Putri Mahkota terkuat sejagad

Putri Mahkota terkuat sejagad
Keluhan ibu suri


__ADS_3

***


"Bagai mana sekarang ibu suri? Apakah lebih baikan?" tanya Mirai lembut seraya mengusap punggung wanita paruh baya itu.


"Aahhh perutku sedikit enakaan. Tidak sakit dan rasanya tenggorokanku mulai sedikit baikan" Jelas ibu suri.


"Syukurlah..." Mirai menghelan napas lega.


"Tapi, kenapa kamu bisa tahu obat obatan dari tabib itu adalah palsu. Dan kamu juga bisa menyembuhkan ku? Kenapa kamu bisa berlaku demikian?" tanya ibu suri. Mirai enggan menjawabnya.


"Yang penting. Ibu suri sembuh... Hal yang seperti itu, tak perlu ibu suri pikirkan" Jawab Mirai ringan.


"Tapi... Mau bagai manapun juga kamu sepertinya bukan Putri Mahkota Hyr In... Sebenarnya, siapa kamu?" Tanya Ibu suri mulai curiga pada Mirai.


"..." Mirai tak berkomentar.


"Apakah. Kamu adalah roh leluhur yang masuk ke dalam tubuh putri Hyr In?" Tanya Ibu suri curiga.


"Ibu Suri anda bicara apa? Saya sama sekali tidak mengerti"


"Sejak hari di mana kamu mati, lalu kembali bernapas lagi. Ada beberapa hal yang cukup mengganjal di hatiku... Kelakuan mu, sangat berbeda dengan putri Hyr in. Kamu sepertinya bukan dia..." Ujar Ibu Suri.


Mirai tak bisa berkomentar dan cenderung mengabaikan ibu suri yang mulai curiga pada Mirai dan mengira ia memang bukan lah putri Hyr In.


"Sebaiknya anda istirahat dulu... Jika waktunya sudah tiba. Saya akan bicara hal yang sebenarnya" Ujar Mirai ringan.


"Sebenarnya?"


"Ya. Hal yang sebenarnya, tapi... Hingga hari itu tiba, saya mohon... Ibu suri harus sehat kembali dan jangan biarkan pihak lain tahu bahwa obat yang di berikan tabib itu telah saya tukar dengan obat yang saya buat sendiri" Pinta Mirai.


"Tapi kenapa? Kenapa orang lain tak boleh tahu jika kamu yang telah menyembuhkan ku?"

__ADS_1


"Ini demi keselamatan anda..."


"Benarkah? Aku jadi sedikit khawatir" Ibu suri tampak sedih dengan wajah yang di tekuk.


Mirai segera meraih tangan Ibu suri dan mengelusnya lembut seraya menenangkan perasaannya, Ibu Suri pun tersenyum pahit. Sesaat beban pikiran yang di tanggungnya berangsur angsur menghilang "Oleh karna itu ibu suri harus sembuh! Anda harus kuat!" Pinta Mirai. Ibu suri pun mengangguk diam.


"Dan satu hal lagi, Ibu suri harus janji pada saya. Jangan bicarakan apapun terkait obat tabib istana yang telah saya tukar itu" Ulang kembali mirai memperingatkan dengan panjang lebar.


"Baiklah. Mulai hari ini, aku akan memegang janjiku... Dan, aku akan menahan diri. Meski, sebanarnya aku sungguh penasaran dengan jati dirimu. Putri Hyr in"


"...Kalau anda sudah agak baikan. Saya akan pamit" Pinta Mirai. Ibu Suri mulai mengangguk diam.


"Saya permisi... Hormat pada ibu suri" Imbuh Mirak seraya berdiri dan pergi dari kamar itu.


Ibu suri menatap dalam diamnya. Ia memang tak habis pikir pada Putri Hyr In yang saat ini ada di hadapannya. Meski ia sangat menyayangi wanita itu... Tapi nyatanya, perasaan nya kini sungguh asing. Ia seakan tak mengenali lagi sosok Hyr In yang pendiam juga pemalu dari tubuh Hyr In yang saat ini di rasuki Mirai.


***


"Ada apa yang mulia. Akhir akhir ini anda sangatlah dingin pada saya... Apakah belaian saya kurang menyentuh. Atau... Anda memang sedang banyak pikiran?" tanya wen Tian lekas bermanja dan duduk di paha pria itu.


Fei Si belum bergeming, hingga membuat Wen Tian marah "Yang mulia... Kenapa anda diam saja, apakah anda sudah bosan pada saya?" Tanya Wen Tian dengan nada membentak.


Fei Si lekas marah dan mulai menghempas tubuh Wen Tian yang saat itu sedang duduk di pahanya "Ah!" pekik Wen Tian terkapar di tikar putih itu.


"...Beraninya kau, berani membentakku!" Amuk Fei Si lekas berdiri dan memaki Wen Tian.


"Ampuni aku yang mulia. Tapi kenapa anda begitu acuh pada saya sekarang?" tanya Wen Tian seraya menangis pilu.


"Heh. Mau acuh atau tidak, ini bukan urusanmu!" Fei Si membuang wajahnya dan mengatur napasnya yang sudah ngos ngosan karna menahan amarah.


"...Maafkan aku yang Mulia. Aku tak bermaksud lancang, tapi kenapa akhir akhir ini anda begitu mengabaikan saya... Apakah karna pelayanan saya kurang memuaskan nafsu anda?" Tangis Wen Tian meminta penjelasan pada Fei Si.

__ADS_1


"Itu bukan alasan ku. Hanya saja, untuk saat ini... Ada beberapa hal yang sedang aku pikirkan" Fei Si yang masih berdiri itu lekas duduk.


Ia mengatur napas dan mulai kembali meneguk cawan berisikan anggur itu lagi "Apa yang kau lakukan? Cepat isikan cawan minum ku. Memangnya jika kau duduk terkelungkup begitu. Aku akan iba dan membangunkan mu apa?" Imbuh Fei si begitu murka pada Wen Tian.


Wen Tian pun mulai bangun dan berdiri menghampiri Fei Si. Ia pun membantu Fei si menuangkan arak di cawan miliknya. Tak ada yang bisa Wen Tian lakukan pada Fei si karna mood Fei si saat ini sangat buruk.


Lama meneguk arak, akhirnya... Fei Si pun tumbang, ia mulia nyerocos tam karuan... Ia bicara hal hal yang tak masuk di akal hingga membuat Wen Tian marah.


"Putri mahkota... Kemarilah, layani aku... Malam ini saja" Umpat Fei Si memejamkan matanya seraya berguling guling di tikar.


"Putri mahkota? Kenapa dia memanggil manggil putri mahkota? Apa maksudnya itu?" tanya Wen Tian pada dirinya sendiri.


Fei Si yamg mabuk pun mulai mencari sesuatu untuk di raih "Putri mahkota. Biarkan aku menciummu... Biarkan aku tidur nyanyak bersama mu malam. Ayolah, putri mahkota di mana kamu?" tanya Fei si seraya mencari sesuatu. Akhirnya, ia menarik tangan Wen Tian hingga Wen Tian terbaring di lantai.


"...Akh! Putra mahkota" Pekik Wen Tian.


"Putri mahkota" Bisik Fei Si masih memejamkan matanya.


"Putra mahkota..." Lenguh Wen Tian.


Fei Si yang mengkhayal bahwa wanita yang ada di sampingnya itu adalah putri mahkota pun mulai menindih tubuh Wen Tian. Wen Tian tak menolak di perlakukan manis oleh Fei si sebab dari awal pertemuannya dengan Fei Si. Wen Tian memang sudah sangat mencintainya, hingga ia pun mengabaikan nama yang menurut Wen Tian tidak lah belarti.


*Putri mahkota? Cih... Sihir apa yang telah dia berikan pada lelaki ku. Putra mahkota yang dulu tidak sedingin ini... Jika dulu putra mahkota ingin melenyapkan putri mahkota. Lantas kenapa, putra mahkota malah kembali mendelik kembali putri mahkota dan malah menjilat ludahnya sendiri. Jika putra mahkota tak mau melenyapkan Putri Mahkota Hyr In. Maka biarkan tangan ku yang melakukannya.


Dalam pikiran Wen Tian yang berputar putar, Putra mahkota malah sibuk menciummi lekuk indah tubuh Wen Tian yang di biarkan terbuka begitu saja.


"Aah ahhhh putra mahkota" Lenguh Wen Tian lembut.


"Aku sangat ingin memakan mu putri mahkota..." Ungkap Fei Si seraya ******* habis bibir Wen Tian. Wen Tian tersenyum sinis seraya membayangkan mimik wajah Putri mahkota jika ia tahu hal apa yang di lakukan Fei Si padanya setiap malam me jelang tidur nyanyak suaminya. Desaghan Wen Tian terdengar menggoda sepanjang malam hingga Fei Si berhasil menyebar benih di sembarangan tempat*.


Kemarahan Wen Tian berhasil mengundang dendam baru bagi Mirai. Akan kah Wen Tian berhasil melenyapkan Wen Tian atau kah sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2