
Malam itu, di bantu putri Mio. Mirai berhasil meringkus ke lima pria berjubah hitam yang hendak melenyapkannya di sebuah ruang tertutup.
Putri Mio sibuk membuka topeng hitam yang di kenakan para penjahat itu dan berusaha mencari informasi... Tampaknya, karna pukulan brutal Mirai, wajah kelima pria tersebut nyaris tak di kenali lagi... Putri Mio sampai sampai bergidik ngeri kala menatap wajah rusak para penjahat itu. Setelah di teliti lebih seksama, akhirnya putri Mio pun menyadari sesuatu...
"Putri...!" pekik Mio lekas menoleh ke arah Mirai... "Nampaknya mereka tidak bisa di mintai keterangan" Ujar Putri Mio. Mirai yang kala itu masih berkutat mencari sisa gas beracun untuk barang bukti pun mulai memangu di reruntuhan bangunan dan menatap Mio dengan wajah datar.
"...Kenapa?" Tanya Mirai.
Mio lekas menjelaskan apa hal yang telah ia temukan "Lidah mereka telah di potong oleh seseorang... Nampaknya mereka memang sindikat pembunuh bayaran propesional. Hingga, ketika hal ini terjadi... Tak ada seorang pun dari mereka berlima, yang mampu memberikan informasi terkait siapa dalang dari penyerangan ini" Tegas Putri.
"Cih rupanya mereka bisu ya..." Bisik Mirai mulai mengeluarkan sesuatu dari kantung penyimpanannya.
Baru saja Mirai berkutat mencari sesuatu di kantungnya. Sang penguasa kota, bersama rombongannya malah menyambangi kediaman Mirai dan mematung seketika itu kala menatap bangunan bangunan yang ada di sekitarnya telah porak poranda tak bersisa.
"Ada apa ini!" pekik sang penguasa kota menelisik sekeliling.
Matanya terasa di tusuk sesuatu kala menyimak bahwa sebagian dari istananya hancur. Mirai mendelik ke arah sang penguasa kota dengan ekor matanya sembari menyungingkan bibirnya.
"Apa yang terjadi di sini?" Ulang pengusa kota dengan pertanyaannya. Nampaknya ia belum puas karena memang ia belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya tadi.
Mirai lekas menengok ke arah datangnya sang penguasa kota "Akhirnya. Kau datang juga" Mirai lekas menghampiri sang penguasa kota.
"Siapa mereka?" tanya Penguasa kota seraya menunjuk ke arah para pria jahat itu. Seketika ia mengerutkan dahinya kala menatap lima pria berpakaian serba hitam di ikat dalam satu tali kekang.
"Merekalah pembunuh bayaran yang hendak melenyapkan kami" Tegas putri Mio menyerobot pertanyaan yang di lontarkan penguasa kota pada Mirai.
"Melenyapkan?" sang penguasa hanya bisa membisik demikian.
"Apakah ini ada hubungannya dengan dirimu... Xing Yue?" tanya Mirai menatap tajam ke arah penguasa kota.
__ADS_1
"Cih. untuk apa aku melakukannya?"
"Untuk menguji kekuatanku" balas Mirai salah paham.
"Jika aku ragu pada kekuatanmu. Seharunya aku urungkan niatku untuk membawamu kembali ke kota layaras" Tegasnya.
Mirai mulai terdiam "Benar juga..."
"Jika mereka tidak mau menjawab pertanyaan kalian. Maka, biarkan aku saja yang memaksanya" Sang Penguasa kota mulai megarahkan telapak tangannya ke langit malam.
Syuuttt! Seketika, kelelawar yang kala itu berterbangan pun berjatuhan dari langit.
Pluk! Pluk! Pluk!
Mirai sedikit kaget ada tanda tanya besar di hatinya "Apa yang sedang dia lakukan?" tanya nya. Penguasa kota kembali menurunkan tangannya dan menadahkan nya ke arah tanah di mana para kelelawar itu berjatuhan.
Greeep! Ia mendapatkannya kemudian meremasnya erat "Uhuk!! Aaagghhhhh!' Nampaknya cengkraman tersebut bereaksi pada kelima orang yang telah di ikat Mirai dalam satu tali itu.
"Uhuk! Aahhhhggg!" Mereka mieringis seakan menderita.
"Jika kalian tidak mau bicara... Matilah saja!" bentaknya mencengkram kuat kuat kelelawar di tangannya hingga kelelawar tersebut hancur.
Krreekkk! Krrreeett! Bruusssh!
Ketika hal tersebut di lakukan sang penguasa kota. Secara bersamaan, kelima pria itu tewas di tempat tanpa di sentuhnya sedikitpun. Bahkan tubuh para penjahat yang di tangkap Mirai hancur tak bersisa, tinggalah kepingan utuh tubuh yang terkoyak itu beserta darah yang berhamburan juga bau amis yang menyengat...
"M-mena... Menakutkan" putri Mio menggetarkan tubuhnya terlihat ketakutan dengan netranya yang membulat sempurna... Gigirnya gemeritik dan seketika ia pun terjungkal kebelakang.
"Putri Mio!"
__ADS_1
Mampaknya kekuatan sang penguasa kota yang begitu sadis belum bisa di serap oleh akal sehat. Kekuatan macam apa sebenarnya itu? Umpat Mirai dalam hati. Sembari memeluk putri Mio yang kala itu tak sadarkan diri... Mirai sendiri telah larut dalam rasa cemasnya.
"Seharunya. Kau tidak perlu membunuh mereka terlebih dahulu!"
"Heheheh... Itu adalah hukuman untuk para pembangkang" tegasnya.
"Tapi aku belum mendapatkan informasi yang jelas terkait siapa yang hendak membunuhku!" Bentak Mirai kesal.
"Heh... Jika kau ingin komplain terkait kematian mereka... Temuilah raja neraka dan mintalah mereka membuka mulutnya. Mungkin saja raja neraka akan memaafkan kesalahan para pendosa itu" Seraya bicara demikian penguasa kota pun berlalu begitu saja.
"Sial. Dia sungguh iblis berwajah imut!" Umpat Mirai menggumam.
"Kau. Cepatlah datang ke jamuan istana ku... Jika kau terlambat, maka terimalah hukumannya" ujarnya seraya pergi begitu saja.
"Cih. Apakah dia itu benar benar orang waras? Bagai mana bisa makan dengan nyakan setelah melihat isi perut sesama yang terkoyak begini... Yang ada. Napsu makanku akan hilang selama beberapa dekade... Menjijikan!" gerutu Mirai dalam hati.
Kemudian, Mirai berdiri... Panglima datang dan membantu mengangkat tubuh putri Mio yang tak berdaya itu. Dan Xi Zayn meminta beberapa pengawal dan peelayan untuk membereskan sisa jasad yang tak karuan itu.
"Jika penguasa kota sudah marah. Akal sehatnya pasti hilang'
"Apakah dia sejenis iblis? Bagai mana bisa orang seperti itu menjadi penguasa kota..." komen Mirai.
"Meski penguasa kota gampang marah. Tapi dia sangat baik... Selama ratusan tahun. Dialah yang menjadi pemimpin di kota layaras, hingga ke amanan dan ketentraman pun terjalin antara rakyat kota layaras. Tak ada peperangan di sini... Karna kota kami sangat damai berkat kinerja sang penguasa kota"
"Begitu ya. Lalu apa maksud dari kelima penjahat itu yang nyaris membunuh nyawaku. Apakah itu pertama kalinya di kota layaras? Kau bilang kota ini tentram... Lalu bagai mana kau menjelaskan tentang sambutan yang tak menyenangkan ini?" Sela Mirai di antara penjelasan Xi Zayn yang belum masuk di otaknya.
"Kalau kejadian ini... Itu adalah pengecualian. Mungkin, ada seseorang yang tak menyukai anda... Sebab anda adalah orang yang di tujuk penguasa kota sebagai kandidatnya" tegas Xi Zayn.
"Apa pun alasannya... Aku akan tetap mencari tahu siapa sebenarnya dalang di balik penyerangan ini!" Mirai mengepalkan tangannya erat.
__ADS_1