewat permaisyuri nya...
Namun, meski Mirai lupa kejadian setelahnya. Ia tetap ingat kala melihat tubuh sang pria tambun di hadapannya tergeletak begitu saja tak berdaya dengan tubuh bersimbah darah...
"Aku harus melaporkan ini pada kaisar" Mirai pun mengabarkan hal demikian. Hingga para prajurit pun sigap menyisir area tersebut untuk mendapatkan pelaku pembunuhan.
"Baik yang mulia..." Para prajurit lekas berhambur untuk memanggil satu persatu anggota kerajaan.
Sementara prajurit lain membawa jasad korban pembunuhan itu ke hadapan kaisar "Ampun yang mulia... Kami telah membawakannya ke hadapan anda" balas para pengawal. Pria tambun itu di letakan di sebuah tandu... Raja menyimak sosok korban pembunuhan itu.
Dengan tatapan sayu, sang Kaisar mengerutkan dahinya seraya membungkam mulutnya "Oh tidak, Bagai mana bisa sang tabib istana menjadi korban pembunuhan?" tanya Kaisar menjatuhkan dirinya di kursi empuknya.
Para prajurit istana Ming hanya bisa menundukan atensinya kala melihat tatapan pedih terlontar dari wajah sang kaisar
"Hamba tak sengaja melihat pembunuhan di depan mata, ketika hendak melangkah menuju istana inti untuk menemui Kaisar. Karna permaisyuri bilang, bahwa anda ingin bicarakah hal penting dengan saya" jelas Mirai. Raja yang sedang berkabung pun mengurungkan niatnya kala ia ingin bicara kan hal penting dengan Mirai.
"Karna situasi malam ini cukup gawat. Maka, aku menunda pembicaraan kita di lain waktu... Karna, istana Ming kini sedang di buat gempar oleh insiden yang tak di inginkan ini" tegas raja. Mirai paham dan ia pun mengangguk lugas.
__ADS_1
"Baik yang mulia..." Mirai memundurkan langkahnya ke belakang. Kemudian para anggota kerajaan pun berhamburan masuk ke istana inti malam itu. Kaisar pun mulai memastikan para anggota kerajaan yang datang ke hadapannya. Ia benat benar ingin mengetahui hal apa yang sebenarnya telah terjadi. Hingga memimbulkan korbsn jiwa malam itu.
Ibu Suri memebelalak kala menatap tandu berisikan koban pembunuhan "Tuan Young An?" pekik Ibu suri menatap risih ke arah pria tambun yang telah tergolek lemah tak bernyawa itu.
"Ahhh... Tabib istana? Apakah dia tewas?" tanya putri Mio membungkam mulutnya syok.
"Kaisar, apa yang terjadi padanya?" Tanya putra mahkota menatap intrents ke arah ayahnya.
"Putra mahkota... Malam ini, putri mahkota menemukan tubuh tabib istana telah terkoyak... saat perjalanan menuju istana ini" Tegas Kaisar.
"Benarkah putri mahkota?" tanya Putra mahkota menatap Mirai. Mirai pun mengangguk lugas seraya membuang wajahnya dari pria itu.
"Sungguh menakutkan putri..." Putri Mio menghampiri Mirai, lalu menggelayut di sikut putri mahkota "Aku takut... Aku takut di bunuh seperti tabib Young an" Umpat Mio mencengkram erat sikut Mirai.
"Hentikan. Sakit tahu..." Bisik Mirai menarik sikutnya.
"Maaf maaf. Jangan marah putri" Dengus putri Mio.
"Aku perintahkan, segera lakukan penyisiran istana secepatnya! Cari pelaku utama...'Pekik Kaisar menurunkan titah.
Mirai menelisik seluruh anggota istana yang datang menghadap kaisar. Namun netranya tak mendapati sosok yang ingin ia lihat.
"Kemana pangeran Fu Rou? Kenapa tumben tumbenan sekali dia tidak ada di istana. Apakah dia sedang melakukan perjalanan jauh?" tanya Mirai pada dirinya sendiri.
"Pangeran Fu Rou sedang tidak enak badan. Jadi dia putuskan untuk beristirahat di kediamannya..." jelas Putri Mio. Mirai pun mengerutkan dahinya terasa curiga.
"Benarkah?" tanya nya.
__ADS_1
Di antara anggota kerajaan, hanya pangeran Fu Rou saja yang tak ada di sana. Hingga hal tersebut membuat Mirai curiga. Pasalnya, pangeran Fu Rou selalu memaksakan diri dalam hal apapun dan membuat dirinya terlihat menonjol. Namun kali ini... Pangeran Fu Rou malah mangkir dari titah kaisar hanya dengan alasan sakit.