
***
Clak! Clak! Suara air berjatuhan ke sebuah penampungan. Tempat yang sunyi itu kini telah terisi oleh sosok mengerihkan berbentuk kepulan asap hitam...
"Ggggrrrhhh!" erang mahluk itu.
"Di mana ini..." Bisik Mirai menelisik sekeliling. Ia sungguh merasa lelah kala berjalan di tempat tak berujung. Hanya gelap dan kesunyian yang dingin begitu menusuk tubuhnya.
Mirai mulai mengingat ingat... Apakah aku sudah mati? Terakhir aku ingat jika... Roh hitam itu menusuk ku lalu aku tumbang. Jangan jangan, aku benar benar sudah tiada. Bisik Mirai dalam hatinya.
"Hahahaha..." Tawa menggema nampaknya mulai terdengar. Shu Feng merespon pertanyaan Mirai dengan baik.
"Siapa kau! Keluar!!" Bentak Mirai.
Nampaknya tak cukup bagi Shu Feng hinggap di tubuh Mirai dan menyedot energi yang ia miliki. Ia pun malah berubah wujud dan menampakan exsistensinya.
Tap Tap! Tap Tap! Bunyi langkah kaki kian mendekat ke arah Mirai yang kala itu berdiri tegak seraya cekingukan menelisik sekeliling.
Jreng! Shu Feng mulai berdiri tegak di hadapan Mirai...
"Hai. Lama tak jumpa" Sapanya melambaikan sebelah tangannya.
Mirai menoleh kearah Shu Feng "Siapa kau!!" Tanya Mirai waspada.
"Aku adalah jelmaan sosok hitam yang telah kau selamatkan tadi" Balasnya melempar senyum ke arah Mirai.
"Sosok hitam... Kau yang telah menyerangku?" Tanya Mirai. Sosok itu berhasil merubah wujudnya menjadi seorang pria berwajah rupawan.
"Bukan menyerang. Tapi mulai saat ini, tubuhmu adalah milikku" Balasnya.
Mirai marah "Cih. Enak saja! Aku yang telah menolongmu keluar dari segel tetua Moo Shan Shan. Lalu inikah balas budi darimu? Sekarang enyahlah dari tubuhku!" amuk Mirai menendang Shu Feng.
Bats! Shu Feng menangkap kaki Mirai yang kala itu hendak melukai Shu Feng.
"Kau lupa... Ini adalah alamku. Aku bisa mengendalikanmu di sini" tegas Shu Feng masih menangkap kaki Mirai.
'Lepaskan! Sekaranf keluarlah! Atau aku akan benar benar membakar tubuhku hanya untuk mengeluarkanmu!" bentak Mirai.
__ADS_1
"Heheheh..." Shu Feng malah tertawa kala mendengar kalimat yang Mirai lontarkan.
"Berhenti tertawa! Aku tidak menyuruhmu untuk tertawa!" Amuk Mirai.
"Kenapa kita tidak sepakat saja. Jika kau bisa menemukan jasad ku... Maka, aku akan segera keluar dari tubuhmu" Tegas Shu Feng.
"Aku tidak sudi menolong orang yang tidak tahu caranya membalas budi!" Bentak Mirai sembari terus berusaha menyerang Shu Feng beberapa kali.
"...Kalau begitu. Lupakanlah jika kau berharap aku akan keluar dari tubuhmu..." Shu Feng melepaskan cengkraman tangannya lalu menjentikan jemarinya CTIK!!
Plap! Sekeetika Mirai terbelalak menatap langit langit sebuah kamar. Lalu tetua Moo Shan Shan bertanya "Kau sudah sadar?" tanya nya. Mirai lekas menoleh, peluh di jidaknya bercucuran lebat. Mirai seketika bangun lalu memegangi dadanya yang tadi robek dan mengeluarkan darah segar "Ahhh. Lukaku..." Bisik Mirai kembali terbelalak.
"Lukamu langsung sembuh tanpa di obati. Nampaknya Shu Feng yang melakukannya..." Balas tetua Moo.
"Shu Feng melakukannya?"
"Ya. Itu adalah ke ahliannya, ia bisa membalut luka dan menyembuhkan tubuh yang ia sukai" tegas tetua Moo Shan Shan.
Mirai sama sekali tak percaya akan hal itu. Hingga ia mulai meraih sebuah pedang dari kantung penyimpanan nya lalu menggoresnya di urat nadinya. Tetua Moo berusaha menghentikannya.
"Apa yang kau lakukan!" Pekik tetua Moo.
"Jangan semberono! Kau bisa tewas!" Komen tetua Moo melerai aksi anarkis Mirai.
'Kita lihat saja. Jika aku menguliti tubuhku sendiri... Mungkin dia akan jera dan lekas keluar dari tubuhku ini" Tegas Mirai.
"Jangan bodoh! Dia malah akan menyiksamu nantinya. Aku akan pikirkan cara terbaik untuk mengeluarkan Shu Feng dari tubuhmu..."
"Apa!!" Mirai terpekik. Ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri jika benar saja, luka sayatan yang dalam itu. Tiba tiba membalut kembali hingga darah pun berhenti merhamburan.
Tetua Moo Shan Shan menepuk jidaknya sendiri "Sudah ku katakan. Shu Feng akan membuat tubuhmu aman, jika ia menyukai tubuh yang ia hinggapi... Sebanyak apapun luka di tubuh orang itu. Dia tak akan pernah membiarkannya terluka apa lagi mati..." Jelas Moo Shan Shan.
Mirai pun menyungingkan bibirnya "Belarti. Aku akan lebih kuat melawan pukulan dan tusukan?" tanyanya kepada Tetua Moo Shan Shan.
'Seharusnya itu adalah kekuatan yang Kaisar Qing ingunkan. Namun karna Shu Feng tidak menyukai tubuh itu... Ia pun berusaha keras melenyapkan tubuh rentan Kaisar Qing"
"... Heh. Dasar mahluk tidak tahu di untung. Syukur syukur ada tubuh yang mau menampungnya. Ia malah berontak dan minta di keluarkan, sekarang dia malah menguasai tubuhku... Dasar mahluk tidak berpendirian!" Olok Mirai pada Shu feng.
__ADS_1
"Sekarang. Istirahatlah... Aku akan bernegosiasi dengan tetua Chen Lyn untuk menemukan cara mengeluarkan Shu Feng dari tubuhmu" Tetua Moo mengangkat tubuhnya dari kursi itu lalu pergi keluar kamar tersebut.
"Tetua Moo. Bagai mana keadaan putri mahkota? Apakah akan dia baik baik saja?" Tanya Mio panik. Wajahnya mulai sembab karna tak henti hentinya menangisi Mirai semalaman.
"Dia sudah siuman. Jika kau ingin bertemu dengannya. Masuklah..." Ujar tetua Moo. Mio dan Ou Tian Feyn yang khawatir punll langsung meraksak masuk ke dalam kamar tersebut lalu menghampiri Mirai.
"Putri mahkota!!" Grap! Mio memeluk Mirai.
Ou Tian Feyn khawatir pada luka di dada kiri Mirai hingga meminta Mio untuk berhati hati pada luka itu "Ahhh maafkan aku putri mahkota" Mirai melepas kan pelukannya.
"Tak apa. Lukaku langsung sembuh kok" Balas Mirai melempar senyum simpulnya.
"...Sembuh?" tanya Ou Tian Feyn curiga.
"Ya. Lukaku sembuh dengan sendirinya... Mungkin itu adalah kekuatan roh gelap yang masuk ke dalam tubuhku" Balas Mirai mengelus urat nadinya yang tadi ia lukai dengan pedang milikinya itu.
"Syukurlah..." Mio kembali memeluk Mirai. Saat ketiganya sedang bersenda gurau.
Tuan muda pun menghampiri Mirai pagi itu "Tabib... Apakah kau baik baik saja?" tanya tuan muda menekuk wajahnya sedih.
Mirai menoleh ke arah tuan muda "Ya. Aku baik baik saja... Apakah ayahmu sudah siuman?" tanya Mirai.
"Ayahku. Dia masih belum sadarkan diri" balas tuan muda sedikit sedih.
"Nanti aku akan memeriksanya dan membuatkan obat untuknya"
"Maafkan aku. Gara gara ayahku... Kamu malah di rasuki sosok hitam itu" Tuan muda sungguh malu.
"Jangan khawatir. Aku baik baik saja kok... Aku akan menepati janjiku sesuai ucapanku" Ucap Mirai.
Mirai akan mengobati kaisar Qing hingga ia sadar. Lalu ia pun akan mengobati bekas luka yang dalam di wajah sang tuan muda dengan ramuan ajaib yang ia jual di pelelangan kemarin.
"Jangan pikirkan orang lain dulu... Kamu sendiri kan belum sehat" Komen Mio.
Mirai menepuk punggung wanita itu "Aku akan baik baik saja. Hanya luka gores setipis itu... Mana mungkin bisa membunuhku" Oceh Mirai. Mio tetap saja ketakutan karna ia terlanjur menyayangi Mirai.
"Hiks... Putri mahkota! Kamu memang selalu keras kepala..." Peluk Mio menangis di pangkuan Mirai.
__ADS_1
Sebentar lagi misi kita akan selesai. Dan aku sudah tak sabar lagi ingin pulang ke istana Ming dan bertemu ibu suri. Apakah ibu suri baik baik saja?" bathin Mirai menggumam.