Putri Mahkota terkuat sejagad

Putri Mahkota terkuat sejagad
Rahasia Ling Long


__ADS_3

Mio termenung menatap punggung Mirai yang kala itu kian jauh saja dari pandangannya "Kakak..." desisnya.


Dengan menyibak pelipisnya yang basah, Mio yang marah lekas mengepalkan tangannya dan mengigit bibir bawahnya. Ia mulai memutar langkah ke belakang dan menjauhi Mirai.


Nampaknya Mio sangat marah pada wanita itu. Mio pikir Mirau menganggapnya sebagai wanita lemah dan tam berdaya. Tapi, meski ia cengeng, ia tak mau menerima kritikan Mirai yang begitu membuatnya patah hati.


Ia pun putuskan untuk menjauhi Mirai. Padahal, apa yang di lakukan Mio Kali ini pastinya akan membuatnya terlibat masalah, hingga Mirai pasti akan terseret ke dalam masalah Mio.


Entah ke mana kaki Mio akan berpijak, ia masih marah pada Mirai "Aku memang tak berguna, tapi... Kenapa putri mahkota berkata bahwa dia akan meninggalkan ku. Apakah aku tak belarti di matanya? Hiks... Menjengkelkan!" gerutu Mio masih melangkah tak tentu arah. Padahal dia tak pernah berkunjuk ke kota Layaras, bisa saja dia tersesat...


"Ingat! Kau harus memenangkan pertandingan! Jika tidak... Kau tahu kan akibatnya?" Seseorang bernada mengancam terdengar kala Mio hendak menuju arah itu. Hingga langkah Mio pun tersentak. Dan Mio pun menghentikan langkahnya, lalu menguping diam diam.


"Ini suaranya Xue Jing? Apa yang sedang dia rencanakan?" Bisik Mio mengerutkan dahinya.


"Tapi Nona... Kemampuan ku tak sehebat wanita itu" Elak Ling Long sedikit mengeluh.


PLAK! Tak lama setelah Ling Long berkomentar negetif, sebuah tamparan terdengar di susul ceromoohan yang sungguh mengesalkan "Kau dengar! Aku membayar jasamu mahal... Kau ingat saja, jika kau kalah. Adik adik mu akan merasakan akibatnya. Kau paham!" Bentak Xue Jing... Mio sangat marah, ia pun mengintip di balik kayu yang ia pakai untuk persembunyiannya.


"Ku Mohon!" Ling Long lekas menjatuhkan dirinya di hadapan Xue Jing, ia bersimpuh lalu bersujud di bawah kaki Ling Long.


"...Jangan sakiti adik adikku. Mereka tak tahu apapun, jangan libatkan mereka nona... Jika kamu murka, siksalah aku sesuka hatimu" Ling Long sungguh ke hilangan harga dirinya. Ia bahkan memeluk kaki Xue Jing yang busuk itu.


"Sungguh ke terlaluan... Rupanya itu yang membuat wanita bercaping itu menggeretak kakakku..." Bisik Mio dalam hati. Seandainya saja Mio bisa beladiri, sudah pasti ia akan mencabik cabik mulut bau Xue Jing dan menjambak rambutnya kuat kuat hingga ia botak.


"Singkirkan tanganmu!" Bicara demikian di susul tendangan yang keras, Ling Long pun terpental beberapa senti "Aahhkk! Nona..." Ia memegangi perutnya dan mulai merangkak mengikuti langkah Xue Jing.


"Pergilah! Berlatihlah yang keras... Jangan sampai kau kalah. Aku akan pikirkan cara menyingkirkan Wanita kandidat itu di babak Semifinal..."

__ADS_1


"Nonaa...!" Pekik Ling Long lekas bangkit dan menghampiri Xue Jing. Tapi langkah Ling Long terhalang oleh daun pintu rumah pusat trauma, rumah tempat Xue Jing memulihkan luka lukanya.


"Hiks... Nona, jangan sakiti adik adikku... Ku mohon" Tangis Ling Long menggedor gedor daun pintu di depannya. Mio lihat dengan seksama, bahwa Ling Long terasa lemas hingga menyender longai di daun pintu itu...


Mio yang menatap risih sedari tadi lekas menghampiri Ling Long tanpa memikirkan hal apa yang akan dia dapatkan dari Ling Long.


"Ling Long..." seru Mio menghampiri.


Ling Long menoleh dan menghentikan tangisanya. Ia menyembunyikan sosok wajahnya di balik topi berkelambu hitam, hingga Mio tak bisa menatapnya dengan jelas.


"Sedang apa kau di sini?" Tanya Ling Long berusaha berdiri tegak.


"Aku tak sengaja mendengarkan percakapan mu..." balas Mio sedikit menurunkan nada suaramu.


"Kau menguping? Dasar keterlaluan!" amuk Ling Long menarik pedang miliknya dari sarungnya.


"Lalu apa maumu!" ia seketika menekan kan salah satau mata pedang tajam itu di leher Mio.


Sembari tenang Mio melempar senyum ke arah Ling Long "Kenapa kamu tak berontak kala di perlakukan seperti binatang?" Mio menatap sayu Ling Long.


Gluk! Sesaat Ling Long melamunkan sesuatu "Jika menjadi pengikutnya membuat mu tertekan. Sebaiknya lepaskan saja... Kakakku bisa membantumu menyelesaikan masalah ini" ujar Mio berusaha membujuk Ling Long.


"Tutup mulutmu. Aku begini gara gara ke datangan kalian kemari. Jadi bukan itu jalan keluarnya... Jalan keluarnya adalah melenyapkan kalian satu persatu" Pedang sesaat di geser di leher Mio hingga darah pun mengelir di atas pedang tersebut.


"Jika kematianku bisa membebaskan adik adikmu... Lakukan saja, tapi sayang... Buka aku target majikanmu. Tapi nyawa kakakku lah, yang ia lenyapkan" Tegas Mio.


Sesaat Ling Long kembali terdiam, tangannya mulai gemetaran tak karuan... "Ling Long, kakak ku sebenarnya tak mau mengikuti kompetisi ini. Tapi... Karna penguasa kota memaksanya, ia pun terpaksa mengikuti kehendak penguasa kota. Jika kehendaknya tidak indahkannya, Maka para bast spirit di kota ini akan menghancurkan istana Ming di dunia bawah... Demi kedamaian istana Ming. Ia pun rela mengorbankan kebebasannya untuk sampai kemari" Tegas Mio menyakinkan Ling Long.

__ADS_1


"Dari masalah yang melilitmu ini. Aku yakin, kakak ku punya seribu satu jalan penyelesaian... Kau adalah orang hebat, bahkan kau sampai di semifinal dengan kemampuan mu sendiri... Tapi kenapa, kau mau di rendahkan olehnya hingga di perlakukan seperti hewan. Jika kau tertarik dengan penawaranku, turunkan pedangmu lalu ikuti aku..." tegas Mio.


Lama berfikir, Ling Long pun akhirnya menurunkan pedangnya dan memasukkannya kembali ke sarungnya "Apakah ini pertanda, bahwa kau telah setuju?" tanya Mio berharap banyak pada Ling Long.


Tapi nampaknya Mio salah paham, Ling Long malah memutar langkah dan mengabaikan Mio "Cih. Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Untuk hari ini, berpura puralah... Berpura puralah bahwa dirimu tak pernah mendengar apapun terkait percakapan kami" Lugas Ling Long seraya pergi meninggalkan Mio.


Mio hanya bisa menatap tempat Ling Long berdiri tadi, sebelum Ling Long meloncat ke atas genting dengan ilmu peringan tubuhnya...


"Ling Long... Apakah aku harus menceritakan ini pada putri mahkota?" tanya nya pada dirinya sendiri. Mio belum ingin bergeming dari tempat itu, tapi seseorang menyahutnya dari belakang.


"Adik! Sedang apa kamu di sini?" Itu adalah Mirai yang terlihat ngos ngosan susah payah menarik napasnya untuk mengisi udara si kedua paru parunya.


Mio lekas menoleh "Kakak?" Setelah Mio menatap Mirai, betapa terkejutnya Mirai kala melihat leher Mio telah mengeluarkan darah yang cukup banyak "Adik! Kau kenapa? Siapa yang telah melukaimu?" tanya Mirai.


Mio sungguh tak sadar jika pedang Ling Long telah melukainya. Hingga ia pun menyentuh leher itu dengan tangan kanannya.


"Ah. Benarkah?" Ia menatap telapak tangannya. Dan ia pun membelalak. Sadar jika dirinya telah membuat Mirai khawatir, ia pun berusaha untuk tak panik...


"Ahahahah... Rupanya aku tergores. Dasar cerobos, ranting pohon itu ternyata berduri" Dengan wajah bodoh Mio berusaha untuk tegar. Mirai merengut, ia sungguh merasa sangat bersalah karna terlalu keras padanya.


Mirai pun menghampiri Mio lalu memeluk nya seperti saat Mio memeluk Mirai dengan wajah polosnya "Dasar bodoh" ucap Mirai mendekap Mio.


Meski Mio berusaha tidak menangis, tapi tetap saja air matanya berhambur seperti biasa "Hiks... Kenapa di sini banyak debu. Mataku jadi kelilipan... Hiks..." Ia tak bisa menahannya lagi dan menangis sejadi jadinya...


"Jangan memaksakan diri, jika tidak kuat... Menangislah, bukankah kamu memang seperti itu?"


Mendengar ocehan Mirai, entah kenapa Mio malah jadi manja dan menangis sekaras kerasanya... Mungkin karna rasa sakit di lehernya telah semakin menyiksanya.

__ADS_1


"Dasar cengeng!!" Mirai pun kembali bersama Mio ke penginapan sementara mereka.


__ADS_2