
Putra mahkota menggendong Wen Tian menuju Faviliun para dayang. Namun langkahnya justru malah beriringan dengan Mirai yang kala itu hendak pergi ke Faviliun putri Mio.
Mirai mendelik ke arah putra mahkota dengan ekor matanya, ia pun menoleh ke arah putra mahkota seraya mengrutkan alisnya, ia merasa heran pada putra mahkota.
Dasar pria serakah, barusan dia berusaha menggodaku. Sekarang dia putuskan pindah untuk berlabuh dengan wanita jalan-g itu... Dasar!! satu kaki menginjak dua perahu. Heh, berani sekali dia mempermainkan putri Hyr In. Bathin Mirai menggumam. Kemudian di dengar jelas oleh Shu Feng.
Wen Tian tahu jika di depan mereka itu adalah putri mshkota. Hingga Wen Tian pun mulai over acting habis habisan merayu putra mahkota.
"Putra mahkota. Aku sangat mencintaimu... Jangan pernah meninggalkan ku ya..." Pinta Wen Tian seraya mengalungkan kedua tangannya di leher putra mahkota. Mirai lihat dengan jelas adegan itu, tapi kini jiwa putri Hyr In sepenuhnya telah enyah dari raga tersebut, hingga tak pernah ada rasa sakit di hati Mirai kala menyaksikan adegan manja tersebut.
Wussshhh... Saat putra mahkota dan Wen tian berlalu, aroma tubuh Wen Tian tercium oleh Mirai "Wah Wah... Licik sekali, hanya untuk menggait pria ja'lang itu. Wanita ini sampai sampai berani membumbui tubuhnya dengan parfum panarik hasrat. Bathin Mirai menggumam.
Mirai menatap ke pergian Wen Tian dan putra mahkota, tapi Wen Tian malah mengarahkan pandangan puasnya ke arah Mirai dengan melempar senyuma menyunging "Heh..." Dengus Wen Tian.
Mirai paham arti senyuman itu, hingga ia jadi kesal "Aku ingin mereka terpeleset ke kolam ikan! Baru tahu rasa dia, jika putra mahkota sadar dari hibnotis parfum busukmu itu. Dasar wanita *-*****!" Umpat Mirai mengepalkan tangannya.
Setelah berkata demikian, Mirai seperti kerasukan. Dan dia bertindak seakan bukan dirinya "Ke inginan mu. Adalah perintah untukku!" Ucap Mirai sembari membalas tatapan Wen Tian yang sinis itu dengan tatapan bengis dan penuh aura kegelapan.
Ctik! Mirai menjentikan jemarinya, dan seketika itu... Wussshhh! Asap hitam menghampiri langkah putra mahkota, lalu asap tersebut malah mengarahkan kaki putra mahkota menuju kolam teratai bening di sampingnya.
Sreet! Putra mahkota terpeleset, kemudian seketika itu ia pun tercebur ke kolam yang ada di korodor tersebut.
BYUURRR!! "Huaaah! Putra mahkota! Kenapa anda membawaku berenang di kolam teratai!' Umpat Wen Tian berusaha mengangkat tubuhnya. Kolam yang dalamnya hanya sebatas lutut orang dewasa itu berhasil membuat Wen Tian basah kuyup, juga membuat putra mahkota tersadar...
"Sedang apa aku di sini?" Tanya putra mahkota linglung. Ia masih terduduk dan tak paham kenapa dirinya ada di sana kala itu.
Sementara... Mirai hanya bisa melemparkan senyum simpulnya ke arah Wen Tian yang kala itu menatap Mirai penuh amarah... "Kau pasti puas..." Mirai tersenyum keji ke arah Wen Tian seraya mengabaikan kedua orang bodoh yang berendam di kolam teratai tersebut.
__ADS_1
Sembari melangkah tanpa dosa di hadapan Wen Tian, Mirai pun kembali menjentikan jemarinya CTAK! Plap... Seketika itu Mirai pun mulai sadar, nampaknya tadi bukan dia yang melakukan pembalasan pada putra mahkota dan Wen Tian. Melainkan jiwa gelap yang kala itu bersemayam dalam tubuh Mirai. Shu Feng adalah pelaku utama
"Ada apa denganku? Apakah ada hal yang aku lewatkan?" bisiknya menatap telapak tangannya. Nampaknya ia sama sekali tak ingat apapun, ia pun kembali meneruskan langkahnya menuju ke Faviliun putri Mio...
"Uughhh! Tatapan macam apa itu. Putri mahkota... Awas kau! Jika aku tidak bisa mendapatkan hati putra mahkota. Maka bersiaplah untuk mati ke dua kalinya..." Bathin Wen Tian menggumam kala menatap punggung Mirai yang hampir menghilang dari pandangannya.
"Wen Tian. Kenapa kau ada disni? Apakah kau yang telah membawaku jatuh?" tanya putra mahkota mulai berdiri.
Wen Tian seketika menundukan atensinya dan patuh pada pria itu "Ampun yang mulia. Hamba tidak sengaja melihat anda tercebur... jadi hamba tadi membantu anda naik. Tanpa di sengaja, saya malah terpeleset dan ikut tercebur bersama anda" bohong Wen Tian. Kemudian putra mahkota berpikir "Kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali..." Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Putra mahkota. Mari ku bantu keluar dari kolam ini..." Pinta Wen Tian mengulurkan tangannya ke arah putra mahkota. Tapi nampaknya karna Putra mahkota telah sadar sepenuhnya dari hibnotis Wen Tian, ia pun menolak kasar ajakan Wen Tian dengan menghempas uluran tangan wanita tersebut.
PLAK!
'Aahhh!" Wen Tian terpekik.
Putra mahkota menatap tajam ke arah Wen Tian "Mulai saat ini. Jauhi aku... Aku sama sekali tak sudi mengingat mu sebagai mantan kekasihku... Dasar kotor!' Hina Putra mahkota pada Wen Tian. Putra mahkota lekas berdiri lalu keluar dari kolam itu, ia mengabaikan Wen Tian yang masih termenung di kolam tersebut.
Wen Tian berjingkrak karna kesal. Nampaknya ia sangat kecewa oleh kalimat terakhir putra mahkota...
"Putra mahkota. Kau bisa seangkuh itu sekarang, tapi lihat saja nanti... Aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapan ku! Ingat saja itu! Aku akan membuatmu bertekuk lutut di bawah kakiku!" Amuk Wen Tian bersama sumpah serapahnya. Tak ingin menanggung malu terlalu lama, Wen Tian pun lekas keluar dari area kolam itu dan pergi menuju faviliunnya.
***
Faviliun putri Mio...
"Siapa?" Tanya putri Mio pada para dayang.
__ADS_1
"Putri mahkota datang berkunjung" Balas para dayang.
"Suruh putri masuk" pinta putri Mio.
Tak berselang lama, Mirai pun masuk ke area ruang tengah faviliun putri Mio "Ah. Putri mahkota... Tumben sekali anda berkunjung. Apakah karna rindu?" tanya Putri Mio menggoda Mirai.
"Kenapa bertanya hal itu... Apakah kamu ingin berpetualang lagi bersama ku?" Mirai menyungingkan bibirnya tampak jenaka.
"Apa? Aahh tidak... Perjalanan tempo hari membuat kedua betisku terluka dan sangat bengkak. Kau lihat putri mahkota... Bahkan, karna perjalanan kita terlalu jauh. Kakiku jadi sebesar lobak" cerocos Mirai.
"Heh. Seharusnya kamu bersyukur... Karna atas izinku. Kau bisa berkelana di luaran sana dan bisa merasakan dunia luar. Tidak selamanya tubuhku harus di kurung di istana. Lama lama kamu bisa tua dan mati di sini" balas Mirai membuat Mio merinding.
"Iihh apaan sih. Jangan bahas soal itu... Lagi pula, aku lebih suka tinggal di istanaku dan menikamati kamar ku yang mewah dan empuk ini. Tidak saat bersama mu putri... Tudur pun hanya dengan selebar tikar yang keras dan kotor..." Balasnya.
"Sudah sudah. Jangan bahas hal itu lagi... Kita harus segera menghadap kaisar lalu meninta ampun padanya" Ujar Mirai.
"...Aku belum siap. Apa lagi, saat itu aku yang mengendao endap keluar karna mengikutimu putri"
"Jangan saling menyalahkan. Apapun keputusan Kaisar, kita harus mematuhinya karna kita memang telah bersalah" Tegas Mirai.
"Baik baik. Aku akan berbenah dulu... Oh ia putri" Mio menghentikan langkahnya menuju meja Risanya.
"Ada apa..."
"Para dayang bilang... Kaisar telah mengurung panglima Ou Tian Feyn di penjara bawah tanah..." Ucap Putri Mio. Seketika mendengarkan kalimat tersebut membuat Mirai terpekik...
"Apa!!"
__ADS_1
"Para dayang bilang. Jabatan panglima akan di copot oleh pihak istana... Dan dia akan di jadikan warga sipil biasa mulai besok" Penjelasan Mio membuat Mirai tak sabaran untuk menghadap Kaisar.
Akhirnya Mirai meninggalkan Putri Mio dan bergegas menuju ke istana sang kaisar untuk meminta ampunan pada sang kaisar untuk panglima yang ia kagumi itu...