Putri Mahkota terkuat sejagad

Putri Mahkota terkuat sejagad
Tenaga dalam


__ADS_3

"Jangan membuntuti ku!" Bentak Mirai dengan nada yang tinggi. Ia cukup kerepotan gara gara pria di belakangnya itu. Sedangkan Yuan Hanya bisa tersenyum iseng kala Mirai memakinya begitu.


"..." Yuan tak berkomentar.


"Apa sih mau mu? Kenapa kau membuntutiku terus dasar pengutil!" cecah Mirai menatap tajam lawan bicaranya.


"Terserah kamu mau bilang apa. Yang jelas, aku sudah menemukanmu" Balas Yuan.


"...Cih menemukan. Memang nya aku ini hantu? Ungkapan apa itu Menemukanmu? Tidak berarti apapun bagiku..." Mirai mengerucutkan bibirnya karna kesal.


Yuan malah tersenyum lagi lagi dan lagi ketika melihat mimik wajah Mirai yang menggemaskan menurutnya.


"...Oh aku tahu!" Mirai membalikan tubuhnya tiba tiba hingga membuat Yuan terbelalak kaget.


Mirai mencercidkan sebelah matanya tampak waspada pada Yuan "...kamu membuntutiku... Karna kamu menyukaiku?" Tunjuk Mirai ke arah hidung Yuan. Yuan sedikit terperanjat dan mengerutkan dahinya...


"A-aku!" Yuan tak bisa berkomentar karna terganggu oleh rasa curiga Mirai.


"Pasti... Kamu jatuh cinta padaku ya?" Sambungnya.


"Ah! Itu... Aku, tunggu..." Yuan di buat gagap oleh Mirai hingga ia tak tahu harus menjelaskan nya dari mana.


"... Oh tuhan... Dasar bocah! Beraninya menyukaiku... Apakah kau tak takut ku hajar!" Desis Mirai membuang wajahnya dan mengabaikan Yuan.


Yuan terlanjur terpancing pada apa yang Mirai curigai darinya. Hingga ia pun punya kesempatan untuk menggoda Mirai...


"Ternyata anda... selain jago beladiri, tabib profesional... anda juga pintar menebak isi hati seseorang" Yuan terus saja mengikuti Mirai kemana pun Mirai pergi.


"Hentikan gurauan mu itu... Aku sedang sibuk" Ucap Mirai terus menjauh dari Yuan.


Sampai lah Mirai di gubuk yang ia datangi tadi "Kakak. Akhirnya kamu sudah datang" Tangis Gadis kecil itu.


"Ada apa?" Mirai panik.


"Ibuku muntah darah" tangis anak kecil itu.


"Banarkah. Celaka, jangan jangan pembuluh darahnya pecah" Mirai sigap melihat ke adaan ibu anak kecil itu.


"Apakah ke adaannya gawat?" tanya anak itu.


"...Aku akan berusaha, oh ia siapa namamu? Aku akan membutuhkan bantuanmu" imbuh Mirai.

__ADS_1


"Namaku Yue Ping"


"Yue. Tolong ambilkan air hangat dan garam" Pinta Mirai. Yue lekas mengambilkan apa yang mirai butuhkan.


"Hei kau pria tampan yang diam di luar! Masuklah. Aku butuh bantuanmu!" Pekik Mirai. Yuen pun mulai masuk dan berdiri di belakang Mirai.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Yuen.


"Ambilkan air putih, Gula pasir dan garam... cepat! Mereka terlihat sangat buruk... Mereka pasti Dehidrasi!"


"Dehidrasi? Apa itu... Kenapa aku baru mendengarnya?" Tanya Yuen.


"Tolong cepatlah... Ini bukan waktunya bertanya jawab. Nyawa mereka ada di tanganku..." Pekik Mirai meninggikan nada bicaranya.


"Baiklah... galak sekali" Yuen sedikit ke binggungan karna gubuk itu sangat kecil dan banyak sekali hal yang kurang... Tak ada gula dan garam.


"Nona ini... Air hangat dan garam" Yue menyerahkan Air tersebut ke Mirai. Sedangkan Mirai ia sedang membuat Pil obat dengan bahan bahan yang ia beli dari toko obat obatan tersebut. Mirai memasukan semua itu kedalam tungku api dan meraciknya dengan tenaga dalam.


"Apa yang sedang anda lakukan?" tanya Yue.


Terlihat, Mirai menggerakan tangannya dan berkonsentrasi, ia melempar satu persatu bahan yang ia beli tadi berupa, Jambu biji, Beras angkak, Echinacea, Daun pepaya, Patikan kebo (gulma), Daun sambiloto (whileoto), Makan sayuran kaya vitamin C dan Suplemen seng.


Beberapa lama kemudian, Mirai mulai membuka tungku itu dengan tenaga dalamnya. Lalu beberapa bulir pil pun mulai naik ke udara dan menghampiri telapak tangan Mirai "Hah! Hah! Hah! Tenaga ku habis..." bisiknya. Mirai bergerak sendiri dan ia baru saja menyadari jika dirinya bisa melakukan pengobatan alternatif juga meracik obat dengan ilmu tenaga dalamnya.


"Apa yang kau lakukan, pria tampan! Ayo... Berikan larutan garam juga gula itu pada mereka tolong minumkan. Yue, kompres jidak adik dan ibumu... Aku sedikit lelah. Aku ingin duduk sebentar, tenagaku hampir habis..."


"Nona. Kau baik baik sjaa?" tanya Yuan menghampiri.


"Aku baik baik saja... Tolong, berikan minuman itu pada mereka semua. Jika mereka sudah sadar... Berikan pil ini satu persatu pada setiap orang... Mereka akan sembuh. Sisanya simpan untuk besok dan lusa... Nanti aku akan datang kemari lagi untuk memeriksa. Sekarang aku ingin tidur" Cerocos Mirai.


Benar saja, setalah Yuen mendapatkan pil itu. Mirai terkulai tak berdaya menyender di bangku dekat tungku api miliknya.


"Wanita yang luar biasa" Decak kagum Yuen.


"Kekasih anda sangat hebat tuan' Ucap Yue tersenyum pada Li Yuan "Benarkah? Dia juga cantik bukan?" senyum Li Yuan.


"Ah... Ibuku sadar tuan" Pekik Yue menghampiri ibunya.


"Ibu kamu baik baik saja?" tanya Yue membantu ibunya bangun.


"...Ibu lebih baikan. Yue, kamu kurus sekali apakah kamu sudah makan?"

__ADS_1


"Jangan pikirkan aku bu. Seseorang telah menyelamatkan nyawamu..."


"Benarkah? Siapa itu? Apakah tuan muda ini?" tanya Ibunya. Wajahnya yang tadinya pucat kini berangsur angsur membaik "...Tuan muda itu hanya membantunya... Orang yang menyelamatkan ibu adalah tabib cantik itu bu" tunjuk Yue.


"Gadis cantik itu?" tanya ibunya Yue.


"Benar... Dia sangat hebat bu..."


"Bagai mana cara ibu membayarnya. Ibu sama sekali tak memiliki sekeping perak pun untuk membayar jasa tabib itu" Keluh Ibu Yue. Yue pun terdiam dan tak berkomentar. Karan mereka memang tak memiliki apapun untuk di berikan.


"Jangan khawatir... Tabib cantik itu sangat dermawan. Dia tak meminta balasan apapun... Asal kalian sehat saja sudah membuatnya senang" ujar Li Yuan.


"Benarkah? Kekasih anda sungguh dermawan. Saya sungguh berterimakasih tolong sampaikan rasa terimakasih ku padanya" Ucap ibu Yue bersujud berterimakasih pada Yuan dan Mirai.


"Jangan bersujud begitu. Bukan aku yang mengelamatkanmu bangunlah. Nanti akan ku sampaikan ucapan terimakasihmu itu" jelas Li Yuan.


"Benarkah?"


"Tentu..." Li Yuen mengangguk.


"Ibu... Kakak... Aku haus" ucap kedua adik Yue.


"Ah. Bu, Qiang dan Lin mulai sadar" pekik Yue menghampiri kedua adik kembarnya.


"Kakak aku haus"


"Kakak akan ambikan air" Yue mulai memberikannya air garam dan gula sesuai anjuran Mirai.


"Ini tidak enak kakak... Rasanya sangat menjijikan"


"Tabib bilang kamu harus minum ini. Agar kamu lekas sembuh" Pinta Yue membujuk adiknya.


"Benarkah. Apakah sungguhan ada tabib yang mau menolong kita?" Tanya Qiang.


"Lihatlah. Nona cantik itu adalah tabib hebat yang telah menyelamatkan nyawa kalian berdua dan juga ibu" Jelas Yue.


"Benarkah. Kalau begitu... Aku akan menghabiskan air ini meski ini tidak enak. Agar aku bisa menghormatinya... Kelak" Imbuh Qiang dan juga Lin.


"Kalian pasti akan sembuh jika memakan pil itu satu persatu setiap hari... Pil tersebut masih tersisa banyak, jadi gunakanlah sebaik mungkin" jelas Li Yuan.


"...Baik terimakasih tuan muda"

__ADS_1


"Kalau begitu aku pamit. Nona ini akan ku gendong hingga kediaman kami" jelas Li Yuen.


Akhirnya Mirai tak sadar hingga ia di bawa pergi oleh Pangeran Li Yuan entah kemana.


__ADS_2