
***
Istana Ming tengah buncar malam itu... Kaisar Ming memutuskan untuk mengirim prajurit perangnya yang berjumlah 500 prajurit untuk menyasar kekaisaran Qing. Di pimpin oleh pageran Fu Rou Ming, dengan misi menyelamatkan putri Mio dan putri mahkota dari cengkraman kekaisaran Qing, Kaisar Ming pun tegas dalam mengambil ke putusan.
Padahal menurut rumor yang beredar, setelah kemunduran kerajaan Qing beberapa bekade, Kerajaan Qing di nyatakan menghilang secara misterius dan entah bersntah, tak ada yang tahu kemana kastil kekaisaran itu enyah. Namun, karna Kaisar Ming sangat oftimis, ia pun tak mendengarkan usulan penasihatnya dan tetap mengirim tentara nya ke medan pertempuran tersebut. Untuk putri dan menantu yang ia sayangi...
"Prajuritku! Dengarlah, kali ini situasi ku sungguh mendesak. Oleh karna itu, jasa dan tenaga kalian akan ku andalkan malam ini. Berjuanglah, kalian adalah pahlawan kerajaan Ming!" Tegas Sang raja berdiri di atas pilar front istana yang di jaga ketat.
"Hamba yang mulia!" Pekik seluruh prajurit menekan tangan mereka di dada kanan mereka. Seraya menunduk patuh pada kehendak raja dengan segenap jiwa dan raga mereka.
"Berjuanglah para prajurit terbaikku!" Tambah sang raja menuturkan kalimat penyemangat bagi para prajurit perangnya.
"Kami akan berusaha keras yang mulia" Balas pangeran Fu Rou seraya menunggangi kudanya lalu memacu kuda itu ke arah depan dan memimpin para pasukan yang tengah siap dengan peralatan perang mereka.
Ada beberapa prajurit yang membawa bendera dan ada pula yang menarik kereta persenjataan.
"Pangeran Fu! Berjuanglah... Bawa putri mahkota dan putri Mio kembali ke istana Ming' Teriak kaisar di kejuhan. Meski saat itu pangeran Fu sama sekali tak mendengarkan perkataan terakhir yang di lontarkan Kaisar Ming.
"Paduka... Apakah anda yakin dengan tindakan ini? Karna jika tiba tiba pihak istana kita menyerang istana Qing. Maka kita akan mendapatkan masalah besar dari persatuan para petinggi kekaisaran" Ujar permaisyuri.
"Biarkan saja. Aku sama sekali tak akan biarkan putri mahkota dan putri Mio di culik oleh kerajaan itu" Tegas Kaisar mengrpalkan tangannya erat. Nampaknya, ke salah pahaman atas isi surat Mio itu membuat Kaisar Ming salah langkah... Dan akhirnya kesalah pahaman itu membuat sebuah peperangan pecah...
***
Faviliun ibu suri...
__ADS_1
"Haaah... Mana putri mahkota? Hampir dua hari aku sama sekali tak bertemu dengan nya..." umpat Ibu suri sangat gelisah, ia pun putuskan untuk mencari Fei Si, ia mencurigai Fei Si karna Fei si lah satu satunya orang yang sangat membenci Mirak saat ini... Ibu suri memutuskan untuk pergi mencari cucuknya ke area faviliunnya, di kawal beberapa pelayan langkah lebar sang ibu suri pun sampai di faviliun pria arogan itu...
"Putra mahkota!" pekik ibu suri.
"Putra mahkota, bukalah pintunya!" Ulang sang ibu suri. Tak ada satupun dayang di front faviliun Fei Si hingga membuat ibu suri kian kalang kabut...
"Kemana putra mahkota dan putri mahkota? Apakah mereka sedang bersama sama?" tanya ibu suri mengulang.
Ibu suri pun putuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju ke arah faviliun Mirai dan mencarinya di area itu, setelah ibu suri sampai di daerah tersebut... Ia pun sedikit tersentak kembali. Suasana hening dam senyap membuatnya sadar jika di dalam faviliun tersebut memanglah tak ada kedua orang yang ingin ibu suri temukan.
"Kemana... Aku harus mencari Putri mahkota?" tanya nya kelimpungan sendiri. Dengan raut wajah di tekuk, ibu suri pun lantas terdiam sesaat di front faviliun Mirai.
"Ibu suri!" Seru permaisyuri di kejauhan, permaisyuri pun menghampiri ibu suri dengan langkah yang lebar.
"...Aku sedang mencari putri mahkota. Tapi faviliunnya sepi dan pastu tak akan ada orang di dalamnya" Jelas ibu suri.
Bagai mana caraku menjelaskan pada ibu suri jika putri mahkota memang tidak ada di faviliunnya. Ia pergi dari istana Ming untuk menyelesaikan permasalahan kekaisaran si istana Qing. Bathin permaisyuri.
Ibu suri curiga kala menatap raut wajah sang permaisyuri yang terlihat resah dan bimbang "Permaisyuri" ulang ibu suri.
"Ah..." Permaisyuri terperanjat kaget.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya ibu suri.
"Tak ada ibu suri. Mari aku antar ke kamar anda" Permaisyuri lekas meraih sikut ibu suri dan membujuknya pergi.
__ADS_1
"Hari ini... Aku sungguh di buat bingung oleh istana yang ku bangun selama bertahun tahun ini... Apakah kalian tidak sedang menyembunyikan sesuatu?' tanya ibu suri kian di buat jemu oleh ke diaman anggota kerajaannya. Dan cenderung menutupi sesuatu...
"Ibu. Aku akan menjawab apa pun yang ibu suri tanyakan. Tapi tidak di sini... Mari aku antar ke kamar anda" Tegas permaisyuri.
Akhirnya ibu suri pun menurut... Dan mengikuti saran permaisyuri untuk pergi ke faviliunnya.
***
Rombongan tentara perang yang pimpin oleh Pangeran Fu telah sampai di tempat yang di targetkan dengan cepat. Jarak antara dua kekaisaran tersebut memang tak begitu jauh, hingga dapat di tempuh hanya dengan jarak beberapa kilo meter...
"Tunggu!" Pekik pangeran Fu memberi aba aba pada para prajuritnya. Karna malam amat pekat di area tersebut, pangeran Fu sama sekali tak menemukan istana Qing dan cenderung berputar putar di tempat seakan ke hilangan arah.
"Ampun paduka! Sudah tiga kali kita melangkah, dan rupanya kita hanya berputar putar di area ini saja" lugas salah satu pimpimpinan tentara perang tersebut.
"Kamu memang benar. Sebaiknya kita berkemah terlebih dahulu di sini... Setalah pagi kita akan lanjutkan mencari istana Qing dan menyerangnya" jawab pangeran Fu.
Akhirnya karna hasilnya nihil... Para prajurit pun menunda penyerangan lalu berkemah di area kekuasaan kekaaisaran Qing. Kekaisaran itu memang sangat misterius, apa lagi kekuatan Shu Feng tidak bisa di remehkan...
Oleh karna itu, Shu Feng selalu menyembunyikan kemegahan Istana Qing dalam sebuah medan mahnet membentuk pembatas antar luar dan dalam... Pembatas tersebut jika dilihat dengan mata batin akan membentuk seperti prisai menghalang antar luar dan dalam...
Prajurit kini malah di sibukan dengan pembuatan tenda dalurat untuk pangeran Fu dan sebagian prajurit pun terlelap di semak belukar dengan senjata di pelukan mereka... Sebagian tentara lainnya bejaga dan bergikir setiap enam jam sekali...
Malam itu, setelah berkutat mencari istana Qing... Akhirnya mereka pun terlelap menghentikan pencarian lalu tenggelam ke alam mimpi untuk beberapa jam kedepan... Dan Shu Feng sangat senang, ia sudah tahu apa yang mereka inginkan di istana itu... Hingga seketika itu ia akan mengambil mempi indah mereka lalu menggantinya dengan mimpi buruk yang sulit untuk mereka hindari.
"Hahaha... Menjeritlah... Karna tak ada jalan keluar dari mimpi buruk ku ini..." Gema tawa Shu Feng kala mempermainkan para prajurut dalam mimpi yang penuh jeritan... termasuk ia pun meneror mimpi pangeran Fu sepuas hatinya.
__ADS_1