Putri Mahkota terkuat sejagad

Putri Mahkota terkuat sejagad
Kesepakatan


__ADS_3

Siang yang cerah jadi sedikit memanas kala dua sejoli yang dulunya saling kasamaran dan memadu kasih, kini malah renggang menjauh tanpa sebab... Putra mahkota putuskan untuk pergi dari kamar Wen Tian dengan emosi yang membara, bahkan sumpah serapah di ucap Fei Si agar wanita itu mau menjauh darinya.


"Putra mahkota!" pekik Wen Tian meraih punggung putra mahkota yang kian pudar dari pandangannya sayunya, Wen Tian menangis sesegukan setelah Fei Si mencampakannya habis habisan.


"Putri mahkota! Awas kau!" bathin Wen Tian bergumam. Tangannya di kepal erat dan giginya mulai mengigit kuat kuat bibir bawahnya hingga berdarah.


Fei Si keluar dari faviliun milik Wen Tian begitu saja, ia mengatur langkahnya perlahan. Tapi nampaknya hati Fei Si sedikit terganggu oleh tingkah Mirai yang cukup membuatnya penasaran "Hem... Sedang apa putri mahkota saat ini" bisik Fei Si sembari terkekeh...


Jika ia ingat pada apa yang telah Mirai lakukan padanya. Ketika penolakan Mirai untuk menyambut Fei Si saat dirinya di kamar istrinya. Fei si malah tersenyum menyunginkan bibirnya, Padahal kala itu tak ada pemandangan yang romantis. Malah Mirai terkesan sangat garang ketika dengan sengaja membanting tubuh kekar pria itu ke tanah hingga Fei Si terjungkal hanya dengan satu tangan kanannya saja.


"Hahaha..." Ia pun kembali tertawa lebar. Hingga membuat para dayang di belalakangnya saling menatap satu sama lain...


"Apa yang terjadi pada putra mahkota?" bisik para dayang.


"Entahlah..." balas yang lainnya.


Fei Si yang masih mengenakan kimono malam nya, malah melangkah menuju Faviliun aggerek milik Mirai, ia melangkah ke sana dengan tergesa gesa karna tak sabaran ingin segera bertemu dengan istrinya. Kali ini ia berharap, Mirai mau menyambutnya dengan penuh rasa cinta. Nampaknya saat ini Fei Si mulai bucin pada istrinya.


"Putri mahkota!" Seru Fei Si menunggu di depan kamar Mirai, ia berdiri tegak dengan tolak pinggang setingi dada. Lama menunggu nempaknya membuat Fei Si Jengak, tapi tak ada jawaban yang belarti dari istrinya.


"Putri mahkota! Ini aku... Lekas buka pintu dan sambutlah suamimu ini" Gerutu Fei Si. Tapi masih tak ada jawaban dari istrinya, Fei si sungguh geram pada Mirai kali ini. Fei Si yang sedikit curiga terhadap istrinya itu pun lekas membuka pintu faviliun itu...


Braakkk!! Karna ia sangat marah, ia pun menendang pintu tersebut hingga pintu itu hancur.


"Putri mahkota! Kenapa tidak manjawabku?!" tanya nya menaikkan nada suaranya.

__ADS_1


"Di mana dia!" umpat Fei Si mulai masuk ke area faviliun itu dan menelisik sekeliling... Mata tajamnya celingukan ke sana ke sini tampak buas.


"Pasti di kamarnya? Hehehe akan ku kejutkan sampai dia mau memelukku" Gumamnya mulai melangkah menuju kamar pribadi istrinya.


Brak! Pintu kamar ia buka dengan kasar... Namun, sesampainya di sana, ia hanya bisa menatap matras yang masih tertata rapih dan suasana hening "Dia tidak ada di sini? Di mana dia sebenarnya!" Fei si sedikit kecewa. Kini tangan Fei Si di kepal erat karna ia sangat marah.


"Mungkin dia ada di kamar kecil" gumamnya lagi. Fei Si nampaknya belum mau menyerah, dan ia kembali mencari istrinya menuju kamar kecil.


Brak! Pintu kamar kecil pun ia buka dengan paksa, padahal Fei si berharap Mirai sedang mandi dan sebagainya. Tapi pas pintu itu di buka lebar natra Fei si malah tetap saja polos tak mendapatkan apapun.


"Sial! Dia sungguh telah mempermainkanku!" marah Fei Si mengepalkan tangannya. Ia ingin mengamuk, tapi ia tak mau menghancurkan Faviliun milik istrinya, nanti bisa bisa istrinya makin benci pada dirinya. Hingga, Fei Si putuskan untuk kembali saja ke kamarnya dan mengamuk di sana.


Putri mahkota! Pergi kemana kamu!! Lihat saja jika aku menemukanmu! Maka aku akan membuatmu lemas semalam suntuk. Umpat Fei si bersama amarahnyam


Faviliun Istana Hong...


Mirai, Mio dan panglima Ou Tian Feyn sedang berunding. Nampaknya mereka sedang merundingkan hal yang serius di ruangan itu.


"Apa yang akan kamu lakukan? Putri mahkota?" Tanya Mio.


Mirai mendelik "Putri Mio, untuk saat ini jangan panggil aku Putri mahkota. Panggil aku Mirai. Xin Mirai..." Tegas Mirai dengan tatapan misterius. Mio tak yakin dan malah mengerutkan dahinya.


"Mirai? Nama siapa itu? Apakaha itu nama samaranmu? Putri mahkota?"


"Tolong jangan sebut nama itu" Tegas Mirai sekali lagi.

__ADS_1


"Baik baik. Aku akan mengingatnya Mirai... Ya baiklah. Lalu apa hal pertama yang akan kita lakukan?" Tanya Mio.


Mirai mulai mengambil suara "Baiklah... Pertama tama aku ingin melihat keadaan ibu suri dan juga Permaisyuri terlebih dahulu. Aku tak yakin, tapi... karna penyakit mereka cukup serius, aku harus membutuhkan asisten" Ujar Mirai.


"Asisten? Kalimat apa itu?" komen Mio.


"Ssst... Putri Mio, tolong jangan banyak bertanya. Biarkan Putri mahkota melanjutkan rencana tentang misi nya" ujar Panglima Ou Tian Feyn.


"Tunggu putri mahkota... Benarkah kamu bisa melakukannya? Aku sungguh takut terlibat masalah" Mio cukup khawatir ia sungguh ketakutan dan malah jadi penghalang.


"Aku akan mencobanya. Putri Mio, ku harap... Kamu bisa membantu ku, berpura puralah menjadi pelayanku untuk sementara waktu" Pinta Mirai. Nampaknya Mio tersinggung "Pelayan? Mana mungkin... Aku tidak mau!' Bentak Mio menolak.


"Jika kamu tidak mau membantuku, maka... Kamu pasti akan dalam masalah besar" Ujar Mirai.


"Masalah besar? Mana mungkin.. Mana mungkin aku terlibat, Aku sama sekali tidak ikut campur" Elak Mio.


"Dasar bocah, mana mungkin kamu tidak ikut campur. Sedangkan kamu ikut dalam rombonganku" Celetuk Mirai menggoda Mio.


"Apa!! Ohhh dewa, bagai mana bisa aku percaya pada putri mahkota dan mau maunya aku mengikutinya hingga kemari" umpat Mio kesal.


"Dari pada kita bertengkar, sebaiknya kita saling membantu satu sama lain. Saat ini, bukan hanya nyawa permaisyuri dan ibu suri yang harus kita selamatkan. Tapi juga nyawa para tabib yang telah di sekap Kaisar Hong di dalam penjara bawah tanah kerjaan ini. Putri Mio, jika kamu bersikeras tak mau membantuku... kita pasti akan mendapatkan masalah besar. Sebaiknya ikuti saja rencanaku" Desak Mirai. Panglima Ou Tian Feyn tak berkomentar dan cenderung diam.


Lama Mio berpikir, akhirnya ia pun mengangguk "Awas saja jika kamu sampai gagal, akan ku laporkan pada Yang Mulia Ming agar kau di hukum penggal putri mahkota!" Tegas Mio dengan hati yang kacau.


Setelah sepakat, Mirai dan juga Mio bersama panglima Ou Tian Feyn pun mulai bersiap menuju Aula istana. Karna Kaisar Hong telah membawa serta ibu suri bersama Permaisyuri menuju ke Aula kerjaan tersebut untuk mendapatkan pemeriksaan khusus dari Mirai.

__ADS_1


__ADS_2