
"Putri mahkota" bisik Mio.
Mirai masih terlihat tenang dalam posisi meditasi "..." Tak ada suara yang ia keluarkan hingga beberapa menit kemudian.
"... Putri Mio, carikan enam bahan ini!" Ia mulai bergeming dari posisinya dan lekas menulis resep obat dalam bentuk tulisan di secarik kertas warna coklat.
"Apa ini?"
"Itu adalah resep obat untuk ibu suri, kemungkinan... Penyakit mereka memang sama. Jadi, pinta saja para pangeran untuk mencarikan enam bahan herbal itu. Mungkin, di istana tidak lah sulit mencari obat obatan seperti ini" Tegas Mirai.
"Baik..." Mio mulai berdiri dan menjauh dari ibu suri. Ia membungkukan tubuhnya hormat pada wanita paruh baya itu.
"Aku pergi" Sambung Mio.
"Tunggu..." Lagi lagi Mirai terpekik.
"Ada apa tabib agung?" Tanya Mio mendelik ke arahnya.
"...Jangan berikan resep ini pada orang lain. Cukup salah satu pangeran yang ku tunjuk tadi. Biarkan dia yang mencarikannya..." Mirai berusaha keras memperingatkan Mio.
Mau bagai mana, istana tersebut sangatlah berbahaya, ada mata jahat di mana mana... Hingga ke bengisan mereka tak pandang buluh. Ibu suri dan permaisyuri juga adalah orang orang yang bernasib sial. Ia tak mau Mio pun mengalami hal yang sama.
"Pintalah Panglima Ou Tian Feyn menemani mu untuk mencari pangeran Li Yuan, ingatlah baik baik apa yang aku tegaskan ini" Ulang Mirai kembali memperingatkan. Mio mengangguk lugas dan ia lekas keluar dari bilik pengobatan alternatif itu...
"Itu dia, pelayan sang tabib" Ujar Panasihat kerajaan.
__ADS_1
"Bagai mana keadaan ibu suri, kedengarannya... Majikan mu telah mengobatinya dengan baik" Tanya Kaisar berdiri menghampiri gadis mungil itu.
Mio mengangguk "Untuk saat ini, kondisi ibu suri sangatlah stabil... Tabib agung telah mengobatinya dengan baik. Dan sekarang ia akan memeriksa permaisyuri setalah saya kembali mengambil resep obat untuk ibu suri" Jelas Mio. Penjelasan itu sungguh membuat kaisar bahagia "Umumkan pada seluruh rakyat! Ibu suri dan permaisyuri akan segera sembuh! Sebagai tanda syukurku... Aku akan membagi bagikan bahan pokok secara besar besaran!" Pekik Kaisar senang.
"Tapi yang mulia... Tabib berpesan, sebelum saya benar benar mendapatkan obat yang beliau inginkan. Saya di larang memberikan secarik kertas resep ini pada siapa pun. Karna, beliau takut jika di istana ini ada banyak mata jahat yang tengah mengintai ibu suri" Cerocos Mio menyakinkan kaisar.
Kaisar mulai bungkam seketika itu "Kau benar juga. Aku akan urungkan niatku sebelum ibu suri dan permaisyuriku benar benar keluar dari maut"
"Jika demikian, saya akan permisi sebentar" Mio lekas memberi hormat pada Kaisar lalu pergi meninggalkan beliau.
"...Panglima Ou Tian Feyn" Seru Mio pelan ke arahnya seakan membisik. Sadar akan panggilan, Ou Tian Feyn pun lekass berdiri lalu menghampiri Mio.
"Ayo bantu aku mencari pangeran Li Yuan" Pinta Mio. Panglima mengangguk lalu mereka pun melangkah ke luar mencari pengeran yang di butuhkan itu. Sementara Mio pergi dari aula istana, Mirai hanya bisa duduk bersila sembari mengumpulkan setitik demi setitik energi dalam tubuhnya.
Sial! Jika di biarkan begini terus, maka... Lama lama kedokku akan terbongkar. Jika sampai terjadi hal demikian... Maka bukannya menjadikan pangeran Mao menjadi putra mahkota. Yang ada... Aku malah akan membusuk di penjara bawah tanah. Tidak, tidak, sebaiknya aku harus berusaha menutupi hal ini... Aku bisa pura pura tidak melakukannya dan tetap berpura pura tidak perduli. Bathin Selir agung menggumam. Ia memang tampak panik sedari pertama Mirai masuk ke bilik itu... Wajah nya mulai pucat dan keringatnya bercucuran deras. Jika ada orang yang harus di salahkan di istana tersebut... Maka yang patut di curigai adalah Selir agung. Karna meski ia tak bicara apapun. Gerak geriknya sudah terbaca oleh Mirai sedari awal pertemuan mereka.
"Di mana kira kira para pangeran berada?" tanya Mio kelimpungan mencari pangeran yang bernama Li Yuan. Yang bahkan ia sendiri sudah lupa akan wajah pria itu, mau bagai mana pun juga... Ke enam pangeran tersebut sangatlah tampan. Hingga tak ada satupun dari mereka yang Mio kenali karna wajah mereka hampir mirip satu sama lainnya.
Mereka sudah berjalan jauh dari aula istana, dan nampaknya netra mereka belum di pertemukan dengan sosok sosok tersebut. Hingga para dayang yang membuntuti mereka dari belakang pun mulai bertanya "Permisi pelayan tabib agung" Sapa para dayang.
Mio menoleh "Ya. Ada apa?"
"Jika boleh kami tahu, kemana gerangan ingin pergi?" tanya salah satu dari ke tiga dayang.
"Kami ingin mencari tempat penyimpanan bahan bahan obat" Balas Mio singkat.
__ADS_1
"Kami tahu jalannya. Jika anda berdua ingin menuju ke sana... Kami bisa mengantarkannya" pinta salah satu dari ke tiga dayang itu.
Mio ingat betul apa yang ingin Mirai sampaikan tadi, ia bahkan berkata untuk tak mempercayai siapapun di istana itu "Jika demikian, silahkan antar kami ke tempat tersebut... Karna waktu kami di istana ini tidaklah banyak" Tegas Mio.
"Baiklah... Izinkan kami berjalan di depan untuk mengantarkan anda menuju tempat tujuan" Ujar Pelayan itu.
Mio hanya mengangguk lugas seraya berhati hati, Panglima Ou Tian Feyn pun sedikit curiga akan gerak gerik ke tiga pelayan tersebut.
Bukankah salah satu dayang di antara mereka adalah dayang yang kala itu memberikan air hangat pertama pada Putri Mahkota. Tapi... Kenapa, putri mahkota tampak enggan memakai air yang dayang ini berikan padanya. Ini cukup mencurigakan... Sebaiknya aku hati hati. Karna tak menutup kemungkinan jika di istana ini memang terjadi tindak pecobaan pelenyapan. Bathin Panglima Ou Tian Feyn.
Sampailah Mio dan panglima Ou Tian Feyn di depan ruangan tertutup yang masih rapat "Ini adalah ruangan penyimpanan obat. Boleh saya lihat bahan apa saja yang ingin kalian bawa"
"Silahkan masuk duluan. Biarkan saya ambil sendiri" ujar Mio.
"Tapi... Anda akan kesulitan, jadi kami akan membantu" ulang para dayang.
"...Sebaiknya, saya cari sendiri saja" Mio bersikeras. Namun, ketiga dayang itu mulai saling menatap satu sama lain "Emmmh" mereka menangguk bersmaan, lalu membalikkan tubuh mereka ke hadapan pintu ruanh tertutup itu.
Namun, ketika Mio dan panglima fokus menatap ke arah punggung para dayang yang hendak membuka pintu ruang obat. Tiba tiba mereka berbalik lalu menghempaskan kepalan tangan nya yang menyemburkan sebuah debu berwarna putih ie arah Mio juga Ou Tian Feyn.
Sigap, Ou Tian Fyen membalikkan badannya dan menutupi wajah Mio dengan lengan pakaian nya yang cukup lebar mengerai hingga wajah Mio tertutupi.
Padahal tak perlu melakukan hal itu juga, debu itu tak akan masuk ke hidungnya. Sebab Mirai sudah membuatkan masker mungil untuk menyaring udara di kedua lubang hidung Mio.
"Sial!" Pekik keduanya.
__ADS_1
Nampaknya debu itu bukanlah debu sembarangan. Sebab setelah mereka menghempas debu itu... Salah satu di antara ke tiga dayang itu malah jatuh ke lantai dan seketika itu tak sadarkan diri.