Putri Mahkota terkuat sejagad

Putri Mahkota terkuat sejagad
Serangan tak terduga


__ADS_3

***


Usai membersihkan diri, Mirai lekas keluar bathroom untuk berkemas dan mengenakan pakaian malam yang telah di sediakan pihak penguasa kota.


"Mio. Kau sedang apa? Kenapa kamu malah termenung begitu... Lekas bersihkan dirimu" Pinta Mirai. Mio yang sedari tadi melamun mulai menoleh ke arah Mirai, ia pun bangkit dari duduknya dan mendelik seaaat. Nampaknya Mio masih marah pada Mirai.


"Cih. Ada apa dengan bocah itu... Aah biarkan saja, nanti juga dia akan kembali baikan kok..." bisik Mirai menyugesti dirinya sendiri tentang ke adaan Mio.


"...Waktu di kota ini... Serasa berjalan lebih cepat, tiba tiba langit sudah gelap saja. Padahal baru sebentar aku membenamkan diri di pemandian" Bisik Mirai seraya menggosok gosok rambut panjangnya dengan handuk kering.


Setelah itu ia pun duduk di meja rias dan membereskan rambut basahnya yang acak acakan. Sesaat ia menatap pantulan dirinya di cermin. Cermin di jaman kuno memang agak buram, hingga ia tak bisa melihat dirinya dengan jelas.


Tok Tok! Seseorang menggedor pintu kayu berlapis selembar kertas putih.


"Siapa?" tanya Mirai seraya lekas bangkit dari duduknya menghampiri daun pintu "Nona. Ini adalah para pelayan kediaman sementara anda..."


KLEK! Mirai lekas membukanya pelan, ia membuka sedikit pintu itu lalu mengintip, hanya sebagian matanya yang bisa memperhatikan siapa saja sebenarnya yang telab menyambangi kediaman sementaranya itu.


"...Nona. Panguasa kota meminta anda segera datang ke pesta sambutan tamu kehormatan malam ini" tegas para pelayan.


"Jamuan? Apakah aku bisa menolak?" tanya Mirai mengerutkan dahinya.


"Maafkan saya nona. Tapi, penguasa kota tidak memberikan anda pilihan. Anda tetap harus datang ke jauman malam tersebut"


"Begitukah? Kenapa tua bangka itu sungguh sangat merepotkan" Bisik Mirai mengumpat dalam kekesalannya.


"Jika anda sudah paham. Kami pamit..." Ujar pelayan. Akhirnya kelima pelayan tersebut pergi dari front kediaman Mirai setelah menyampaikan hal penting itu.


Blam! Mirai kembali menutup pintu itu. Ia sebenarnya lelah dan ingin merebahkan tubuhnya. Tapi nampaknya pria semena mena itu sengaja menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Mirai untuk terus patuh padanya.


"Putri Mio. Lekaslah berkutat, pakai pakaian terbaik mu... Penguasa kota meminta kita mendatangi acara jamuan malam ini" Pinta Mirai.

__ADS_1


Putri Mio nampaknya masih kesal pada Mirai. Hingga ia tak mengeluarkan suara sekecil apapun "Jika kau ingin marah. Silahkan, tapi aku akan tetap seperti ini... Lekaslah benahi pakaianmu lalu kita pergi" Pinta Mirai.


Mio nampaknya mendengarkan perintah Mirai, hingga ia benar benar memakai pakaian bagus dan merias wajahnya. Juga menyemprotkan wewangian alami pemberian Mirai.


"Hem..." Mirai menyungingkan bibirnya karna ia merasa tak habis pikir oleh kelakuan Mirai.


"Baiklah. Kita tunggu sesaat, jika para pelayan itu kembali... Baru kita berangkat" Ujar Mirai. Mio tak membalas hanya cenderung menatap tanpa kata kata.


Aku merasa sekarang benar benar hening.... Bathin Mirai.


Mirai menunggu beberapa saat, namun nampaknya para pelayan belum kunjung datang menjemput mereka. Saat tengah menunggu kedatangan para pelayan... Rupa rupanya Mirai mendengar suara pintu tengah di kunci dari luar.


Greek! Klek!


"Suara apa itu?" tanya Mirai lekas bangkit dari duduknya dan segera menghampiri daun pintu.


"Kenapa aku merasa pintu ini di kunci dari luar?" tanya Mirai meyakinkan dirinya sendiri. Ia pun lekas mendorong pintu itu, GRET! Namun nampaknya pintu itu tak menggubrisnya.


"Apa? Kita di jebak?" tanya putri Mio menghampiri Mirai yang kala itu berkutat.


"Benar. Seseorang mengunci kita dari luar" Tegas Mirai.


"Lalu kita harus bagai mana?" panik putri Mio sedikit merengek.


"Cari pintu lain, jika kita beruntung... Maka kita bisa keluar. Bahkan kita tak tahu apa alasan mereka mengunci dan menjebak kita dari luar" cerocos Mirai. Ia memang mencoba tak panik, tapi jika pintu ruangan itu semuanya tertutup. Kemungkinan mereka hendak di bunuh tanpa di sentuh.


Benar saja apa yang Mirai takutkan, sebuah lubang di kertas itu tiba tiba muncul seakan sengaja di lubangi dan mengeluarkan sebuah asap pekat "Ahh... Putri Mio! Tahan napas..." Mirai ter pekik, ia khaawatir jika gas yang di semprotkan ke dalam ruangan itu adalah gas monoksida atau bisa saja itu adalah...


"Sarin!" Pekik Mirai segera berlari ke arah putri Mio "Apa itu Sarin putri?" Mio panik dan lekas membungkam mulutnya.


"Itu adalah gas beracun yang menyerang sel otot dan syaraf otak. Kita akan mati jika gas itu berhasil terhirup meski sedikit" Tegas Mirai.

__ADS_1


"Lalu kita harus bagai mana?" Mio sungguh panik hingga ia menangis.


"Aku akan menghancurkan pintu itu!" tegas Mirai seraya berlari menuju pintu yang terbuat dari kayi kokoh itu. Mirai meloncat dan menyematkan kaki nya ke arah pintu tersebut "Buak!!"


Brakk! Buuukk! Bruugghh!


"Waahh!" putri Mio terkesima. Seketika pintu yang di kunci kuat kuat itu hancur beserta pintu dan kayu penyangganya.


Bruaakkk! Bahkan genting nya pun seketika ambruk. Mirai kembali berlari ke arah Mio dan menariknya menuju ke luar "Dasar bodoh! Kenapa kamu hanya diam bukannya lari!" Bentak Mirai melompat ke luar kediaman sementara itu.


"I-itu sangat mengerihkan' Tangis Mio.


"Dasar cengeng!" Mirai mendarat tepat di tanah datar. Ia lekas meminta putri Mio untuk menunggu di tempat itu. Ia melihat beberapa orang berjubah hitam hendak kabur dari tempat kejadian. Mirai sigap menarik salah satu dari mereka dan membantingnya keras.


Bruak! Tubuhnya mendarat tepat di antara kayu penyangga. Hingga kayu itu tampak gentar dan apapun yang ada di atas penyangga tersebut tumpah ruah menimpa pria itu.


Bruak! Mirai tak membiarkan beberapa pelaku yang hendak membunuh nya itu kabur. Hingga satu persatu dari mereka babak belur dan beberapa dari mereka di totok syarafnya. Alhasil, mereka kerepotan sendiri. Mereka harus menerima wajah mereka yang babak belur juga amukan sang penguasa kota.


"Putri awas di belakangmu!" Tanpa di sadari, Seseorang di anatar mereka kembali bangkit dan mengarahkan kayu besar untuk memukul kepala Mirai. Mendengar teriakan Mio, Mirai lekas berbalik dengan tendangan kakinya yang cepat dan kuat itu. Hingga...


Buaak! Kaki itu mengenai wajah pria itu, bukannya Mirai yang di tipuk, tapi kaki Mirai terlebih dahulu melesat dan membuat pria itu terhempas cukup jauh.


Bruak!' Pria itu kembali melayang dan hinggap di gening kediaman lainnya. Nampaknya karna kerasnya tendangan itu, Pria berjubah hitam tersebut terkulai tak berdaya... Mungkin dia pingsan atau juga mati...


"Hosh Hosh hosh! Putri Mio. Kemari, bantu aku mengikat mereka..." pinta Mirai terengah seakan energinya terkuras habis.


"Baik!" putri Mio mengangguk dan lekas membantu Mirai mengikat kelima pelaku yang hampir saja melenyapkan Mirai malam itu.


Entah exspresi apa yang akan penguasa kota tampilkan kala melihat kediaman sementara milik mirai sudah porak poranda.


Tapi meski kediaman sementara Mirai porak poranda, nyawanya masih bisa terselamatkan oleh kesigapannya.

__ADS_1


__ADS_2