
***
"Kamu tak bisa kelauar begitu saja dari tempat ini. Sebelum kamu menyetujui kehendakku" Pinta sang penguasa kota.
"Tapi apa untungnya untukku. Aku tak mau menambah musuhku hanya karna mengikuti kompetisi ini" Balas Mirai tetap menolak.
"Heh. Untungnya nanti kau pikirkan sendiri... Yang jelas kamu harus memberi sebuah kesepakatan..."
"Bagai mana jika aku tetap berkata tidak" Balas Mirai tetap pada pendiriannya.
"Maka aku akan memaksamu" Balas Penguasa kota.
"Arogan sekali" Komen Mirai membuang wajahnya.
"Itulah aku. Tanpa sikap ku yang seperti itu. Kau pikir aku akan bisa menguasai kota milik Moo Shan Shan ini?" Olok pria itu.
"Kau mengenalnya?"
"Heh. Tentu saja, dia adalah tetua tertinggi di kota layaras. Sekarang katakan kau setuju... Kompetisi nya akan di gelar satu bulan lagi"
"Bagai mana jika aku tetap pada pendirianku?" Mirai tetap enggan mengikuti kompetisi tersebut.
"Maka aku akan mengurungmu hingga kompetisi itu di mulai satu bulan lagi" Tegasnya.
Mirai pun sesaat terdiam, ia memikirkan jalan terbaik yang bisa ia lalui. Agar, ia bisa secepatnya kembali dari kota aneh itu dan meminta Moo Shan Shan untuk mengeluarkan Shu Feng dari tubuh Kaisar Qing. Lalu ia pun bisa kembali pulang ke kekaisaran Ming.
"Jika waktunya selama itu. Maka aku setuju..." Mirai mengambil ke putusan. Ia pikir, dengan begitu ia bisa lolos dari tempat aneh tersebut, lagi pula setelah ia pulang dari kota aneh itu. Ia pikir akan mudah kabur dari kakek buyut Xi Zayn.
"Baiklah..." pria itu lekas menjentikan jemarinya.
CTIK! Hingga terdengar bunyi sedemikian rupa. Setelah bunyi itu terdengar nyaring, jemari telunjuk pria itu menuliskan sebuah kata, Pawww!!! sebuah stempel pun mulai tergambar jelas hingga melayang di udara. Stempel bertuliskan nama peserta itu melayang di hadapan Mirai "A-apa itu" Bisik Mirai, stempel tersebut bercahaya seakan membutakan mata Mirai, dan setelah Mirai sedikit terkecoh... seketika tulisan aneh itu menghampiri wajah Mirai.
__ADS_1
PLEK! Stempel tersebut tertempel tepat di jidak Mirai hingga membuat netranya membulat sempurna.
"Apa ini!" Ia meraba jidaknya. Walau tak terasa apa pun di jidak Mirai, Mirai tetap saja meraba lokasi itu seraya panik meliputi hatinya.
"Karna kau telah setuju dengan kompetisi itu, maka... Akan sulit menemukanmu di dunia ini. Jadi aku putuskan untuk memberimu tanda. Agar kelak akan lebih mudah untuk menemukanmu" Cerocos kakek buyut Xi Zayn.
Sial, rupanya tak mudah menghadapi pria aneh ini. Ku pikir ke putusanku untuk membodohi pria ini sudah cukup pintar. Nyatanya... Akulah yang telah terjebak oleh omonganku sendiri. Mirai kau memang payah dan bodoh! Bathin Mirai menggumam.
"Apa yang akan aku dapat jika kelak akulah yang jadi pemenang kompetisi itu?" Mirai jadi sedikit sinis pada penguasa kota itu.
"Tentu saja, kau akan mendapatkan hadiah yang bagus"
"Hadiah. Apa hadiah itu? Karna aku akan berubah pikiran jika hadiah nya terlalu murah"
"Tenang saja. Jangan khawatirkan tentang itu... Khawatirkanlah dirimu sendiri, karna jika kau gagal dalam kompetisi tersebut. Maka bukan hanya reputasimu yang hancur... Tapi, kau juga layak menghuni sel penjara bawah tanah kota leyaras seumur hidupmu" Tegas penguasa kota.
"Cih. Sungguh kota yang aneh... Memaksa seseorang untuk ikut kompetisi bodoh dan aneh. Lalu menghukumnya setelah dia kalah... Sungguh pelaturan yang konyol!" Gerutu Mirai terus saja mencemooh.
"Biarkan aku pergi. Karna ku pikir pembicaraan kita sudah melebar kemana mana... Dan aku tidak punya waktu untuk mengurusi hal hal yang tak perlu seperti ini. Baiknya aku permisi" Mirai lekas mengambil langkah kabur.
"Keputusan ku adalah mutlak... Kemana pun kakimu menginjak bumi layaras. Di sanalah kau akan di hormati... Status mu kini adalah wakil penguasa kota" Sambung pria itu berusaha mengingatkan Mirai.
Tapi Mirai tetap mengabaikan ocehan pria itu, dan ia kembali mengambil langkah kaburnya GREET! Ia menggeser pintu keluar. Xi Zayn menyapanya "Bagai mana ke adaan kakek buyutku. Apakah kamu sudah mengobatinya?" nampaknya Xi Zayn sangat menyayangi kakek buyutnya hingga menghantam Mirai dengan banyak pertanyaan.
"Dia sangat bugar. Hingga tak memerlukan perawatan yang cukup lama" Balas Mirai seraya pergi dari faviliun Kakek buyut Xi Zayn yang rupanya adalah penguasa kota.
"Lalu anda mau kemana?"
"Aku akan pergi. Masih banyak urusan yang harus aku selesaikan" balas Mirai mengacuhkan Xi Zayn lalu pergi dari tempat itu.
Xi Zayn tak bisa mengantarkan Mirai hingga keluar dari rumah lelang itu. Karna hatinya sungguh gelisah ingin segera bertemu dengan kakek buyutnya lalu bertanya tentang ke sehatannya.
__ADS_1
"Kakek buyut"
"Zayn. Ada apa? Kenapa kamu terlihat cemas begitu?" tanya penguasa kota.
"Apakah tabib muda itu mengobati anda dengan baik kakek buyut?" tanya Xi Zayn.
"Ya. Dia sangat telaten... Aku menyukainya" Balas penguasa kota.
"Syukurlah jika kakek buyut baik baik saja..." Nampaknya kini Zayn mulai tenang. Hingga ia pun ke luar dari Faviliun tersebut. Tak lama setelah Xi Zayn keluar dari faviliun tersebut. Moo Shan Shan datang tiba tiba dan menyambangi faviliun Penguasa kota.
"Xing Yue Zayn..." Sahut Moo Shan Shan berdiri tepat di hadapan penguasa kota seraya menyebut namanya.
"Tua bangka. Ada hal apa yang ingin kau bahas denganku? Hingga kau tiba tiba menyambangi ke diamanku tiba tiba..." tanya Yue Zayn (Penguasa kota/kakek buyut Xi Zayn).
"Tua bangka katamu. Kau dan aku sama sama berusia 500 tahun lebih... Seenaknya memanggilku tua bangka" Moo Shan Shan menolak di sebut tua bangka oleh Yue Zayn.
"Jika kau hanya datang untuk merengek. Pulanglah, karna aku tidak membutuhkanmu" Yue Zayn membuang wajahnya. Moo Shan Shan menyunginkan bibirnya, lalu menatap setangkau bunga mawar merah yang tergeletak dalam sebuah pot kaca berisi kan air jernih. Bunga tersebut berguguran hingga kelopak bunga tersebut berserakan di meja rias Yue Zayn.
"Usia mu mulai terus berkurang setiap hari. Apakah itu sebabnya kau ingin menjadikan wanita itu sebagai pengganti kekuasaaanmu?" tanya Moo Shan Shan.
Yue Zayn hanya bisa menyunginkan bibirnya "Sudah bisa di tebak ya" Umpatnya.
"Jangan seenaknya memilih penguasa kota Layaras, apa lagi pada wanita yang tak memiliki kemampuan sepertinya. Bisa bisa dunia buatanku ini akan hancur" tegas Moo Shan Shan.
"Dunia buatanmu? Jangan bercanda, ini hanyalah dataran melayang tempat para murid mu menuntut ilmu. Dunia buatamu apanya... Benua ini tercipta karna peperangan 10000 tahun yang lalu... Jangan mengarang. Aku adalah satu satunya saksi yang masih hidup" Cerocos Yue Zayn menolak ketika Moo Shan Shan mengklaim bahwa itu memang dunianya.
"Jika kau begitu perduli pada kota layaras, kenapa kau tidak memilih Xi Zayn saja yang meneruskan posisimu sebagai penguasa kota" Tanya Moo Shan Shan.
"Heh. Kau pikir aku mau membayakan nyawa Xi Zayn, apa lagi ke ahlian beladiri dan kultivasinya cukup buruk. Tapi, sedari awal pertemuanku dengan gadis muda itu. Hatiku seakan tergugah... bahwa gadis itulah yang pantas menjadi seorang penguasa kota!" tegas Yue Zayn.
Moo Shan Shan tak bisa berkomentar... Ia pun lekas enyah dari hadapan Yue Zayn yang sangat terobsesi pada Mirai...
__ADS_1