Putri Mahkota terkuat sejagad

Putri Mahkota terkuat sejagad
Pagi yang aneh


__ADS_3

***


Cit Cit Cit...


Pagi yang cerah, burung burung berterbangan seraya berkicau di ranting pepohonan seakan menyambuat hangatnya pagi. Mirai si pemalas mulai meregangkan tubuhnya dan menggeliat tampak menikmati istirahatnya.


"Ngggh... Jam berapa ini?" Erangnya. Ia mulai duduk di ranjang dan mengingsut ke kepala ranjang. Matanya enggan terbuka meski ia sudah menyender di kepala ranjang itu "Ehhh... Dingin" Umpatnya... seraya mulai membuka sedikit demi sedikit kelopak matanya. Lalu ia mencercep cercepkan penglihatannya... Sesaat ia menyimak sesuatu yang aneh dan tak biasa di kamarnya.


Apa itu tadi? Bisiknya dalam hati.


Mirai lekas membelalakan matanya lebar lebar seketika itu "Ahhh!" Pekik Mirai menatap Fei Si yang tiba tiba duduk di sisi ranjangnya dengan sebuah senyuman menyimpul... Tampak mengembang di kedua pipinya.


"Kau!" pekik Mirai menunjuk suaminya yang tampak aneh dengan senyuman nya itu.


"Ada apa? Apakah itu raut wajah yang tepat untuk menyapa ku?" Tanya Fei Si tiba tiba merengut.


"Keluar! Sedang apa kau di kamarku!' Bentak Mirai mulai turun dari ranjang.


"...Keluar? Kenapa? Ini adalah kamar putri mahkota? Belarti kau adalah istriku' Jelasnya.


"Istri? Heh... Sejak kapan kau menyebut nama menjijikan itu di depanku! Apakah kepalamu terbentur?" Mirai menolak tegas perhatian pria itu.


"Kenapa? Apakah aku salah?" Fei Si kebingunan


"Pergi! Pergi! Atau akan ku paksa kau pergi!' tegas Mirai.


"Aku tak mau!" Fei Si masih bersikeras.


"Kau! Akan ku paksa kau pergi!"


Mirai lekas turun dari ranjangnya, ia pun menjambak rambut panjang putra mahkota dan menariknya ke arah pintu keluar "Ku bilang keluar! ya kerluar!!" Bentaknya menghempas tubuh Fei Si "Aduh! Duh! A-apa yang kau lakukan! Wanita gila!" cerocosnya seraya bertahan di tengah tegah pintu keluar.


"Aku tak perduli! Mau gila kek mau tak waras! Yang jelas pergi ya pergi!" Mirai melepas jambakannya dan ternyata Fei Si masih bertahan di daun pintu kamar Mirai.


"Heh. Kau pikir mudah menyingkirkan ku" umpatnya menggulung tangannya di perut.

__ADS_1


Mirai marah dan menggigit bibirnya sendiri "Kalau kau tak mau pergi. Maka akan ku paksa saja!" bisik Mirai meremas kedua jari di telapak tangannya. Seraya memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan Trek Tek! Bunyi batang leher Mirai telah selesai pemanasan.


"Hehehehe..." Tawa mengerihkan mulai terdengar menyeringai dari bibir Mirai.


"Sebentar lagi, aku akan naik tahta... Jadi kau harus bersiap menjadi permaisyuriku' Ujar Fei Si.


Mirai mulai menaikkan kakinya "Hei. Hati hati dengan kakimu! Lihat ini... Pipiku sampai bengkak gara gara kaki mu itu" sambung Fei Si pada Mirai.


"Jika pipi kirimu bengkak. Maka akan ku tambah di pipi kanan mu jika kau tak enyah dari kamarku!" Amuk Mirai makin menaikan kakinya ke atas.


"Coba saja jika kau bisa" Ucapan Fei Si terdengar seakan menantang.


"Oke!" Mirai tak tinggal diam, Ia memutar kakinya ke belakang, alhasil... Tumitnya pas di pipi kanan Fei Si "BUAKKK!"


Seketika Fei Si terhempas hingga berputar putar di udara beberapa kali sebelum jatuh mencium tanah di halaman Faviliun mawar milik Mirai.


BRUAAKKK!"


Fei Si tengkurab di tanah tak berdaya, para dayang mulai mengerumuni pria tampan yang angkuh itu.


"Heh. Rasakan! Kau pikir aku tak mampu melakukannya! Kau pantas menerimanya! Dasar pria cabul yang aneh!" Amuk Mirai seraya menutup pintu Faviliunnya.


"Putra mahkota!" Pekik para dayang menghampiri putra mahkota.


"Hehehe..." Fei Si malah tertawa setelah wajahnya bengkak. Bahkan rahangnya berdarah karna tendangan Mirai sangatlah kuat.


"Putra mahkota... Kami bantu" Ujar para dayang.


"Hehehe... Sudah ku kira. Dia memang bukanlah putri Hyr In... Hehehehehe, siapa sebenarnya yang bersembunyi di balik tubuh itu? Aku tahu... Putri Hyr In tak mungkin sekeras itu dan ia pun tak akan memiliki tenaga sebesar itu... Putri hyr In? Atau Xin Mirai... Yang jelas, kalian bukanlah orang yang sama di mataku" bisik Fei Si menyugesti dirinya sendiri.


Dalam Faviliun Mawar...


Si bodoh itu malah tertawa cengengesan setelah ku hajar. Jangan jangan karna benturan keras di kepalanya dia jadi tak waras. Mulai saat ini aku harus exstra hati hati... Bisa saja dia tadi mencekik ku saat aku tidur. Sebaiknya aku membuat kunci ganda di kamar ini agar tak sembarangan orang bisa masuk... Apa lagi pria busuk sepertinya. Benar... Mirai kau harus lebih pintar dari psycopath itu. bathin Mirai menggumam.


***

__ADS_1


Siang mulai tiba, Mirai segera menjenguk ibu suri dan merawatnya "Oh putri mahkota aku senang bertemu dengan mu lagi. Ku pikir, Cucukku membuat mu susah lagi..." Ibu suri sungguh senang ia bangkit dan memeluk putri mahkota dengan eratnya.


"...Ibu suri. Hamba baik baik saja, jangan risau... Hamba kemari untuk merawat anda. Apakah sudah ada tabib yang memeriksa anda?" tanya Mirai.


Ibu suri mengangguk "Syukurlah. Tapi, kenapa anda begitu pucat?" tanya Mirai menatap intrents nanar sang ibu suri.


"Entahlah nak. Sejak kemarin kepala ku pusing dan rasanya aku mual..."


"Benarkah? Coba ku periksa" Mirai mulai merebahkan ibu suri dan ia mulai menyingkap pakaian lengan panjangnya menekan urat nadinya "Apa yang kamu lakukan putri Hyr in?" Tanya Bu Suri.


"Ssst... Saya sedang memeriksa anda" ucar Mirai.


"Baiklah..."


Mirai menekan nadi Ibu Suri, ia rasakan sebuah kejanggalan Denyut nadinya sangat lemah...


"Coba buka mulut anda" Pinta Mirai.


"Seperti ini?" tanya bu suri seraya membuka lebar mulutnya. Warna lidah pucat dan penuh dengan luka iritasi... Amandelnya agak bengkak... Ini infeksi saluran cerna. Bathin mirai menggumam.


"Ibu suri... Apakah anda tidak nafsu makan akhir akhir ini?" tanya Mirai sangat teliti dengan ibu suri.


"Bagai mana kamu tahu?"


"Tenggorokan anda bengkak... Anda mengalami gangguan pencernaan. Bisa itu lambung atau sebagainya"


"...Aku memang tidak nafsu makan dan sering mual"


Pasti itu adalah gangguan lambung, menyebab kan kembung dan mual... Juga, obat apa yang ibu suri konsumsi hingga memicu iritasi berlebih. Bahkan... Efek sampingnya sangat keras, hingga amadel di tenggorokan ibu suri membengkak. Jika di biarkan... Maka ibu suri bisa tiada karna kesesakan bernapas juga kekuarangan nutrisi.


"Bisa hamba lihat... Resep dari sang tabib tadu?" pinta Mirai.


Para dayang mulai memberikan beberapa bungkus obat yang telah diresepkan sang tabib kepercayaan ibu suri.


Mirai mulai membuka nya satu persatu, obat obatan kering itu tampak tak berbahaya. Namun saat Mirai menekan tekstur obat obatan itu ia pun curiga. Ia lekas mencium aroma dari resep obat sang tabib. Ketika penciumannya mengendus... Ia pun terbelalak.

__ADS_1


"Lantas saja ke sehatan ibu suri menurun! Nyatanya... Obat ini yang selalu ia minum! Keterlaluan!" Bentak Mirai menghempas obat obatan itu.


Ibu suri sampai sedikit kaget karna Mirai sangat murka kala tahu bahan apa yang telah di pakai sang tabib untuk ibu suri.


__ADS_2