
***
Perjalan menuju kerajaan Ming sangatlah jauh, bahkan Mirai tak memiliki uang sepeserpun untuk melanjutkan perjalanannya yang memakan banyak waktu itu.
Apakah pihak kerajaan tempat tinggal raga ini tahu, jika aku tersesat hingga ke mari? Aku bahkan tidak bertanya kerajaan apa tempat asal ku dulu... Kenapa aku begitu bodoh dan ceroboh. Kenapa aku tak tanya dulu pada para dayang, siapa namaku dan siapa diriku juga dari mana asalku! Uughh Mirai bodoh bodoh bodohhhh! Racau Hati Mirai memaki dirinya sendiri.
"Oh! Sial, kakiku sakit dan cuaca hari ini terlalu panas... Aku akan mati kering jika terus saja berjalan" Umpatnya meraaa kesal pada dirinya sendiri.
Sepanjang jalan, Mirai terus saja memutar otaknya. Ia ingin pulang ke dunia asalnya yaitu dunia modern. Baru tinggal dua hari satu malam di dunia itu, sudah membuat Mirai gelisah. Apa lagi, para penghuni dunia lampau tersebut sangatlah tidak ramah dan penuh emosional.
Duk! Kakinya mendang sebongkah batu, hingga ia sedikit terpincang pincang ke sakitan "Agh sial! Kenapa aku tidak melihat bongkahan batu sebesar itu? Dasar Mirai bodoh!" umpatnya kembali memaki dirinya sendiri.
Mirai mulai duduk di pinggiran jalan, ia mulai mengelus kakinya yang terasa nyut nyutan "Sakit... Aduh, lihat ini! Sekarang, aku harus pergi kemana?" Tanya Mirai menatap jalan panjang yang ada di hadapan. Jalan yang bercabang tiga, ia tak tahu jalan mana yang bisa membawanya pulang ke istana persinggahan tubuh Hyr-in.
Padahal di pedesaan kerajaan tersebut banyak sekali penduduk yang lalu lalang, tapi ia tak bisa bertanya pada mereka sebab ia memang tak tahu asal usul dirinya. Ia hanya berharap seseorang akan datang mencarinya dan membawa tubuh Hyr in yang malang itu ke tempat asalnya.
Mirai ke asikan duduk hingga ia tak menyadari jika dirinya tengah di ekspos seseorang. Seseorang itu menatap Mirai dengan seksama hingga pria itu menyercidkan matanya.
"Kakak!" Pekik pangeran bungsu yang bernama Li Wuxi.
"Ya" Balas pangeran pertama yang bernama Li Zhau Hong. Sang kakak yang sibuk menulis sebuah artikel tentang para rakyat dan kesehariannya pun mulai menoleh ke arah si bungsu Wuxi.
"Kakak kemari! Lihat itu, bukankah itu wanita yang mengutil kita tadi pagi?" tanya Wuxi menunjuk Mirai yang saat itu tengah duduk di pinggir jalan yang di penuhi orang lalu lalang.
"Benarkah?" tanya pangeran Li Zhau. Pangeran Li Zhau juga mencercidkan matanya dan menatap secara seksama ke arah Mirai.
"Benar kak! Mana mungkin aku bohong! Aku tak akan lupa padanya begitu saja! Selain dia melihat tubuhku, dia juga melecehkan ku dengan membungkam mulutku!" Jelas Li Wuxi panjang lebar.
"Hemmm... Kalau begitu, mari kita hampiri dia, lalu tanyakan padanya... Siapa dia sebenarnya. Kita tidak bisa membiarkan raja tahu tetang ke jadian tadi pagi... Jika raja sampai tahu, maka... Kita dalam masalah besar" jelas Pangeran Li Zhau.
"Ayo kak!" pangeran Wuxi dan pangeran Li Zhau mulai menghampiri Mirai secara mengendap endap.
Suasana pedesaan yang penuh dengan hirup pikuk para rakyat yang sebagian berpropesi sebagai perdangang, juga terjadi banyak transaksi jual beli, membuat Pangeran Wuxi dan Li Zhau sedikit ke susahan untuk menghampiri Mirai.
"Tolong! Tolong!" Suara teriakan terdengar nyaring. Mirai lekas berdiri lalu berlari ke arah suara teriakan itu.
__ADS_1
'Kakak! Dia kabur! Dia tahu jika kita akan menangkapnya!" pekik pangeran Li Wuxi.
"Adik. Kita ikuti saja dia!" ucap Pangeran Li Zhau.
Mereka mulai berlari, namun langkah mereka terhenti di antara kerumunan orang-orang yang tampak panik. Wuxi tetap celingukan mencari sosok Mirai, sementara Li Zhau malah menatap para rakyat yang sedang berkerumun. Ia sedikit tertarik pada apa yang mereka lihat hingga menimbulkan kerumunan seperti itu.
"Maaf, ada apa ini?" tanya Li Zhau.
"Ahh... Ini, ada seorang kakek tua yang pingsan, tapi... Wanita asing itu menolong kakek tersebut" jelas salah satu penduduk yang ada di sana.
"Tolong permisi, saya ingin lihat sosok tabib itu" Ucap Li Zhau.
Para penduduk pun mulai menyingkir, perlahan Li Zhau menatap intrents ke arah di mana tabib itu beraksi. Ia seketika membelalakan matanya "Kakek, sekarang bagai mana? Apakah anda sudah tidak sesak lagi?" Tanya Mirai menepuk nepuk punggung sang kakek.
"Ya. Ya nona, aku sudah bisa bernapas lagi..." Jawab sang kakek ringan.
"Syukurlah kalau begitu, kakek... Lain kali jika makan sesuatu, harus di kunyah dulu ya. Takutnya... jika tidak di kunyah dengan baik... Kakek bisa tersedak kembali" Jelas Mirai.
"Ahahaha... Aku jadi malu, Terimakasih ya nona, kakek tidak punya apapun untuk membalas kebaikan mu" balas sang kakek.
Li Zhau sampai tersenyum mendengar kalimat yang Mirai lontarkan "Ternyata dia gadis yang baik..." bisik nya.
Wuxi menepuk punggung Li Zhau dari belakang "Kakak! Aku sudah mencarinya ke mana pun... Tapi dia sama sekali tak bisa di temukan!" Ucap Wuxi terengah engah.
"Sssttt" Li Zhau menyuruh Wuxi untuk diam, tangannya mulai menunjuk arah di mana Mirai tengah sibuk memeriksa para penduduk di desa tersebut.
"Eehhh... Sedang apa dia?" tanya Wuxi curiga.
"Dia sedang memeriksa ke adaan para penduduk kerajaan Hong..." jelas Li Zhau tampak terpesona.
"Hah. Yang benar saja kak? Apakah dia adalah seorang tabib?" tanya Wuxi pada Li Zhau.
"Entahlah adik. Yang jelas, dia sangat telaten sekali" Ucap Li Zhau tersenyum simpul.
Mirai terus saja menebar senyumannya ketika melayani para penduduk miskin. Mereka di periksa secara telaten juga beri selebar resep yang harus mereka beli di tempat racik obat tradisional. Tampaknya Mirai kelelahan, ia sedikit oleng ke belakang hampir saja pingsan.
__ADS_1
Pangeran Wuxi dan pangeran Li Zhau berlari untuk mendapatkan tubuh Mirai yang tampak lemah itu. Namun, seseorang lebih dulu mendapatkan Mirai dan menangkapnya.
"Yang mulia!" Ucap pria gagah berjubah perang itu. Pangeran Wuxi dan Pangeran Li Zhau menghentikan langkahnya dan membelalakan mata mereka lebar lebar.
"Yang mulia?" Tanya Kedua pria itu.
"Ah. Jendral... Anda di sini?" Tanya Mirai yang sedikit pusing itu.
"Ya yang mulia. Hamba mencari anda hingga ke tempat ini... Hamba datang untuk menjemput anda" jelas Jendral Ou Tian Feyn.
"Trimakasih, aku pikir tak akan ada orang yang tahu jika aku hilang" Tangisan Mirai pecah kala itu dan membuat dua pria yang saat itu memperhatikannya sedikit panik.
"Hei siapa kau! Kenapa kau membuatnya menangis?" Tanya Wuxi tak sabaran, ia mengeluarkan pedang dari sarungnya. Lalu mengarahkan pedang itu ke arah Panglima Ou Tian Feyn.
Mirai lekas berdiri dan menjadi tameng untuk Ou Tian Feyn "Hei. Siapa kau! Kenapa kau ikut campur pada urusanku!" Bentak Mirai.
Seketika Wuxi naik fitam "Hei. Seenaknya memaki ku! Dasar wanita mata keranjang! Bahkan kau sudah melihat tubuh te...' Kalimat Wuxi tak bisa ia teruskan karna sang kakak membungkam mulutnya yang besar itu.
"Hahahah... Maaf jika adikku kurang sopan. Jika boleh tahu, siapa nama nona sebenarnya?" Tanya pangeran Li zhau. Wuxi berontak dan terus mengerang.
"...Namaku Xin Mirai! Asalku dari kota Yuanceng China... " jelas Mirai.
Li Zhau seketika mecercidkan alisnya "Kota Yuan-ceng?" di tahun itu, kota tersebut belum tercantum dalam peta.
"Jika kau ingin mencariku... Carilah sendiri" Tegas Mirai.
Mirai lekas membuang wajahnya dan pergi bersama Ou Tian Feyn menaiki kuda yang Ou Tian Fyn bawa.
Sementara Wuxi dan Li Zhau hanya bisa menatap di kejauhan hingga mereka menghilang.
"Kakak. Dimana kota, Yuanceng itu? Aku belum pernah mendengar nama kota itu sebelumnya..."Tanya Wuxi heran.
"...Entahlah. Aku juga tidak tahu..." Balas sang kakak masih melihat bekas hilangnya Mirai.
Namanya Mirai ya... Dia sungguh tabib yang sangat profesional... Bathin Li Zhau menggumam.
__ADS_1