
Mirai telah pergi bersama para prajurit dan pangeran Fu Rou menuju ke istana. Begitupun Mio dan Ou Tian Feyn mereka ikut pulang dalam iring iringan pihak istana...
Seketika, suasana Kerajaan Qing kembali hening. Namun kali ini, istana Qing sedikit berbeda dari biasanya, terasa seakan bercahaya dan begitu hangat. Jika sedari dahulu istana tersebut di selubungi asap hitam dan segel kegelapan. Maka kali ini, istana tersebut terlihat lebih hingar bingar, dan siapa pun bisa melihat dengan jelas letak istana Qing yang berdiri kokoh di atas bebatuan. Itu semua mungkin karna kekuatan Shu Feng telah sepenuhnya menghilang dari istana tersebut. Hingga aura gelap yang selalu melikupi istana tersebut pun enyah begitu saja.
"Tuan muda. Anda sedang apa?" tanya Master King menghampiri sang tuan muda yang kala itu menatap kepergian Mirai bersama para prajuritnya di atas menara pantau tertinggi istana tersebut.
"Ah. Master King, tidak... Aku tidak sedang apa apa" balas Tuan muda menepis sisa bulir basah di pelipisnya.
Nampaknya tuan muda sedikit sedih atas kepergian Mirai dan putri Mio. Semenjak ada mereka, istana tersebut terasa hangat dan sedikit menyenangkan. Kini kedua wanita itu telah pergi, hingga hati tuan muda kembali senyap.
"...Master King. Aku akan sedikit merindukan kedua gadis itu" Rengek tuan muda menekuk wajahnya.
"Jangan sedih tuan muda. Kelak, jika kita berjodoh... Mungkin kita bisa bertemu lagi dengan mereka... Di mana pun itu" Tegas Master King.
Tuan muda pun sedikit menerima kepergian Mirai beserta Mio setelah mendengarkan ucapan Master King "Tuan muda. Sebaiknya kita ke bawah... Sebab kaisar sudah siuman" ujar Master King. Seketika nanar sang tuan muda mulai berbinar "Benarkah?" Pekiknya.
"Ya. Nampaknya dia sangat kelaparan..." imbuh Master King.
"Benarkah? Aahh... Ayah! Aku tak sabar ingin segera bertemu dengannya..." Tuan muda lekas turun dari menara pantau. Ia tergesa gesa turun karna sungguh tak sabaran ingin segera memeluk ayahnya...
Sampailah di kamar sang kaisar "Ayah!" pekik Tuan muda menghampiri ranjang sang ayah.
"Ahh... Zi hua" balas sang ayah. Tuan muda mulai duduk di sisi ranjang, sang dayang yang sedang menyuapi kaisar pun menyingkir dari hadapan tuan muda.
"Ayah ingat namaku?" Tanya tuan muda.
"Zi Hua... Wajahmu sudah sembuh?" tanya sang ayah. Dengan mata berberkaca kaca tuan muda Zi Hua pun lekas melebarkan kedua tangannya lalu memeluk tubuh kurus sang ayah.
__ADS_1
"Hiks... Ayah! Hikss..." Tangis haru tuan muda mendekap tubuh kurus sang ayah se erat mungkin. Tuan muda sungguh rindu akan ayahnya yang seperti ini. Sudah sejak dulu sang ayah tak pernah meresponnya. Dan selalu cenderung mengamuk kala di dekati atau di sapa olehnya. Tapi kali ini, sedikit demi sedikit kebahagiaan mulai menghampiri tuan muda beserta seluruh anggota istana Qing.
"...Ayah, aku merindukanmu..." tuan muda Zi hua masih menangis di pelukan sang ayah.
"Zi hua... Berapa lama ayah melupakanmu. Hingga ayah sama sekali tak ingat berapa lama ayah begini rusaknya. Ayah bahkan tak bisa melatih atau menyimak pertumbuhanmu nak. Maafkan ayah dan segala ambisi ayah... Gara gara keserakahan ayah, kamu jadi korban nak..." Sang ayah membalas pelukan tuan muda.
"Tidak ayah. Aku sungguh beruntung karna telah memiliki ayah sepertimu. Terimakasih karna telah mengingatku sebagai anakmu..." Balas Tuan muda. Suasana haru pilu di ruangan segi empat itu membuat hati master King terenyuh.
"Jika bukan karna tabib agung itu... mungkin saat ini, jiwa gelap itu masih saja merasuki sang kaisar... Beruntugnya, tuan muda bisa bertemu dengan wanita itu" bathin master king menggumam.
"Ayah... Mulai besok aku akan pergi ke istana Hong" Ujar Tuan muda melepas pelukan sang ayah lalu menatap sang ayah intrents.
"Istana Hong?" Sang ayah sedikit berdegup kala mendengar nama istana Hong.
"Jangan marah ya ayah... Ini adalah permintaan pertama dan terakhirku" ujar tuan muda.
Sang ayah yang sedari tadi terdiam mulai mengembangkan senyumnya "Heh. Ternyata kau memang sudah dewasa... " Balas sang ayah menepuk pundak sang anak. Tuan muda membalas senyuman sang ayah dengan hangat lalu memejamkan matanya "Terimakasih ayah..."
Kaisar hanya bisa tersenyum pahit atas keputusan yang di ambil oleh anak semata wayangnya itu... Semoga, keputusan tuan muda membawa kemakmuran pada kerajaannya. Hingga istana Qing kembali di ingat dan di hormati oleh kerajaan kerajaan lainnya. Dan semoga dengan ke besaran hati kaisar Hong, kaisar Hong mampu mengangkat kembali derajat kekaisaran Qing dan membina persahabatan yang hangat seperti yang Mirai harapkan.
____
"Putri mahkota... Apa yang harus kita katakan pada pihak istana nanti. Karna aku yakin mereka pasti akan sangat khawatir pada kita. Lalu, mereka akan memarahi dan menasihati kita habis habisan" cerocos Mio sepanjang jalan membuat kepala Mirai pening kala mendengarnya.
"Serahkan saja padaku... Aku akan menghadap kaisar dan meminta ampunan padanya" balas Mirai dengan dinginnya.
"Aku tidak mau di hukum nantinya. Jadi jangan bilang jika aku ikut mengendap keluar dari istana untuk mengikutimu" Mio tetap saja ingin nama baiknya tetap harum meski ia juga salah dalam hal tersebut.
__ADS_1
Nampaknya, iring iringan para prajurit istana Ming telah sampai di perbatasan. Para penjaga perbatasan pun menyambut dengan penuh suka cita "Akhirnya! Putri mahkota dan putri Mio telah kembali?" tanya kepala penjaga perbatasan.
"Kami telah kambali. Kabarkan kedatangan rombongan putri mahkota pada pihak istana!" Pinta pangeran Fu Rou Ming. Meski ia kehilangan sebagian ingatannya tapi, ia tak lupa mengabari ke datangannya di perbatasan.
Kabar kedatangan rombongan putri mahkota pun telah tersiar ke istana inti. Hingga kaisar sangat senang kala mendengar ke datangan menantu dan putri tercintanya.
Hingga kaisar mulai menurunkan titah pada pelayan dan para dayang. Untuk menyambut kedatangan putri mahkota "Buatlah acara penyambutan putri mahkota dan putri Mio dengan sangat meriah. Aku tak ingin ada sesuatu apapun yang kurang dalam penyambutan kedua putri ku tercinta"
Kaisar memang bijaksana. Ia belum menurunkan hukuman setimpal pada Mirai dan Putri Mio karna telah melanggar tatakrama istana dan membuat keonaran di istana tersebut.
Kini rombongan telah sampai di front gerbang tinggi istana Ming. Pintu gerbang terbuka, lalu Rombongan pun masuk ke dalam istana Ming. Para prajurit mulai di istirahatkan dan berdiri sejajar untuk menghormati ke datangan Kaisar. Putri Mio dan putri mahkota pun lekas keluar dari kereta kuda.
"Kaisar telah tiba!!" Pekik sang mentri pertahanan. Para pelayan mulai menurunkan tandu sang kaisar dan kaisar pun seketika turun dari tandu kerajaan dan menghadap tepat di hadapan Mirai juga putri Mio.
"Hormat kami paduka!!" Mirai lekas menekuk lutut dan bersimpuh di hadapan sang kaisar. Begitupun putri Mio "Bagunlah anak anak ku" Pinta kaisar menarik punggung Mirai dan membantunya berdiri.
"Hamba bersalah paduka! Hamba patut di hukum!" Tambah Mirai masih bersimpuh dan enggan berdiri.
"Sudah ku bilang. Bangunlah... Jangan memohon ampun. Bisa melihat kalian kembali dengan selamat saja sudah membuat ku bahagia" tegas sang Kaisar kembali membantu Mirai berdiri.
"Ampuni hamba yang mulia" Mirai sungguh mengaku salah. Ia hanya berniat pergi sehari saja dari kerajaan Ming. Namun nyatanya, ia pergi hampir satu pekan, itu pun terasa singkat karna ia mendapat bantuan dari sang Phonex emas.
Kaisar menatap Mirai dan putri Mio dari ujung rambut hingga ujung kaki "Astaga... Apa yang sudah terjadi pada kalian?"
"...Kami sedang melakukan saimbara..." Balas Mirai bohong.
"Apapun itu. Asal kalian di jalan yang benar, aku sama sekali tak akan menghukum kalian. Tapi untuk saat ini, sebaiknya masuklah lalu benahi tubuh kalian... Mandi dan gantilah pakaian kalian" Pinta kaisar.
__ADS_1
Mau bagai mana pun juga, Mirai dan putri Mio sudah terlihat sangat kumuh. Meski Mirai memakai pakaian baru dari Moo Shan Shan, tetap saja... ada sedikit bau tak sedap menempel di pakaiannya.
Akhirnya, siang menjelang sore pun berakhir dengan kepulangan Mirai ke istana Ming. Bahkan kedatangannya di sambuh antusias oleh pihak istana.