Putri Mahkota terkuat sejagad

Putri Mahkota terkuat sejagad
Rahasia Ling Long 2


__ADS_3

***


"Au Au! Sakit kakak. Pelan pelan" ringis Mio memejamkan matanya seraya merintih.


Mirai sibuk menjahit luka Mio yang dalam di lehernya. Hampir saja sayatan pedang Ling Long memotong urat nadi besar di tenggorokannya.


"Dewa masih menyayangimu... Jika di tekan agak dalam lagi. Mungkin saja, sayatan itu akan membunuhmu... Pintar sekali orang yang telah melakukan ini. Dia mengincar urat nadi vital itu..." Mirai menjelaskan hal menyeramkan itu agar Mio mau mengatakan siapa yang telah melakukan hal kejam itu padanya.


"Aku sungguh beruntung" tawanya.


"Makanya. Karna kamu beruntung, katakan siapa yang telah melakukannya. Jika kammu mengatakannya... Maka aku akan menegurnya" Mirai berusaha keras meminta Mio mengatakannya.


"Untuk saat ini. Aku belum bisa mengatakannya... Karena aku tak mau kakak marah"


"Aku sangat marah, begini saja kamu terluka... Coba saja jika kamu bisa sedikit memiliki ilmu beladiri. Sudah pasti tak akan ada kejadian seperti ini... Aku bukanlab orang bodoh... Di mana ada ranting setajam pedang" Tegas Mirai membuat Mio tersentak.


"Aah auuu. Sakit, kakak pelankan jahitamu... Aku sungguh menderita" rengek Mio.


"Dasar manja..."


Mio sungguh pusing mendengar omelan Mirai yang terdengar seperti ibu yang mengkhawatirkan anaknya... Saat Mio sudah ingin menghentikan omelan Mirai. Suara ketukan pintu pun terdengar...


Tok! Tok!


Dua kali ketukan pintu membuat Mirai berdiri "Sudah selesai. Balutlah sendiri lukamu... Dasar ceroboh" Omel Mirai. Mio mengoloknya dengan mengkerucutkan bibirnya ke arah Mirai lalu menjulurkan lidahnya dengan wajah di kerutkan... Sungguh begitu jelek gumam Mirai.


Sreet! Pintu di buka dan seseorang pun masuk membawa nampan berisikan bubur hangat "Panglima... Lama tak jumpa, bagai mana kabarmu?" tanya Mirai senang bertemu dengan pria itu.


Ou Tian Fyen membalas senyuman Mirai dengan anggukan malu malunya "Maafkan hamba karna telah mengabaikan ke amanan anda putri mahkota"


"Panglima. Mohon sekali dengan sangat, ini adalah tempat asing. Dan gelar seperti itu aku tak membutuhkannya... Jadi. Panggil aku Mirai saja" Pinta Mirai. Panglima pun terdiam, ia tak mau memanggil dengan panggilan yang tak sopan seperti itu.


"Nampaknya nama itu terlalu tak sopan nona... Bagai mana jika nama lain saja?" Tanya Panglima menggelengkan kepalanya.


"...Panggilan lain. Xin... Bagaimana jika Xin saja" pinta Mirai lagi.

__ADS_1


Lidah panglima sungguh kelu hanya untuk memanggil nama tersebut "Nona... Xin"


"Heh. Panggilan itu tak cukup buruk" Mirai menyungingkan bibirnya. Mio memperhatikan dari jauh, gelagat Panglima kian jelas saja di matanya. Hingga Mio pun menghampiri panglima lalu merebut nampan di tangannya "Wah. Bubur ini wangi sekali" jutek Mio tak sopan. Bahkan ia tak menyapa panglima sama sekali.


"Adik. Kamu jangan begitu... Tak sopan tahu" Tukas Mirai melotot tajam ke arah Mio.


"Tak apa nona Xin..." Panglima sungkan.


"Maafkan adikku ya karena dia sangat menyebalkan!" Tatap Mirai kesal pada Mio.


"Tak apa. Nona Mio memang masih anak anak jadi aku maklum... Oh ia kenapa dengan lehernya?"


"Itu, tampaknya ada seseorang yang telah menyerangnya..."


"Astaga. Siapa dia... Jika sampai kaisar tahu jika Nona Mio terluka maka dia akan menghukumku. Mau bagai mana pun juga, seorang putri dari istana tak boleh memiliki luka... Jika ia memiliki luka. Maka ia tak akan bisa menikahi seorang pangeran atau pun kaisar dari istana lainnya" Panglima Sungguh cemas. Mirai sedikit terganggu dengan panglima yang menyinggung gelar dan jabatan. Hingga panglima pun di tarik Mirai menuju kediamannya "Masuklah... Jangan biarkan ada yang mendengar percakapan kita" Ujar Mirai. Akhirnya Panglima pun mengobrol di dalam bersama Mirai.


Blam... Setelah pintu di tutup, Srak! Seseorang mulai keluar dari semak semak dan berdiri mematung beberapa saat. Ia mengepalkan tangannya dan mulai meninggalkan front kediaman sementara Mirai. Nampaknya ia sudah cukup menguping pembicaraan Mirai dan panglimanya tadi.


"Kenapa nona Xin?" Curiga panglima.


"Bubur ini enak" pekik Mio mengganggu kedekatan Mirai dan panglima.


"Apakah putri menyukainya?" Tanya Panglima. Mio lekas menoleh dengan tatapan tajam dan nada juteknya "Panggil aku nona Mio" Tegas Mio seraya membuang wajahnya kesal.


"Cih ada apa dengan bocah itu. Bersikaplah yang baik" Bentak Mirai pada Mio.


"Uh..." Dengus kesal Mio dengan wajah masam.


"Apa yang membawamu ke mari panglima..."


"Aku... Ada hal yang ingin aku tanyakan pada anda nona Xin" Tampak ragu ragu Panglima menatap Mirai dengan pandangan yang nanar.


"Katakanlah..."


"Apakah terjadi hal buruk yang menimpa Nona Xue Jing di hutan kematian?" tiba tiba pertanyaan itu terlontar dari mulut Panglima setia Mirai.

__ADS_1


Mirai mengerutkan dahinya "Bagai mana kau tahu?"


"Sudah ku duga. Itu pasti anda..." Helan napas lega panglima.


"Apa maksud ucapanmu panglima" Mirai mengerutkan dahinya


"Di hari itu, salah seorang peserta telah melaporkan penyerangan ini. Dia mengklaim jika dirinya hendak di bunuh oleh peserta lain. Dan kini para kru penyidikan kompetisi sedang mencari pelaku utama penyerangan Nona Xue Jing" Jelas Panglima membisik pada Mirai.


"Cih. Wanita ular itu... Bisa bisa nya dia menusuk ku dari belakang? Apakah dia sungguh ingin melenyapkanku?" bathin Mirai menggumam.


"...Apakah anda mengetahui sesuatu? Jika anda tahu sesuatu, saya bisa membantu anda menemukan pelaku penyerangan nona Xue Jing. Dan menarik laporan palsu yang di sampaikan nona Xue Jing"


"Siapa yang ia laporkan. Apakah aku?" tanya Mirai menggigit bibir bawahnya kesal.


Ou Tian Feyn tak ingin membebani Mirai. Hingga ia pun tak merespon "Katakan saja, ya atau tidak..."


Ou Tian Feyn pun mengangguk "Ia. Anda telah di laporkan ke pihak penyidik... Untuk saat ini mereka sedang mencari barang bukti terkait ke terlibatan anda dalam tuduhan pelenyapan nyawa peserta kompertisi" mendengar penjelasan itu membuat Mirai seketika lemas. Mio menoleh dan memeking tinggi "Apa? Mana mungkin! Mereka telah mempitnahmu kak. Aku tak terima atas perlakuan mereka padamu!" Amuk Mio.


"Diamlah adik. Ini bukan urusanmu!" Mio membuat hati Mirai semakin buruk saja. Hingga tanpa sengaja, Mirai kembali membentak Mio.


"Bukan urusanku? Kakak... Sejak kapan aku begitu asing untukmu!" Mio marah.


Mirai pun sadar, ia lekas meminta maaf pada Mio "Bukan itu maksudku adik. Pikiranku sedang kacau untum saat ini... Jadi, aku banyak memarahimu... Maafkan aku"


"Meski begitu. Kenapa kakak tak pernah membagi masalah itu denganku. Setidaknya... Meski aku tak bisa membantu. Sedikitinya hatimu akan merasa tenang karna telah membagi masalahmu padaku... Hal itu akan meringankan beban di pikiranmu kak" Apa yang Mio katakan ada benar nya juga. Mirai terdiam dan merasa bersalah...


Mio menatap pintu di hadapannya... Lalu bicadmra sekeras mungkin setelah ia lihat ada bayangan hitam yang terlihat begitu jeli menyinggahi front kediaman sementara Mirai untuk menguping "Aku yakin. Mereka melakukan itu agar kakak di diskualifikasi..."


"Aku tak masalah. Menang atau kalah" Balas Mirai.


"Tapi nona Xin. Jika anda terjerat masalah ini... Maka anda akan terjerat sangksi perencanaan pembunuhan... Hukuman penggal kepala' tegas panglima.


"Apa!" pekik Mirai begitu pun Mio.


Panglima tahu seluruh hal tersebut karna ia dan Zayn adalah panitia kompetisi untuk saat ini.

__ADS_1


__ADS_2