
***
"Ibu suri... Lekas lah minum obat anda" Pinta Permaisyuri.
"Simpanlah dulu. Nanti aku akan meminumnya" Ujar Ibu suri membuang wajahnya.
"Tabib, karna sepertinya ibu suri sangat lelah... Sebaiknya kita keluarlah dulu" Pinta Permaisyuri. Tabib pun mengangguk "Ibu suri, hamba pamit..." ucap sang tabib meninggalkan racikan obatnya di hadapan sang ibu suri.
Akhirnya permaisyuri dan sang tabib pun beranjak dari faviliun ibu suri.
Dari nanarnya saja sudah bisa di tebak, Ibu suri sungguh gelisah, ia tak tenang. Pikirannya meracau dan melayang tak tentu arah... "Putri mahkota... Kemana engkau pergi. Kenapa dari pagi hingga saat ini putri mahkota belum juga menjengukku. Ku harap, putri mahkota baik baik saja..." Bathin ibu suri menggumam. Ia sangat takut jika putra mahkota akan menyakitinya di saat Ibu suri tak ada di sisi Mirai.
Nampaknya, kesehatan ibu suri berangsur angsur membaik setelah meminum teh racikan Mirai. Ibu suri ingat betul kata kata Mirai hingga ia tak terlalu semberono dalam mengambil sikap.
Di ruangan lain...
Permaisyuri lekas pergi ke aula istana untuk menemui sang kaisar dan mengabarkan keadaan ibu suri padanya, sedangkan sang tabib istana... Ia malah mengendap endap tak karuan. Ia melangkah menuju sebuah lorong sepi di ujung barat istana Ming. Lalu seseorang menariknya Brak!
Tabib itu di himpit di sebuah dinding "Kau sudah melakukan tugasmu?" tanya seseorang membisik di kegelapan.
"A... Aku. Aku masih memantau situasi yang mulia" Balas sang tabib gemetaran hingga giginya menggeretak dengan bunyi trek trek trek...
"Kau harus menjalankan tugasmu dengan baik. Singkirkan si tua bangka itu sesegera mungkin, aku sebal dan jijik padanya..." tegas pria misterius di kegelapan.
"Baik yang mulia..."
"Sebisa mungkin, berikan dia racun tak kasat mata... Racun yang bisa membunuh dengan cara perlahan. Aku sangat senang jika wanita tua bangka itu lenyap secepatnya dari dunia ini..." Tambah pria misterius itu.
"... Ba-baiklah. Hamba akan melakukan tugas hamba dengan benar" Sang tabib yang gugup itu lekas keluar dari gelapnya lorong itu dan segera pergi dengan langkah sangat tergesa gesa.
"Oh tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Jika aku tak meladeninya dengan baik... Maka dia akan melenyapkan keluarga ku... Bagai mana ini" bathin tabib istana kerajaan Ming. Peluh di jidak pria itu bercucuran deras dan ia tampak sangat pucat kala berhadapan dengan pria misterius tadi.
Dugaan Mirai rupanya benar, ternyata ada yang ingin melenyapkan ibu suri dari istana... Tapi siapa dia sebenarnya.
***
Para tawanan telah sampai di sebuah istana gelap dan mencekam... Entah apa nama istana tersebut, setelah sampai di istana itu. Suasana nya sedikit panas dan pengap "Kita sampai. Turunkan semua sandra lalu keluarkan seluruh barang jarahan!" tegas kepala perompak tersebut.
"...Kau juga! Sampai kapan kamu mau memeluku" goda kepala perompak itu ke arah Mirai. Mirai seketika terbelalak lalu menghempas tangannya.
BATSS!
__ADS_1
"Heh. Siapa yang memelukmu. Aku hanya memegang pakaian mu!" Cerocosnya menjauh tapi belum turun dari kuda itu.
"Heh. Dasar murahan!" Bisiknya seraya lekas turun dari kuda itu. Mirai sungguh marah, karna ia di hina setalah sampai di sana oleh pria itu.
"Jaga nada bicaramu. Atau aku akan memukulmu" Mirai sungguh marah pada pria itu.
"...Heh. Memukul, jangan bercanda... Teman teman mu ada di tanganku. Jika kau berani melukai atau menggores wajahku... Maka jangan harap, teman temanmu akan selamat" Jelasnya panjang lebar.
Deg! Mirai pun sedikit takut kala mendengarkan gertakan pria itu "Turunlah! Sampai kapan kau akan berada di atas sana" Ucap pria itu menunjuk.
Sial! Aku sama sekali tak paham caranya berkuda. Bagai mana ini... Bathin Mirai menggumam. Saat pikirannya kacau...
Pria itu menarik tangan Mirai tanpa aba aba terlebih dahulu, hingga tubuh Mirai terpeleset dan ia kehilangan ke seimbangannya. Ia jatuh menimpa pria itu...
Bruuugghh! "Aahhh!" Pekik Mirai.
"Ugghh!" Pria itu terbatuk karna tubuhnya terhimpit tubuh Mirai. Pranggg... Topeng yang di kenakan pria itu jatuh.
Bunyi nyaring dan jelas karna topeng tersebut terbuat dari besi. Dan ketika terjatuh di lantai suaranya pun terdengar mendenting.
Deg!
Mirai terbelalak...
"Menyingkir!' Bentak pria itu menutupi wajah nya yang sudah di lihat Mirai.
"Kau! Kau sudah melihat wajahku..." Bentak Pria itu menutupi wajahnya yang tak bertopeng itu.
"..." Mirai tak berkomentar.
"Sial! Seret dia ke sel!' Bentak kepala perompak itu tiba tiba saja marah ketika Mirai tanpa sengaja melihat wajah pria itu.
"Tunggu! Aku bisa... Mengobati, lukamu" ujar Mirai.
Napas yang menderu kala amukannya sampai di ubun ubun nya itu pun seketika mendingin "Apa maksudmu"
"Luka di wajahmu itu... Aku bisa menghilangkannya" Ulang Mirai.
"Heh. Yang benar saja... Memang nya kau siapa!' Bentak pria itu merasa tersinggung.
"Ada apa ini! Kenapa berisik sekali?" tanya seseorang mulai turun dari tangga dan menghampiri Mirai juga pria bertopeng itu.
__ADS_1
"...Tuan muda. Sedang apa kau di sini?" tanya pria tinggi besar dengan tubuh yang kekar. Mirai lekas menoleh ke arah pria dengan suara menggeram itu.
"...Kau!' Pekik Mirai menunjuk. Nampaknya Mirai langsung ingat pada pria tinggi besar berbadan sintal itu.
"Kau mengenalku?" tanya pria buntal itu.
"...Oh Ia. Aku tahu... Kau adalah King Master itu ya? Aku mengenal suaramu. Jadi saat gelap pun aku tahu jika itu kau" tebak Mirai. Nampaknya tepat sasaran tebakannya itu...
"Heh. Itu memang namaku... Tapi aku sama sekali tak pernah mengenalmu" Lugas King Master.
"Aku adalah si pemenang seratus keping emas itu" jelas Mirai.
Seketika King Master membelalak "Apa???!" Pekiknya segera mundur.
"Hei... Kau yang waktu itu memenangkan ronde pertarungan bebas?" tuan muda itu lekas menutupi wajahnya dengan topeng tersebut lalu menunjuk ke arah Mirai.
"Ia... Itu aku. Saat itu aku hendak membeli bahan obat dan ternyata uangku tertinggal di faviliunku... Makanya aku ikut dalam kompetisi melawan King master" tegas Mirai bangga.
"Rupanya... Kau adalah orang itu. Lantas saja, aku merasa mengenalmu..." Ujar tuan muda...
"Bisakah. Kalian melepaskan teman temanku?" tanya Mirai memanfaatkan suasana.
"Aku akan melepaskannya nanti. Ada satu hal yang ingin ku tahu. Kenapa kau ingin membeli bahan bahan obat?"
"Itu karna aku adalah seorang tabib..." Jawab Mirai lantang.
"Tabib...?"
"Ya aku adalah tabib. Aku harus pulang untuk mengobati seseorang. Jadi tolong biarkan kami pergi" Pinta Mirai.
"...Aku akan memulangkanmu. Dengan sebuah syarat" Imbuh Tuan muda kerajaan itu.
"Syarat apa... Ku harap syarat itu tak terlalu sulit" Komen Mirai.
"Ayo... Ikut aku..." Pinta tuan muda. Master King nampaknya sangat menghormati tuan muda itu, hingga ia menunduk kala berhadapan dengan pria tinggi ramping itu.
Mirai agak curiga dengan bangunan yang ia tapaki itu... Ia menelisik sekeliling karna ia merasa heran...
Apakah ini sebuah villa? Tapi mana mungkin ada Villa di abad kuno ini... Dan lagi, Villa ini lebih mirip dengan rumah hantu. Umpat Mirai dalam hatinya.
Entah kemana tuan muda itu akan membawa Mirai bersama teman temannya...
__ADS_1
Yuk simak kepanjutan ceritanya. Tunggu autor crazy up ya... Next episode...