Putri Mahkota terkuat sejagad

Putri Mahkota terkuat sejagad
Salam perpisahan


__ADS_3

Setelah malam yang sangat panjang, pagi cerah pun tiba dengan begitu cepat.


"Ummhh..." Mirai bergeliat di ranjang hangat, seraya meregangkan tubuhnya. Ia pun kemudian berusaha untuk membuka matanya perlahan "Ugh. Sudah pagi ya..." bisiknya lalu kembali menutup mata nya malas.


Tanpa ia sadari, seseorang menyapanya dengan lembut, bahkan suaranya terasa sangar dekat "Selamat pagi" Tiba tiba suara tersebut berhasil membuat netra Mirai terbuka lebar Mirai seketika terperanjat.


Ia lekas bangun dan mengingsut di kepala ranjang untuk menjauhi pria itu. Nampaknya Mirai kedatangan tamu, yaitu seorang pria yang paling ia benci.


Ya, Fei Si tiba tiba menyapanya pagi itu dengan wajah yang fress dan penuh ke hangatan.


"Kau!" tatapan garang mulai di layangkan Mirai.


"Tidurmu nyenyak sekali... Sampai sampai mendengkur hihi" Ia melempar senyumnya ke arah Mirai seakan tengah menggoda rasa simpatik nya.


"Tidak sopan! Siapa yang mengijinkanmu masuk ke kamar ku! Sana pergi!" gerutu Mirai dengan amarahnya yang tak terbendung.


"Maaf jika aku tiba tiba ada di kamar ini. Selamam, kamu mabuk dan aku lah membawamu ke faviliun ini" Tegas Putra mahkota, Mirai sungguh merinding kala mendengarkannya.


"Apa... Aku mabuk? Tidak mungkin, aku sama sekali tidak meminum arak bahkan aku tidak pernah menyukai itu..." umpat bathin Mirai menggumam.


Ia lekas menelisik seluruh sudut ruangan kamar tersebut. Ia pun terkejut, sebab kamar yang ia tiduri, bukanlah kamarnya...

__ADS_1


Di mana ini... Ini bukan faviliunku. Bathin Mirai menggumam. Ia pun lekas menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Seakan takut jika suaminya meminta hal yang aneh aneh.


Putra mahkota kembali tersenyum "Jangan khawatir, aku tak melakukan hal hal aneh padamu kok..." ujarnya. Mirai pun lekas menyibat selimut lalu meloncat keluar dari ranjang.


"Tunggu putri, kita belum selesai bicara" Pinta Fei Si menyusul langkah kabur Mirai.


Tapi terlambat, kaki mungil Mirai bergerak dengan cepat hingga ia lebih unggul dari Fei Si.


Sraaaakkk! Pintu di geser oleh Mirai dan BLAM! Di tutup kasar lagi olehnya.


Putra mahkota yang terlambat menghentikan langkah istrinya pun hanya bisa kembali mematung di depan pintu... Ia lekas menghampiri cermin yang tergeletak di bawah kakinya. Ia pun meraihnya dan lekas menatap cermin tersebut sraya menggumam "Apakah wajahku seburuk itu hingga putri mahkota ketakutan ketika melihat wajahku..." Bisiknya dalam hati.


Dengan perasaan yang kacau, kini ia hanya bisa menghampiri ranjang yang selamam di tempati sang putri, ia hanya mampu menarik selimut bekas istrinya... Sesaat aroma tubuh sang putri terasa begitu dekat dengannya... Nampaknya sisa parfum yang menempel di selimut itu akan jadi lagu tidur Fei Si setiap malam... Ia janji ia tak akan pernah mencuci selimut tersebut.


***


"Hosh Hosh Hosh!" Dada Mirai naik turun kala mengatur napasnya yang agak sedikit sesak.


"Kenapa? Kenapa aku bisa mabuk... Semalam aku sama sekali tidak minum arak? Apa yang terjadi... Bisakah aku ingat ingat lagi?" tanya Mirai pada dirinya sendiri.


Mirai mengendap endap keluar dari area depan faviliun putra mahkota dan hendak menuju faviliunnya. Ia celingukan kanan kiri, nampaknya Mirai ingin merahasiakan tentang semalam bersama Fei Si dari pihak istana karna ia malu dan juga tak senang.

__ADS_1


Perlahan lahan ia keluar dengan langkah mencurigakan untuk sampai di faviliunnya. Ia pun berbelok dari area itu menuju ke luar dan BRUGGH!


Mirai jadi ceroboh karna panik... Benar, karna panik Mirai pun tak sengaja menabrak dada bidang seseorang yang ternyata itu adalah panglima Ou Tian Feyn "panglima... Ah senang bisa bertemu denganmu..." Mirai merespon cepat, Ia sungguh dengan senang kala bertatap muka dengan panglima pagi itu. Semalam ia tak bisa menyapanya karana terlalu sibuk menjamu para tamu.


"Panglima..." Mirai menatap kembali wajah panglima yang enggan menjawab sapaannya.


"Putri... Tolong jaga jarak mulao hari ini dan seterusnya" Pinta panglima seraya menjauhi Putri mahkota...


Deg!


Jantung Mirai seakan terhenti sesaat kala mendengarkan kalimat tersebut.


Mirai menoleh dan lekas menghajar panglima dengan kalimat tanya yang bertubi...


"Apa maksudmu panglima? Kenapa tiba tiba kamu jadi dingin? Apakah aku telah menyakiti hatimu? Panglima?! Tolong jelaskan karna aku tak paham sama sekali..."


"Tak ada alasan putri... Yang jelas, kita tak usah saling sapa..." Ujarnya seraya pergi tanpa menoleh atau menghiraukan Mirai.


"Selamat tinggal' Tambahya seraya pergi. Mirai merasa di tusuk ribuan anak panah... Rasanya ia patah se patah patahnya...


Apa makud dari semua ini.. Bathin Mirai menggumam.

__ADS_1


__ADS_2