
***
Hari yang di tunggu tunggu pun akhirnya tiba...
Para Alkemis dari seluruh penjuru dunia mulai berbondong bondong, mendaratkan perahu layang, yang mereka sewa dengan harga yang sangat pantastis. Mereka pun memartirkannya di pelabuhan apung kota tersebut...
Kini para peserta kompetisi mulai berhambur menuju meja daptar dan mengambil nomor undian peserta, setelah itu... mereka pun berkumpul di pusat kota Layaras. Tepatnya di lapangan luas yang telah di sediakan para panitia kompetisi tersebut.
Para Alkemis berpengalaman itu sangat tak sabar menunggu hingga datangnya hari ini, Bahkan beberapa dari mereka berlatih cukup keras dengan sekuat tenaga nya demi mendapatkan Titel sang Master Alkemis. Begitupun trofi penghargaan dari sang penguasa kota berupa pusaka Picis, pusaka tersebut di gadang gadang sebagai pusaka sakti kala di pakai untuk menyembuhkan orang sakit..
Para Alkemis tersebut sungguh antusias kala menyambut datangnya hari ini... Apa boleh buat, sang penguasa kota Layaras hanya mengadakan kompetisi tersebut selama 5 tahun sekali... Dan hanya di kota layaras lah, para Alkemis akan di akui kemampuannya... Dengan gelar setingkat dewa penyembuhan...
"Waah! Wahhh!" Lapangan kompetisi yang tadinya lenggang, kini nampak penuh dengan hirup pikuk para peserta kompetisi yang membawa para suporter nya untuk menyemangati mereka.
Di sana, Mirai dan kawan kawan di buat sedikit kaget. Mau bagai mana pun juga, Mirai maupun putri Mio tak pernah menyangka jika kompetisinya akan seramai itu. Bahkan peserta yang datang sangatlah menakjubkan...
"Putri mahkota, apakah kamu yakin dengab kompetisi ini... Bagai mana jika kamu kalah?" Tanya Putri Mio sedikit ragu.
"Kenapa harus khawatir? Kalah ya kalah saja" jawab Mirai datar.
"Tapi... Bukannya kamu sudah taruhan dengan wanita yang menegurmu di meja makan tadi malam? Bagai mana jika dia yang menang?" Mio sungguh cemas hingga ia tanpa sadar telah membuat Mirai resah.
"Jangan pikirkan hal yang bukan bukan. Memang apa pengaruhnya untukku jika aku kalah dari nya" Mirai acuh dan tak mau ambil pusing, pikirannya berkata bodoh amat.
__ADS_1
Saat Mirai berpikir demikian, seseorang dengan sengaja menyenggol bahu Mirai cukup kuat DUK! Mirai lekas mendelik ke arah seseorang yang sengaja mengadu bahunya dengan bahu Mirai.
"Ups...' Wanita itu menoleh ke arah Mirai seraya mencondongkan tubuhnya.
"Kau! Kau sengaja ya!!" amuk putri Mio mengerahkan kepalan tangannya ke arah Xue Jing. Sementara Xue Jing hanya bisa tertawa membehak.
"Hahahaha... Ku pikir kau adalah lawan yang setimpal. Nyatanya hanya seekor serangga penggangu yang menyerah sebelum bertanding karna takut pada kemampuanku' Tawanya kian keras saja hingga membuat para peserta lain menatap Xue Jing kesal seraya berbisik bisik.
"Siapa wanita itu? Cih sombong sekali..." bisik para peserta lain.
"Memangnya sekuat apa dirinya hingga bisa berkata demikian?" bisik bisik.
"Aku jadi ingin menghabisinya di babak pertama" Bisik bisik.
Para peserta lain terus saja menatap tajam Xue Jing dengan pandangan sinis dan menusuk "Kita lihat saja" Balas Mirai membalas tawa Xue Jing dengan tatapan dinginnya.
"Hu Uh! Sombong sekali dia! Aku serasa ingin sekali mencabik cabik mulut besarnya itu!" amuk Putri Mio mengerak gerakan tangannya gemas seakan mencarak kanan dan kiri tampak sangat geram pada Xue Jing.
"Hentikan putri Mio. Untuk apa kamu mengurusi orang bodoh itu... Lagi pula, dari sikap dan gerak gerik wanita itu. Aku tak merasakan ada aura pelatihan atau pun kultivasi tingkat tinggi. Nampaknya dia juga bukanlah wanita terpelajar... Sebaiknya kita lekas pergi" pinta Mirai.
Putri Mio yang kesal pun mulai mengangguk lalu mengikuti langkah Mirai. Nampaknya putri Mio dan Mirai belum bertemu dengan Xi Zayn atau pun panglima Ou Tian Feyn.
Acara nampaknya sudah di mulai, terlihat para panitia mulai meminta para pesertanya untuk berjajar sesuai nomor urutan mereka masing masing "Putri mahkota. Berapa nomor pesertamu?" tanya putri Mio.
__ADS_1
"Nomor peserta ku 1002..." Jawabnya singkat.
"Jauh sekali. Kenapa putri mahkota tidak datang lebih awal dan mendapatkan nomor urut yang lebih dekat" Cerocos putri Mio tak senang. Meresa terganggu dengan gelar istana yakni Putri Mahkota. Mirai pun sedikit mengerutkan dahinya... Ia mulai meminta putri Mio untuk tidak menggunakan nama panggilan itu...
"...Tunggu putri Mio. Bisakah aku meminta sesuatu darimu?" tanya Mirai sedikit membisik.
"Ya. Apa itu?" Mio menatap polos.
"Selama aku berada di kota awan ini. Jangan gunakan nama putri mahkota... Karna itu terasa sangat menggangguku" pinta Mirai. Mio nampaknya paham hingga ia mengangguk meski dengan kerutan jelek di tengah kedua alisnya.
"Lalu aku harus memanggil mu dengan nama apa?" Mio sedikit bingung.
"Panggil aku dengan sebutan nama kakak saja... Dan aku akan memanggimu dengan nama adik... Bagai mana?"
Mendengar penjelasan itu, putri Mio lekas mengangguk beberapa kali... Netranya berbinar seketika itu "Aku suka... Aku menyukai panggilan itu" Balas Putri Mio seraya memeluk perut Mirai erat.
"Astaga... Kamu selalu saja" Mirai tak habis pikir pada wanita di hadapannya yang selalu saja kekanak kanakan. Tapi Mirai tak merasa terganggu, ia pun memeluk Mio dan mengusap pucuk kepalanya...
"Dasar bocah" Umpat Mirai di iringi senyuman lembutnya.
"Baiklah para hadirin..." Seru panitia kompetisi di atas podium pengarahan "Untuk mempersingkat waktu. Silahkan tunjukan nomor kalian. Angkat tangan kalian beserta nomor antrian para peserta" pinta sang panitia.
"Woaaaaahhhh!" semarak para peserta kompetisi kala mengangkat tangan mereka ke udara untuk menujukan nomor peserta milik mereka.
__ADS_1
"Baiklah. Kami telah mencatat dan mamasukan nama peserta masing masing. Kita mulai babak pertama... Akan kami jelaskan hal apa saja yang harus di lakukan para peserta di babak ini. Kalian di wajibkan mencari tanaman herbal tingkat tinggi dan berkualitas sangat baik. Minimal 6 picis saja... Setelah itu. Silahkan kumpulkan di meja yang telah di sediakan. Jika bahan bahan yang kalian dapatkan benar... Maka kalian masing masing akan mendapatkan nilai Plus dan akan masuk ke babak 50 besar. Namun jika bahan bahan yang kalian dapatkan hanyalah bahan bahan murahan. Maka kalian akan gagal dan tak akan lolos ke babak ke dua... Yaitu 50 besar. Cukup penjelasan tentanv babak ini... Silahkan. Waktu kalian tidak lah banyak!" Tegas sang panitia.
"Bergegaslah setelah bunyi terompet ini!"