
"Apa maksud anda yang mulia?" Panglima Ou Tian Feyn lekas mengerutkan dahinya kala menyimak pertanyaan putra mahkota yang seakan menampar wajahnya.
"Aku melihat matamu kala menatap istriku. Kau memiliki hati lebih yang istimewa untuk istri ku kan?" tanya putra mahkota kembali melontarkan pertanyaan pertanyaan terkait perasaan panglima Ou Tian Feyn yang telah terbaca dengan jelas olehnya.
"..." Panglima sama sekali tak berkomentar dan ia malah cenderung diam.
"...Sebaiknya buanglah jauh jauh perasaan mu itu. Karna perasaan tersebut adalah hal yang sangat tabu... Lagi pula, putri mahkota adalah milikku. Karna dia memang istriku... Dan selamanya akan menjadi wanita satu satunya dalam hidupku! Kau paham?" Bentak putra mahkota seraya merampas tubuh Mirai dari pelukan panglima begitu mudahnya. Setelah mendapatkan tubuh putri mahkota, Panglima pun menunduk tak berdaya.
"Ingat saja kata kataku... Jika sampai kaisar tahu tentang isi hatimu yang sebenarnya. Maka, akan sangat bahaya... Mungkin saja hukuman terberatmu adalah penggal kepala" tegas putra mahkota seraya pergi.
Ou Tian Feyn menatap punggung putra mahkota. Ia pun menurunkan atensinya menuju dua telapak tangan yang telah menadah seakan penuh penyesalan.
Ia ingat jelas kalimat apa yang telah Fei Si umbar di sel untuk membebeskannya pagi itu sebelum kaisar tiba "Panglima..." Pekik putra mahkota membawa beberapa pengawal dan memberi banyak obor agar sel tersebut terlihat terang.
Panglima lekas terperanjat dari sudut ruangan sempit itu dan menghampiri putra mahkota "Putra mahkota... Ada hal apa yang membawa anda kemari?" tanya panglima Ou Tian Feyn.
"Aku datang kemari untuk membawakan mu sebuah kabar baik" Tegas putra mahkota.
"Kabar baik? Tentang hal apa itu?" Panglima mulai tertarik hingga ia pun mencengkram besi sel tersebut sedikit erat.
"Ini... Bacalah, raja memberikan mu kebebasan tanpa syarat. Jika kau tak percaya baca saja" pinta putra mahkota seraya menyerahkan secarik kertas yang di buat khusus untuk panglima. Tanpa banyak berfikir, panglima pun menyimak satu persatu kalimat yang di tuliskan oleh sang kaisar untuknya.
"Panglima... Jika kau membaca surat ini. Aku sungguh merasa malu pada diriku sendiri... Aku sungguh minta maaf karna telah menyekap mu di sel dengan ke egoisan ku. Namun percayalah, saat itu aku telah gelap mata. Karna kedua putri tercintaku telah enyah dari istana... Meski itu adalah sebagian kesalahan mereka. Tapi aku tak mau mencoreng nama baik para putri, hingga melimpahkan segala kesalahannya padamu... Maafkan aku. Tapi mulai hari ini, kau di bebaskan... Derajatmu akan ku angkat menjadi kluarga kerjaaan. Meski itu belum cukup untuk menebus dosaku. Tapi aku, sungguh berharap... Kau mau menerimanya. Aku membebaskanmu... Maka, berbahagialah" Ou Tian Feyn di buat menyungingkan bibirnya kala itu.
"Bagai mana? Kau sudah percaya kan?" Sela Fei si.
"...Terimakasih atas kemurahan hati anda kaisar" bisik panglima, ia pun kembali melipat surat tersebut dan mulai memasukannya ke dalam sela sela pakaiannya.
"Pengawal! Buka sel nya" Pinta putra mahkota.
Para pengawal mengangguk, mereka pun sigap memasukan kunci dan membuka selot gembok tersebut Trang! Klek! Gembok terbuka...
Seketika Kriiiieettt! Pintu besi berkarat itu pun di seret kedalam agar bisa terbuka lebar. Panglima sungguh senang kala pintu tersebut di buka para pengawal.
"Silahkan... Kau berhak bebas, saudara ku" Sapa Fei si melentangkan tangannya untuk menyambut panglima Ou Tian Feyn.
Tanpa berpikir panjang Fei si pun memeluk panglima yang kala itu belum membersihkan dirinya selama lebih dari dua hari "Ampun paduka. Hamba terlalu kotor untuk di perlakukan demikian" Panglima menolak pelukan putra mahkota.
__ADS_1
"Kenapa. Aku adalah saudara mu mulai sekarang" Fei Si tak mau menggubris panglima dengan penolakannya, hingga ia pun kembali memeluk panglima.
"Mulai saat ini kau adalah bagian dari kluargaku. Aku akan memanggilmu adik... Bagai mana kau suka?" tanya putra mahkota.
"Saya terserah anda saja"
"Baiklah adik... Karna kau adalah bagian dari kluargaku. Jadi, aku akan memberikanmu pasilitas terbaik kerajaan"
"Ampun yang mulia. Hamba tak membutuhkan semua itu"
"Kau akan membutuhkannya... Karna kau sekarang adalah bagian dari kluarga kerajaan..." tegas putra mahkota.
"Tapi... Hamba" Belum sempat menolak, putra mahkota malah menepuk pundak panglima dan berkata demikian "Jangan sungkan. Apapun yang menjadi milikku. Akan menjadi milikmu juga..." Tegasnya.
"Aku akan memberikan apapun untuk mu adik. Itu adalah bukti ke tulusanku... Oh ia aku dengar kau sangat berguna. Bahkan patungmu di ukir di sebuah gerbang pertama kerajaan Hong. Kau sungguh hebat adik... Aku ikut bangga atas pencapaian mu" Cerocos putra mahkota tanpa henti.
Yang panglima pikirkan adalah kata kata putra mahkota yang begitu mencolok dan menarik perhatiannya tentang "Apapun yang menjadi milikku... Adalah milikmu juga. Ia sedikit lega mendengarkan hal tersebut. Karna mungkin ketika ia dekat dengan putri mahkota. Fei si tak akan menaruh rasa curiga atau pun terganggu. Namun nyatanya, kini belum kering kata kata yang ia lontarkan ketika di sel. Ia sudah lebih dahulu mengingkarinya. Lagi pula, meski pun panglima menyukai putri mahkota, ia sama sekali tak akan melakukan hal buruk padanya. Apa lagi mencuri kesempatan darinya...
"Heh... Sungguh, pendusta" bisik panglima Ou tian Feyn dari tempatnya menatap punggug Fei Si yang pergi dengan menggendong putri mahkota dalam dekapannya.
Flasback off...
"Benar! Aku ingat..." Pekik Mirai menjentikan jemarinya, ia telah mengingat kejadian malam itu yang membuatnya pingsan.
Pangeran memperlihat sebutir pil pemberian Mirai di telapak tangannya... "Pilnya akan ku makan nanti jika tugas istanaku bertumpuk" Tegas pengeran Li Bai, Mirai menyunginkan bibirnya, nampaknya Pil di tangan pangeran Li Bai adalah pil pemurnian tingkat rendah. Rendah karna Mirai terlanjur kehabisana energi.
"Pertemuan kita sungguh singkat ya" Ujar pangeran Li yuan masih ingin bercenkrama dengan Mirai.
"Ya. Begitulah waktu, berjalan begitu cepat... hingga kita tak pernah menyadarinya" balas Mirai.
"Tabib agung... Eh, bukan yang mulia... Putri mahkota, bisakah aku menemuimu di lain waktu?" tanya pangeran Li Yuan.
"Tabib agung? Hahaha, nampaknya aku harus melupakan gelar itu..." Olok Mirai pada dirinya sendiri.
"Kenapa? Panggilan itu masih cocok untukmu kok" Ujar pangeran Li Zhau terkekeh.
"Kalian sungguh pintar, bahkan aku tak penah menyangka jika penyamaranku akan terbongkar begitu saja" keluh Mirai menekuk wajahnya.
__ADS_1
Pangeran Li Yuan lekas menepuk pundak Mirai yang turun kala mendengus "Tapi putri, Aku cukup senang, karna bisa bertemu dengan orang hebat dan baik sepertimu putri" puji li Yuan.
"Kalian terlalu berlebihan" umpat Mirai.
"Oh ia satu hal lagi... Ini" Pangeran Li Yuan menyerahkan sebuah plakat yang terbuat dari giok murni.
Mirai sedikit membuka lebar netranya, karna ia memang telah kehilangan giok itu sudah lama sekali "Ini... Ini milikku. Dari mana kalian mendapatkannya?" Tanya Mirai menatap itrents Pangeran Li Yuan.
"Tuan muda yang memberikan ini padaku. Dia bilan, benda ini sama dengan benda milik putri Mio"
"Benarkah? Wah... Beruntung sekali benda ini bisa kembali ke tanganku. Tanpa benda ini... Aku tak bisa seenaknya keluar masuk istana" umpat Mirai meraih benda tersebut.
"Terimakasih banyak putri" seru ke lima pangeran itu.
Mirai menoleh dan menatap para pengeran tanpa berkomentar.
"Terimakasih putri mahkota. Kamu telah benyak membantu kerajaan kami hingga menjadi kekaisaran yang berdaulat dan maju. Bahkan, berkat jasamu... Permusuhan antara dua kekaisaran pun telah sirna... Kini, tuan muda bahkan menjadi pribadi yang baik, hingga ia berhenti menelor para tamu yang hendak berkunjung ke istana Hong. Dan lagi... sekarang kami menjadi kerabat dekat" Jelas pangeran Li Yuan panjang lebar.
"Benarkah? Syukurlah..." helan napas lega.
"Kalau begitu... Kami akan pamit" Pangeran Li Bai mengangguk seraya bicara demikian.
"Jika kita berjodoh... Pasti akan ada pertemuan ke dua bahkan ke tiga kalinya" Tutur Mirai melempar senyuman ke arah para pengeran itu.
"Kami akan pamit pulang. Jaga kesehatanmu tabib agung..." Pangeran Li Yuan berat hati meninggalkan Mirai.
Mirai mencari seseorang, dan ia bahkan tak menjawab pangeran Li Yuan. "...Oh ia. Aku sama sekali tidak melihat pengeran pembuat onar. Kemana dia?" tanya Mirai menghitung jumlah pangeran yang ada di hadapannya.
"Dia sedang sibuk dengan putri Mio. Katanya dia ingin melamarnya menjadi istri... Tapi, nampaknya ia akan kesusahan. Karna tuan Muda Zi hua juga menaruh hati pada putri Mio. Tuh lihat mereka ada disana" tunjuk pangeran Li Yuan ke arah di mana pangeran Li Wuxi bediri di samping putri Mio. Tapi di sana juga ada tuan muda yang gencar memepet putri Mio. Memang siapa yang akan di pilih putri Mio?
"Kalau begitu aku pamit. Jaga dirimu" pangeran Li Yuan melambaikan tangannya.
"Kami pamit. Daah makasih ya pilnya..." Sambung pangeran Li Zhau.
"Lain kali kita bertemu lagi putri" Tambah pangeran Li Bai. Para pengeran pun pergi menuju istana inti untuk pamit pada kaisar.
Siang itu, puluhan kereta kerajaan keluar dari istana Ming meninggalkan kesan yang hangat. Oleh oleh yang mereka dapat sudah cukup membuat mereka bahagia, meski pil pil yang dibuat Mirai terkesan gagal.
__ADS_1