
***
Mirai sampai di tempat yang ia inginkan, namun kali ini netranya di suguhkan dengan pemandangan yang amat berbeda, sebab kali ini... Pintu istana inti tengah di tutup dan terlihat sedikit hening. Kemudian, para prajurit kerajaan memperketat penjagaan mereka di area tersebut...
"...Ada apa ini?" tanya Mirai sedikit panik, sebab mau bagai mana pun juga. Ia sedikit khawatir... Yang ia khawatirkan adalah keadaan panglima Ou Tian Feyn...
"Jangan jangan panglima Ou Tian Feyn di dalam sedang di eksekusi?" Bathin Mirai menggumam. Mirai lekas meraksak masuk ke area penjagaan "Putri mahkota. Anda mau kemana?" Tanya para prajurit menghadang langkah Mirai.
"Ah. Permisi, aku ingin menemui raja..." tukas Mirai bergegas menyeret dua tombak yang kala itu di silangkan di hadapan wajah Mirai.
"Anda dilarang masuk putri, tolong patuhi peraturan yang telah di turunkan paduka raja" Tegas salah satu kepala pengawal itu.
"Tapi sedang apa raja di dalam? Kenapa seluruh pintu istana inti di tutup..."
Tolong jangan buat aku khawatir, tolong jangan sudutkan panglima Ou Tian Feyn! Jangan vonis dia... Jangan menghakiminya. Rutuk hati Mirai berkecamuk seraya memohon kepada para dewa seandainya di kabulkan.
"Putri mahkota. Tolong pergilah..." Pinta salah satu pengawal lainnya.
"Tidak. Aku ingin menemui raja!" Ulang Mirai bersikeras.
"...Mohon untuk pergi. Atau kami akan bersikap kasar" Para penjaga segera bergerak menciptakan sebuah pagar kokoh di hadapan Mirai.
Sial. Bagai mana ini, raja sama sekali tak mau menemuiku... Aku harus cari cara lain. Aku harus menemui ibu suri, bathin Mirai menggumam.
__ADS_1
"Baik. Aku akan pergi..." balas Mirai tegas, Mirai pun memutar langkahnya menuju ke arah faviliun ibu suri. Nampaknya Mirai akan menemui ibu suri dan mendiskusikan masalah hukuman yang menimpa panglima Ou Tian Feyn.
------
Jeruji besi, di ruangan yang lembab dan gelap, juga pengap. Ou Tian Feyn terduduk memeluk sikutnya seraya menyembunyikan wajahnya di belik lipatan sikutnya. Ia duduk di sudut ruangan persegi empat yang berukuran 2cm kali empat itu.
Tak ada yang ia risihkan, urusan dunia telah ia lepaskan sedari masuk sel tersebut. Pikirannya kosong dan tak ada hasrat untuk bebas maupun di bebaskan. Ia sepenuhnya telah melepaskan seluruh beban duniawinya demi ke hormatan kerajaan dan keselamatan putri mahkota.
Tap! Tap! Tap! Di tengah keheningan, indra pendengaran Ou Tian Feyn mulai terganggu dengan suara hentakan sepatu yang terbuat dari kayu. Sesaat Ou Tian Feyn lekas mengeluarkan wajahnya dari persembunyiannya. Kemudian ia menatap lurus ke arah jeruji besi yang dingin nan kokoh itu...
Tak berselang lama, seseorang pun menghampiri jeruji tersebut dengan sebuah obor di tangannya. Ou Tian Feyn sudah menduga jika itu adalah putra mahkota "Panglima... Kau baik baik saja?" Suara menggema agak sedikit serak itu membuat dirinya ingat.
Ia pun perlahan bangkit dari duduknya lalu menghampiri pusat suara, dilihatnya dengan jelas. Pria tampan dengan pakaian rapi dan berkilauan itu "Putra mahkota, apa yang sedang anda lakukan di tempat kotor ini?" tanya Panglima Ou Tian Feyn.
"...Aku kemari untuk melihat keadaan mu..." Balasnya melemparkan sebuah senyuman lega.
"Baguslah. Putri mahkota sangat khawatir..." Ujar Putra mahkota.
"...tolong sampaikan padanya. Jangan mempersulit dirinya hanya untuk membela saya, hukuman ini sungguh pantas untuk saya. Jadi... Tolong jangan membuat dirinya sibuk hanya demi membebaskan saya" pinta Panglima Ou Tian Feyn menolak pembebasan untuknya.
"Jangan khawatirkan hal itu, Kaisar tak akan sepenuhnya menyalahkanmu ia adalah pria paling berwibawa dan adil... Mungkin saat ini, ia sedang bersidang dengan jajaran mentri juga penasihatnya... Semoga akan ada hal baik lewat keputusan Kaisar" tutur Putra mahkota begitu membesarkan hati Panglima Ou Tian Feyn agar tak terlalu terpuruk.
"...Terimakasih putra mahkota..." Ou Tian Feyn membungkukkan tubuhnya untuk memberi kan hormat bagi putra mahkota.
__ADS_1
"Satu hal lagi, aku ingin mengucapkan rasa terimakasihku padamu... Karna telah menjaga istriku dengan baik. Aku sungguh berhutang budi padamu" ujar Putra mahkota mengulurkan tangannya ke sela sela jeruji tersebut untuk menepuk pundak panglima Ou Tian Feyn.
Sesaat, Panglima seakan membelalak kala mendengar ucapan yang tak pernah ia duga akan keluar dari mulut putra mahkota.
Istri? Bathin Ou Tian Feyn menggumam.
Putra mahkota lekas menarik tangannya dari bahu Ou Tian Fyen yang mulai terlihat jatuh membungkuk "Aku pamit. Aku akan bicara pada Kaisar terkait pembebasanmu. Aku pasti akan memperjuangkanmu..." Sambungnya.
"Oh ia. Sebagai balasan hutang budiku padamu... Bagai mana jika aku mengangkatmu sebagai adikku... Aku akan menaikan derajatmu menjadi anggota kerajaan Ming?" tanya Putra mahkota menunggu anggukan dari Panglima.
Namun, Panglima malah menjatuhkan diri dan menunduk "Ampun yang mulia... Hamba tidak berani. Hamba sungguh tidak berani... Derajat hamba sungguh rendah, dan hamba terlahir dari kalangan rakyat jelata... Mohon tarik kembali kata kata yang mulia..." Pinta Ou Tian Feyn dengan segenap kekurangannya.
"Bangkitlah Panglima... Jangan begitu merendahkan dirimu. Kamu terlalu sungkan... Ini adalah mutlak permintaan ku sebagai rasa balas budiku padamu. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap teguh pada pendirianku... Aku pasti akan membebaskanmu saudaraku..." cerocos putra mahkota seraya menepuk nepuk punggung Panglima Ou Tian Feyn beberapa kali sebelum pergi dari jeruji besi yang dingin dan kotor itu.
Setelah ke pergian Putra mahkota dari sel tersebut. Suasana kembali hening dan gelap... Panglima hanya bisa termenung di tengah remang nya cahaya seadanya. Ia melamunkan kata kata Putra mahkota. Entah kenapa ia begitu terganggu dengan kalimat yang tak pernah terlontar dari mulut seorang putra mahkota.
Deg Deg Deg...
Jantung Panglima kali ini sungguh terasa panas dan juga menggebu seakan ada sesuatu yang sedang menalu nalu di dalam organ jantungnya. Tak lama setelah itu, ia pun mengepalkan tangannya dan memukul tanah yang kala itu jadi pijakannya.
Buak! Buak! Buak!
Tidak boleh terjadi! Aku tidak boleh memiliki perasaan tabu ini... Secepatnya, aku harus menghilangkannya... Ou Tian Feyn. Apa yang kau pikirkan, kenapa kau keberatan ketika mendengar kata tulus dari seorang putra mahkota untuk orang yang kau hormati itu? Brengsek!! Mata tangan panglima Ou Tian Feyn sampai berdarah darah karena hantaman paksa yang ia layangkan ke area tanah keras di bawah kakinya itu.
__ADS_1
Hiks! Hiks! Aaagggghhhhhh... Teriaknya di tengah gelap. Tapi sayang, tak ada yang satupun orang yang mengetahui teriakan pilunya itu...
Panglima Ou Tian Feyn hanya tak tahu saja, jika saat ini putri mahkota sedang ketar ketir meminta ke adilan untuk nya... Begitupun juga putra mahkota. Mereka sedang berusaha untuk mencari cara untuk membebaskannya...