
Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Mirai pun tiba lebih dulu ketimbang yang lainnya "Akhirnya... Sampai juga" gumamnya dalam hati. Para prajurit sungguh telihat letih, hingga mereka menjatuhkan diri ke tanah lalu selonjoran sepuasanya.
"Aahh astaga! Lelah sekali..." Keluh mereka.
Mirai menelisik rombongan berikutnya yang di pimpin Ou Tian Feyn, namun selama apa ia memantau ke arah sebelum ia datang ke puncak gunung itu, nampaknya tak ada satu orang pun yang menghampirinya di post tersebut...
"Kemana yang lainnya? Apakah mereka mendapatkan masalah?" bisik Mirai seraya meninjau keadaan.
"...Tabib agung. Bisakah, saya tiduran sebentar? Rasanya aku mengantuk sekali. Huaaaahh" Ucap para prajurit itu tampak lemas dan menguap beberapa kali.
"Tidak boleh. Tempat ini terlalu dingin dan berbahaya karna sangat rawan longsor... Sebisa mungkin, kalian harus tetap terjaga... Jika kalian sampai terlelap... Maka kalian bisa meninggal" Balas Mirai mewanti wanti. Kabut hampir turun dari puncak gunung siang itu, hingga membuat suhu pegunungan itu turun drastis hingga dinginnya terasa menusuk tulang.
"Dingin..." Bisik bisik, Bisik bisik.
"Untuk menjaga agar suhu tubuh kalian tetap hangat! Kalian harus berlari di tempat seraya tetap sadar... Kita akan lanjutkan perjalanan setelah rombongan panglima ku datang..." tegas Mirai.
Sesuai ujaran Mirai, para prajurit pun melakukan hal yang telah di sarankan tersebut. Tak berselang lama, Ou Tian Fyen dan Mio juga tuan muda pun tiba... Mereka berjalan perlahan seperti tampak ke sakitan, apa lagi Mirai melihat bahwa Ou Tian Feyn sedang membopong tubuh Tuan muda.
"Ada apa dengannya?" bisik Mirai. Nampaknya kaki tuan muda patah, karna Mirai bisa melihat dengan jelas bahwa pergelangan kaki kanan tuan muda telah berbalik ke belakang hingga ia terpincang pincang karna tak bisa menapakan kaki itu.
"Dasar ceroboh" sambung Mirai.
Ou Tian Feyn pun sampai di hadapan Mirai "Lama sekali... Apa yang telah terjadi" Tanya Mirai sedikit kesal, tangannya di gulung di perutnya seraya menatap Ou Tian Feyn dengan pandangan menusuk.
"Maafkan aku... Putri mahkota. Ada hal buruk terjadi tadi, tapi kami bisa mengatasinya" Balas Ou Tian Feyn mendelik ke arah tuan muda seakan menunjuk bahwa sumber masalahnya adalah pria di sampingnya itu.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Mirai menunjuk kaki tuan muda.
"...Maafkan aku" tiba tiba tuan muda berkata demikian seraya menundukan atensinya.
"Dasar bodoh. Duduklah..." Pinta Mirai. Tuan muda lekas duduk dan menyelonjorkan kakinya perlahan dan sangat hati hati, nampaknya tuan muda sungguh ke sakitan, sebab ia meringis beberapa kali menahan rasa sakotnya. Mirai menghampiri pria itu lalu berjongkok di depannya.
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan?" sang tuan muda sesaat merasa ngeri pada wanita di hadapannya itu.
"CK, CK, CK, Bagai mana kau bisa berjalan nantinya jika pergelangan kakimu berbalik begini" umpat Mirai kesal.
"...Itu, karna tadi aku sedikit ceroboh" Tuan muda membuang wajahnya karna malu pada Mirai.
"Mana ku lihat!" Mirai menyingkap celana panjang Tuan muda dan tuan muda pun kaget. Ia sangat malu hingga ia salah paham "Apa yang akan kau lakukan dasar mes..." Baru saja hendak meneriaki Mirai. Mirai seketika mencengkram pergelangan kaki tuan muda dan membeteknya kuat kuat!
KREK! TEEK... hingga bunyi pergeseran tulang pun terdengar jelas... Seketika itu tuan muda membelalak dan memengking sekuat kuatnya "HUAAAAAAA!!!!" teriakan itu terdengar ke seluruh penjuru gunung tersebut hingga para burung yang hinggap di pepohonan pun berterbangan tak karuan.
Ou Tian Feyn dan Mio tersenyum menatap ke konyolan tuan muda, sedangkan para prajurit terlihat panik dan berhamburan ke arah tuan muda...
"Ah ahhh... Hu hu hu sakit, bagai mana bisa kau menyakitiku seperti ini, dasar wanita bengis" umpat tuan muda kacau.
"Berisik, lekas berdirilah, perjalanan kita hampir selesai. Tinggal beberapa langkah lagi dan kita akan sampai. Maka jangan buat berbagai alasan buruk untuk menghambat perjalanan ku yang membosankan ini" cerocos Mirai seraya pergi menjauhi tuan muda.
"Dasar wanita dingin. Bagai mana bisa aku berjalan dengan kaki patah begini! Wanita Aneh...!" Celotehnya seraya berdiri, dan tanpa ia sadari ia melangkah membuntuti putri mahkota yang kala itu menghampiri Mio juga Ou Tian Feyn.
"Tunggu! Tidak bisakah kita istirahat dulu... Kakiku patah nih" komen tuan muda.
Mirai tak berkomentar dan terus melangkah mengabaikan si tuan muda "Apa yang membuat mu bodoh begini. Lihatlah ke bawah... Kakimu baik baik saja, dasar payah" olok Mio menatap tuan muda lalu mendelik kasar seakan mempermalukannya.
"Benar tuan muda. Kaki anda sudah sembuh" ujar para prajuritnya
Tuan muda pun menatap ke bawah dan menggerakan kaki kanannya yang tadi benar benar tak karuan "Ah... Ini sungguh ke ajaiban besar, wanita itu sungguh wanita yang istimewa... Dari mana dia belajar ilmu seperti itu, bahkan kakiku baik baik saja dan tak berasa nyeri sama sekali" cerocos tuan muda. Akhirnya perjalanan pun kembali lancar jaya hingga ke puncak gunung Xingliun. Setelah sampai di puncak, Mirai dapat melihat dengan jelas pahatan batu bertuliskan Sekte kramat, Gunung Xingliun.
"Kita sampai di perbatasan sekte Gunung Xingliun" Bisik Mirai menghampiri, kabut di area tersebut sangatlah pekat hingga jarak pandangnya sangat tipis.
"Sebaiknya kita berhati hati" pinta Mirai melangkah perlahan. Kala kakinya sampai di sebuah batu pahatan gunung Xingliun. Kabut pun seketika enyah tiba tiba...
DEG! Mirai seketika terbelalak, ia lihat dengan jelas bahwa kala ia menapaki dataran tersebut di balik kabut, rupanya ia nyaris saja terperosok ke dalam jurang yang dalam di hadapannya.
__ADS_1
"Astaga! Dewa masih sangat menyayangiku..." Bisik Mirai mengusap dadanya sendiri.
"Ada apa?" tuan muda menghampiri Mirai tanpa melihat ke bawah.
Mirai kesal dan menarik pakaian tuan muda seraya menggumam "Bodoh! Menyingkir!" Pekiknya seraya menghempas tubuh tuan muda ke belakang.
"Apa yang kau lakukan kasar sekali" Amuk tuan muda tak terima.
"Lihatlah ke bawah. Payah!" Mio ikut bicara.
"Oh asatga! Rupanya ada retakan se dalam dan sebesar itu" tuan muda sedikit kaget. Lagi lagi Mirai menyelamatkannya.
"Lain kali... Jangan terlalu semberono dan ceroboh. Pandangan mu sangat buruk, mungkin itu pengaruh topeng mainan yang kau pakai itu" Mio sungguh geram pada keteeledoran tuan muda yang hampir mencelakan rombongan sedari awal perjalan.
"Jangan banyak mengoceh. Kita harus lanjutkan perjalanan" tegas Mirai melangkah ke arah jembatan gantung yang terbuat dari kayu. Nampaknya usia jembatan itu sudah tua hingga terlihat rusak dan bobrok.
"Berjalan dengan hati hati. Salah melangkah sedikit saja kalian akan kehilangan nyawa kalian" Mirai memperingatkan.
Sial, merepotkan sekali... Ingin sampai di gunung Xingliun saja harus sangat hati hati dan membuang buang banyak waktu juga tenagaku... Seandainya guru Muzzi tak berpesan demikian. Aku sudah pasti tak akan mau patuh pada hal hal merepotkan seperti ini. Bathin Mirai menggumam. Gumaman itu adalah sisi gelap yang telah terisi oleh Shu Feng. Hingga ia mau mengumpat hal buruk seperti itu.
Seluruh rombongan yang di pimpin oleh tuan muda selamat kala melewati jembatan bobrok itu. Kini, sampailah di depan pintu langit bertuliskan selamat datang di Sekte kramat Gunung Xingliun.
"Horee! Akhirnya kita sampai!" Mio tak sabaran dan memeluk Mirai erat erat. Mirai mengembangkan senyumanya dan cenderung tak berkomentar apapun.
"Kita harus membuka gerbang ini dengan sebuah plakat" Ujar Mirai, tuan muda menarik kantung penyimpanan di samping kiri pingangnya dan meraih plakat tersebut.
"Ini" Ucap tuan muda menyerahkan barang penting tersebut.
"Dengan benda ini. Maka kita akan bisa masuk" Mirai menyungingkan bibirnya.
Ou Tian Feyn menatap putri mahkota di kejuahan, dan ia sungguh terpesona oleh kecerdasan dan wibawa wanita itu hingga ia tak bisa memungkiri perasaannya yang saat itu sangat terpukau dan takjub pada putri mahkota... Putri mahkota sangat cerdas... Baik hati dan telaten. Heh, tapi sayang nasibnya sungguh buruk, ia malah di sia siakan oleh putra mahkota. Putra mahkota sungguh sangat bodoh jika mengabaikan wanita sesempurna ini... Bisik Ou Tian Fyen.
__ADS_1