Putri Mahkota terkuat sejagad

Putri Mahkota terkuat sejagad
Mencari jalan keluar


__ADS_3

***


"Lepaskan aku!" amuk Mirai berusaha keluar dari situasi yang sedikit menjijikan itu. Mirai mulai ingat kalimat yang Shu Feng gumamkan pada tetua Moo Shan Shan terkait tubuhnya yang telah di segel lalu di sembunyikan tetua Moo Shan Shan.


"Jika kau tidak melepaskan ku. Maka aku tak akan pernah membantumu mencari jasadmu..." Tegas Mirai. Seketika Shu Feng pun terdiam, ia lekas mendelik ke arah bola mata Mirai lalu menatapnya sayu.


"...Jika kau ingin mencari tubuh aslimu. Aku bisa saja membujuk tetua Moo Shan Shan untuk membuka suaranya. Agar ia bisa memberitahukan ku... Di mana tubuhmu berada" Ujar Mirai. Seketika Shu Feng pun mengerutkan dahinya lalu melepaskan tangannya dari kaki janjang Mirai.


"Benarkah?"


"Tentu saja. Kapan aku bohong" Balas Mirai segera membenahi pakaiannya. Ia bergidig ngeri jika mengingat kelakuan genit mahluk itu.


"Hem... Jika kau sungguh tulus dengan kata katamu itu. Maka aku juga akan berusaha membantumu" Tegas Shu Feng mulai sedikit menenang, ia cenderung banyak diam seaakan melamunkan sesuatu.


"Shu Feng. Sebenarnya aku datang kemari untuk meminta saran darimu. Namun, karna mendapat perlakuan mengesalkan darimu. Mana mungkin kamu akan membantuku" umpat Mirai kesal.


"Apakah ini tentang pembunuhan malam itu?" Tanya Shu Feng mendelik ke arah Mirai dengan ekor matanya.


"Kau tahu?" Bisik Mirai mencercidkan matanya tajam.


"Tentu saja. Malam itu, aku ada di sana" Tegasnya.


"Ada di sana? Apa maksudmu kau keluar dari tubuhku? Bisakah kau keluar dari tubuhku? Jika bisa... Carilah tubuh lain, dasar genit. Seenaknya tinggal di tubuh gadis tulen sepertiku... Kau genit!" Mirai menjingkrak jijik


"Apa maksudmu tulen? Sudah sudah jangan bahas hal hal mesum. Sebaiknya, kita lanjutkan saja pembicaraan yang tadi" pinta Shu Feng.


"...Malam itu, aku lupa sesuatu. Nampaknya, karna terlalu banyak pikiran... Aku jadi sering melupakan banyak hal. Sebaiknya aku membuat suplemen penambah daya ingat saja..." cerocos Mirai seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


Shu Feng terlihat mengembangkan senyumnya. Lalu ia pun menghampiri Mirai yang kala itu berdiri tak jauh dari hadapan Shu Feng. Setelah jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa centi meter saja. Shu Feng lekas mengulurkan tangannya, lalu menarik lembut rambut Mirai yang kala itu tergerai jatuh di dada kanannya. Shu Feng pun mengendus rambut itu kemudian mengecupnya pelan "Cup!" Mirai membelalak kala Shu Feng tiba tiba berbuat demikian.


"Lupa? Kamu tak membutuhkan suplemen penambah daya ingat seperti yang kamu katakan. Semua itu adalah ulahku... Aku yang tiba tiba menjadi dirimu. Kemudian membuat sebagian ingatanmu hilang dalam waktu yang cukup lama" Jelas Shu Feng. Mirai kesal pada kelakuan Shu Feng yang sok sokan romantis. Hingga Sebuah bogem mentah pun berhasil mendarat tepat di pucuk kepala Shu Feng.


PELETAK!

__ADS_1


"Aduhh!" pekik Shu Feng mengelus ubun ubunnya yang mulai benjol.


"Rasakan! Siapa suruh kau memperlakukan ku seperti wanita jala-ng!" amuk Mirai.


"Jahat... Hiks" Shu Feng menghindar.


"Apa maksudmu... Kamu tadi menjelaskan tentang perubahan wujudmu?" Tanya Mirai kesal.


"Bukan perubahan wujud... Tapi, menukar jiwamu dengan jiwaku... Ketika kamu terdesak, maka yang akan muncul dari ragamu adalah jiwaku... Lalu dalam waktu yang cukup panjang. Jiwamu terlelap... Hingga ketika kamu sadar. Beberapa hal penting yang ingin kamu ingatpun seketika leyap... Syuut..." Jelas Shu Feng panjang lebar. Kini Mirai pun paham, rupanya selama ini... Bukan daya ingatnya yang berkurang. Namun, ulah Shu Feng yang terlalu sering muncul hingga membuatnya banyak melupakan hal penting.


"Keterlaluan... Lalu malam itu. Apakah kau menemukan sesuatu?' Tanya Mirai menanggapi dengan amat serius perkataan Shu Feng. Mirai berharap, Shu Feng bisa memberikan secerah cahaya yang bisa menyingkap rahasia di balik kematian sang tabib istana bernama Young An.


"Tentu. Aku bertarung dengan pria pembunuh itu habis habisan" Kekeh Shu Feng bicara dengan nada yang tinggi seakan telah membanggakan dirinya.


"Begitukah? Lalu kenapa saat aku ingat. Pria pembunuh itu telah enyah... Apakah kau membereskannya? Lalu di mana jasad pria itu" respon Mirai melontarkan banyak pertanyaan pada Shu Feng. Kemudian Shu Feng pun terdiam "Jika dia tewas di tanganmu. Akan lebih mudah memberitahukan nya pada pihak istana maupun pihak penyidik" Tutur Mirai nyerocos panjang lebar berharap mendapatkan sebuah pencerahan.


"Tidak..." Singkat Shu Feng lalu bungkam.


"Aku tidak membunuhnya..." Balas Shu Feng. Mirai curiga, ia lekas menghampiri Shu Feng yang kala itu malah menghindari Mirai dengan beberapa pertanyaannya.


"Lalu... Jika kau tidak membunuhnya. Lantas, kemana pria pembunuh itu? Apakah kau mengurungnya?" tanya Mirai melontarkan banyak pertanyaan yang bertubi.


"Pria pembunuh itu kabur..." Singkat Shu Feng. Seketika bola mata Mirai terbuka lebar "Apa!!" Pekik Mirai tak puas akan jawaban yang Shu Feng lontarkan padanya.


"...Apa maksudmu dengan membentakku seperti itu?" Shu Feng membuang wajahnya malu.


"Kau sungguh bodoh. Kenapa kau malah melepaskannya... Jika saja kau tidak merasuki ku. Sudah pasti pria itu akan mati di tanganku. Maksudku... Setidaknya aku punya barang bukti agar aku terbebas dari dakwaan yang sadis ini. Shu Feng... Kau sungguh tak berguna" amuk Mirai. Shu Feng tak mau menerima amukan tersebut hingga ia kembali meyakinkan Mirai dengan mengatakan bahwa pria itu telah terluka parah.


"Jika kau menemukan seseorang yang terlihat mencurigakan di dalam istana. Kemungkinan dialah pelaku utamanya. Karna aku telah melukai tangan kanan dan bahu kanannya... Jika pria itu tidak beruntung. Maka kau akan melihatnya kesusan meski dia ingin makan atau pun minum..." Jelas Shu Feng meyakinkan Mirai. Mirai mulai mencercidkan matanya tajam.


"Orang yang terluka itu... Adalah pelakunya ya?" bisik Mirai seraya menyunginkan bibirnya.


"Dia memakai pedang bermata dua. Aku yakin... Dia adalah orang dalam, karna... Ketika pertarungan malam itu berlangsung. Aku lihat plakat istana Ming tergantung di sisi pinggangnya" Tegas Shu Feng menjelaskan sedetail mungkin.

__ADS_1


"Hehehe... Kau cukup membantu Shu Feng. Memang... pria misterius itu sungguh bodoh dan ceroboh. Bagai mana bisa ia lupa jika ia masih memakai plakat istana Ming di pinganggya. Terornya sungguh terkesan terburu buru dan tidak rapi sama sekali. Hingga aku bisa dengan mudah menemukannya..." Tegas Mirai.


"Baiklah Shu Feng. Jika kau ingin tetap tinggal di dalam tubuhku. Bersikaplah yang baik... Jangan pernah muncul atau menguasai tubuhku..." tegas Mirai memperingatkan Shu Feng.


"Tapi... Aku tidak bisa membiarkan tubuhmu terluka... Aku tidak mau raga ini membusuk dan aku ikut mati dalam tubuhmu" elaknya enggan menurut.


"Heh. Mati? Aku bahkan sudah beberapa kali hendak mati. Tapi Dewa sungguh berbaik hati padaku... Aku di berikan sembilan nyawa. Bahkan aku bisa hidup beberapa kali... Apakah kau percaya?" Mirai menyunginkan bibirnya.


"Benarkah? Belarti aku sungguh pintar... Karna telah memilih tubuhmu sebagai tempat tinggalku" balas Shu Feng.


"Ingat saja pesan ku untuk tidak berkeliaran atau menguasai tubuhku"


"Baik baik... Kau sungguh bawel sekali. Lebih baik kau cepat pergi... Karna suaramu membuat gendang telinga ku hampir pecah"


"Heh... Baguslah jika kau paham" Mirai terkekeh.


Seketika Shu Feng menjentikan jemarinya dan Ctik! Mirai pun tersadar "Master. Apa yang terjadi? Keringatmu bercucuran lebat... Apakah kau baik baik saja?" tanya Xigua sibuk mengusap peluh di jidak Mirai.


"Ahh...Hosh Hosh Hosh!' Mirai menarik napasnya sebanyak mungkin untuk memenuhi rongga paru parunya.


"Master... Kau sakit?' Ulang Xigua.


"Sial. Mahluk itu selalu saja mempermainkanku" Umpat Mirai mengepalkan tangannya.


"Mahluk itu? Siapa maksud anda? Apakah mahluk yang anda maksud adalah aku master?" tanya Xigua menekuk wajahnya dengan tatapan berkaca kaca.


"Bukan kamu maksudku Xigua. Tapi aku mengumpat kesal pada mahluk gelap yang dulu pernah keluar dari segel Kaisar Qing. Kau ingat?" Tanya Mirai. Xigua pun mengangguk "Oh begitu ya? Aku pikir, anda telah menghujam saya master" Balas Xigua sedikit menerbitkan senyumnya.


"Jangan khawatir, kamu adalah bast spirit terbaikku selamanya" Mirai merangkul Xigua kemudian memeluknya.


"Terimakasih master..."


Waktu berjalan sangat cepat... Mirai tak ingin kecolongan jika ia terus saja berleha leha, hingga ketika malam tiba... Mirai dan Xigua pun benar benar menyusup ke kediaman Pangeran Fu Rou dengan sihir yang di miliki Xigua.

__ADS_1


__ADS_2