
***
Malam kian larut dan seluruh rombongan tertidur pulas setelah perut mereka terisi penuh. Di saat seluruh orang terlelap, Mirai malah berkutat menyiapkan bahan obat obatan.
Nampaknya Mirai sedang meracik obat obatan herbal kualitas tinggi untuk persembahan ke gunung Xingliun, dan beberapa pil penambah stamina tubuhnya yang akan lemas kala kehabisan energinya...
"Semoga, dengan pil tingkat tinggi ini... Moo Shan Shan mau mengijinkan kami masuk ke dalam sekte gunung Xingliun" Bisik Mirai seraya berkutat...
Ia mengumpulkan bahan bahan obat itu dan melemparkannya ke dalam tungku api yang telah ia siapkan.
Whuuuusssssshh! Bahan bahan itu masuk ke dalam tungku tanpa ia sentuh. Hanya tangannya saja yang sibuk meliuk ke kanan dan kekiri seraya membisikan sesuatu, bibirnya kumat kamit tak karuan.
Brusssshhh! Tungku api pun tertutup, seraya menunggu mata Mirai mulai terpejam lalu tangannya masih mengalirkan energi fositif berwarna biru samar, telapak tangannya ia arahkan ke lurus ke tungku itu.
"Moo Shan Shan, semoga... Kau menyukai hadiah dariku" bisik Mirai nyaris tak terdengar oleh siapa pun.
Rupanya itu yang jadi alasan Mirai menyibukan dirinya. Nyatanya Mirai ingin membujuk Moo Shan Shan dengan pil pil yang telah ia buat itu, siapa tahu hati Moo Shan Shan tergugah dan mau membuka segel perjanjian darah yang telah di kurung di dalam tubuh Kaisar Qing.
__ADS_1
Paww!! Setelah beberapa saat menunggu dan energinya hampir terkuras, Tungku api itu pun mulai bersinar, Mirai lekas menujuk tutup tungku api itu dengan energinya yang telah ia tumpuk di ujung jemari manis dan telunjuknya. Di tariknya jemari itu ke arah atas seraya membisik sesuatu "Buka..." Bisik Mirai.
Syuut! Tutup tungku itu pun lekas terbuka, kemudian beberapa pil pun mulai keluar dari dalam tungku api itu... Satu persatu pil berkilau ke emasan pun melayang menghampiri telapak tangan Mirai yang kala itu menadah lembut.
SYUT! Syut! Syut! Pil ke emasan itu pun jatuh pelan di telapak tangan Mirai. Mirai pun tersenyum "Hehehe... Akhirnya pil kualitas super tinggi ini tercipta. Khasiatnya akan sangat besar jika di makan oleh orang berilumu tinggi dan Moo Shan Shan akan sangat menyukainya" Mirai terkekeh sembari menepis bulir bulir kristal yang menumpuk di jidak nya.
"Akan ku simpan" Ucapnya. Ia lekas memasukan obat obat itu dalam kantung penyimpanan nya kemudian, ia pun kembali berkutat membuat pil penambah stamina untuknya dan kawan kawannya.
Mirai berkutat menunggu hingga pajar menyingising, sedangkan di kerajaan Ming... Kaisar kian resah dan memerintahkan para prajurit untuk mencari Putri mahkota dan putri Mio yang hilang bersama panglima Ou Tian Fyen.
"Ampun yang mulia! Tapi, hamba tak begitu yakin. Jika putri mahkota bersama Putri Mio berangkat ke istana Qing... Sebab, sudah lama kerajaan itu hilang yang mulia. Bahkan, tempat berdirinya kerajaan itu telah di penuhi semak belukar dan hendak rubuh... Jadi hamba merasa bahwa surat merpati yang di kirim tuan putri Mio adalah benar" Ujar penasihat kerajaan bernama Xi Ye.
"Yang mulia. Tenanglah... Kemarahan tak akan membawa pada sebuah penyelesaian dan jalan keluar" Pinta Permaisyuri. Nampaknya Fei Si belum tahu jika purti mahkota hilang karna setelah menghabiskan malam di faviliun Wen Tian, ia sama sekali belum bangun dan tak sadarkan diri di tangan Wen Tian. Entah Fei Si tewas atau itu adalah ulah Wen Tian yang sengaja membuat kesadaran Fei Si hilang sesaat agar ia bisa denga mudah mencuci otak Fei Si.
"Di mana putra mahkota!' Tanya Kaisar gelagapan mencari.
"Putra mahkota sedang sibuk Kaisar" tiba tiba Pangeran Fu Rou datang ke arah kekacaun dengan kipas ke sayangannya dan melangkah santai seakan tanpa beban.
__ADS_1
"Pangeran Fu Rou. Apa maksudmu?" tanya Kaisar sedikit curiga.
"Kemarin, Putra mahkota mengamuk dan menghancurkan Faviliun putri mahkota yang Mulia" Ujar Fu Rou Ming entah apa maksud dari ucapannya itu.
"Menghancurkan? Kenapa putra mahkota malah menghancurkan Faviliun milik putri mahkota?" tanya Kaisar bingung, terlihat demikian karna alisnya mengerut tak karuan.
"Pangeran Fu Rou, Apa maksudmu? Kenapa kamu bisa bicara hal yang omong kosong begitu di hadapan Kaisar?" bentak Permaisyuri merespon perkataan Fu Rou yang seakan memulai pertikaian dan menyalahkan putra mahkota atas ke pergian putri mahkota.
"...Ampun yang mulia. Tapi... Akhir akhir ini hamba sering memperhatikan, bahwa putra mahkota seakan acuh pada putri mahkota. Bisa saja... Itu sebab kepergian putri mahkota dari istana ini" tegas Fu Rou Ming menghasut sang kaisar yang tengah gundah kala berdiri mendar mandir di hadapan singgah sananya.
"Hah! Jika itu yang membuat putri mahkota hengkang dari istana ku! Maka itu adalah hal yang sangat buruk. Tapi... Kenapa baru sekarang putri mahkota pergi! Dan lagi, putri Mio malah mengabarkan keadanaan mereka di istana Qing. Putri Mio meminta kita untuk tidak panik...' Pikir yang mulia ke arah fositifnya saja.
"Benar yang mulia... Putri Mio bilang, ada hal yang harus ia selesaikan di istana itu. Dan mungkin karna permasalahan istana itu sangat rumit... Mereka menunda nunda kepulangan nya ke istana ini" Permaisyuri mencoba menenangkan hati kaisar agar ia tak membenci putra mahkota gara gara hasutan pangeran Fu Rou Ming.
"Lalu aku harus bagai mana? Seharusnya bukan mereka yang bertugas menyelesaikan permasalah istana Qing. Para petinggi kerajaan Qinglah yang harus melakukan tugas tersebut! Aku tetap tidak terima jika anak dan menantuku di permainkan seperti ini. Malam ini aku tugaskan! 1000 tentara terlatih ku untuk maju! Persiapkan penyerangan ke istana Qing! Jendal Ou Tian Feyn! Lekas tunjuk pasukan mu menuju garis terdepan peperangan sekarang juga!' Tegas Kaisar.
Kaisar sungguh murka dan amarahnya tak bisa di redamkan meski dengan kata kata manis sang permaisyuri "Yang mulia... Anda tidak bisa menunjuk panglima Ou Tian Feyn untuk memimpin para pasukan! Sebab ia tidak ada di istana kita" ujar Pangeran Fu Rou Ming.
__ADS_1
Deg! Kaisar lekas tersadar "Benar. Ou Tian Feyn juga hilang dari kerajaan ku. Dan ia tak bisa membantuku menyelamatkan putri dan menantuku... Kalau begitu! Pangeran Fu... Kau lah yang akan memimpin peperangan ini" Tegas Kaisar menarik napasnya dalam dalam.
Nampaknya amarahnya sudah sampai pada batasannya. Pangeran Fu tersenyum menyungingkan bibirnya "Hamba yang mulia..." ia maju ke hadapan singgagsananya dan lekas bersimpuh penuh hormat pada Yang Kaisar Ming. Kedua tangannya di tumpuk dalam satu kepalan tangan di arah kepalanya "Berdirilah dan lekas pergi. Bawa pasukanmu ke arah Timur istana ini... Serang Istana Qing! Dan bawa pulang Putri mahkota bersama Putri Mio... Aku akan menghukum Panglima Ou Tian Fyen karna ia telah lalai menjaga putri mahkota!" Kaisar memeking kan suaranya yang begitu menggema dan lugas kala menurunkan titah istilah peperangan ke arah istana Qing.