
"Hahaha..." Tawa menggelitik terdengar menggema di istana sunyi itu. Wen Tian sungguh puas dengan kemenangannya. Kini, ia mulai masuk ke rencana berikutnya "Para prajurit! Singkirkan lalat lalat pengganggu itu...berantas mereka hingga ke akarnya. Bunuh mereka tanpa sisa! Aku akan menghapus seluruh ingatan tentang Putri mahkota atau pun seluruh anggota istana lainnya... Mereka hanya akan mengingatku sebagai ratu dari Kaisar terbaru kerajaan Ming. Lekas lakukan tugas kalian sebelum mereka kabur lebih jauh!" Tegas Wen Tian.
Sebelum para prajurit menemukan Mirai. Mirai lebih dulu melarikan diri, ia memanggil sang Phonex surgawi milik Moo Shan Shan dan mulai menungangi phonex itu menuju perguruan gunung Xingliun.
Meski Mio bertanya banyak hal padanya terkait ke selamatan orang orang yang Mio cintai, tapi ia sama sekali tak ingin mengatakan sepatah kata pun pada Mio. Ia tak mau membuat Mio terpuruk dalam kesedihan yang akan membuat mata hatinya buta oleh sebuah dendam yang tak akan kunjung padam di dalam hatinya.
Sampailah Mirai di gunung Xingliun. Kehadirannya di sambut para tetua Sekte "Kalian. Apa yang membawa kalian datang kemari?" Tanya tetua Yin Yin menghampiri pepakan merunduk sang phonek.
"Kami akan tinggal beberapa saat di gunung ini hingga situasi membaik" tegas Mirai meminta izin. Moo Shan Shan pun tiba tiba hadir di hadapan Mirai lalu bertanya 'Kau terluka? Kenapa tubuhmu berlumuran darah?" tanyanya.
"...Istana Ming di serang saat kami berada di dunia atas kota layaras" Balas Mirai.
"Astaga. Itu buruk sekali..." tetua Chen menghampiri di susul tetua Young "Lalum bagai mana pihak istana, apakah ada yang selamat?" tanya Tetua Young.
Mirai pun menggelengkan kepalanya "Kerajaan Zhu telah membantai seluruh anggota keluarga kerajaan tanpa sisa... Oleh karna itu, aku datang kemari untuk menutipkan putri Mio. Tolong jaga dia dengan baik..." Mirai bicar dengan suara bisik bisik pada para tetua kala menjelaskan hal itu. Tapi Nyatanya Mio mendengarnya dan akhirnya tahu hal apa yang sedang terjadi di istana tempat ia di besarkan tersebut.
__ADS_1
"Apa! Seluruh kluarga ku tewas?" Tanya nya menghampiri kerumunan. Pandangan membelalak seakan tak percaya membuatnya begitu lemah.
"Adik!" Pekik Mirai membalikan tubuhnya dan menghampiri Mio yang sudah terduduk lemas di lantai.
"Adik. Jangan banyak berfikir, yang jelas kamu harus selamat..." Pinta Mirai.
"Aku... Aku tak terima semua keluarga tercinta ku di bantai oleh pihak istana lain. Aku akan menuntut balas! Akan ku hancurkan seluruh orang di istana Zhu...!" Teriak Mio memukul mukul lantai hingga tangannya berdarah.
"Aku tak punya banyak waktu adik. Aku harus menolong panglima... Kau diamlah di sini sebentar! Para tetua akan menjagamu... Jangan banyak berpikir hal yang lain lain" tegs Mirai segara berlari ke punggung sang phonex dan menarik panglima.
"Dia bukannya penglima mu? Kenapa dia?" tanya Tetua Chen.
Tetua Moo Pun mengangguk dan mulai membantu proses penyembuhan panglima Tian Feyn. Mirai meracik obat anti racun untuk mendetoks racun di tubuhnya. Tapi... Tetua Moo mulai hening kala mengalirkan energi positifnya pada pria itu.
"Kenapa berhenti! Bantu aku... Aku belum selesai membuat pil pendetoks racun!" tegas Mirai sudah gelisah. Pikirannya sudah semberawut kemana mana...
__ADS_1
"...Maaf" Bisik Moo Shan Shan. Mirai pun membelalak "Apa... Jangan meminta maaf, lanjutkan tugasmu..." Pinta Mirai mulai paham, hanya saja ia berusaha menepis pikiran buruk tentang ke pergian panglima nya...
"Dia sudah pergi" bisik Moo Shan Shan.
"Tidak. Dia masih hidup!" Mirai berlari mengabaikan tungkunya dan lekas duduk di hadapan jasad panglimanya.
"Ini memang berat. Tapi... Dia sudah tenang di alam sana" sambung Moo Shan Shan, lantas saja kata kata itu membuat hati Mirai sungguh hancur.
"Panglima! Bangunlah... Perjalan kita masih panjang! Kau tidak boleh tidur! Ayo bangun!!" Tangis Mirai memeluk dan menggoyang goyangkan tubuh panglimanya.
"Bangunlah panglima! Jawab aku... Jangan pergi bergitu saja. Hiks... Hikss.. Aku sungguh membutuhkanmu... Aku masih membutuhkan mu... Hiks... Aku sangat membutuhkanmu. Jadi tolong kembalilah!! Kembali... Lah... Hiksss.. Aaagggggghhh!" Mirai tak kuasa membendung kesedihan yang tak kunjung usai itu. Ia seperti di tikam ratusan anak panah hingga ia terpuruk dan tak mampu bangkit kembali...
Ada hal yang belum aku tuntaskan, sebenarnya aku ingin mengungkapkan isi hatiku padanya... Setelah perceraian ku usai dengan puyra mahkota. Bukan ini akhir yang aku inginkan... Bisik Mirai tenggelam dalam kesedihan.
Mio menatap ke pedihan Mirai, ia lekas memeluknya... Pandangan Mio mulai gelap, ada amarah yang tak bisa ia jelaskan. Namun ia bertekad menjadi wanita kuat setelah ini. Lalu membalaskan dendamnya pada anggota kerajaan Istana Zhu dan juga orang orang yang telah membantai seluruh anggota istana Ming dan juga... Wanita yang Mirai sebutkan tadi. Wen Tian, kini... Hati kedua wanita itu sungguh terluka...
__ADS_1
Capter ini sudah tamat...
Lanjut ke capter selanjutnya, yang berjudul Permaisyuri terkuat sejagad, juga Pembalasan sang Maharani. Mohon tunggu diseason berikutnya... Nanti Mio punya ceritanya sendiri dalam rencana pembalasan dendamnya pada pihak istana Zhu dan juga membalas Wen tian lalu menyelamatkan kaknya.