
Ou Tian Feyn masih berdiri di depan Aula Istana, ia tak bermaksud mendengarkan pembicaraan Kaisar dan Pangeran Fu Rou.
"Apa?!" pekik Kaisar tak habis pikir.
"...Apakah yang kamu katakan itu benar Pangeran Fu?" tanya Permaisyuri.
"Benar Permaisyuri, sekarang... Para prajurit kerajaan Hong sedang mencari tabib bernama Xin Mirai... Pangeran pertama Bilang, tabib itu berasal dari kota Yuan cheng" Ucap pangeran Fu Rou.
"...Apa sebanarnya yang di inginkan kaisar Hong? Kenapa ia bersikeras ingin mencari tabib wanita itu" Bisik Kaisar Ming.
"Entahlah... Entah kaisar Hong ingin memberinya hadiah atau malah akan memenggal kepala tabib tersebut. Sebab tabib mistrius itu, membuka praktiknya tanpa izin... Dan terkesan serampangan dalam mengobati pasiennya" Jelas Pangeran Fu Rou Ming.
"Oh astaga... Jika kaisar Hong sudah turun tangan, maka... Kerajaan mana pun bisa kerepotan oleh tingkah semena mena Kaisar Hong" Dengus Kaisar Ming seraya mengelus elus jenggot tipis di dagunya.
"...Jika sudah terjadi hal demikan, maka kita harus bersiap, karna para parjurit kerajaan Hong pasti akan menyisir setiap kerajaan yang ada di negara ini" Pangeran tampam sedikit gelisah.
Mendengar percakapan tersebut, palima Ou Tian Feyn mulai memundurkan langkahnya dan mulai memutar arah menuju Faviliun Anggrek milik Mirai.
"Panglima... Anda mau kemana?" tanya Dayang pendamping Mirai yang bernama Ling Er.
"Eh. Ling Er... Aku harus bertemu dengan putri mahkota" jelas Panglima Ou Tian Feyn.
"Apakah ada hal yang penting? Jika tak terlalu penting... Anda bisa menitipkan pesan padaku. Nanti akan aku sampaikan" Jelas Ling Er.
"...Tapi, aku hanya akan bicara pada Putri mahkota... Terkait penting atau tidak, hanya Putri mahkota yang tahu" Panglima Ou Tian Feyn mulai membalikan tubuhnya dan memilih menjauh dari Ling Er. Meski Ling Er sudah lama menjadi dayang pendamping Putri Mahkota, tapi Ou Tian Feyn sama sekali tak suka pada wanita itu.
__ADS_1
Ling Er mendelik tajam ke arah punggung Ou Tian Feyn dan mulai menggumam dalam hatinya Heh. Sikap apa itu? Apakah itu namanya panglima yang bermartabat. Dasar sombong... Bathin Ling Er.
***
Saat para penghuni istana tengah sibuk mempersiapkan diri untuk kedatangan prajurit kerajaan Hong. Mirai malah sibuk memetik beberapa tanaman yang menurutnya adalah obat tradisional...
"Gingseng, jahe merah... Kumis kucing, juga temulawak dan eeemmm, tanaman ini di duniaku adalah cocor bebek. Dan ini juga sangat penting... Baiklah aku akan memetik semua bahan bahan herbal ini" Mirai sungguh senang karna di halaman istana terdapat banyak sekali tanaman obat. Langkahnya kian lebar hingga membawanya ke sebuah taman bungan yang ada di istana tersebut.
"Wah... Bunga ini, bukankah ini bunga yang sering di sebut bunga ibu tiri?" tanya Mirai seraya meraih bunga itu.
Bunga cantik berwarna ungu itu sangatlah berbahaya, dan jika seseorang paham akan khasiat bunga terssbut... Sudah pasti bunga itu akan di salah gunakan.
"Siapa yang menanam bunga ini... Sebaiknya mulai besok aku harus membakarnya" Mirai mulai mencabuti bunga bunga itu hingga ke akar akarnya.
Beberapa batang bunga Ibu tiri tersebut mulai terkulai di tanah setelah Mirai mencabuti bunga bunga itu "Hei! Siapa di sana!" Seru seseorang.
Mirai lekas menoleh "Kau!" Tunjuk putra mahkota nampak murka pada Mirai.
"Oh. Pria tukang mesum... Apa kabar, dasar... Pria brengsek yang tidak bertanggung jawab!" umpat Mirai tanpa gentar bicara demikian.
"Hem... Berani sekali kau mencecahku. Memang siapa dirimu hingga berani melecehkanku dengan mulut besar mu itu?" Bentak Putra mahkota.
"Aku... Aku adalah wanita yang telah kembali ke dunia ini. Akan ku ingat perbuatan apa yang telah kau lakukan padaku!" Balas Mirai menentang.
__ADS_1
"Perlakuan? Memang aku sudah melakukan apa padamu? Dan jangan sentuh bunga bunga kesayanganku!" Putra mahkota mulai mendorong dada Mirai hingga Mirai mundur beberapa langkah ke belakang.
"Au kasar sekali dirimu itu! Oh... Rupanya selain kau pria tak bertanggung jawab. Kau juga adalah pria yang berani nya hanya pada wanita. Dasar banci!!" Tunjuk Mirai mengamuk dan menunjuk batang hidung Fei Si.
"Banci? Apa itu banci?" Fei Si bingung akan kata kata Mirai yang tak ia pahami "Aku jelaskan padamu. Banci adalah pria yang lembek seperti seorang wanita. Dan itulah dirimu!'
Putra mahkota lekas marah dan mulai membelalakan matanya 'Beraninya kau bicara seperti itu padaku!" Putra mahkota lekas mengulurkan tangannya. Ia kembali meraih batang leher Putri Mahkota Hyr In... Tatapan tajam putra mahkota menusuk hati Hyr in dan membuat tubuh itu tiba tiba tak berdaya.
"Sebanarnya siapa kau... Kau bukankah putri mahkota Hyr In. Lagi pula... Putri Hyr In hayalah wanita payah yang lemah... Tapi, dirimu bukanlah putri Hyr In" nampaknya Fei Si merasakannya. Fei Si merasakan bahwa wanita di depannya bukankah wanita yang dulu penuh air mata dan cengeng.
Mirai sedikit kesulitan bernapas, Mirai lekas menggangkat lurutnya dan menendang perut Putra mahkota "Uhk!!" Ia terjungkal kebelakang hingga tangannya melepas batang leher Mirai.
Mirai mengelus kembali batang lehernya yang kesakitan itu "Auh... Sial, pasti memar lagi. Pria brengsek, heh malang sekali aku bisa bisa nya menikah dengan pria gagal sepertimu!' Bentak Mirai. Puas mencecah putra mahkota, Mirai lekas membuang wajahnya dan mulai pergi dari hadapan Putra mahkota seraya meraih beberapa obat obatan herbal pilihannya.
"Cih. Wanita itu, kenapa jadi sangat kuat?" tanya Fei Si dalam hatinya.
Fei Si sungguh di buat tak berdaya oleh Xin Mirai, ia mengelus perutnya yang sangat sakit karna tendangan Mirai itu, saat ini dalam hati Fei Si penuh sekali tanda tanya tentang wanita yang kini ada di hadapannya.
Jika saja Fei Si tahu, bahwa wanita yang saat ini ada di hadapannya adalah Xin Mirai dan bukanlah putri Hyr in.
Aku yakin... Wanita itu bukanlah putri mahkota. Tapi, apakah mungkin seorang yang sudah mati... hidup kembali dengan ke pribadian berbeda. Bahkan... Dia jadi sangat kasar dan angkuh. Juga tangguh... Putri Hyr In siapapun yang ada di balik tubuhmu... Aku harus tetap melenyapkanmu. Bathin Putra Mahkota menggumam. Ia meremas bunga ibu tiri itu dengan kasarnya. Lalu melempar ke sembarangan tempat.
"Lihat saja... Aku pasti bisa menyingkirkanmu. Putri Mahkota, Hyr In..." Fei Si memperingatkan.
Akankah Mirai benar benar tewas di tangan Fei Si? Ataukah Fei Si yang nantinya tewas di tangan Mirai ... Yuk simak
__ADS_1