
"Ti-tidak mungkin yang mulia... Aku tidak mungkin menyeleksi dayang dengan begitu serampangan" Elak Selir agung lekas bersujud mencium lantai di hadapan kaisar.
"Heh..." Kaisar menyibat jubahnya lalu pergi mengabaikan sang selir, Kaisar juga belum percaya pada perkataan Mirai yang tiba tiba saja menuduh selirnya.
"Pangeran. Tolong buka kan ikatan tangan mereka" Pinta Mirai.
Para pengeran seketika melakukan hal tersebut, ucapan Mirai terasa begitu berpengaruh bagaikan titah sang raja hingga para pengeran mau melaksanakan apapun perintah yang Mirai tunjuk.
"Tidurkan mereka sejajar... Aku akan memeriksa mereka" Mirai menghampiri ke tiga dayang itu. Lalu menatap di kejauhan "Bulir putih ini... Mereka menghirup Arsenik bubuk?" Tanya Mirai.
Para pengeran tercengang "A-arsenik?"
"Ya. Racun mematikan yang di buat dalam bentuk bubuk... Ini sungguh mencengangkan. Arsenik biasanya berbentuk cair dan tidak berwarna. Tapi ini... Heh, sungguh hebat" Umpatnya menahan tawa.
"Lalu bagai mana? Apakah mereka bisa di sembuhkan?" Tanya sang raja.
"Jika mereka meminumnya. Kemungkinan besar, mereka akan mati... Tapi, jika hanya terhirup... Kita hanya perlu memberinya obat yang ringan" Ujar Mirai mengembangkan senyumannya.
"Benarkah? Apakah mereka bisa kembali sadar?" tanya Kaisar menatap Mirai. Mirai mengangguk "Akan saya coba yang mulia" Ucap Mirai.
Mirai menoleh ke arah Mio "Mio... tolong berikan para pil sisa tadi pada para pelayan ini" Pinta Mirai.
"Tapi... Pilnya tinggal sisa beberapa" ucap Mio menolak, nampaknya Mio masih saja kesal pada para dayang itu karna mereka hendak mencelakakan nya.
"Berikan saja... Nanti aku akan membuatkannya lagi untuk permaisyri dan ibu suri" jawab Mirai.
Akhirnya, dengan berat hati Mio pun menyuapi satu persatu pil pil itu ke mulut para dayang dengan kesal dan wajah masam.
"Lanjutkan beri mereka seteguk air putih hangat" Pinta Mirai. Lagi lagi Mio kesal, saat tangannya terpeleset... Wuxi lekas menahan tangan Mio dan mencengkram gelas nya agar tak jatuh dan membasahi pakaian Mio.
DEG!! Sesaat, pandangan ke duanya berpautan satu sama lain... Mereka saling bertatapan lurus dan tampak berbinar.
__ADS_1
"Ahem..." Mirai menggeram dan Mereka kemudian terperanjat "Hei! Lepaskan aku!" amuk Mio. Ia tak sadar jika Wuxi adalah pangeran di kerajaan Hong dan malah menginjak kaki Wuxi di hadapan Kaisar.
BUGG!
'Aah.. Aw! Sakit tahu! Aduh adudduduh..." Ringis Wuxi. Kaisar marah dan menunjuk Mio "Siapa kau! Lancang sekali menginjak pangeran kerajaan Hong. Bahkan statusmu tidak lah pantas untuk di sentuh anakku!" Bentak sang raja memunjuk. Ia menaikkan suaranya dengan sangat marah.
"Apa! Aku adalah putri..." Mio mulai terdiam setelah Mirai membungkam mulut Mio secara gesit.
"Tenang yang Mulia. Maafkan kelancangan pelayan hamba. Sebaiknya kita percepat pengobatan para pelayan... Karna sebentar lagi senja akan menyingsing. Dan hamba tidak bisa menginap karna tugas hamba masihlah banyak" Tegas Mirai.
Kaisar mengatur napasnya dan lekas kembali duduk "Jika bukan tabib agung yang meminta ku. Kau pasti akan ku hukum berat karna telah menyakiti pangeran kerajaan Hong" Tegas Kaisar. Permaisyuri malah tertawa kecil "Hehehe..." Tawanya.
"Permaisyuri... kenapa kamu tertawa?" Tanya Kaisar.
"Hehe... Ampun yang mulia. Tapi... Pangeran Wuxi sepertinya menyukai pelayan tabib agung..." Ujar permaisyuri. Raja pun membuang wajahnya dan menatap Mio.
"Ti-tidak yang mulia... saya tidak menyukainya. Karna dia galak dan kasar.... Aku tidak suka gadis seertinya. Tapi aku lebih suka pada tabib agung...wanita cerdas dan tangguh" ujar Wuxi menatap Mirai yang sedang meminumkan air pada para dayang.
"Eemm..." Salah satu dayang sadar.
"Di mana ini?" tanya nya mulai duduk dari rebahannya dan memegangi kepalanya.
"Apakah kau mual?" tanya Mirai. Dayang menoleh lalu terbelalak "Aahh... Aku harus pergi" Pekik nya mulai berdiri tapi netranya malah di suguhkan suasana riuh di aula istana...
"Ahh..." Ia terdiam dan mematung.
"Mari kembali duduk lalu kita bicara..." Pinta Mirai lembut. Tapi sang dayang tak nyaman dan ia sedang di perhatikan...
"Sa-saya..."
"Ayo bicara! Siapa yang sudah menyuruhmu melakukan penyerangan pagi itu padaku!" Bentak Mio tak menunggu waktu.
__ADS_1
"Sst! Mio diamlah... Bicarakan pelan pelan" Pinta Mirai. Mio sebal dan membuang wajahnya...
"Siapa yang sudah menyuruhmu?" Tanya Mirai menatap sayu. Dayang itu mendelik ragu dengan ekor matanya ke arah selir agung. Sang selir mulai terbelalak "Kenapa kau menatapku?" tanya nya marah.
"Kenapa anda marah selir agung?" tanya Mirai menghampiri.
"Heh. Karna aku tersinggung" Ia membuang wajahnya.
"Benarkah? Belarti kau adalah pelakunya ya?" Desak Mirai masih melangkah ke arah selir agung. Sang selir panik dan jantungnya bergetar kala tatapan Mirai menatap lurus ke arahnya.
"Selir agung... Apa kah, dayang dayang itu pantas di hukum?" tanya Mirai berdiri tegak di hadapan sng selir. Sang selir sangat panik hingga ia pun mengeluarkan jarum racun dari dalam kain lengan panjanya lalu mengarahkannya pada Mirai.
"Kau! Pegilah!" Selir agung berdiri seraya melempar kan jarum jarum itu ke arah Mirai.
Syyuutt! Mirai mengelak dengan cara melenggak ke belakang. Cleb! Cleb! Cleb!
"Aahhkk" Jarum jarum itu mendarat tepat di tubuh dayang yang Mirai selamatkan tadi. Ia membelalak lalu menutup matanya dan jatuh ke lantai...
Seluruh mata mulai tertuju ke arah sang selir agung... Kini suasana aula kian panas dan riuh. Mereka tak menyangka jika sebenarnya pelaku utama penyerangan ibu suri dan permaisyuri adalah selir agung.
"Ternyata memang kau lah pelakunya. Tega sekali kau melukai dua wanita tangguh di istana ini" Ujar Mirai kian menghampiri Sang selir agung... Raja benar benar murka kala kekacauan yang terjadi di istannya adalah ulah selir agung.
"Ibu!" pekik Li Bai membelalakan matanya begitu pun para pengeran lainnya. Mereka tak menyangka jika selir agung yang baik ramah dan cantik adalah seorang iblis berkedok wanita penurut.
"Kenapa kau melakukannya!!" Bentak sang raja.
"Karna. Karna aku ingin berada di sini mu dan memiliki mu seutuhnya yang Mulia! Aku tidak mau berbagi cinta dengan wanita lain. Apa lagi, aku hanyalah sebagai selir... Bahkan aku tak memiliki status di kerjaan ini. Aku ingin melenyapkan ibu suri dan permaisyuri agar aku bisa duduk di sampingmu yang Mulia. Agar anakku lah yang jadi putra mahkota dan menjadi kaisar setelah kau lengser!" teriak selir agung penuh emosi.
Plak! Mirai menampar wanita itu.
"Teganya kau. Wanita perebut, ingin memiliki pria beristri seperti sang raja... Tidak kah kau berfikir tentang hati permaisyuri... Tega kau!" Bentak Mirak dengan nanar berkaca kaca.
__ADS_1
"Pengawal! Seret dia!"