
"Silahkan lanjutkan tabib agung" Pinta Kaisar memasrahkan segalanya pada wanita cantik bersama pelanyannya itu.
"Baik yang mulia" Balas Mirai mengangguk lugas.
"Aku akan segera masuk" Mio menghampiri penyekat ruangan itu dan masuk ke dalamnya.
"Putri Mio, apakah kamu masih merasa mual?" Tanya Mirai memastikan.
"Ya putri mahkota, baunya sungguh menyengat" jawab Mio mencubit hidungnya.
Mirai lakas meraih sebulir kapas di kantung menyimpanannya dan memberikannya secuil pada Mio "Pakailah ini" Pinta Mirai menyerahkan dua sebutir kapas yang telah ia tetesi farpum buatannya.
"Apa ini?" tanya Mio mencrcidkan alisnya.
"Masukan ke lubang hidungmu. Nanti baunya akan hilang dan kamu pasti akan baik baik saja"
"Apakah aman jika aku memasukannya ke hidung?" Tanya Mio seraya memperhatikan bentuk dari kapas itu.
"Jangan khawatir, kapas putih itu tak akan terhirup hingga tertelan. Aku sudah menjahitnya sedikit di tengah tengahnya untuk menahan agar kapas itu tetap seimbang. Di duniaku, aku memakai penutup hidung itu untuk menjaga agar debu tak bisa masuk dan aku tak perlu memakai masker" Cerocos Mirai, ia bicara demikian secara tidak sadar karna ia berkutat mengompresi ibu suri dengan air hangat yang di berikan Li Yuan padanya.
"Dunia mu?..." Mio berbisik dan mencercidkan matanya.
"...Apakah aku bicara sesuatu?" Tanya Mirai menatap Mio intrents.
"Ah tidak tidak. Mungkin aku salah dengar" Balas Mio sungkan.
Kenapa aku merasa bahwa putri mahkota Hyr in benar benar berubah drastis. Aku merasa Putri Hyr In memang bukanlah orang yang sama... Jangan jangan...
"Putri Mio, apa yang anda pikirkan... Tolong tahan tubuh ibu suri..." Pinta Mirai, suara Mirai lekas membuyarkan lamunan Mio yang kala itu bertumpuk di otaknya.
Ah mana mungkin hal itu terjadi. Mio lekas memasukan dua bulir kapas yang di berikan Mirai. Lalu ia pun segera menahan tubuh ringan ibu suri. Tubuhnya sangat kurus kering hingga Mio tak kesulitan dalam hal ini.
__ADS_1
"Penasihat!" Pinta Mirai. Penasihat lekas mendekati bilik tersebut.
"Ada apa tabib agung"
"Pengobatan ini akan menyakiti ibu suri. Tolong jangan masuk ke dalam apapun yang terjadi" Tegas Mirai.
Seketika, suasana yang tadinya hening berubah drastis menjadi gaduh, para mentri dan jajarannya saling menatap satu sama lain dengan pertanyaan mereka "Apa? Kenapa? Bagai mana bisa? Kenapa demikian?" Pertanyaan mereka membuat gegap Aula istana.
"Mohon diam... Tabib agung sedang berkonsentrasi" Pinta penasihat kerajaan.
"Penasihat! Apa yang tabib agung katakan padamu?" Tanya Kaisar cemas. Ia sungguh risih dan tak mau duduk di tempatnya, kaisar cenderung gelisah dan berjalan bolak balik di depan singgah sananya.
"Yang mulia harap tanang karna Tabib agung sedang berusaha. Mohon bersabar hingga pengobatan selesai, pinta Tabib agung" sambung penasihat kerajaan.
Mendengar penjelasan itu, Kaiser sedikit diam dan duduk tempatnya "Diamlah! Jika kalian masih berisik! Sebaiknya keluar dari Aula ini!" bentak Kaisar menujuk pintu keluar. Permintaan Kaisar adalah Titah bagi rakyatnya hingga para mentri dan para pelayan diam seketika itu...
Di dalam bilik...
"Mio, tahan ya... Aku akan memulainya" Ujar Mirai. Mio mengangguk diam dan memlerhatikan gerakan tangan Mirai. Mirai berkutat dengan tangannya seakan sedang membuka sebuah fortal. Bahkan bunyi gerakan tangannya terdengar seakan ia sdang bertarung. Ia meliuk kan tangan kanan dan kirinya, seakan mencari sesuatu. Setelah itu ia pun menyatukan kedua tangannya lalu memecahnya kembali kemudian mendorong nya keras ke pungunggung ibu suri.
"T-tabib agung! Ibu suri muntah darah" Mio panik kala melihat darah keluar dan mengotori gaun yang ia kenakan.
"Jangan panik. Biarkan darah itu keluar, tolong perhatikan dada ibu suri, jika ada benda yang keluar... Bantu aku menariknya" Napas Mirai mulai tersenggal padahal ia baru saja memulainya.
"Aku melihatnya...!' Pekik Mio.
"Apa yang kau lihat! lekas ambil..."
"Ada jarum yang keluar dari dada ibu suri..." Mio begerak cepat mencabuti beberapa jarum dari tubuh ibu suri. Dan rupanya dugaan Mirai salah, bukan hanya dua jarum beracun yang bersemayam dalam tubuh ibu suri. Tapi ada empat dan masih bisa bertambah lagi, karna Mio belum berhenti mencabutinya.
Mio meletakan jarum jarum itu di mangkuk kramik kecil "Putri Mio! Cepatlah... Energiku hampir habis!" Pinta Mirai. Benar saja, baru sebentar mengalirkan tenaga dalamnya, peluh Mirai sudah bercucuran deras dan Mirai terlihat menderita.
__ADS_1
"Nampaknya sudah cukup!" Balas Mio memperhatikan seluruh tubuh ibu suri dan setalah ia sisir area tadi, tak ada lagi jarum yang muncul.
"Baiklah... Aku akan segera mentotok titik vital aliran darah dan syaraf syaraf ibu suri. Ku rasa, seluruh otot ibu suri menjadi tegang karna ia tak pernah menggerakan tubuhnya dan lebih banyak terbaring. Mio, tahan sebentar lagi" Pinta Mirai. Mio mengangguk diam...
Nampaknya putri mahkota sangat kesulitan, wajahnya sedikit pucat dan keringat di jidaknya mengalir deras seakan tiada henti. Bathih Mio.
Mirai kembali menggerakan tangannya seakan menetralkan tenaga dalam nya. Setelah ia menarik teratur nafasnya ia pun kembali berkutat dengan dua jemari di kedua tangannya.
Trak! Tak! Trak tak! Ia mentotok seluruh punggung ibu suri dengan cepat. Begitu kerasnya totokan yang Mirai terapkan pada ibu suri. Hingga suaranya nyaring terdengar ke luar bilik "Terdengar seperti tulang tulang yang patah dari dalam sana" bisik para dayang.
"Empat totok di pundak untuk melancarkan aliran darah!" Pekik Mirai.
"Lima totok di tengah untuk menetralkan masa otot syaraf!"
"Tiga totok di punggung bagian bawah untuk mengencangkan otot pinggang. Ibu suri... Bertahanlah!"
Ibu suri meringis dan lagi lagi memuntahkan darah di punggungnya.
"Mio... Bertahanlah aku hampir selesai" Pinta Mirai...
"Baiklah..."
Kasihan sekali putri mahkota, nampaknya ia sungguh berusaha...Bathin Mio menggumam. Karna terlalu fokus pada pengobatan itu. Tenaga dalamnya terkuras habis dan Mirai tak menyadari jika ujung bibirnya tengah mengeluarkan segaris darah.
Brak! Bats! Ia mulai menepuk kedua tanganya dan menyatukannya "Huuuuu... Haaaaaaah!" Setelah kembali menarik napas teratur, ia lekas memisahkan telapak tangannya dan menadahkanya di area pahanya. Mirai seakan mengisi lagi energinya dengan diam beberapa saat dan menutup matanya. Mirai tampak sangat berkonsentrasi...
"Putri apakah aku boleh membaringkan tubuh ibu suri?" Tanya Mio. Mirai enggan membalas meski ia mendengarkan ocehan Mio. Ia sedang berkonsentrasi mengatur pernapasannya dan mengatur sisa energinya.
"...Nona. Tolong baringkan aku di matrasku" Ujar ibu suri....
Mendegar suara ibu suri yang agak parau. Seluruh mata mulai tertuju pada bilik pengobatan "Itu suara ibu suri?" tanya Kaisar.
__ADS_1
Sebelumnya ibu suri enggan bicara karana ia selalu mengeluhkan sakit pada tenggorokannya jika ia terlalu banyak bicara. Palinng sesekali Ia hanya sering mengulang kalimat Tidak! Jangan! Dan Sakit! Sebelumnya, ini pertama kalinya ibu suri bergumam meski dengan suara agak parau.
Mio membaringkan ibu suri di matrasnya dan membenahi pakaianya. Ia megelap beberapa teguk darah di mulut ibu suri. Meski darah itu berhambur tapi ibu suri terlihat sehat. Tapi sebaliknya, Mirai seakan ke hilangan sebagian dari nyawanya... Ia seakan di serang rasa kantuk dan lelah, rasa tak tahan dan ingin pingsan campur aduk. Tapi apa boleh buat, ia harus menyelesaikan pengobatan ibu suri hari ini juga.