
Para penjaga membawa mirai ke ruang sempit di bawah tanah sesuai anjuran Fei Si putra Mahkota.
"Seret dia!" Teriak penjaga sel. Seketika tubuh Mirai di seret paksa dan mulai di jebloskan ke sebuah penjara bawah tanah yang sangat gelap dan bau busuk.
"Uhuk!! Uhuk!!" Mirai terbatuk karena baru saja masuk ia sudah sesak napas.
KIIIIIEEET! BLAM!
Mirai sadar saat pintu itu tertutup, Iapun berlari dan mulai meraih pagar besi itu.
"Tidak! Jangan kurung aku!" Mirai meraih tangan sang penjaga yang mulai mengunci pintu tersebut.
"Penjaga! Keluarkan aku! Aku tidak panatas ada di sini! Kalian dengar bukan! Aku adalah putri mahkota! Putri kerajaan Ming! Jika kalian berani... Akan ku penggal kepala kalian!" teriak Mirai ngos ngosan hanya untuk meluapkan emosinya.
"Maaf kan hamba putri mahkota, Tapi ini adalah perintah putra mahkota... Hamba tak berani membantahnya" Pengawal mulai mengambil kunci segel dan segera berlalu...
"Tidak! Tidak! Jangan pergi! Jangan kurung aku disini!! Tolong!! Pengawal jangan pergi!! Kambali!!" Mirai mulai memegangi sel besi itu seraya pasrah. Ia mulai lemas dan bergetar... Ruang tertutup dengan sedikit udara sudah sedikit membuatnya menderita...
Sial! Sebenarnya wanita seperti apa yang ku singgahi ini. Jangan-jangan wajah wanita ini sangat jelek hingga putra mahkota memilihnya untuk membunuhnya. Atau, karna wajah ini mirip dengan istri pertamanya ia akan tetap mengabisi ku lambat laun. Apa sih salah istri pertama pria itu hingga ia berniay membunuh semua istri istrinya... Panglima... Ou Tian Fyen. Selamatkan aku... Ug Sial. Batin Mirai berkecamuk.
Miraipun mulai duduk di sudut ruangan gelap tersebut. Ia memutar otaknya dan berusaha keras untuk mengibuli para panjaga sel itu.
Ini bukan kali pertama bagi nya di kurung di tempat gelap. Hingga baginya bukan masalah besar, hanya saja karna ruangan itu pengap dan sedikit udara... Tatap saja membuatnya sesak...
"Jika keadaanya begini. Kenapa aku merasa ingat pada masa lalu ku..." Bisiknya. Sejak Mirai kecil... ia sering dihukum orang tua angkatnya tanpa makan dan minum di tempat gelap seperti itu.
"Hyr-rin... Hyr In. Sebenarnya seperti apa kisah cintamu ini dengan pria brengsek itu, kenapa kau begitu malang? Bagaimana bisa suamimu tak mencintaimu dan malah ingin membunuhmu. padahal wajahmu sangatlah cantik ketimbang si ja'lang itu" racau Mirai pada tubuh yang ia singgahi itu.
Mirai mulai menekuk lutut nya dan membenamkan kepalanya di tumpukan tangan yang terlipat di atas lututnya. Jika aku ada di duniaku, Apa yang harus aku lakukan? Bathin Mirai, pikiran Mirai mulai berputar-putar tanpa komando.
.
.
__ADS_1
.
.
Tak berselang lama setelah Mirai masuk sel, Akhirnya putra mahkota datang untuk memastikan bersama beberapa pengawalnya.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki yang cukup ramai membuat Mirai tersadar. Mirai mulai memastikan suara tersebut lewat pendengarannya, Meski masih di kejauhan namun langkah tersebut sangatlah nyaring, sebab ruangan tersebut sangat hening. Suara sekecil apapun akan menggema jika di dalam sana, hingga terdengar jelas oleh Mirai.
Mereka datang. Bathin Mirai.
Mirai yang seorang Ahli beladiri itu mulai bersembunyi ala ninja di atas langit langit sel tahan tersebut. Ia memanfaatkan sudut sel sebagai penopang tubuh mungilnya itu... Ia pun meyelip di antara sudut sel tersebut.
Tap! Tap! Tap!
Bunyi langkah makin dekat... Akhirnya putra mahkota mengarahkan obor ke area sel tersebut.
Obor di arahkan ke kanan dan ke kiri, Tak ia temukan istrinya di dalam sana.
"Kami memenjarakannya di ruangan ini yang mulia" Jawab salah satu penjaga.
"Apakah kalian tidak bisa melaksanakan tugas dengan benar?!" Bentak putra mahkota mengarhkan obor itu ke wajah penjaga.
"Ampun yang mulia, Kami telah memasukan Permaisuri kedalam sel ini" Para pengawal mulai menunduk.
"Kalian berbohong!! Hukumannya adalah penggal kepala!" Bentak pangeran.
"Hamba mohon ampun!!" Ucap kelima pengawal yang di tugaskan mengurung Mirai.
Penggal kepala? Apakah maksud pria gila itu, dia akan memenggal kepala para penjaga itu? Ah tidak... Ini tidak bisa di biarkan. Bathin Mirai menggumam.
Mirai terbelalak ia pun terpaksa keluar dari persembunyiannya, sedari tadi Mirai bersembunyi di langit langit penjara bagian depan sel. Kakinya menjepit keras dinding yang berbentuk segitiga itu. Perencanaan matangnya luluh oleh beberapa nyawa yang hendak terbunuh oleh ke egoisan putra mahkota.
__ADS_1
DRAP!!! Mirai menjatuhkan dirinya dan mulai menyeru " Siapa yang kau cari! Apakah kau buta?!" Pekik Mirai, Suara lantang itu tentu mengandung aura mencemooh.
"Putra mahkota!! Di sana! Itu putri mahkota!" Tunjuk Pengawal. Putra mahkota pun segera membalikkan tubuhnya dan memastikan nya.
"Sejak kapan kau ada di sana!!" Pekik putra mahkota. Mirai tersenyum "Sejak kapan kau buta? Kau bahkan tak bisa memastikan nya... Dasar pria jahat?"
"Kau ingin mempermainkanku?" Bentak putra mahkota.
"Untuk apa aku mempermainkanmu. Tidak ada gunanya untuk ku. Toh... Aku tak pernah perduli padamu"
"Berani sekali kau mempermainkan ku?" Putra mahkota tampaknya murka...
"Kau... Berani sekali mencemooh ku! Rupanya kau perlu ku beri pelajaran, Agar kau tahu diri! Lagi pula kau harus taju siapa dirimu itu! Wanita rendahan!" Pekik Putra mahkota, Para pengawal mulai membuka pintu sel tahanan dan putra mahkota pun mulai masuk.
JREEENG! Suasana tegang makin terasa. Kini Mirai dan putra mahkota mulai saling berhadapan.
"Apa maumu? Apakah kau mau melenyapkanku?" Mirai menantang putra mahkota.
"Angkuh sekali... Sebenarnya banyak hal yang tak aku mengerti darimu. Kau bukanlah putri Hyr In!" Imbuh Fei Si terlihat mengulur waktu.
"Aku memang bukan putri Hyr In!"
"Cuih! Siapa pun yang bersembunyi di balik tubuh itu aku tidak perduli..." Putra mahkota menadahakan tanganya ke para penjaga.
"Heh. Kau pikir aku takut ya?" Mirai mulau bersiap siap.
"Mari kita lihat... Sampai di mana kemampuanmu... Kita akan pastikan pemenangnya, setalah dupa ini habis..." Bisik Fei Si, para penjaga mulai menaruh dupa itu di ujunh sel. Asapnya mulai menyeruat ke segala arah hingga membuat ruangan itu makin pengap saja.
Putri mahkota dan putra mahkota saling bertatapan tajam satu sama lain. Tak ada sejerat rasa pun di antara mereka... Mirai yang sudah terbiasa di cemooh oleh putra mahkota sudah mampu mengabaikan rasa sakit di dadanya yang selalu datang tiba tiba dan mengiris hatinya.
Meski perasaan itu terkadang timbul karna efek sang pemilik tubuh. Tapi Mirai akan berusaha keras untuk mengabaikannya...
"Asap apa ini? Kenapa kepalaku jadi sedikit pusing... Ku harap, kau mematikan dupa itu sekarang juga!" bentak Mirai menunjuk Fei Si. Sedang Fei Si hanya tersenyum menyunginkan sebelah bibirnya.
__ADS_1
Apa selanjutnya yang akan terjadi...