Putri Mahkota terkuat sejagad

Putri Mahkota terkuat sejagad
Bernegosiasi


__ADS_3

Malam itu Mirai kembali ke faviliunnya setelah ia mengetahui hal apa yang tengah terjadi sebenarnya.


BOOMM!


Mirai dan Xigua kembali ke wujud aslinya "Master. Apakah kali ini aku sudah cukup membantu?" tanya Xigua. Mirai pun mengangguk "Terimakasih Xigua. Karna kemampuan mu yang luar biasa itu... Aku jadi tahu siapa dalang utama dari pembunuhan yang cukup misterius ini" tegas Mirai. Xigua sungguh senang karena ia telah banyak membantu.


"Sama sama Master. Aku sungguh senang jika bisa membantumu. Akhirnya aku bisa berguna juga untukmu master" Xigua melebarkan senyuman yang begitu lebar.


"Untuk hari ini. Terimakasih banyak Xigua... Jika kamu ingin beristirahat kembalilah ke kantung penyimpanan milikku... Aku masih belum mau melepas lelah, karna ada hal yang ingin ku lakukan malam ini" tegas Mirai.


Xigua kembali mengangguk... "Baiklah master. Oh ia... Master, jika kamu mencari bahan bahan herbal yang kamu minta, aku sudah membeli semuanya... Lalu aku menaruhnya di atas meja tungku api..." Jelas Xigua sebelum pergi.


"Baik. Aku akan segera mengambilnya" balas Mirai.


"Kalau begitu aku pamit POP!" Xigua menghilang. Tinggallah Mirai sendirian di malam yang kian larut dan begitu sunyi.


Malam itu ia membuat dirinya di sibukan oleh permasalahan istana Ming dan ingin secepatnya keluar dari permasalah tersebut. Hingga ia pun tergugah untuk membuat racun mematikan dari beberapa helai bunga poppy yang di tanam putra mahkota di belakang istana... Ramuan itu akan cukup membantu Mirai dalam melakukan penguakan pazel misteri yang sudah sedikit demi sedikit terbuka... Menunju titik terang.


_______


Siang pun tiba...


Pihak istana kembali mengumpulkan orang orang dalam... Bahkan sanak sauadara sang tabib istana datang berkunjung ke istana untuk meminta ke adilan pada kaisar "Mohon ampun paduka. Hamba belum menerima dengan tulus kepergian suami hamba. Jadi hamba meminta keadilan pada anda" Tangis seorang istri dari sang tabib itu sesegukan.


Wanita itu datang bersama kesepuluh anaknya... mendiang sang tabib istana pergi meninggalkan istri dan sepuluh anaknya. Bahkan anak anak mendiang sang tabib masih sangat kecil kecil. Kaisar tergugah hatinya kala melihat pemandangan tersebut.


Dari mana wanita ini kelak memiliki penghasilan, sedangkan dirinya memiliki sepuluh anak untuk di nafkahi pikir kaisar...


"Tenanglah Nyonya. Kaisar sedang berusaha menemukan pelakunya..." Permaisyuri yang ramah itu turun dari singgah sana samping sang Kaisar dan lekas menghampiri anak anak mendiang Young An.


"Terimakasih atas kemurahan hati permaisyuri" Sang istri mendiang sungguh senang atas respon yang permaisyuri dan kaisar berikan untuknya terkait sebuah ke adilan. Hingga wanita itu pun bersujud beberapa kali di hadapan Kaisar.

__ADS_1


"Bangunlah... Nasib mu sungguh malang, bahkan kamu terlalu muda untuk kehilangan suamimu karna insiden yang tak pernah terduga itu..." Kaisar merengut dan merasa sangat miris pada wanita itu.


"Ampun yang mulia. Asalkan pelaku utamanya telah di temukan. Hamba akan merasa tenang..." balas wanita itu.


"Lalu. Apa rencana mu kelak untuk membesarkan anak anakmu?" tanya Kaisar. Wanita itu pun bungkam dan memutar bola matanya ke akan dan kiri.


"Untuk saat ini hamba belum ada pikiran ke sana yang mulia" Jawabnya lugas.


"Lalu. Bagai mana caramu bertahan hidup dengan begitu banyak tanggungan di pundakmu. Anak anakmu nantinya perlu makan dan pakaian... Kamu harus menyelesaikan masalah ini secepat mungkin demi masa depan anak anakmu" pinta Kaisar.


Wanita itu tetaplah memutar otak dan tampak melamunkan sesuatu "Kaisar bagai mana jika anda bermurah hati... Angkatlah derajat wanita ini..." Pinta permaisyuri.


"Apa maksudmu permaisyuriku?" Tanya kaisar.


"Selama anak anak nya belum tumbuh dewasa dan mencari uang sendiri. Bagai mana jika anda menanggung sebagian dari kebutuhan anak anak mendiang. Misalnya... Anda memberikan sebidang lahan kosong untuk bercocok tanam saja. Biarkan saja istri mendiang yang menggarapnya... Hasil bercocok tanam mereka, kita yang membelinya... dengan harga yang tinggi..." Pinta Permaisyuri. Kaisar tak pernah mengira jika istrinya akan secerdas itu.


"Kau sungguh pintar permaisyuriku... Baiklah. Penasihat, ambilkan satu kantung koin emas untuk wanita ini" Pinta Kaisar.


Penasihat pun datang dengan jumlah uang yang kaisar minta "Hamba yang mulia" Sang tabib menyerahkan uang tersebut.


"Kaisar. Anda sungguh bermurah hati... Tapi hamba tidak bisa menerimanya" Wanita itu sungguh sungkan.


"...Kenapa? Ambil saja... Anggap ini adalah sebuah pesangon atas kinerja suamimu karna telah mengabdi di istanaku semasa hidupnya" Tutur Kaisar.


Wanita itu memang tergoda dengan jumlah uang yang sangat banyak. Hingga ia pun menerimanya dengan sigap "Terimakasih atas kemurahan hati yang mulia..."


"...Aku akan memberikan mu lima pengawalku untuk membantumu bercocok tanam... Selama anak anak mu masih kecil. Mereka akan tetap membantu dari proses menanam, merawat dan memanen juga menjual hasil kebunmu padaku" Jelas Kaisar. Wanita dengan ke sepuluh anaknya lekas bersujud di hadapan Kaisar.


Mereka sangat senang, kini masalah isi perut mereka Kaisar yang menjaminkannya... Setelah proses penyidikan yang cukup panjang. Jasad tabib Yuong Ah pun di antar ke rumah duka untuk di kremasi.


Sementara Kaisar mendapatkan hasil dari penyidikan. Laporan penyidikan yang sampai di tangannya membuat nya sangat marah "Apa!! Yang benar saja?" Bentak Kaisar tak senang.

__ADS_1


"Ampun paduka... Hal apa yang membuat anda marah?" Tanya para penyidik kerajaan.


"Berani nya kalian menuduh putri mahkota melakukan tindakan keji itu!!' amuk kaisar menujuk nunjuk para penyidik dengan tatapan yang sangat garang.


"Hamba tidak bermaksud menuduh yang mulia. Tapi, karna bukti bukti cukup mengarah pada putri mahkota... Hamba pun hanya menjadikannya terduga pelaku" Tagas para penyidik.


"Kalian salah!" Pekik putri mahkota tiba tiba muncul di hadapan Kaisar. Sedari tadi ia terdiam dan menguping pembicaraan kaisar dan istri mendiang tabib Young An.


Para penyidik yang kala itu menunduk pun mulai menoleh ke arah Mirai.


"Putri mahkota..." Pekik Kaisar begitupun permaisyuri.


"Aku bukanlah pelaku utamanya..." Tegas Mirai menatap tajam para penyidik.


"Putri mahkota. Ada apa gerangan tiba tiba datang ke istana..." tanya permaisyuri di kejauhan.


"Aku datang ke mari untuk menyerahkan pelaku sebenarnya! Tapi sebelum itu... Aku ingin kaisar bermurah hati..." Pinta Mirai.


Kaisar mengerutkan dahinya "Apa maksudmu putri mahkota?"


"Hari ini aku akan menguak kasus pembunuhan tabib Yuong An. Tapi... Dengan satu syarat. Jika aku terbukti tak bersalah... Maka berikan tugas menghukum para penyidik padaku karna telah salah menunjuk pelaku..." pinta Mirai.


Kaisar terbahak seketika itu "Putri mahkota. Apakah kau sungguh bisa menemukan pelakunya?" tanya permaisyuri.


"Tentu. Bahkan pelakunya... Adalah orang orang yang sangat dekat bahkan bagian dari keluarga istana..." tegas Mirai. Kaisar dan ibu suri sungguh membelalak...


"Apa? Tidak mungkin! Siapa mereka hingga berani mengotori istanaku!' Bentak Kaisar amat marah.


"Aku akan segera memanggilkannya untuk kalian... Ayo, keluarlah... Karna Kaisar sudah menunggu kalian terlalu lama..." pinta Mirai.


Kemudian, pangeran Fu Rou pun keluar tanpa paksaan begitupun Wen Tian. Mereka melangkah terburu buru ke hadapan Kaisar dan langsung bersujud.

__ADS_1


"Ampun paduka! Hambalah pelaku utamanya! Hamba lah yang telah membunuh tabib Young An..." Teriak Pangeran Fu Rou sungguh ke takutan.


Kira kira apa yang sudah Mirai perbuat pada pangeran Fu Rou hingga ia mau mengakui segala kesalahannya.


__ADS_2